<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940</id><updated>2012-01-27T17:27:52.564+09:00</updated><category term='Tentang Jepang'/><category term='Palestina'/><category term='Renungan dan Motivasi'/><category term='Gerakan dakwah'/><category term='Untuk Indonesia'/><category term='Keluarga'/><title type='text'>Meretas bahagia hakiki</title><subtitle type='html'>Semoga bermanfaat...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>114</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-1885977353694750707</id><published>2011-10-31T10:55:00.003+09:00</published><updated>2011-11-01T11:09:55.554+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan dakwah'/><title type='text'>Catatan Tentang Hizbut Tahrir (10): Tholabun Nusyroh, metode instan membangun daulah Islam?</title><content type='html'>Ada satu kontradiksi lain yang saya rasakan ketika membaca 3 tahapan HT menegakan kembali daulah Islam. Aktifitas pokok para anggota HT di tahapan kedua adalah menyerang segala aktifitas pemerintah dalam berinteraksi dengan rakyatnya. Yang lucu, diujung marhalah itu, thariqah/metode yag ditempuh HT adalah melakukan &lt;i&gt;tholabun nusyroh,&lt;/i&gt; yaitu meminta pertolongan kepada pihak-pihak yang memiliki kekuatan agar mau menerima konsep HT tentang daulah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kita lihat dulu tentang tholabun nusyroh dalam shirah Nabi SAW. Syabab HT akan mengatakan bahwa Rasulullah SAW melakukan tholabun nusyroh kepada pemimpin Quraisy, Thaif, dan Madinah. Ketika ditanya tentang bagian mana atau hadits apa yang menjadi pijakan tholabun nusyroh, kita tidak akan mendapat jawaban pasti, selain klaim bahwa Rasulullah SAW melakukannya. Saya yakin, pasti ada satu kesempatan dimana Rasulullah meminta bai`at dari para kaum Muslimin, diantaranya adalah Bai`at Aqabah pertama dan Kedua. Tapi tolong dicatat bahwa bai`at itu diberikan setelah mereka menerima tarbiyah Islam melalui Mush`ab bin Umair RA, shahabat yang diutus Rasulullah SAW sebagai guru yang mengajari Islam kepada penduduk Madinah. Apakah Mush`ab RA diutus Rasul untuk melakukan tholabun nusyroh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa lihat dari aktifitas Mush`ab di Madinah. Faktanya, Mush`ab RA tidak mengkhususkan dakwahnya kepada para pemimpin Madinah, tapi kepada siapa saja yang ditemuinya. Kita tentu ingat kisah masuk Islamnya 2 pemimpin Aus dan Khazraj, Saad bin Muadz dan Usaid bin Hudhair RA. Merekalah yang mendatangi majelis ilmu Mush`ab dan kemudian menerima Islam. Bahkan Allah menegur RasulNya karena mementingkan dakwah kepada para pemimpin Quraisy dan mengacuhkan seorang buta Ummi Maktum yang ingin belajar Islam dari Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jika dilihat dari shirah Rasul, sangat berbeda konteksnya dengan konsep tholabun nusyroh ala HT. HT akan mendatangi kaum Muslim yang berada dalam tampuk kekuasaan untuk menawarkan konsep negara HT dan meminta pemimpin tersebut untuk melaksanakannya. Menurut opini saya, ini adalah satu metode instan yang ingin ditempuh HT dalam upayanya membangun daulah Islam yang pertama. Tidak ada proses terlebih dahulu agar pihak terkuat yang dimintakan tholabun nusyroh itu memang siap menerima dan melaksanakan syariat Islam, yang tentunya ini adalah jalan panjang yang penuh kesulitan, yang disebut HT sebagai sebuah metoda yang tidak praktis. Padahal jika mau jujur, metode inilah yang dipakai Rasul SAW dalam mengembangkan dakwahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ada umat yang masuk Islam setelah Rasulullah menegakkan sistem imarah (kepemimpinannya) di Madinah? Jawabannya tentu ada. Tapi mereka yang masuk Islam dikarenakan kuatnya pengaruh kaum Muslimin, terutama setelah &lt;i&gt;fathu makkah&lt;/i&gt; tentu sangat berbeda kualitasnya dengan generasi yang memperoleh pembinaan langsung dari Rasulullah SAW. Ini terbukti bahwa ketika Rasul telah wafat dan Abu Bakar RA menjadi khalifah, dua pertiga umat di daerah kekuasaan Islam murtad dan berbalik memusuhi khalifah, dan menyisakan sepertiganya yang terdapat di daerah Makkah, Madinah, dan Thaif. Ini menunjukkan pentingnya proses pembinaan pribadi bagi setiap Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke tholabun nusyroh, untuk masa sekarang kita fokuskan pembahasan di negara yang menganut demokrasi seperti Indonesia. Faktanya, dakwah HT berkembang di negara-negara demikratis yang memberikan kebebasan penduduknya berbicara dan berpendapat. Di Indonesia, tentu saja fokus aktifitas HT saat ini adalah menyerang segala bentuk interaksi pemerintah dengan masyarakat Indonesia karena mereka berada di marhalah tafa`ul ma`al ummat (berinteraki dengan masyarakat). Jangan berharap ada komentar positif muncul dari HTI terkait pemerintah Indonesia, karena memang demikianlah metode dakwahnya. Namun pengalaman reformasi 1998 membuktikan bahwa mengganti rezim berkuasa itu tidak mudah, dan yang memegang kendali kekuasaan selanjutnya tidak jauh berbeda dengan kondisi sebelumnya, hanya berganti kulit saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira, apakah penguasa baru ini akan mau menerima konsep HT, yang sebelumnya paling getol mengkritik dan menjadi oposan pemerintah? Terlebih jika menilik kembali proses "tholabun nusyrah" ala Rasulullah (jika memang dilakukan Nabi) yang mendudukkan Nabi SAW sebagai pemimpin, apakah masuk akal jika sekonyong-konyong HT dijadikan pemimpin, atau setidaknya terlibat dalam pemerintahan? Jika HT tidak terlibat, kemudian siapa yangberperan mengawasi pelakanaan syariat itu nantinya? Inilah absurdnya ide tholabun nusyroh jika dikaitkan kondisi riil saat ini. Lantas, adakah manfaat yang bisa dirasakan bangsa Indonesia dari berbagai kritik dan hujatan yang dilontarkan HT kepada pemerintah, selain bertambah kacaunya kehidupan bernegara dikarenakan semakin bertambahnya jumlah pembangkang dikalangan rakyat negeri ini? Kesimpulan saya, keadaan akan berujung pada revolusi tanpa adanya jaminan bahwa selanjutnya&amp;nbsp;Islam akan memimpin negeri ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-1885977353694750707?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/1885977353694750707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/10/catatan-tentang-hizbut-tahrir-10.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/1885977353694750707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/1885977353694750707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/10/catatan-tentang-hizbut-tahrir-10.html' title='Catatan Tentang Hizbut Tahrir (10): Tholabun Nusyroh, metode instan membangun daulah Islam?'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-1839144934417766871</id><published>2011-10-02T15:08:00.000+09:00</published><updated>2011-10-02T15:08:39.993+09:00</updated><title type='text'>Menegakkan kepemimpinan Islam: Antara Turki dan Mesir</title><content type='html'>Beberapa hari yang lalu, saya membaca berita bahwa koalisi beberapa faksi di Mesir dipimpin Ikhwanul Muslimin mengancam pemboikotan pemilu atas pasal karet dalam rancangan UU pemilu Mesir. Hari ini saya baca kembali di berita bahwa militer Mesir menyetujui revisi itu. Jauh sebelumnya, ada yang menyampaikan bahwa militer Mesir akan terus mengundur pelaksanaan pemilu Mesir demi memberikan waktu bagi kalangan yang mereka kehendaki menjadi penguasa mesir mematangkan gerakan politiknya. Alasannya adalah karena pihak yang paling siap mengikuti pemilu saat ini adalah Ikhwanul Muslimin Mesir yang tidak mereka kehendaki berkuasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat dengan apa yang saya pelajari dari konsep milik Hizbut Tahrir mengenai pengambilalihan kekuasaan. Revolusi adalah salah satu tahapan &lt;em&gt;istislamul hukmi &lt;/em&gt;ala HT (Saya yakin bahwa orang HT sendiri akan membantah hal ini, namun demikianlah adanya sebagaimana yang saya simpulkan dari membaca tulisan-tulisan Taqiyuddin Nabhani). Saat terjadi revolusi, &lt;em&gt;ahlul quwwah,&lt;/em&gt; atau kalangan yang punya kekuatanlah yang menentukan kedepannya, dalam hal ini militer. Sama juga yang dulu terjadi di Indonesia di tahun 1998. Tapi mohon maaf, bukannya saya ingin mengatakan bahwa metode HT itu visible untuk menegakkan kepemimpinan Islam, tapi bahwa memang&amp;nbsp;ada satu sisi dari analisis Ust. Taqiyuddin Nabhani yang sesuai kenyataan, yaitu tentang apa yang terjadi tatkala revolusi meletus. Revolusi sendiri sebagai jalan menegakkan kekuasaan Islam tentu tidak saya sepakati, karena jalan panjang menuju revolusi itu penuh dengan penderitaan bagi rakyat. Belum lagi tentang berdakwah ke ahlul quwwah, yang nampaknya masih menjadi 'pekerjaan rumah' buat HT untuk membuktikan konsepnya itu. Kegagalan HT Yordania melakukan revolusi di masa lalu merupakan salah satu bukti adanya kelemahan mendasar pada metoda HT, padahal diklaim bahwa tidak ada satu rumah di sana melainkan ada satu kader HT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya lain dengan apa yang terjadi di Turki. Erdogan sebagai perdana menteri Turki agaknya menjadi pusat perhatian dunia dan masyarakat Islam saat ini dengan keberaniannya berhadap-hadapan dengan Israel. Ini mungkin salah satu momentum bagi Partai Keadilan dan Persatuan Turki dalam mengembalikan Islam dalam kekuasaan di Turki, semenjak dihapuskannya Khilafah Islam Turki Ottoman tahun 1924 yang lalu. Sebelumnya, pemerintahan Erdogan dan AKP telah berhasil mengembalikan syiar Islam ke kehidupan publik di Turki semenjak mereka berkuasa, salah satunya dengan pencabutan undang-undang larangan jilbab di institusi publik di Turki. Ini adalah satu bukti mendasar adanya setitik keberhasilan bisa diraih melalui sarana demokrasi, bahwa dalam sebuah negara demokratis, Islam bisa ditegakkan tatkala seluruh umat Islam mau bersatu dan merepresentasikan dirinya dalam satu kekuatan politik yang amanah dalam memikul kepercayaan umat Islam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik adalah&amp;nbsp;bahwa Erdogan dan Abdullah Gul pernah dituduh sebagai agen zionis oleh Amir III HT Atha Abu Rasythah.&amp;nbsp;Tentang hal ini&amp;nbsp;nggak usah kaget karena manhaj HT memang seperti itu. Yang lebih mengejutkan, beberapa kalangan dari Ikhwanul Muslimin pun sempat menyangka bahwa Erdogan dkk&amp;nbsp; sudah meninggalkan cara-cara Islami, tatkala mereka mendirikan AKP yang merupakan pecahan partai Refah, namun berseberangan sikap dengan Erbakan. &lt;em&gt;Wallahu a'lamu bishshawab, &lt;/em&gt;semoga kita bisa mengambil ibrah dari segala peristiwa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-1839144934417766871?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/1839144934417766871/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/10/menegakkan-kepemimpinan-islam-antara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/1839144934417766871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/1839144934417766871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/10/menegakkan-kepemimpinan-islam-antara.html' title='Menegakkan kepemimpinan Islam: Antara Turki dan Mesir'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-6634755039959450124</id><published>2011-06-20T07:09:00.002+09:00</published><updated>2011-06-21T11:15:00.441+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan dakwah'/><title type='text'>Catatan Tentang Hizbut Tahrir (9): HT dan Demokrasi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buku '&lt;em&gt;Demokrasi sistem kufur, maka diharamkan&lt;/em&gt;' karangan Abdul Qadim Zallum (Amir HT kedua), berbicara panjang lebar tentang demokrasi dalam perspektif HT. Sekadar mengingatkan kembali, bagi HT tindakan manusia berawal dari persepsi yang merupakan produk dari dua hal: kondisi riil/informasi dan nilai rujukan. Demokrasi (sebagaimana dijelaskan di buku tersebut) muncul sebagai antitesa terhadap sistem theokrasi yang diselewengkan, dibarengi ide kebebasan manusia sebagai nilai rujukannya. Kerenanya demokrasi adalah kufur karena ia merupakan produk yang tidak berasal dari nilai-nilai Islam, tapi dari nilai-nilai manusia semata. Padahal dalam hal mu'amalah, tidak ada dalil yang menyatakan&amp;nbsp;demokrasi itu kufur. Dalam bermu'amalah, segala ijtihad dan aktifitas diperbolehkan sepanjang tidak ada larangan dalam syariat Islam. Hal lain yang menyebabkan demokrasi itu haram diambil, adalah ketika meletakkan manusia (rakyat) sebagai yang memiliki kuasa menetapkan hukum, yang berarti mengambil hak kedaulatan Allah. Kemudian tentang pemungutan suara yang lazim dalam demokrasi, juga dianggap tidak sesuai dengan Islam, karena dalam Islam segala hal diputuskan melalui kesesuaian dengan syariat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah titik pangkalnya, yang menyebabkan perbedaan pendapat antara HT dan gerakan dakwah lain yang mencoba berjuang melalui demokrasi. Terhadap alasan pertama bahwa demokrasi tidak bersumber dari Allah SWT, pihak yang lain berpendapat bahwa demokrasi dianggap sebagai masalah teknis, sebuah produk peradaban yang bisa bernilai positif maupun negatif, tergantung bagaimana dia dimanfaatkan, karena praktek penerapan demokrasi tidak terkait lagi dengan ide yang mendasari penerapannya. Syaikh Utsaimin rahimahullah berpendapat sebagaimana dikutip majalah &lt;em&gt;Al Furqan&lt;/em&gt; Kuwait terbitan 1993, bahwa berdakwah di parlemen itu boleh bahkan harus jika untuk melakukan &lt;em&gt;islahul&lt;/em&gt; (perbaikan) ummat. Senada dengan fatwa dari Lajnah Daimah Saudi Arabia yang waktu itu dipimpin oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, bahwa berdakwah melalui partai itu diperbolehkan, sepanjang pelakunya kuat dalam mempertahankan nilai-nilai Islam. Saya lebih sepakat bahwa memanfaatkan demokrasi untuk dakwah tidaklah menyimpang dari aturan Islam. Dan tidak ada landasan hukum yang kuat dalam Islam yang menyatakan bahwa berdakwah dalam sistem demokrasi menjatuhkan pelakunya kepada kekufuran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alasan yang kedua, sebenarnya sangat situasional, dan perlu dipahami dalam konteks kenegaraan. Ketika perwakilan rakyat yang memperoleh mandat membentuk undang-undang terdiri dari orang-orang shalih yang menjadikan syariat sebagai sumber hukum, sistem demokrasi akan menjadi sarana untuk mengimplementasikan syariat dalam kehidupan kenegaraan. Karenanya alasan kedua ini bisa dihindari jika diterapkan pada masyarakat Islam dengan pemahaman Islam yang baik. Dan demokrasi memberikan jalan untuk membumikan nilai-nilai Islam tanpa harus melakukan perubahan radikal pada sistem kenegaraan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam tulisan &lt;em&gt;'Terjun ke Masyarakat&lt;/em&gt;,' Taqiyudin Nabhani bahkan mengatakan bahwa terbentuknya suatu negara akan mengikuti filosofi dan pandangan kelompok terkuat di negara tersebut, apakah itu sebuah negara demokratis ataukah negara Islam sekalipun. Dan ini merupakan sebuah hal yang alamiah menurutnya. Karenanya dakwah HT harus diarahkan kepada kelompok terkuat tersebut. Dalam pandangan saya, pernyataan ini filosofinya sama dengan menyatakan kedaulatan ada di tangan rakyat, karena demokrasi menetapkan rakyat sebagai pihak terkuat itu. Konsekwensi logis dari pernyataan Taqiyudin Nabhani adalah, bahwa konstitusi atau undang-undang akan dibuat mengikuti kemauan kelompok terkuat itu. Lalu mengapa mekanisme ini tidak pula dianggap sebagai mengambil hak kedaulatan Allah SWT?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga, pemungutan suara biasa dilakukan untuk hal-hal yang sifatnya khilafiyah diantara beberapa pilihan yang sama-sama tidak bertentangan dengan konstitusi dan undang-undang. Bedanya, konstitusi Islam adalah syariat Islam, dan konstitusi negara demokratis adalah konstitusi dasarnya (Contoh: di Amerika adalah Konstitusi 1789 yang terdiri dari 7 pasal yang telah diamandemen sebagian, di Indonesia adalah UUD 1945 yang telah diamandemen.) Dalam hal penyelenggaraan negara, konstitusi adalah satu hal yang wajar karena syariat Islam sendiri terdiri dari berbagai penafsiran atas berbagai macam permasalahan, yang karenanya sangat masuk akal jika hanya beberapa hal penting dan menjadi dasar penyelenggaraan negara yang dimasukkan dalam konstitusi. Jikalau kemudian dalam penetapan undang-undang dilakukan dengan pemungutan suara, hal ini tidak menyebabkan haramnya berdakwah melalui sistem demokrasi. Lucunya, HT ternyata juga menggunakan pemungutan suara jika daulah Islam itu berhasil didirikan.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HT secara total menutup peluang penerapan sistem lain selain yang mereka pahami sebagai sistem Islam. Disinilah kontroversi besar kedua timbul: bentuk negara Islam yang diinginkan (Kontroversi pertama: menjadikan penegakan daulah sebagai tujuan utama dan pertama dari dakwah). HT tidak mau menerima pemikiran bahwa nilai-nilai dan substansi negara Islam itu bisa diwujudkan dalam sistem demokratis, asalkan berdiri pada rakyat kaum Muslim. Yang menarik, baik dalam rancangan konstitusi maupun model negara Islam yang disampaikan Taqiyuddin Nabhani dalam buku Daulah Islamiyah, ternyata terdapat banyak kesamaan atau kemiripan antara model negara Islam dengan sistem pemerintahan demokratis. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Konsep presiden/perdana menteri dan khalifah sebagai pemegang mandat kedaulatan/kekuasaan rakyat. Tidak seperti theokrasi (kekuasaan di tangan pemuka agama), atau monarki (kekuasaan ditangan raja dan bisa diwariskan pada keturunannya), aristokrasi (para pemimpin keluarga bangsawan), atau komunis (ketua partai komunis). Syabab HT tentu akan bersikeras bahwa keduanya berbeda, karena bagi HT kedaulatan ada di tangan Allah. Saya sangat sepakat dalam hal ini. Tapi dalam membentuk sebuah negara, kedaulatan di tangan rakyat tidaklah merongrong kedaulatan Allah dalam pembuatan hukum, melainkan sebuah istilah untuk menggambarkan bahwa pusat dari sistem negara adalah&amp;nbsp;rakyat. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Konsep trias politica: yudikatif, eksekutif, dan legislatif. Dalam konsep HT ada fungsi qadla yang bertugas sebagai hakim dalam melaksanakan fungsi peradilan (Dibagi dalam 3 dimensi: antar sesama individu, antara individu vs ummat, dan antara ummat vs khalifah); khalifah, mu'awin, wali, dan amir sebagai penguasa/eksekutif; dan adanya majelis ummat yang berfungsi mengontrol eksekutif dan memilih khalifah. Bedanya, konsep HT meletakkan fungsi peradilan dibawah khalifah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Penggunaan pemungutan suara dalam pembuatan keputusan. Dalam rancangan UUD negara Islam ala HT, jelas dikatakan bahwa calon-calon khalifah disusutkan menjadi 6 orang dan selanjutnya menjadi 2 orang oleh majelis ummat (Hanya yang Muslim yang boleh terlibat), untuk selanjutnya dilakukan pemungutan suara oleh penduduk Muslim untuk memilih seorang khalifah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Rancangan konstitusi oleh Taqiyuddin Nabhani ini sendiri sebenarnya menurut saya, jika memang mengacu pada Piagam Madinah, memperlihatkan inkonsistensi yang lain. Piagam Madinah memuat perjanjian yang mengatur hubungan muamalah antara penduduk Madinah, yaitu kaum Muslimin dan Yahudi. Perlu saya garis bawahi, tidak ada dalam Piagam Madinah aturan-aturan kenegaraan yang detil, selain menempatkan Rasulullah SAW sebagai pemimpin komunitas disertai penjelasan tentang wewenang Beliau sebagai pemimpin. Maknanya, Piagam Madinah lebih sebagai perjanjian antara beberapa kelompok atas suatu hal, yang pada saat ini kita mengenalnya sebagai surat perjanjian, dan bukan konstitusi. Esensi konstitusi adalah dasar pembentukan negara. Dan rancangan konstitusi Taqiyudin Nabhani memperlihatkan bagaimana beliau mengadopsi pemakaian konstitusi untuk membentuk negara, satu hal yang merupakan hasil pemikiran manusia dan tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Lantas, mengapa pula HT mengharamkan demokrasi dengan alasan itu tidak Islami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang Piagam Madinah itu adalah contoh penggunaan konstitusi, mengapa kemudian&amp;nbsp;terdapat demikian banyak perubahan dan penambahan isi dan substansi dalam konstitusi rancangan Taqiyuddin Nabhani? Tidakkah ini berarti mengatasnamakan Rasulullah SAW untuk sesuatu yang Beliau tidak contohkan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada satu hal mendasar yang dilupakan HT, bahwa dalam sistem demokrasi-pun dimungkinkan perubahan konstitusi, sehingga dalam hal ini mengubah bentuk negara juga bukan satu hal yang benar-benar mustahil. Kuncinya tentu adalah umat Islam yang memahami dan menerima Islam dengan utuh, dan mau bersatu dalam satu kekuatan politik yang berjuang bersama di pemerintah dan lembaga perwakilan rakyat. Bandingkan dengan berapa banyak jiwa dan harta yang harus dikorbankan ketika harus melakukan sebuah pengambilalihan kekuasaan secara paksa.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-6634755039959450124?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/6634755039959450124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/06/catatan-tentang-hizbut-tahrir-9-ht-dan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6634755039959450124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6634755039959450124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/06/catatan-tentang-hizbut-tahrir-9-ht-dan.html' title='Catatan Tentang Hizbut Tahrir (9): HT dan Demokrasi'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-8909032384802058137</id><published>2011-06-17T17:57:00.003+09:00</published><updated>2011-06-20T14:31:23.541+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan dakwah'/><title type='text'>Catatan Tentang Hizbut Tahrir (8): sedikit lebih dalam tentang pengambilalihan kekuasaan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa waktu yang lalu, ada teman saya mengatakan bahwa sehabat saya yang syabab HT itu pernah mengkritik PKS, mengapa tidak mendakwahi para panglima angkatan bersenjata, para jendral dan sejenisnya. Terus terang saya sempat&amp;nbsp;tidak &lt;em&gt;ngeh &lt;/em&gt;akan hal itu, sampai saya membaca tulisan Taqiyuddin Nabhani tentang "Terjun ke Masyarakat." Berikut ini sebagian kutipannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;----- Awal Kutipan -----&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Dengan demikian, terjun dan berjuang di tengah-tengah masyarakat, tidak hanya menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung di antara sesama anggota masyarakat, akan tetapi menyerang secara total interaksi yang berlangsung antara penguasa dengan umat dalam perkara yang menyangkut kemaslahatan manusia." &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Oleh karena itu, semestinya aktivitas Hizb yang paling menonjol adalah aktivitas menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dengan umat dalam semua aspek, baik menyangkut cara penguasa tersebut mengurus kemaslahatan, seperti pembangunan jembatan, pendirian rumah sakit, atau cara melaksanakan aktivitas, yang menyebabkan penguasa tersebut mampu melaksanakan (urusan umat), seperti pembentukan kementerian dan pemilihan wakil rakyat." &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Pemerintah yang ada di dunia Islam saat ini tidak dapat disamakan sosok pejabat pemerintah(al-hakim)-nya, sebagaimana dalam pemerintahan Islam. Yang ada saat ini adalah pemerintah yang sesuai dengan gambaran sistem Demokrasi. Pemerintah saat ini mencerminkan (eksistensi-pen) kelompok yang berkuasa, dan bukan pada diri seorang pejabat pemerintah yang menjadi pelaksana." &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Jadi Hizb tidak dapat dikategorikan terjun ke tengah-tengah masyarakat, kecuali setelah berhasil memasukinya dan menjadi pembimbing terhadap seluruh bentuk interaksi antara para penguasa dengan umatnya, dan sebaliknya, berdasarkan pemikiran-pemikiran yang diadopsinya."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Sesungguhnya sebuah negara muncul melalui tumbuhnya pemikiran baru, yang menjadi asasnya, sehingga kekuasaan di dalam negara itu akan berubah mengikuti perubahan pemikiran-pemikiran tadi"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kekuasan berada di tangan kelompok yang paling kuat dari berbagai kelompok-kelompok lain di tengah masyarakat."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Ini adalah perkara yang alami dan pasti terjadi dalam setiap kekuasaan yang mengatur dan memelihara kemaslahatan manusia. Ini berlaku baik dalam sistem kekuasaan kesukuan, Demokrasi, Islam bahkan dalam kekuasaan diktator sekalipun. Semuanya merupakan kekuasaan kelompok, dan bukan kekuasaan individu. Sebab individu yang mengatur dan memelihara kemaslahatan manusia, sesungguhnya hanya diperoleh dari dukungan satu kelompok yang kuat, atau diam (ridlo)nya kelompok itu terhadap kekuasaannya."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Pengambilalihan kekuasaan di negara manapun tidak mungkin terjadi kecuali dengan menjadikan kumpulan pemahaman, standardisasi dan qana’ah diadopsi oleh umat atau oleh kelompok kuat di antara mereka sebagai thariqah untuk meraih kekuasaan."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Namun jika pengambilalihan kekuasaan untuk melaksanakan sekumpulan pemahaman, standardisasi dan qana’ah tersebut berbeda atau kotradiktif dengan pemahaman yang diyakini, diterima serta dipegang teguh oleh masyarakat, maka (pengambilalihan kekuasaan-pen) hanya bisa dicapai melalui serangan dari luar, di mana kekuatan fisik dan pemikirannya mengalahkan kekuatan fisik dan pemikiran umat." &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Hizb dengan karakternya sebagai institusi pasti akan saling bertabrakan dengan institusi negara dan institusi umat agar keduanya dapat diserang secara serentak." &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Selama Hizb tidak berubah pemahaman, standardisasi dan qana’ah-nya, maka secara pasti Hizb terus-menerus menyerang dua institusi tersebut, yaitu institusi umat dan institusi negara secara serentak, termasuk Hizb akan terus menyerang institusi kelompok kuat di tengah-tengah masyarakat, sehingga menjadi satu institusi, di mana institusinya yang menonjol berada di tengah-tengah institusi umat sebagai pusat kepemimpinan. Dengan institusi baru ini, maka Hizb dapat menyerang institusi negara. Dan dengan dua institusi ini yaitu (institusi) pemikiran (Hizb) dan operasional (negara), maka ia akan mendominasi seluruh kelompok lainnya, yang kesemuanya dilebur menjadi satu institusi, yaitu institusi umat."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;----- Akhir Kutipan -----&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kutipan-kutipan diatas semakin memperjelas bagaimana proses HT melakukan pengambilalihan kekuasaan. Ada beberapa point yang kembali ingin saya garis bawahi:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Penggunaan istilah 'menyerang,' yang seolah-olah institusi yang ada (pemerintah dan masyarakat) adalah musuh. Tidak adakah istilah lain yang lebih halus? Ini bagi saya menyiratkan bagaimana HT memandang pemerintah (demokratis) dan masyarakat yang mendukungnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. HT menganggap bahwa pemerintah yang ada saat ini, yang berkuasa dalam sistem demokrasi adalah bukan pelayan/pelaksana kekuasaan umat, tapi representasi dari&amp;nbsp;kelompok penguasa, yang merupakan gambaran dari demokrasi itu sendiri. Disini terlihat jelas&amp;nbsp;bahwa HT memandang&amp;nbsp;yang menjadi sumber masalah adalah "demokrasi"-nya. Karenanya, mereka&amp;nbsp;adalah musuh yang wajib diserang dalam setiap aspeknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Berawal dari menyerang segala aktifitas pemerintah demokratis ini, HT berharap ada suatu kondisi yang memungkinkan adanya pergantian penguasa. Silakan menyimpulkan sendiri, kondisi seperti apa yang dimaksud? Saya rasa, tidak ada istilah yang lebih mendekati maknanya selain revolusi atau kudeta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Dalam kondisi tersebut,&amp;nbsp;kelompok &lt;strong&gt;terkuatlah&lt;/strong&gt; yang akan memegang kekuasaan. Filosofi dan nilai-nilai yang dianut kelompok terkuat ini yang akan diterapkan dan menjadi nilai dan filosofi yang dianut oleh komponen masyarakat lainnya. Disini saya baru &lt;em&gt;ngeh&lt;/em&gt; atas kritik pada pks tersebut, karena mungkin menurut HT&amp;nbsp;kelompok terkuat adalah militer. Harapannya saat revolusi terjadi, militer dipimpin oleh para jendral dan komandan yang shaleh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Jika memang berpendapat demikian, mengapa bukan HT sendiri yang memfokuskan dakwahnya kepada para presiden, petinggi partai, dan para pemimpin-pemimpin militer? Faktanya, dakwah HT lebih bisa diterima di kalangan luar pemerintahan, sebagaimana sikap HT yang memilih berada diluar sistem pemerintahan demokratis. Karenanya, sulit bagi saya untuk tidak menyimpulkan bahwa HT mengarahkan pada sebuah revolusi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. Revolusi dalam sejarah manusia, tidak bisa lepas dari pertumpahan darah. Dan jikapun revolusi itu terjadi, apakah militer akan dengan serta merta menerima pemikiran HT? Ataukah mereka berbalik memusuhi rakyat yang dipandang sebagai pembangkang?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Allahu a'lam bish shawaab&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-8909032384802058137?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/8909032384802058137/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/06/catatan-tentang-hizbut-tahrir-8-sedikit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/8909032384802058137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/8909032384802058137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/06/catatan-tentang-hizbut-tahrir-8-sedikit.html' title='Catatan Tentang Hizbut Tahrir (8): sedikit lebih dalam tentang pengambilalihan kekuasaan'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-1640779826404745748</id><published>2011-05-26T11:45:00.002+09:00</published><updated>2011-05-26T14:19:59.037+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan dakwah'/><title type='text'>Catatan Tentang Hizbut Tahrir (7): Metode Dakwah HT (3)</title><content type='html'>Ini adalah bagian ketiga dari catatan saya mengenai metode dakwah Hizbut Tahrir, masih dari kitab &lt;em&gt;Mafahim Hizbut Tahrir&lt;/em&gt; yang memuat pokok-pokok pikiran HT oleh sang pendirinya, Taqiyuddin Nabhani. Disini kita akan lebih jauh&amp;nbsp;menemukan ideologi radikal HT yang&amp;nbsp;saya rasa tidak banyak orang yang awam akan HT mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- Awal Kutipan -----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Diharuskan meneladani kehidupan Rasulullah SAW di Makkah dan mengikuti langkahnya dalam berdakwah..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"dimulai dengan langkah pengkajian dan pemahaman tsaqafah Islam yang disertai dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban Islam"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...beralih ke fase berikutnya, yaitu tafa'ul (berinteraksi) dengan ummat, sampai ummat dapat memahami Islam dan mengerti keharusan terwujudnya daulah Islam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...dengan membeberkan kerusakan-kerusakan masyarakat tersebut serta mencela dan menyerang pemahaman-pemahaman mereka yang salah, pendapat-pendapat mereka yang rusak serta merendahkannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Melakukan aktifitas selain dakwah adalah racun dan penghalang dakwah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rasulullah SAW ketika menyerukan Islam di Makkah yang penuh dengan berbagai kefasikan/kemaksiatan dan kekejian, tetapi beliau tidak mengambil tindakan apapun untuk menghilangkannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"beliau hanya mencela tuhan-tuhan mereka, menganggap dungu akal pikiran mereka dan merendahkan perbuatan mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karenaitu, tidak diperbolehkan bagi suatu kelompok yang mengemban dakwah —dalam kapasitasnya sebagai sebuah kelompok— melakukan aktifitas selain dakwah. Hendaknya kelompok tersebut membatasi dirinya dalam aspek ide dan dakwah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"tidak ada larangan bagi individu-individu anggota suatu kelompok dakwah mengerjakan aktifitas sosial atau kemasyarakatan. Akan tetapi suatu kelompok dakwah tidak diperkenankan melakukannya, karena tugasnya tidak lain adalah menegakkan daulah Islam..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tujuan kutlah adalah melangsungkan kembali kehidupan Islam di negeri Islam dan mengembangkan dakwah Islam ke seluruh dunia. Metode yang ditempuh untuk mencapai hal ini ialah melalui pengambil-alihan kekuasaan." &lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;----- Akhir Kutipan ----- &lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Hmmm, nampaknya ini akan menjadi satu tulisan yang&amp;nbsp;mengundang kontroversi, mengingat demikian kontroversialnya isi dari pernyataan-pernyataaan yang saya buatkan catatannya.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama,&lt;/em&gt; sebuah langkah awal yang bagus dari HT ketika mencoba meneladani Rasulullah SAW dalam berdakwah, yaitu dimulai dari pengkajian dan penerapan Islam dalam tataran individu. Hanya saja pertanyaan saya disini, adalah sejauh mana penerapan Islam itu dilakukan pada diri anggotanya? Dalam buku &lt;em&gt;Daulah Islamiyah, &lt;/em&gt;Taqiyudin Nabhani menyatakan bahwa para sahabat anggota kelompok dakwah pertama adalah para penghafal Al Qur'an. Tapi sejauh mana HT mewajibkan para syababnya untuk menghafal al Qur'an, selain ayat-ayat yang terkait politik dan kekuasaan? Dalam berbagai tulisan, banyak syabab HT mengklaim bahwa HT sangat memperhatikan aspek aqidah, ibadah, dan akhlaq dari para anggotanya. Hanya saja memang, diakui atau tidak, cukup sulit kita temukan implementasi kongkret dari hal itu. Yang menonjol kemudian adalah karakter HT yang sering mencela penguasa. Saya sendiri paham bahwa memang HT melarang anggotanya bergerak mengatasnamakan HT kecuali dalam dakwah siyasiyah mereka. Kalaupun ada yang melakukan aktifitas lain: terlibat dalam aktivitas sosial, dalam kajian fiqh, atau kajian keIslaman lain yang non politik, dianggap sebagai tindakan pribadi. Celakanya, HT memandang aktifitas lain selain penegakan daulah sebagai racun dan penghalang dakwah. Di lapangan kemudian memang jarang kita temui aksi riil HT dalam pembinaan umat (non-politik) dan sosial. Maka tidak salah memang jika banyak yang menganggap HT kurang memperhatikan aspek aqidah, ibadah, dan akhlaq ini. &lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua, &lt;/em&gt;setelah menyiapkan kader-kader dakwah, langkah selanjutnya yang ditempuh HT adalah tafa'ul (berinteraksi) dengan ummat, sampai ummat dapat memahami Islam dan mengerti keharusan terwujudnya daulah Islam. Memahamkan umat akan Islam secara keseluruhan adalah sebaik-baiknya aktifitas, namun menjadikan tujuannya &lt;em&gt;"Sampai umat dapat mengerti keharusan terwujudnya daulah Islam,"&amp;nbsp;&lt;/em&gt;adalah jelas&amp;nbsp;menyelewengkan&amp;nbsp;inti dakwah Rasulullah itu sendiri, karena Rasulullah dalam sirah maupun Al Qur'an yang turun pada masa itu (di Makkah), tidak pernah menyinggung keharusan menegakkan daulah.&amp;nbsp;Karenanya menurut pendapat saya, kesesuaian dakwah HT dengan metode Rasulullah&amp;nbsp;harus bisa diukur juga melalui bagaimana mereka menyiapkan karakter Muslim dan umat Islam sebelum umat mampu menegakkan kepemimpinan Islam. Sayangnya justeru hal ini diharamkan HT untuk dijadikan salah satu misi dakwah berjamaahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga, &lt;/em&gt;metode HT untuk menegakkan daulah adalah dengan melakukan &lt;strong&gt;pengambilalihan kekuasaan.&lt;/strong&gt; Disinilah sebenarnya wajah sesungguhnya HT terlihat, yaitu selain berkarakteristik radikal, juga bersifat &lt;strong&gt;subversif&lt;/strong&gt; terhadap penguasa yang bagi mereka tidak memenuhi kriteria daulah Islam&lt;strong&gt;. &lt;/strong&gt;Bagi saya pribadi, sebenarnya&amp;nbsp;boleh saja sebuah gerakan dakwah&amp;nbsp;memiliki misi&amp;nbsp;untuk memegang kekuasaan, dan menggunakan kekuasaan itu untuk kepentingan dakwah. Namun caranya harus sesuai dengan syariat&amp;nbsp;yang dipahami dengan cara yang benar. Rasulullah memang merendahkan pemahaman dan perilaku jahiliyah masyarakat Makkah diwaktu beliau berdakwah. Namun yang beliau rendahkan adalah dalam konteks Islam VS Jahiliyah/ghairul-Islam yang jelas substansinya, misalnya penyembahan berhala, perlakukan yang salah terhadap wanita dan budak, dsb. Perlu saya garis bawahi, belum pernah saya menemukan celaan Rasulullah terhadap sistem pemerintahan saat itu (yang menurut saya bersifat Aristokrat), selain Rasulullah SAW mencela para pemimpin Quraisy karena kebiadaban pribadi mereka. Mengapa ini saya berikan catatan, tidak lain karena saat ini, aktifitas HT lebih banyak mencela penguasa di negeri Muslim dan membawa penyebab&amp;nbsp;kerusakan yang terjadi adalah karena kesalahan sistem yang dipakai, bukan karena kesalahan pribadi mereka. Padahal sebagaimana saya bahas dalam catatan sebelumnya, syarat sebuah masyarakat yang sejahtera adalah keimanan dan ketaqwaan penduduknya, bukan karena sistem yang dipakai. Masyarakat yang terdiri dari penduduk yang shalih dan shalihat tentu akan menjadikan orang-orang yang shalih dan shalihat juga sebagai pemimpin mereka, dan menggunakan sistem yang tidak melanggar syariat Islam dalam mengelola urusannya. Apakah mereka menggunakan sistem demokrasi, monarki, teokrasi, atau aristokrasi hanya akan menjadi masalah teknis bagaimana menjalankan amanat kekhilafahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan HT saat ini (Studi kasus di Indonesia) adalah berusaha menggiring opini masyarakat bahwa perubahan menuju kondisi yang lebih baik hanya akan bisa diraih dengan mengganti sistem pemerintahan yang ada dengan sistem daulah Islam yang mereka pahami, dengan cara membeberkan kerusakan dan penyelewengan yang ada, dan menimpakan kesalahan dan penyebabnya kepada sistem demokrasi. Persis seperti yang digariskan Taqiyuddin Nabhani. Apa yang diharapkan adalah sebuah pembangkangan massif yang berujung pada lemahnya pemerintah dan memungkinkan terjadinya kudeta. Dan disinilah benang merah aktifitas HT terlihat jelas:&lt;br /&gt;- berjuang di luar sistem, namun bersikap oposisi terhadap pemerintah&lt;br /&gt;- mencela dan menjelekkan penguasa&lt;br /&gt;- menjadikan demokrasi sebagai penyebab buruknya kondisi masyarakat&lt;br /&gt;- memandang bahwa daerah yang merajalela kerusakan dan demoralisasi sebagai tempat ideal untuk titik tolak dakwah&lt;br /&gt;Jika&amp;nbsp;anda membaca bahasan utama publikasi-publikasi resmi HT, di Indonesia contohnya majalah bulanan &lt;em&gt;al Wa'ie &lt;/em&gt;dan buletin mingguan &lt;em&gt;al Islam,&lt;/em&gt; anda pasti akan mengerti maksud saya. HTI sepertinya berharap bahwa suatu saat revolusi akan meletus di Indonesia yang berujung pada munculnya daulah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu konsekwensi logis dari hal ini adalah: segala upaya perbaikan masyarakat &lt;em&gt;(Islahul ummat) &lt;/em&gt;yang dilakukan dalam kerangka pemerintah (daarul kufur)&amp;nbsp;yang dianggap tidak sesuai dengan daulah Islam adalah musuh (racun) dan penghalang dakwah HT. Karenanya sulit bagi saya untuk tidak menyimpulkan bahwa HT tidak&amp;nbsp;senang dengan aktifitas kelompok Muslim lain yang berjuang mewujudkan pemerintah yang baik, bersih, adil, dan amanah selema tidak berniat mendirikan daulah Islam. Misalny di Indonesia, entah apakah itu dilakukan PKS, PPP, PAN, PKB, atau parpol yang bernafas Islam lainnya. Bahkan, mereka mungkin tidak akan merasa sedih apabila ada diantara para aktifisnya mengalami sandungan, dan menimpakan kesalahannya pada sistem demokrasi yang dianut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Allahu a'lamu bishshawaab&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-1640779826404745748?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/1640779826404745748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/05/catatan-tentang-hizbut-tahrir-7-metode.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/1640779826404745748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/1640779826404745748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/05/catatan-tentang-hizbut-tahrir-7-metode.html' title='Catatan Tentang Hizbut Tahrir (7): Metode Dakwah HT (3)'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-8985681873305527114</id><published>2011-05-26T09:09:00.003+09:00</published><updated>2011-05-26T14:15:39.710+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan dakwah'/><title type='text'>Catatan Tentang Hizbut Tahrir (6): Metode Dakwah HT (2)</title><content type='html'>Selanjutnya saya akan kembali mengutip beberapa pernyataan dari buku &lt;em&gt;Mafahim Hizbut Tahrir &lt;/em&gt;tulisan Ust. Taqiyuddin Nabhani seputar topik metode dakwah HT untuk mencapai misi mereka yakni menegakkan khilafah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- Awal Kutipan -----&lt;br /&gt;"Usaha memperbaiki individu dilakukan tidak lain untuk menjadikan mereka bagian dari kutlah/kelompok dakwah untuk mengemban dakwah ke masyarakat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perbaikan individu akan tercapai dengan jalan memperbaiki masyarakatnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...dakwah yang berlandaskan aqidah Islam mempunyai ciri yang tegas, berani dan kuat, analitis serta menentang segala sesuatu yang bertentangan dengan fikrah dan thariqah, serta siap menghadapi dan menjelaskan kepalsuannya tanpa melihat lagi hasil maupun situasi dan kondisinya. Begitu pula tanpa mempedulikan lagi apakah mabda itu sesuai dengan keyakinan masyarakat atau malah bertentangan, apakah diterima masyarakat, ditolak atau malah dilawan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"dakwah menyeru kepada Islam ditujukan kepada non-Muslim. Mereka diseru untuk memeluk dan masuk ke pangkuan Islam. Metode praktis (amaliyah) dakwah kepada mereka dilakukan dengan menegakkan hukum-hukum Islam di tengah-tengah mereka oleh Daulah Islam, sehingga mereka melihat cahaya Islam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam ini ditujukan pada masyarakat yang individu-individunya mayoritas muslim tetapi memberlakukan hukum selain Islam, yang digolongkan menjadi mayarakat yang tidak Islami sehingga layak disebut sebagai Daarul Kufur. Dakwah di tengah-tengah masyarakat seperti ini dilakukan dalam rangka mendirikan daulah Islam"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kelompok dakwah (kutlah) melakukan sesuatu yang diwajibkan syara' dalam keadaan semacam ini --yaitu menempuh metode fikriyyah-- sampai terwujudnya daulah Islam yang akan menerapkan dakwah secara praktis. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- Akhir Kutipan -----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin menarik memang. Ada satu ciri yang ternyata melekat kuat pada karakteristik HT: &lt;strong&gt;radikalisme.&lt;/strong&gt; Sebenarnya ada banyak hal yang mendasari sikap radikal kalangan HT ini. Setidaknya menurut saya, salah satunya adalah karena&amp;nbsp;sikap mereka untuk meninggalkan realita. Dalam kutipan diatas, jelas dikatakan bahwa ketegasan yang ditampilkan tidak mempedulikan hasil ataupun situasi dan kondisi yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kutipan diataspun juga jelas ditegaskan kembali bahwa tujuan dakwah HT adalah penegakan daulah dan khilafah, sedangkan proses pembentukan individu Islam adalah tanggung jawab pemerintah. HT sebagai gerakan dakwah melakukan pembinaan ke anggota dan calon anggotanya semata-mata untuk menjadi pendakwah ala HT, bukan untuk menjadi insan Muslim seutuhnya (karena yang demikian adalah tugas negara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut pandang meninggalkan realita dan keinginan menegakkan khilafah ini, saya menemukan satu kontradiksi. Taqiyuddin Nabhani banyak membahas kegagalan gerakan dakwah (lain) dalam menegakkan khilafah dan juga&amp;nbsp;membahas mengenai penyebab kemunduran khilafah Islam. Beliau menyatakan, bahwa kemunduran khilafah Islam dimulai ketika umat Islam menutup&amp;nbsp;pintu ijtihad seiring dengan melunturnya pemahaman dan pelaksanaan Islam di kalangan umatnya (Baca buku &lt;em&gt;Daulah Islamiyah&lt;/em&gt;, karangan Taqiyudin Nabhani). Artinya, beliau mengakui bahwa seiring perkembangan zaman, diperlukan pemikiran-pemikiran dan ijtihad baru mengenai bagaimana Islam diterapkan.&amp;nbsp;Kontradiktif dengan pernyataan beliau tentang Islam itu tidak sesuai perkembangan zaman, dan umat/masyarakatlah yang harus diubah mengikuti pemahaman Islam yang sudah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqiyuddin Nabhani&amp;nbsp;dalam banyak tulisannya sering membahas model negara Islam yang ideal. Lucunya, disaat&amp;nbsp;beliau menyatakan bahwa&amp;nbsp;sistem ini pernah memimpin dunia, beliau tidak&amp;nbsp;mengaitkan mengapa sistem ideal itu mengalami keruntuhan dengan manhaj dakwah yang harus diambil untuk mengembalikan kejayaan Islam. Padahal beilau pun mengakui, kemunduran itu adalah kerena lunturnya Islam dari umat Islam. Bukan karena berubahnya sistem kenegaraan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika sederhana mengatakan,&amp;nbsp;seandainya sistem negara ini diterapkan tanpa ada pengobatan (lebih dahulu) atas penyakit&amp;nbsp;yang telah menyebabkannya runtuh, sistem yang baru berdiri ini pasti juga akan mengalami kemunduran yang sama. Padahal kita yakin, kalaupun sistem ini ditegakkan, kebesarannya (kekuasaan, teknologi yang dikuasai, persenjataan, kekuatan ekonomi, dll) tidak akan ada artinya dibandingkan kejayaan Islam dimasa lampau. Dan sejarah memperlihatkan bahwa keruntuhan khilafah Islam dimasa lalu tidak terjadi secara tiba-tiba, namun merupakan sebuah proses yang diakibatkan melemahnya nilai-nilai Islam dari para penduduk dan masyarakat Muslim, termasuk di kalangan para penguasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qur'an banyak mengisahkan bangsa-bangsa yang memperoleh kejayaan duniawi: Kaum ‘Ad yang mampu membuat bangunan-bangunan yang tinggi (QS 89:6-8). Kaum Tsamud yang mampu memotong batu-batu besar di lembah (QS 89:9), Fir’aun yang mampu&amp;nbsp;membangun pasukan yang sangat kuat (QS 89:10), atau&amp;nbsp;Kaum Saba’ yang dengan teknologinya mampu membuat bendungan besar (QS 34:15-16). Allah SWT mencabut kejayaan kaum-kaum ini karena kekufuran mereka kepada Allah. Dan peristiwa yang sama terjadi pada umat Islam, dimana mereka mampu memimpin dunia dan menguasai setengah dunia, namun akhirnya runtuh karena kegagalan dalam menjaga keimanan dan keshalihan umat Islam.&lt;br /&gt;Allah SWT menyatakan dalam Al Qur'an,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.&lt;/em&gt;" (QS Al A'raf: 96)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik&lt;/em&gt;." (QS An Nuur: 55)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT jelas memberikan prasyarat keimanan, ketaqwaan, dan kemauan beramal sholeh bagi &lt;strong&gt;penduduk/sekelompok umat &lt;/strong&gt;agar mereka memperoleh kekuasaan dan berkah dari Allah. Terwujudnya sistem negara yang Islami adalah sebuah proses alamiah dan merupakan sesuatu yang dijanjikan Allah akan dimiliki oleh umat Islam, jika mereka beriman dan konsekwen dengan keimanan itu. Jadi, kekuasaan itu adalah hadiah akan sebuah kemenangan dakwah. Bagaimana mungkin kita berjuang menggapai kemenangan dakwah itu tanpa fokus untuk memenuhi syarat-syarat kemenangan dakwahnya? Disini saya berharap, HT tidak hanya berkampanye akan penegakan khalifah, tapi lebih kongkrit bergerak untuk&amp;nbsp;membina dan menshalihkan umat, dan percayalah akan janji Allah bahwa khilafah itu akan tegak dengan sendirinya di tengah-tengah umat Islam yang beriman, bertaqwa, dan menegakkan amal shalih. Itu jika aktifis HT yakin dan percaya pada janji Allah melalui Qur'anNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW berhasil menyusun kekuatan di Madinah, yang kemudian menjadi cikal bakal penyebaran Islam ke seluruh dunia, setelah melalui sebuah proses panjang menanamkan keimanan dan ketaqwaan dikalangan para shahabat. Tidak pernah Rasulullah SAW menyatakan bahwa tujuan dakwah Islam adalah menegakkan khilafah, selain menyatakan bahwa suatu saat umat Islam akan menguasai dunia. &lt;br /&gt;Allah SWT berfirman, "&lt;em&gt;Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.&lt;/em&gt;" (QS Ali Imran: 164)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya pahami dari ayat ini,&amp;nbsp;Rasulullah SAW mentarbiyah umat&amp;nbsp;menjadi Muslim sejati&amp;nbsp;hingga akhirnya mereka mampu menegakkan Islam ke seluruh dunia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-8985681873305527114?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/8985681873305527114/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/05/catatan-tentang-hizbut-tahrir-6-metode.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/8985681873305527114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/8985681873305527114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/05/catatan-tentang-hizbut-tahrir-6-metode.html' title='Catatan Tentang Hizbut Tahrir (6): Metode Dakwah HT (2)'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-2068859099897845143</id><published>2011-05-10T13:52:00.000+09:00</published><updated>2011-05-10T13:52:48.660+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan dakwah'/><title type='text'>Catatan Tentang Hizbut Tahrir (5): Titik Awal, Titik Tolak, dan Titik Sentral Dakwah</title><content type='html'>Sebelum melanjutkan ke manhaj dakwah HT, ada satu bagian menarik dari buku tulisan Mafahim Hizbut Tahrir, yaitu tentang bagaimana Ust. Taqiyuddin Nabhani membuat definisi tentang titik awal (tempat dakwah bermula), titik tolak (tempat dakwah berkembang), dan titik sentral (tempat daulah pertama kali ditegakkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- Awal Kutipan ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena itu dakwah harus dikembangkan di satu tempat tertentu, lalu ia berkembang sehingga layak dijadikannya sebagai titik awal, baru kemudian tempat tersebut atau tempat lainnya (dimana dakwah telah berkembang) dapat dijadikan sebagai titik tolak dakwah. Dari situlah dakwah akan menyebar pada jalan yang seharusnya, lalu tempat tersebut ataupun yang lain dijadikan sebagai titik sentral tempat tegaknya Daulah yang akan memusatkan kegiatan dakwah yang akan menyebar di jalan yang seharusn yaitu tidak lain dengan jalan jihad."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penentuan titik awal pasti dilakukan di suatu tempat yang di dalamnya muncul seorang pemimpin, yang pertama kali dalam benaknya tergambar dengan gamblang asal muasal dakwah dan telah dipersiapkan oleh Allah SWT untuk mengembangkannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"tempat yang paling layak bagi titik tolak adalah tempat yang di dalamnya berkembang kedzaliman, baik dalam aspek politik maupun ekonominya dan yang di dalamnya merajalela atheisme/kekufuran dan kerusakan moral."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sedangkan tempat yang telah menerima fikrah dan thariqah (mabda ini), kondisi masyarakatnya kondusif serta pemikiran dan thariqah tadi telah mendominasi lingkungan tersebut, maka tempat itu cocok sebagai titik sentral tanpa memperhatikan lagi jumlah pengemban mabda Islam di dalamnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- Akhir kutipan ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut catatan saya dari beberapa kutipan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dakwah dimulai dari satu orang yang padanya tergambar tentang dakwah yang akan dikembangkan. Dalam hal ini, orang tersebut adalah Taqiyuddin Nabhani dan titik awal gerakan dakwah adalah lokasi tempat beliau memulai dakwahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, lokasi yang paling layak bagi dakwah HT untuk berkembang dan bisa menjadi titik tolak adalah daerah yang dipenuhi dengan kedzaliman, baik dalam aspek politik maupun ekonomi, dan merajalela atheisme/kekufuran dan kerusakan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai disini, saya terhenyak. Satu pertanyaan yang langsung muncul di benak saya: apakah HT diuntungkan dengan kondisi merajalelanya kerusakan, karena tandanya dakwah mereka akan berkembang? Saya tidak berani mengambil kesimpulan terlalu jauh, meski saya sangat berharap jawabannya adalah tidak. Mengapa saya tidak berani menyimpulkan, karena ceritanya menjadi lebih rumit jika dikaitkan dengan kenyataan bahwa hampir di setiap negara yang berkembang dakwah HT disana, menerapkan sistem demokrasi, seperti Indonesia, sedangkan HT menjadikan pendirian daulah (yang berarti menumbangkan pemerintahan demokrasi) sebagai tujuan dakwahnya. Artinya, HT tidak akan mendukung aksi-aksi yang memperkuat pemerintahan demokratis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bisa juga berarti bahwa dalam dakwah HT, diakui atau tidak, negara Islam memang diposisikan sebagai suatu penyelamat/ratu adil terhadap kedzaliman dan kerusakan yang merajalela. Tapi mengapa seolah dilupakan bahwa dengan menerapkan Islam dalam skala terbatas sesuai kemampuan yang ada saat itu akan menjadi sebuah solusi praktis? Misalnya, dalam suatu lingkungan yang merajalela dengan riba/rentenir, mengapa tidak didirikan baitul mal yang memberikan pinjaman lunak disertai pendampingan untuk meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat, sehingga dapat menawarkan sebuah opsi praktis yang memberi dampak nyata bagi masyarakat? Apakah Islam cukup dimaknai sebagai mimpi indah atau romantisme masa lalu yang menjadi kenyataan hanya saat khilafah berdiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, syarat didirikannya daulah disuatu tempat adalah dominasi pemikiran HT di tempat itu. Mengenai syarat kondusif, saya tidak menemukan penjelasannya, terutama bila dikaitkan dengan pernyataan bahwa dakwah HT akan berkembang di tempat yang merajalela kedzaliman, kekufuran, dan kerusakan moral. Kita perlu ingat bahwa diantara prasyarat pemerintahan yang efektif adalah adanya alat-alat negara yang loyal dan kuat; dan adanya dukungan kuat/legitimasi dari rakyat. Inilah mungkin penjelasan dari catatan saya sebelumnya, dimana pemerintahan ini akan menerapkan syariat secara revolusioner, dimana sistem negara Islam itu akan diterapkan dengan pemaksaan bagi mereka yang menolaknya, meski itu disebabkan ketidaktahuan terhadap syariat Islam itu sendiri. Lantas apakah HT juga tidak berpikir bahwa alat negara itu juga terdiri dari manusia, dan bukan mesin yang bisa diprogram dan dijalankan sesuai perintah pemakainya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa diskusi online di internet (kaskus, dudung.net, myquran, dll), saya menemukan bahwa beberapa simpatisan HT (entah mereka syabab, daris, atau simpatisan saja) bahwa HT internasional pernah menawarkan kepada beberapa penguasa negara Muslim untuk mengemban dakwah daulah Islam ala HT itu. Setidaknya yang saya baca adalah kepada Mullah Umar di Afghanistan dan Ayatollah di Iran. Mungkin inilah pengejawantahan dari implementasi titik sentral ini. Satu yang menjadi pertanyaan, jika benar ditawarkan kepada Ayatollah di Iran (yang kita ketahui sebagai penganut syiah), tidakkah isu aqidah sang calon khalifah ini menjadi isu penting bagi HT?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-2068859099897845143?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/2068859099897845143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/05/catatan-tentang-hizbut-tahrir-5-titik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2068859099897845143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2068859099897845143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/05/catatan-tentang-hizbut-tahrir-5-titik.html' title='Catatan Tentang Hizbut Tahrir (5): Titik Awal, Titik Tolak, dan Titik Sentral Dakwah'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-6460353835036204280</id><published>2011-05-07T16:59:00.003+09:00</published><updated>2011-05-08T19:25:55.014+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan dakwah'/><title type='text'>Catatan Tentang Hizbut Tahrir (4): Metode dakwah HT (1)</title><content type='html'>Bagian selanjutnya dari catatan saya, mulai membahas tentang metode dakwah HT. Cukup panjang dan akan terbagi menjadi beberapa bagian.&amp;nbsp;Berikut sebagian kutipan untuk kali ini, masih diambil dari &lt;em&gt;Mafahim Hizbut Tahrir&lt;/em&gt; karya Ust. Taqiyuddin Nabhani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- Awal Kutipan ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berdasarkan hal ini maka seluruh perbuatan/aktivitas yang dimaksudkan untuk melaksanakan fikrah Islam berupa perbuatan-perbuatan yang menghasilkan sesuatu yang tidak nyata, harus ditolak karena sangat bertentangan dengan thariqah Islam"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sedangkan orang yang mengindera suatu kenyataan kemudian ia berfikir mengenai cara untuk merubah kenyataan itu, lalu berbuat berdasarkan pemikirannya, maka inilah yang akan merubah atau menyesuaikan kenyataan sesuai dengan ideologinya dan merubahnya secara totalitas. Ini adalah cara yang sesuai dengan metode revolusioner yang tidak lain adalah satu-satunya metode untuk melanjutkan kehidupan Islam..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...manusia akan memahami ideologi ini dengan cara yang benar, yang akan mendorongnya untuk melakukan suatu perbuatan..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ia berusaha untuk mempersiapkan individu-individu dan kelompok masyarakat serta lingkungannya dengan pemikiran tersebut"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemudian memulainya secara praktis melalui pemerintah yang menerapkan ideologi ini dengan penerapan yang bersifat revolusioner..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hal ini tidak akan terjadi kecuali dengan metode membina otak dengan berbagai pengetahuan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--- Akhir Kutipan ---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kata kunci yang perlu di tulis ulang dari kutipan ini adalah: pemikiran, persiapan individu dan masyarakat, melalui pemerintah, bersifat revolusioner. Semua kata-kata tersebut akan menggambarkan secara umum metode yang ditempuh HT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, yang diharapkan muncul dari sebuah aksi dakwah adalah aksi yang menghasilkan dampak nyata. Secara khusus, dalam buku ini dicontohkan bahwa ketika menghadapi serangan dari orang kafir, masyarakat atau negara Muslim tidak cukup hanya membolak-balik hadits sahih Bukhari untuk memutuskan tindakan yang diambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua,&amp;nbsp;segala aktifitas HT akan terpusat pada pembentukan pemikiran. Karenanya, HT akan beraktifitas pada tataran isu dan wacana. Mungkin para aktifisnya akan banyak membahas tentang ekonomi Islam, peradilan Islam, dan tentu saja pemerintahan Islami, namun sekali lagi semuanya akan terbatas pada isu semata. Dan yang demikian inilah yang dimaksud karya nyata dari HT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat suatu ketika di forum taklim di kampus saya, pembicara mengulas tentang sistem ekonomi Islam. Bagaimana usaha-usaha skala kecil bisa dilakukan untuk merintis pelaksanaan sistem ekonomi ini. Satu hal yang saya tidak akan lupa, sahabat saya yang syabab HT itu kembali mengatakan bahwa yang lebih penting adalah mengubah sistemnya agar menerapkan sistem ekonomi Islam, dan beliau sama sekali tidak percaya atau sangat pesimis usaha-usaha merintis sistem ekonomi Islam pada tataran mikro, tidak akan berhasil tanpa mengubah sitem pemerintahannya. Mungkin beliau lupa, bahwa amalan manusia tidak melulu diukur dari tingkat keberhasilan, namun lebih pada keikhlasan, kesesuaian dengan syariat, dan kesungguhan upaya itu. Itu tanpa kita mendiskusikan efektifitas dari upaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, langkah awal yang dilakukan HT adalah membina pemikiran dari tiap individu. Diharapkan dengan pemikiran yang disertai kemampuan membayangkan dan memvisualisasikan, mulai dari kondisi riil sampai kondisi ideal yang diharapkan, timbul sebuah keinginan untuk bertindak. Aksi yang diharapkan tentunya adalah menyebarkan pemikiran ini dan membentuk pemikiran-pemikiran orang-orang disekelilingnya. Diskursus mengenai wacana sistem negara Islam akan menjadi sentral pembahasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, perubahan yang diinginkan haruslah melalui pemerintah, karena sekali lagi, thariqah atau metode menerapkan syariat Islam paling mudah sesuai pemahaman HT adalah melalui daulah. Dari sini sebenarnya timbul salah satu&amp;nbsp;kontroversi terbesar dari manhaj dakwah HT, yaitu meletakkan penegakan khilafah sebagai tujuan &lt;strong&gt;pertama dan utama&lt;/strong&gt;. Jika membaca referensi HT, adalah merupakan kesalahan bagi sebuah gerakan dakwah jika tidak fakus kepada penegakan khilafah ini. Karenanya,&amp;nbsp;akan jarang kita jumpai kegiatan-kegiatan lain di koordinir oleh HT, semisal program terkait interaksi dengan al Qur'an (tahsin, tahfidz, kajian tafsir, dll), pengentasan kemiskinan (pembuatan baitul maal atau koperasi, pelatihan dan pemberdayaan orang miskin, pendampingan kaum petani dan buruh, dsb), aksi sosial bencana alam, dll, meskipun tahapan dakwah sudah mencapai tahapan yang ditujukan ke masyarakat/komunitas. Yang kita jumpai adalah seminar-seminar atau diskusi, membuat selebaran dan tulisan,&amp;nbsp;serta demo-demo (HT menyebutnya &lt;em&gt;masirah&lt;/em&gt;) yang isinya menghujat dan menjelekkan pemerintah (demokratis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepengetahuan saya, Islam memang sangat menekankan pentingnya pemilihan pemimpin. Namun dalam Qur'an dan Sunnah, tidak ada perintah untuk langsung menegakkan khilafah, atau menjadikan penegakan khilafah sebagai tujuan dakwah, dan ini sudah merupakan kesepakatan para ulama dari berbagai madzhab, kecuali para ulama HT tentunya. Kesimpulan untuk menjadikan penegakan khilafah sebagai tujuan pertama dan utama, adalah buah pemikiran para pengasas HT -dimulai dari Taqiyudin Nabhani- yang sayangnya menurut saya&amp;nbsp;justru tidak didukung oleh dalil yang qath'i, selain merupakan buah pemikiran saja. Qath'i adalah terminologi yang dipakai juga oleh HT bahwa sebuah kesimpulan dalam hal syariat harus didukung oleh dalil/nash yang mutawatir (sahih melalui berbagai jalan/perawi) dan tidak mengandung ambiguitas (syubhat). Dan kita tidak akan menemukannya dalam hal ini.&amp;nbsp;Dengan kenyataan ini,&amp;nbsp;menjadi tidak fair jika kemudian HT mengklaim bahwa metodenyalah yang paling sesuai dengan syariat Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lain&amp;nbsp;yang menarik, adalah bahwa perubahan yang dilakukan bersifat &lt;strong&gt;revolusioner. &lt;/strong&gt;Kita simpan dulu pembahasannya pada catatan berikutnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-6460353835036204280?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/6460353835036204280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/05/catatan-tentang-hizbut-tahrir-4-metode.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6460353835036204280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6460353835036204280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/05/catatan-tentang-hizbut-tahrir-4-metode.html' title='Catatan Tentang Hizbut Tahrir (4): Metode dakwah HT (1)'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-4975626597609904029</id><published>2011-04-23T08:38:00.004+09:00</published><updated>2011-05-07T17:01:12.726+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan dakwah'/><title type='text'>Catatan Tentang Hizbut Tahrir (3): Kegagalan Gerakan Dakwah Islam - lanjutan</title><content type='html'>HT&amp;nbsp;berpendapat penyebab runtuhnya kejayaan Islam adalah karena runtuhnya fikrah dan thariqah Islamiyah dari kaum Muslimin. Masih dari &lt;em&gt;Mafahim Hizbut Tahrir&lt;/em&gt; karangan Taqiyuddin Nabhani, berikut beberapa kutipan yang berbicara lebih jauh mengenai topik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- awal kutipan -----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...karena telah mengakarnya pemahaman yang salah dalam benak pikiran ummat, bahwa Islam itu sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kalangan ulama dan kaum terpelajarnya, saat ini sedang dikuasai oleh tiga unsur:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, mereka mempelajari Islam dengan cara yang bertentangan dengan metoda studi yang telah digariskan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, bahwasanya dunia Barat yang dengki dan membenci Islam dan kaum muslimin terus menerus menyerang agama Islam... Menghadapi serangan seperti ini, kaum muslimin terutama kalangan intelektualnya berada pada posisi yang sangat lemah. Dimana mereka rela menerima Islam sebagai pihak yang tertuduh, lalu mereka berusaha untuk membelanya. Dalam rangka menghindari tuduhan seperti itu, mereka berusaha menginterpretasikan (menakwilkan) hukum-hukum Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, sebagai akibat berpudarnya Daulah Islamiyah... maka terciptalah dalam benak kaum muslimin suatu gambaran yang memustahilkan terwujudnya kembali Daulah Islamiyah..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...maka menjadi suatu keharusan terdapat sebuah gerakan yang memahami Islam baik dari segi fikrah maupun thariqah. Lalu mengkaitkan keduanya, dan berusaha melangsungkan kembali kehidupan Islam di salah satu wilayah manapun di antara wilayah-wilayah Islam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hizbut Tahrir dalam menyampaikan dakwahnya berusaha membangkitkan dan menggerakkan pemikiran. Hizbut Tahrir berpendapat, bahwa dakwah Islam harus tegak atas dasar pembentukan pemikiran, dan wajib mengemban Qiyadah Fikriyah (yaitu kepemimpinan umat berdasarkan pemikiran)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Souvenir Lt BT&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; mso-bidi-font-size: 15.0pt; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;MS Mincho&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;"Karenaitu, dijumpai beberapa kejadian menimpa manusia di dalam lingkaran ini, yang terjadi di luar keinginannya. Di sini, manusia &lt;i&gt;musayyar&lt;/i&gt; (dikendalikan), bukan &lt;i&gt;mukhayyar&lt;/i&gt; (diberi pilihan)."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Souvenir Lt BT&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; mso-bidi-font-size: 15.0pt; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;MS Mincho&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Souvenir Lt BT&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; mso-bidi-font-size: 15.0pt; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;MS Mincho&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;"Adapun lingkaran yang dikuasai oleh manusia, adalah lingkaran dimana manusia bebas berjalan di dalamnya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Souvenir Lt BT&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; mso-bidi-font-size: 15.0pt; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;MS Mincho&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Souvenir Lt BT&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; mso-bidi-font-size: 15.0pt; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;MS Mincho&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Souvenir Lt BT&amp;quot;, &amp;quot;serif&amp;quot;; line-height: 120%; mso-bidi-font-size: 15.0pt;"&gt;...ia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan-perbuatan yang dilakukannya di dalam lingkaran ini."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----- akhir kutipan -----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih seperti catatan sebelumnya, HT berpendapat bahwa mengaitkan syariat Islam dengan perkembangan zaman dan tempat adalah sebuah sikap yang keliru. Hal ini disebabkan kekeliruan metode mempelajari Islam yang dilakukan sebagian besar kaum Muslimin -kecuali HT diantaranya-, dimana umat Islam lebih fokus mempelajari apa yang mereka sebut sebagai &lt;em&gt;fikrah&lt;/em&gt; dan melupakan &lt;em&gt;thariqah&lt;/em&gt;-nya. Jika diteliti lebih lanjut, fikrah yang&amp;nbsp;dimaksud ini lebih berkaitan dengan syariat-syariat terkait individu -shalat, puasa, nikah, dll- sedangkan &lt;em&gt;thariqah &lt;/em&gt;yang didefinisikan sebagai metode praktis menerapkan fikrah -jihad, perang, peradilan, dan tentu saja khilafah-&amp;nbsp;dilupakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai disini saya berpendapat, sebenarnya ada yang&amp;nbsp;kurang saya sepakati&amp;nbsp;dengan pemahaman ini. Sebelumnya saya sepakat bahwa diperlukan juga kesadaran umat Islam akan pentingnya penegakan khilafah. Namun menganggap bahwa penegakan khilafah sebagai metode paling praktis menjalankan syariat Islam dengan menafikan aktifitas lainnya, seperti mengedukasi masyarakat tentang &lt;strong&gt;keseluruhan &lt;/strong&gt;syariat juga merupakan suatu kesalahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menegakkan khilafah tujuannya adalah&amp;nbsp;menciptakan lingkungan yang memaksa manusia menjalankan syariat sepenuhnya (menciptakan lingkaran yang mengendalikan manusia). Namun lingkaran dimana manusia masih memiliki pilihan, senantiasa ada dan&amp;nbsp;melekat pada setiap individu, dan mereka akan dimintai pertanggung jawaban disini. Jadi menegakkan fikrah maupun thariqah sama pentingnya, dan memfokuskan diri pada sebagian dari thariqah -yakni penegakan khilafah- sama-sama tidak menjanjikan sebuah kesuksesan dakwah. Bahkan lebih utama bergerak dalam menyebarkan dan menegakkan fikrah (yaitu mengajarkan masyarakat untuk mengenal dan menerima Islam secara keseluruhan)&amp;nbsp;karena langsung memberikan hasil pada individu dan bisa langsung diterapkan dalam keseharian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menegakkan khilafah, mungkin menjadi solusi praktis penegakan syariat, namun &lt;strong&gt;setelah &lt;/strong&gt;khilafah itu tegak. Proses penegakan khilafah itu sendiri bisa menjadi sebuah jalan panjang yang &lt;strong&gt;tidak praktis&lt;/strong&gt;, apalagi jika menggunakan manhaj dan metode yang tidak realistis. Sedikit saja tentang manhaj HT seperti yang saya kutip, manhaj dakwahnya akan berpusat pada membangun, membangkitkan, dan menggerakkan&amp;nbsp;pemikiran, dengan misinya adalah menegakkan khilafah. Saya pribadi lebih cenderung pada sebuah usaha simultan yang membangun individu-individu Muslim, dimana secara alamiah akan mengantarkan pada penegakan penerapan syariat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-4975626597609904029?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/4975626597609904029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/04/catatan-tentang-hizbut-tahrir-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4975626597609904029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4975626597609904029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/04/catatan-tentang-hizbut-tahrir-3.html' title='Catatan Tentang Hizbut Tahrir (3): Kegagalan Gerakan Dakwah Islam - lanjutan'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-1070251509992231595</id><published>2011-04-18T18:19:00.000+09:00</published><updated>2011-04-18T18:19:40.417+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Aqidah dan Akal</title><content type='html'>Apakah aqidah dan&amp;nbsp;keimanan Islam itu selalu sesuai akal pikiran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian&amp;nbsp;isi Al Qur'an saat diturunkan sudah mengandung berbagai informasi tentang dunia yang baru bisa dimengerti pikiran manusia berabad kemudian. Tentang benda-benda langit yang bergerak pada jalurnya. Tentang air laut yang tidak bercampur, tentang gunung sebagai pasak-pasak yang meneguhkan bumi. Tentang proses penciptaan manusia, dsb. Beberapa kalimat diatas sebenarnya sudah selesai untuk menjelaskan bahwa aqidah dan keimanan Islam tidak melulu harus sesuai dengan akal pikiran manusia, karena Al Qur'an merupakan satu bagian tak terpisahkan dari keimanan seorang Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tentu saja, jika akal kita bisa mengerti akan menjadi jauh lebih baik keimanan kita. Dalam sebuah kesempatan, seorang ustadz menceritakan kisah Ibrahim muda ketika dia mencari Tuhannya. Akalnya yang cerdas menuntunnya kepada kenyataan bahwa Tuhan pasti lebih agung dari bintang, bulan, dan matahari. Pun ketika Ibrahim berkomunikasi dengan Tuhannya, Ibrahim&amp;nbsp;muda meminta bukti dari Tuhannya untuk menenteramkan hatinya yang masih bergolak, sehingga Allah SWT&amp;nbsp;memberikan pelajaran kepada Ibrahim&amp;nbsp;muda bagaimana Allah SWT menghidupkan kembali empat ekor burung yang sudah dicincang oleh Ibrahim, dicampur adukkan dan dipisahkan ke empat bukit yang berbeda. Dan akhirnya Ibrahim muda pun menyerah pada sebuah kenyataan yang tidak dapat dijelaskan akalnya. Imannya menjadi teguh, tidak goyah.&lt;br /&gt;Dan imannya yang kokoh itupun diwariskan pula kepada anaknya Ismail, yang bersama dengan ayahnya dengan penuh keyakinan menjalankan perintah berqurban. Tiada rasionalisme yang bisa menjelaskan perintah itu, selain bahwa itulah perintah Tuhan yang harus diterima dan dilaksanakan apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika ada sisi-sisi keimanan yang sulit dijamah oleh akal kita, sangat mungkin itu karena akal kitalah yang memang belum mampu memikirkannya. Jika demikian, tidak&amp;nbsp;usah menolak sisi keimanan itu dan jangan pula mencoba mencari-cari penjelasan yang boleh jadi malah membawa kita pada kekufuran. Ingatlah bahwa Iblis dilaknat oleh Allah SWT menjadi calon penghuni neraka karena menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam karena lebih mengutamakan akalnya yang belum bisa menjangkau hikmah perintah Allah tersebut dengan membandingkan penciptaannya dengan penciptaan Adam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-1070251509992231595?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/1070251509992231595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/04/aqidah-dan-akal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/1070251509992231595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/1070251509992231595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/04/aqidah-dan-akal.html' title='Aqidah dan Akal'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-1371549968304689020</id><published>2011-04-12T08:56:00.010+09:00</published><updated>2011-06-21T08:13:11.462+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan dakwah'/><title type='text'>Catatan Tentang Hizbut Tahrir (2): Kegagalan Gerakan Dakwah Islam</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sebelumnya, saya ingin menyampaikan bahwa saya akan mencoba memfokuskan diri pada tulisan-tulisan Ust. Taqiyudin Nabhani saja, dan menghindari sumber-sumber lainnya. Mengapa demikian? Jawabannya bisa mudah ditemukan jika kita membaca tulisan-tulisan para &lt;em&gt;syabab &lt;/em&gt;(anggota) HT. Disana kita akan menemukan betapa mereka menjadikan tulisan dan pemikiran Ust. Taqiyudin sebagai referensi utama. Bahkan dalam beberapa kesempatan, menggelarinya sebagai &lt;em&gt;Mujtahid Mutlak&lt;/em&gt;. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;Saya tidak hendak membahas apakah Ust. Taqiyudin pantas menyandang gelar tersebut, tetapi disamping kontroversi yang ada seputar penyebutan itu, saya ingin menekankan tentang bagaimana anggota HT memposisikan Ust Taqiyudin dan pemikiran-pemikirannya. FYI, kita mungkin tidak pernah menemukan penyebutan atau gelar Ust. Taqiyudin tersebut diluar khazanah pustaka HT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah sedikit membahas konsep kepribadian ala HT, saya mencoba berbagi tentang apa yang saya baca dari tulisan Ust. Taqiyudin lainnya, yakni &lt;em&gt;Mafahim Hizbut Tahrir,&lt;/em&gt; yang berisi tentang pokok-pokok pikiran HT. Saya ingin mengutip sebagiannya: &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;---kutipan--- &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Sebab kemunduran dunia Islam ini kembali kepada satu hal yaitu kelemahan yang teramat parah dalam hal pemahaman umat terhadap Islam yang merasuk kedalam pemikiran kaum Muslimin. Penyebab lemahnya pemahaman ini adalah pemisahan kekuatan yang dimiliki bahasa Arab &lt;em&gt;(Thaqah 'arabiyyah) &lt;/em&gt;dengan kekuatan Islam &lt;em&gt;(Thaqah Islamiyyah)."&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Islam tidak mungkin dapat dilaksanakan secara sempurna kecuali dengan bahasa Arab. Juga, dengan meremehkan bahasa Arab akan menghilangkan ijtihad terhadap syariat..." &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Padahal kedudukan ijtihad itu sendiri teramat urgen bagi umat Islam, sebab tidak ada kemajuan bagi umat tanpa keberadaan ijtihad." &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Penyebab kegagalan berbagai macam upaya untuk membangkitkan kaum Muslimin dengan Islam, dapat dikembalikan pada tiga hal. Pertama, tidak adanya pemahaman yang mendalam mengenai &lt;em&gt;fikrah Islamiyah&lt;/em&gt; dikalangan para aktivis kebangkitan Islam. Kedua, tidak adanya gambaran yang benar-benar jelas pada diri mereka mengenai metode Islam (&lt;em&gt;thariqah Islam&lt;/em&gt;) dalam menerapkan &lt;em&gt;fikrah&lt;/em&gt;-nya. Dan ketiga, mereka tidak menjalinkan &lt;em&gt;fikrah Islamiyah &lt;/em&gt;dengan &lt;em&gt;thariqah Islamiyah &lt;/em&gt;sebagai satu hubungan yang solid dan tidak mungkin terpisahkan." &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Filsafat-filsafat asing, seperti filsafat India, Persia, dan yunani telah mempengaruhi sebagian kaum Muslimin dan menyeret mereka melakukan kesalahan dalam usahanya mengkompromikan Islam dengan filsafat-filsafat ini." &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Umat Islam secara berangsur-angsur telah kehilangan gambaran yang jelas mengenai &lt;em&gt;Thariqah Islamiyah. &lt;/em&gt;Dahulu kaum Muslimin mengetahui keberadaannya dalam hidup ini adalah hanya untuk Islam semata. Aktifitasnya di dunia adalah mengemban dakwah Islam. Tugas &lt;em&gt;daulah Islamiyah &lt;/em&gt;adalah menerapkan Islam, menjalankan hukum-hukum Islam di dalam negeri, serta menyebarluaskan dakwah Islam ke luar negeri. Dan metoda praktis untuk melakukan hal itu adalah dengan jihad yang dilakukan oleh negara." &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Sedangkan jika dilihat dari hubungan &lt;em&gt;fikrah &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;thariqah&lt;/em&gt; ternyata kaum Muslimin hanya memperhatikan hukum-hukum syari'at yang berkaitan dengan pemecahan problematika kehidupan yang menyangkut aspek fikrah saja. Mereka tidak lagi memperhatikan hukum-hukum yang menjelaskan cara praktis pemecahan problematika fikrah tersebut, yaitu hal-hal yang menjelaskan &lt;em&gt;thariqah&lt;/em&gt;" &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Semua ini menjadi lebih parah lagi dengan munculnya kesalahan dalam memahami syariat Islam yang akan diterapkan ke dalam masyarakat di penghujung abad XIII hijriyah. Islam akhirnya ditafsirkan tidak selaras dengan isi kandungan nash-nashnya, dengan tujuan agar dapat disesuaikan dengan kondisi masyarakat pada saat itu. Padahal seharusnya, masyarakatlah yang harus diubah agar sesuai dengan Islam, bukan dengan membuat interpretasi baru mengenai Islam agar sesuai dengan keadaan masyarakat." &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;"...merupakan suatu keharusan bagi para pejuang perbaikan untuk menerapkan hukum-hukum Islam sesuai dengan makna ajaran yang sebenarnya, tanpa memperhatikan keadaan masyarakat, waktu, dan tempat." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;---akhir kutipan--- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;Kutipan-kutipan diatas saya buat untuk membantu memahami kesimpulan saya dari membaca ulasan USt. Taqiyudin Nabhani: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;1. HT melihat bahwa sumber masalah umat Islam adalah lunturnya fikrah umat. Ini sejalan dengan pemahaman HT bahwa sumber kepribadian manusia adalah pembentukan persepsi (mafahim) yang berujung pada pembentukan fikrah. Selanjutnya HT menyatakan bahwa &lt;strong&gt;metode praktis&lt;/strong&gt; menerapkan fikrah adalah dengan thariqah paling sesuai yakni melalui daulah Islamiyyah. HT lebih menekankan lagi masalah daulah sebagai &lt;strong&gt;thariqah yang paling praktis&lt;/strong&gt; ini ketika menjelaskan tentang hubungan fikrah dan thariqah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;2. Menerapkan Islam bagi umat Islam harus dibuat apa adanya sesuai nash yang ada, tanpa memperhatikan kondisi yang ada saat itu. Umat Islam-lah yang harus di ubah, bukan cara memahami Islam yang harus diubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;Dua kesimpulan ini menjawab pertanyaan besar yang ada di benak saya ketika mencoba memahami HT, yaitu ketidakrealistisan manhaj dakwah HT. Sejak awal ternyata pendiri HT sudah menggariskan bahwa yang dilakukan adalah membentuk dan menerapkan fikrah melalui penegakan daulah, dan bahwa ajaran Islam (fikrah) itu harus diterapkan apa adanya tanpa boleh disesuaikan kondisi masyarakat. Karenanya dalam aktifitasnya dimasyarakat, kita akan menjumpai bahwa salah satu manifestasi dari pemikiran ini adalah penekanan fokus dakwah adalah pada penegakan daulah dan khilafah. HT tidak mengenal dakwah yang bersifat &lt;em&gt;bottom up, &lt;/em&gt;yang berupaya menerapkan syariat Islam ini secara keseluruhan di tataran personal, kecuali fikrah yang terkait dengan penegakan khilafah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;Selanjutnya, jika ada kesulitan penerapan syariat, solusinya adalah mengubah masyarakat agar sesuai dengan syariat, bukan mengubah cara memahami/membuat interpretasi baru mengenai syariat itu. Disini tentu saja harus kita ingat, bahwa yang dimaksud pemahaman dan interpretasi yang benar adalah pemahaman dan interpretasi ala HT. Contoh paling mudah adalah ketika membahas tentang politik. Satu situasi yang sangat umum di negara mayoritas Muslim adalah berlakunya sistem demokrasi dalam pemerintahannya. Meski demikian, HT yang menyebut dirinya parpol menolak keras untuk terlibat dalam pemilu yang diselenggarakan dan memilih berada di luar sistem. Alasan yang disampaikan selalu senada: demokrasi bukan sistem yang berasal dari Islam, dan mereka menolak segala macam argumentasi dari mereka yang coba berkompromi dengan demokrasi, karena memang seperti demikianlah dalam pemahaman HT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini&amp;nbsp;sebuah inkonsistensi HT terlihat sangat menyolok. Mereka menyatakan bahwa Islam tidak boleh ditafsirkan ulang mengikuti perkembangan zaman, padahal penyebab kemunduran Islam sebagaimana diklaim Taqiyudin Nabhani adalah tertutupnya pintu ijtihad. Syabab HT menggelari pendirinya sebagai mujtahid mutlak, namun menolak upaya ijtihad ulama lain dan menganggapnya sebuah upaya menyelewengan syariat Islam karena menyesuaikan perkembangan zaman.&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;Pun ketika ditanya tentang apakah metode&amp;nbsp;dakwah HT&amp;nbsp;realistis dan aktual, tidak akan berguna karena sejak awal HT tidak memusingkan masalah ini. Mereka yakin metode ini akan berhasil karena mereka beranggapan yang paling Islami adalah mendirikan khilafah tanpa perlu menyesuaikan situasi masyarakat. &lt;em&gt;Aduhai&lt;/em&gt;,&amp;nbsp;sungguh sebuah fanatisme yang luar biasa kepada buah pemikiran kelompoknya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-1371549968304689020?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/1371549968304689020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/04/catatan-tentang-hizbut-tahrir-2.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/1371549968304689020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/1371549968304689020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/04/catatan-tentang-hizbut-tahrir-2.html' title='Catatan Tentang Hizbut Tahrir (2): Kegagalan Gerakan Dakwah Islam'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-458745687875030344</id><published>2011-02-24T22:51:00.008+09:00</published><updated>2011-02-25T01:20:06.962+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan dakwah'/><title type='text'>Catatan tentang Hizbut Tahrir (1): Tentang kepribadian</title><content type='html'>Beberapa waktu terakhir ini saya mempelajari sebuah gerakan Islam yang cukup populer, yaitu Hizbut Tahrir. Saya akui, saya mempelajarinya dengan sebuah &lt;em&gt;a priori&lt;/em&gt;, mengingat ada banyak cerita maupun informasi yang saya terima sebelumnya. Namun saya ingin adil dalam menilai sesuatu dan mengetahui yang sebenarnya, sehingga saya coba menggali dan membaca dari sumber-sumber pertama yang ada, yaitu dari tulisan-tulisan pendiri HT, Ust. Taqiyudin An Nabhani. Jadi catatan ini sama-sekali bukan mencoba mencari-cari kesalahan ataupun kelemahan, karena setiap gerakan yang memiliki manhaj berbeda, pasti ada kelebihan dan kekurangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit tentang manhaj dakwah dalam persepsi saya, maka yang saya maksud dengan manhaj dakwah disini adalah bagaimana suatu gerakan memahami dan mengejawantahkan syariat Islam kedalam bentuk aktifitas dakwah. Jadi manhaj disini adalah produk dari pemahaman akan syariat Islam, dan bukan syariat Islam itu sendiri. Mungkin sebagian gerakan melakukan klaim bahwa manhaj mereka adalah yang paling sesuai Al Qur'an dan As Sunnah, namun tentu saja itu menurut pemahaman mereka dan bukan sebuah kebenaran mutlak. Sedangkan mengenai Islamnya sendiri, tentu tidak ada keraguan lagi bahwa Islam satu-satunya manhaj hidup -dalam segala aspeknya- yang baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama adalah bagaimana HT mempersepsikan kepribadian manusia. Saya mencoba membuat skema tentang aspek kepribadian manusia, yang saya simpulkan dari bagian awal (bab pertama) dari tulisan Ust. Taqiyudin berjudul &lt;em&gt;Syakhsiyyah Islamiyyah&lt;/em&gt; terbitan HTI Press 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; DISPLAY: block; HEIGHT: 222px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5577257272844249154" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/-ASPCdfF_IUs/TWZl8KjYaEI/AAAAAAAAAKc/pGn2_S5C0FU/s320/bagan%2Bkepribadian.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;Ada sedikit quote yang saya ambil dari buku itu yang saya tulis di bawahnya, untuk mempertegas dua point dari catatan yang saya buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;, HT memandang bahwa persepsi &lt;em&gt;(mafahim)&lt;/em&gt; merupakan pusat dari kepribadian manusia. Ini terlihat jelas dari skema tersebut, dimana persepsi yang dipadukan dengan fakta akan membentuk sebuah pola pikir &lt;em&gt;(aqliyah).&lt;/em&gt; Fakta merupakan sesuatu yang tidak bisa dikontrol oleh seorang individu, karenanya yang bisa dibentuk dalam proses pembentukan kepribadian adalah pembentukan persepsi ini. Di sisi lain dalam pembentukan pola sikap &lt;em&gt;(nafsiyah)&lt;/em&gt;, persepsi juga berperan besar dalam membentuk kecenderungan &lt;em&gt;(muyul)&lt;/em&gt;, dan selanjutnyanya dalam kombinasinya dengan muyul akan membentuk pola sikap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;, HT berpegangan pada pendapat bahwa yang membentuk persepsi adalah bagaimana seorang individu mampu mengolah suatu informasi (&lt;em&gt;maklumat&lt;/em&gt;), mampu membayangkan dengan inderanya dengan bersandar pada suatu tolok ukur &lt;em&gt;(qaidah&lt;/em&gt;) sehingga membentuk sebuah persepsi. Jelas bahwa indera itu dimiliki semua orang, dan informasi sifatnya tidak dapat dikontrol oleh individu sebagaimana fakta, karenanya dalam membentuk kepribadian, yang harus disiapkan adalah tolok ukurnya. Untuk membentuk kepribadian Islami, maka suatu pribadi harus menjadikan syariat Islam sebagai satu-satunya qaidah yang dianut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekwensi dari kedua hal diatas adalah bagaimana pola yang digunakan HT dalam pembentukan kepribadian para kadernya. Saya belum pernah mengikuti proses kaderisasi HT. Namun saya mencoba menyimpulkan secara singkat bahwa dalam pembentukan kepribadian ala HT, pembentukan persepsi menjadi fokusnya. Beberapa saat yang lalu saya sempat berbincang dengan seorang anggota HT yang cukup senior. Ketika mengomentari tentang suatu acara pembahasan pernikahan Islami, beliau menyatakan bahwa HT juga memandang bahwa acara tersebut penting, tapi HT berpandangan bahwa itu bukan fokusnya, dan bukan sesuatu yang urgen. Saya jadi teringat beberapa waktu lalu (cukup lama), beliau juga sempat berkomentar singkat mengenai acara pelatihan kepanduan (&lt;em&gt;mukhoyyam).&lt;/em&gt; Yang saya tangkap waktu itu beliau mengatakan bahwa lebih baik beliau tinggal di rumah saja karena acara semacam ini tidak bermanfaat. Saya berasumsi, komentar tersebut adalah dalam konteks pembentukan kepribadian Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu keunggulan dari pola kaderisasi semacam ini tentu saja adalah kesiapan dalam menghadapi berbagai perang pemikiran yang terjadi. Resistensi terhadap berbagai pemikiran non-Islami akan kuat, juga akan mampu menjawab/menangkis serangan terhadap pemikiran Islami dan bahkan memberikan serangan balik terhadap pemikiran-pemikiran non-Islami semacam komunisme, kapitalisme, dsb. Namun tentu keunggulan kepribadian dari sisi yang lain, misalnya akhlaq, kafaah syar'i, muamalah, dsb masih menyisakan pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini saya ingin menggaris bawahi tentang aspek kejiwaan &lt;em&gt;(nafs/&lt;/em&gt;&lt;em&gt;qalb).&lt;/em&gt; Sangat banyak ayat Qur'an dan Hadits yang menyebut tentang posisi &lt;em&gt;jiwa/hati&lt;/em&gt; dalam diri manusia. Bahkan seorang teman saya yang seorang imam masjid di Tokyo menyatakan, bahwa yang membuat keputusan itu adalah hati. Bukan akal. Jadi mengapa nafs/qalb tidak mendapat tempat dalam kepribadian Islami ala HT?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-458745687875030344?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/458745687875030344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/02/catatan-tentang-hizbut-tahrir-1-tentang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/458745687875030344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/458745687875030344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/02/catatan-tentang-hizbut-tahrir-1-tentang.html' title='Catatan tentang Hizbut Tahrir (1): Tentang kepribadian'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ASPCdfF_IUs/TWZl8KjYaEI/AAAAAAAAAKc/pGn2_S5C0FU/s72-c/bagan%2Bkepribadian.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-5947830778949232155</id><published>2011-02-14T10:54:00.001+09:00</published><updated>2011-02-14T10:58:51.794+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Menikah dalam Bingkai Syariat (7)</title><content type='html'>Tak lama setelah menikah, saya dan istri dihadapkan pada sebuah realita bahwa kami harus berpisah dan tidak dapat melewatkan waktu bersama-sama. Istri saya harus menyelesaikan studinya di Surabaya, sedangkan saya masih bekerja di Bandung. Berat rasanya. Segala mimpi indah yang saya bayangkan bisa saya rasakan dan nikmati setelah saya menikah belum lagi menjadi kenyataan. Keindahan membina rumah tangga dalam kebersamaan belum dapat saya alami sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu keinginan yang tertanam dalam diri saya ketika dulu menguatkan azzam untuk menikah, diantara keinginan saya yang lain. Keinginan itu adalah, agar dengan menikah saya menjadi lebih kuat dalam menjalani hidup, dalam melaksanakan segala peranan dan amanah yang saya emban. Ingin rasanya ada seseorang disisi kita yang senantiasa memberikan dukungan, membantu mengangkat segala beban dari diri kita. Beberapa kali saya pernah merasa sendiri, utamanya tatkala beban-beban kuliah, pekerjaan, atau aktivitas lainnya terasa menumpuk dan menyesakkan hati. Disaat itu pula-lah keinginan untuk segera menikah semakin membesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang pasti, saat berjauhan saya jadi makin sering merasa kesepian. Sering kali rasa jenuh, rasa capek, atau beban-beban yang menumpuk setelah seharian beraktivitas, berubah menjadi sebuah kesedihan. Dulu saya membayangkan setelah menikah, saya akan selalu bersemangat pulang ke rumah, karena ada someone special menunggu disana. Tapi kenyataannya dalam perjalanan pulang dari kantor, saya menyadari kalau yang saya sayangi tidak sedang menunggu di pintu rumah, langsung kesedihan itu menyeruak, dan jadilah kepulangan itu menjadi satu momen yang menyiksa, membawa saya dalam rasa sepi yang lain. Saya jadi ingat, sebelum menikah ada seorang teman menanyakan tentang calon istri. Menanggapi kemungkinan saya berjauhan dengan istri (seperti yang saya alami), dia yang juga berjauhan dengan istrinya setelah menikah menyatakan, "&lt;em&gt;Tolong dipikirkan lagi, berjauhan itu berat...&lt;/em&gt;" "&lt;em&gt;Yah memang berat...&lt;/em&gt;" jawaban saya waktu itu. Tapi saya sama sekali tidak menyangka kalau seberat ini rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup dulu keluh kesahnya. Mari berpikir positif. Secara lahir, memang saya merasa beban semakin berat, dan semakin sering merasa kesepian. Sebenarnya saya sadar, ternyata beban-beban yang saya terima memang bertambah drastis setelah saya menikah. Jadi bukan melulu karena berjauhan dengan isteri-lah yang membuat kadang saya merasa lebih lemah. Tapi, apakah ini berarti saya harus melupakan cita-cita yang sering saya singgung di tulisan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, ada satu hal yang membuat saya bertahan, yakni kesadaran bahwa ini merupakan salah satu konsekuensi yang harus saya tunaikan, karena menerima dia sebagai isteri saya. Saya tidak mungkin mengharapkan bahwa semuanya senantiasa indah setelah menikah, karena menikah juga disertai dengan berbagai konsekuensi. Ini adalah pertanggungjawaban saya atas sebuah pilihan yang saya ambil. Lebih jauh saya juga merasa ini sebuah pelatihan yang Allah siapkan untuk saya. Abi dan ummi menghibur dengan mengatakan, "&lt;em&gt;Biasanya, keluarga yang bahagia, langgeng, dan tahan uji itu, sudah diuji dengan berbagai kesulitan sejak awal mereka menikah. Lebih bagus dan lebih tangguh yang menikah mulai dari nol, dari pada yang sudah mapan sebelumnya.&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga memang demikian, karena dengan berpikir seperti itu, saya menyadari bahwa saya sedang ditempa untuk menjadi lebih kuat. Saya yakin bahwa Allah tidak akan memberi ujian diluar kemampuan hamba-Nya dan boleh jadi saya akan mengalami ujian yang lebih berat dari ini. Saya harus bersyukur bahwa Allah berkenan men-tarbiyah saya melalui ujian ini. Demikian juga dengan permasalahan-permasalahan lain yang mungkin menunggu. Tinggal bagaimana kita berparadigma, dan bagaimana pula kita menyikapinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-5947830778949232155?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/5947830778949232155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/02/menikah-dalam-bingkai-syariat-7.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/5947830778949232155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/5947830778949232155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/02/menikah-dalam-bingkai-syariat-7.html' title='Menikah dalam Bingkai Syariat (7)'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-88838227992272770</id><published>2011-02-05T14:44:00.002+09:00</published><updated>2011-02-05T14:50:06.685+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Menikah dalam Bingkai Syariat (6)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Saat Memulai Rumah Tangga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat-saat memulai rumah tangga merupakan saat-saat yang demikian indah. Mungkin hampir sama dengan yang dirasakan oleh setiap pasangan yang sedang jatuh cinta atau sedang berpacaran. Bedanya, kami melakukannya dengan penuh kejujuran. Penuh kejujuran karena kami sadar sepenuhnya bahwa dengan ikatan pernikahan, maka kami harus betul-betul membuka diri satu dengan yang lain, dan segera menyesuaikan diri dengan karakter pasangan. Tidak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi. Itulah mungkin salah satu nikmatnya langsung menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacaran bagi saya penuh dengan kebohongan. Apa lagi jika dilakukan oleh mereka yang tidak berniat untuk menikah. Memang terkadang ada sedikit rasa khawatir jika saja sifat atau sisi buruk saya diketahui oleh istri. Saya yakin demikian juga sebaliknya. Tapi saya sadar bahwa setiap orang tidak ada yang sempurna. Pasti memiliki kekurangan. Yang terpenting adalah kesadaran untuk mengakui kekurangan itu dan berusaha memperbaiki, serta belajar menerima pasangan apa adanya. Inilah yang saya maksud dengan jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinilah saya merasakan sangat diperlukan adanya keikhlasan dalam menikah. Keikhlasan untuk tetap setia kepada visi dan cita-cita kita menikah. Keikhlasan untuk menerima kondisi pasangan apa adanya dan seutuhnya. Dengan adanya keikhlasan ini, cinta pun akan tumbuh dan bersemi dengan sendirinya dalam jiwa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering orang bilang bahwa untuk menuju pernikahan harus didasari dengan cinta. Tapi saya membuktikan bahwa pernikahan yang suci dan ikhlas itulah yang akan memberikan kita “cinta sejati”. Maksudnya cinta yang suci karena dibingkai dalam sebuah niat dan cita-cita yang luhur dan agung dalam membina rumah tangga, dalam jalinan pernikahan. Bukan cinta yang tumbuh karena didasari ketertarikan fisik semata. Sehingga ketika terjadi hal-hal yang bisa mengganggu ketulusan cinta, kesetiaan kepada cita-cita itulah yang senantiasa mengingatkan untuk bisa mengesampingkan ego, ikhlas memberikan pengorbanan demi terwujudnya cita-cita dan harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal istimewa yang saya rasakan saat memulai kehidupan berumah tangga adalah, menikah benar-benar merupakan sebuah pengalaman baru bagi saya ketika berdekatan langsung dengan seorang wanita. Salah tingkah, perasaan berdebar-debar, dan rasa malu selalu mewarnai hari-hari kami. Terutama disaat-saat pertama kami berdua. Namun perasaan berbunga-bunga disertai keinginan yang menggebu-gebu untuk ‘memadu kasih’ itu sedemikian kuat, dan lama-kelamaan mengikis rasa canggung diantara saya dan istri. Juga kesadaran bahwa sekarang kami adalah suami istri yang sudah dihalalkan Allah satu untuk yang lain. Semua itu membantu kami untuk belajar saling menyayangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan istri sama-sama dididik dalam keluarga yang taat beragama. Sebelum menikah, saya adalah seorang laki-laki yang senantiasa menjaga jarak dengan wanita yang bukan mahram. Saya tahu bahwa berdua-duaan, bermesraan, bersentuhan dengan seseorang yang bukan mahram kita adalah sesuatu yang dilarang. “&lt;em&gt;Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesuangguhnya zina adalah sebuah perbuatan keji dan sesuatu yang buruk,&lt;/em&gt;” demikian Allah berfirman dalam QS Al Isra ayat 32.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendekati zina dilarang. Berarti semua aktivitas yang menjadi jalan terjadinya zina juga dilarang. Membiasakan diri kita untuk dekat dengan yang berlainan jenis, meski hanya persahabatan, juga terlarang. Itulah yang menjadi prinsip saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak pernah membiarkan cinta kepada seseorang akhwat tumbuh dalam hati. Saya setuju bahwa mencintai seorang wanita adalah fitrah seorang lelaki. Tapi membiarkan cinta tumbuh dalam kondisi kita belum siap menikah, bagi saya sama saja dengan menyiksa diri. Siapa yang bisa bekerja dan berkarya dengan produktif, jikalau hati memendam rasa cinta dan rindu? Saya tidak melihat cara yang lebih baik untuk melampiaskan rasa cinta antara sepasang insan selain dengan menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menikah, semua larangan itu sudah tidak ada lagi. Bahkan sebaliknya, aktivitas-aktivitas itu bisa bernilai ibadah. Saya merasakan kebahagiaan yang sempurna disaat saya bisa mengungkapkan cinta dan kasih sayang dalam aktivitas yang mengundang ridha Allah. Bukankah para sahabat Rasulullah pernah bertanya pada Baginda, “&lt;em&gt;Apakah seorang yang melepaskan syahwatnya (kepada istrinya) baginya pahala sedekah?” Rasulullah menjawab, “Ya, bukankah bila ia melakukan pada hal yang haram dia berdosa? Jika ia melakukannya pada yang halal ia berpahala (sedekah).&lt;/em&gt;”*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indahnya percintaan yang sering dilukiskan dalam sinetron atau roman, itulah yang kami rasakan. Saat-saat diawal pernikahan begitu berkesan, dan menjadi sesuatu yang sangat sulit saya lupakan. Menuliskan kembali kisah ini bukanlah sesuatu yang sulit bagi saya, karena begitu dalam setiap kejadian itu membekas dalam ingatan saya. Barangkali ini juga satu kebahagiaan yang saya rasakan ketika menikah dengan proses yang Islami. Tanpa pacaran. Kesenangan dan kebahagiaan dalam romantika percintaan dapat dirasakan seutuhnya tanpa halangan, hanya bersama seseorang yang selamanya akan menjadi teman dalam menjalani hari-hari ke depan. Berdua saling berbagi suka dan duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bisa membandingkan kebahagiaan itu dengan mereka yang sudah melakukan pacaran sebelum menikah, karena saya tidak pernah pacaran. Tapi saya bisa membayangkan hambarnya sebuah pernikahan bagi mereka yang sudah berpacaran lama sebelumnya. Keindahan dan kebahagiaan di awal pernikahan, lengkap dengan rasa malu, salah tingkah, hati berdebar dan berbunga-bunga, pasti sudah habis dirasakan di masa awal pacaran. Saya berpendapat, pernikahan yang sebelumnya diawali pacaran hanya akan menjadi sebuah prosesi keluarga dan publikasi biasa bahwa hubungan mereka sudah ‘resmi’. Rasanya menikah seperti itu menjadi ‘biasa’, tidak membawa kesan, dan tidak bermakna. Apalagi bagi mereka yang terbiasa pacaran dan sudah berganti-ganti pacar. Cinta mungkin sudah tidak ada artinya lagi, sehingga istri atau suami hanyalah orang kesekian kalinya yang pernah singgah di hati. Hilanglah sudah keistimewaan dan keindahan pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat lucu jika ada seorang yang biasa berganti-ganti pacar, mengatakan bahwa dia sering berpindah ke lain hati karena belum menemukan tambatan jiwa yang akan dinikahi untuk teman sehidup semati. Sungguh sebuah omong kosong. Cinta pertamalah yang paling berkesan, itu yang saya rasakan. Seperti firman Allah yang saya ungkap sebelumnya, lelaki yang baik-baik akan mendapatkan wanita yang baik-baik dan begitu juga sebaliknya. Seorang yang doyan berganti pasangan hanya layak bagi orang yang rajin berganti-ganti pacar. Sesering apapun berganti pacar, tidak akan bertemu dengan orang yang dirasakan paling sesuai, karena sejak awal niatnya hanya untuk menjajaki. Cinta yang ada juga hanyalah cinta yang semu karena berangkat dari paradigma yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tunggu dulu. Setelah saya menikah, saya benar-benar menyadari bahwa pernikahan tidak berhenti pada urusan cinta dan kebahagiaan. Meskipun segala sesuatu yang kita lakukan sebagai suami istri sudah merupakan sesuatu yang halal. Saya merasakan adanya nuansa lain dalam setiap aktivitas berumah tangga. Hal itu adalah tanggung jawab. Dengan menikah dan berumah tangga, berarti kita sudah siap menanggung risiko dan bertanggung jawab sendiri secara penuh terhadap segala tindakan dan pilihan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang suami, saya merasakan perubahan yang begitu besar dalam masalah bertanggung jawab ini, bahkan kepada diri sendiri sekalipun. Alhamdulillah, kedua orang tua saya sudah mulai mengajarkan tentang tanggung jawab berkeluarga itu sejak saya menyatakan keinginan untuk menikah. Sejak saat itu berhentilah semua dukungan finansial dari orang tua saya. Tentu bukan karena mereka tidak sayang, tetapi saya menyadari betul hal itu sebagai latihan bagi saya yang akan menikah. Jika menghidupi diri sendiri saja tidak mampu, bagaimana bisa bertanggung jawab menghidupi keluarga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*)Bunyi hadits shahih lengkap riwayat Muslim: Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah telah jadikan untuk kalian, setiap tasbih sebagai sedekah, setiap takbir sebagai sedekah, setiap tahlil sedekah, setiap tahmid sedekah, setiap amar ma'ruf sedekah, setiap nahyi munkar sedekah, dan pada kemaluan istri kalian sedekah.’ Sahabat keheranan dan bertanya, ‘Apakah seseorang yang melepaskan syahwatnya (pada istrinya) baginya pahala sedekah?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya, bukankah bila ia melakukan pada hal yang haram dia berdosa? Jika ia melakukannya pada yang halal ia berpahala (sedekah).’&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-88838227992272770?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/88838227992272770/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/02/menikah-dalam-bingkai-syariat-6.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/88838227992272770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/88838227992272770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/02/menikah-dalam-bingkai-syariat-6.html' title='Menikah dalam Bingkai Syariat (6)'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-1455639472573395811</id><published>2011-01-29T12:42:00.001+09:00</published><updated>2011-01-29T12:46:51.740+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Menjaga sakinah, menumbuhkan mawaddah, menjemput rahmah (pointer materi)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Menjaga sakinah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Mengerti hak suami dan kewajiban istri, dan sebaliknya.&lt;br /&gt;2. Mengerti perbedaan fithrah&lt;br /&gt;3. Saling menerima:   &lt;br /&gt;   - Menerima kekurangan pasangan (tasamuh)  &lt;br /&gt;   - Mengakui kekurangan kita   &lt;br /&gt;   - Berusaha saling memperbaiki&lt;br /&gt;4. Take and give:  &lt;br /&gt;   - Muasyarah bil ma'ruf  &lt;br /&gt;   - Perhatian pada masalah dan topik perhatian  &lt;br /&gt;   - Memberikan penampilan terbaik saat bersama: jangan sampai terlihat lusuh, kumal, dsb  &lt;br /&gt;   - Ungkapan cinta: verbal, fisik, dsb.&lt;br /&gt;5. Jaga komunikasi  &lt;br /&gt;   - Keterbukaan (mushorohah)  &lt;br /&gt;   - Musyawarah dalam mengambil keputusan  &lt;br /&gt;   - Tetap komunikasi, meski sedang marahan  &lt;br /&gt;   - Turunkan ego, jangan merasa dilecehkan ketika harus minta maaf&lt;br /&gt;6. Efektifkan waktu bersama:  &lt;br /&gt;   - bantu-membantu mengurus rumah  &lt;br /&gt;   - bicara dari hati ke hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menumbuhkan mawaddah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Mawaddah: Al Mahabbah al Katsier (cinta yang banyak)&lt;br /&gt;2. Cinta yang lebih dalam, lebih banyak, lebih kuat. Tapi secara lahir manifestasinya mungkin lain dengan cinta disaat awal menikah.&lt;br /&gt;3. Terwujud sinergi dari pasangan (Taaruf, tafahum, takaful)&lt;br /&gt;4. Meningkatnya kapasitas pribadi suami dan istri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menjemput rahmah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;1. Energy berlimpah dimiliki keluarga yang sakinah dan mawaddah.&lt;br /&gt;2. Energy akan mendatangkan rahmah, tatkala di optimalkan dalam aktifitas kebajikan: &lt;br /&gt;   - Upaya menunaikan kewajiban suami istri  &lt;br /&gt;   - saling menjaga keharmonisan  &lt;br /&gt;   - berperan dalam aktifitas dakwah&lt;br /&gt;3. Saling mengisi kekosongan&lt;br /&gt;4. Semuanya dalam balutan quwwatu shilah biLlah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-1455639472573395811?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/1455639472573395811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/01/menjaga-sakinah-menumbuhkan-mawaddah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/1455639472573395811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/1455639472573395811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/01/menjaga-sakinah-menumbuhkan-mawaddah.html' title='Menjaga sakinah, menumbuhkan mawaddah, menjemput rahmah (pointer materi)'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-6603495269296510056</id><published>2011-01-29T12:38:00.001+09:00</published><updated>2011-01-29T12:41:37.674+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Menikah dalam Bingkai Syariat (5)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Menikah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, hari yang ditunggu pun tiba. Jum’at pagi rombongan keluarga besar saya tiba di Bandung, setelah semalaman menempuh perjalanan dari Solo. Sekitar 20 orang yang mengikuti rombongan, lengkap dengan oleh-oleh dan seserahan buat keluarga calon istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga saya disambut dengan demikian hangatnya. Turun dari kendaraan, semua dipersilakan mampir ke rumah dulu untuk sarapan bersama. Saat itulah untuk pertama kali calon istri saya bertemu dengan calon mertua dan keluarga saya. Saya cukup deg-deg-an dengan pertemuan pertama ini, khawatir jika ada kekecewaan atau apa. Tapi alhamdulillah, tampaknya orang tua dan keluarga besar saya sangat setuju dengan pilihan saya. Sepupu dan bibi saya bahkan sempat meledek saya, “&lt;em&gt;Wah pantas saja kamu mau menikah dengan orang Sunda, calonnya seperti ini… &lt;/em&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, prosesi akad nikah dimulai sejak selesainya sholat Isya berjamaah di masjid dalam lingkungan pesantren. Ajaib. Sama sekali saya tidak gugup atau cemas saat itu. Saya teringat beberapa acara akad nikah yang saya hadiri, sebagiannya harus diulang karena kegugupan calon mempelai pria. Saya cuek saja menjadi pusat perhatian orang-orang. Bahkan ketika Abi (Bapak mertua) tanpa dipersilakan terlebih dahulu oleh petugas KUA, beliau sendirian memulai proses pengucapan akad nikah. Saya dengan tenang langsung menjawab, “&lt;em&gt;Saya terima nikahnya… …tunai.&lt;/em&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung kedua saksi yang dipersiapkan, serta salah satu dari kedua petugas KUA mengikuti proses itu. Mereka bersepakat bahwa akad nikah tadi sudah sah. Agak lucu juga karena sebagian dari yang hadir tidak mengikutinya. Sehingga mereka merasa kecolongan. Termasuk tim dokumentasi yang harusnya mengabadikan proses itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Lho, salamannya kapan?&lt;/em&gt;” Sebagian bertanya-tanya. Termasuk saudara yang merekam dengan video kamera. Setelah akad nikah, baru saya bersalaman dengan Abi sebagai mertua saya. Dan saat itulah saya mengerti, bahwa bersalaman antara wali yang menikahkan dengan mempelai pria bukanlah sebuah rukun atau syarat dari sebuah pernikahan. Demikian juga hadirin yang menghadiri akad nikah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai acara akad nikah, tiba waktunya berfoto. Saya dipertemukan dengan istri saya. Kami begitu malu-malu. Untuk pertama kalinya saya memegang tangan istri. Beberapa kali pegangan tangan kami lepas, sehingga diprotes oleh teman yang menjadi juru foto.&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Kalian itu sudah menikah, pegang aja itu tangannnya, nggak usah malu-malu,&lt;/em&gt;” kata teman saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan adik ipar saya sambil bercanda membawakan kami seutas tali. Katanya buat mengikat tangan saya dan istri, biar tidak lepas lagi. Yah, bukankah memang seperti itu pasangan yang baru menikah tanpa proses pacaran sebelumnya? Saya baru sebulan mengenal wanita yang sekarang menjadi istri saya, jadi pasti wajar jika malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bagaimana nanti jika berdua saja? Well, sebenarnya saya sudah menyiapkan sesuatu untuk memecah kekakuan yang ada di saat itu. Khusus untuk momen itu, saya menyiapkan sebuah surat cinta buat istri saya. Sebuah surat cinta yang baru pertama kalinya saya tulis. Alhamdulillah, segala sesuatunya ternyata tetap berlangsung dengan lancar, termasuk sampai acara resepsi atau walimah yang diselenggarakan keesokan harinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-6603495269296510056?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/6603495269296510056/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/01/menikah-dalam-bingkai-syariat-5.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6603495269296510056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6603495269296510056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/01/menikah-dalam-bingkai-syariat-5.html' title='Menikah dalam Bingkai Syariat (5)'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-3180011414639170002</id><published>2011-01-22T09:16:00.001+09:00</published><updated>2011-01-22T09:19:09.273+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Menikah dalam Bingkai Syariat (4)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Mengenali Keluarganya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari yang tersisa saya lewatkan untuk menjalin kedekatan dengan keluarga calon istri. Dengan keluarganya saja? Kurang lebih begitu. Sejak ta’aruf hingga akad nikah pun, saya dan calon istri tidak pernah berkomunikasi secara langsung. Tidak lewat telepon, tidak lewat email, tidak pula lewat sms, apa lagi bertemu langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucunya, ketika tanpa sengaja dalam sebuah perjalanan dengan kereta, ternyata saya mendapat tiket satu gerbong dengan calon istri. Meski berselang beberapa baris, saya pindah gerbong karena malu bertemu dengan calon istri. Saya juga masih ingat, begitu bingung dan anehnya wajah seorang bapak yang saya minta bertukar tempat duduk, ketika saya menyampaikan alasan mengapa ingin berpindah tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Ahh… polosnya saya saat itu, mengapa tidak mengarang sebuah alasan lain yang masuk akal untuk disampaikan kepada si bapak.&lt;/em&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lebih banyak berhubungan dengan calon ibu mertua saya, yang sejak saat itu saya panggil ummi. Artinya ibuku. Untuk persiapan pernikahan, saya dapat bagian menyiapkan undangan. Desainnya pun 100% pilihan keluarga calon istri. Saya beruntung punya seorang kawan dekat yang bergerak dibidang usaha desain dan percetakan, termasuk juga dalam urusan dokumentasi lewat foto dan video. Jadilah semua jasanya saya manfaatkan dengan gratis, kecuali mengganti ongkos produksinya saja. “&lt;em&gt;Ini hadiah saya buat kamu,&lt;/em&gt;” demikian katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat beberapa kali saya berkunjung ke rumah calon istri saya. Sebagian besar dalam rangka pengurusan undangan. Juga untuk mengikuti rapat panitia pernikahan, mencoba baju pengantin, dan melihat alternatif tempat menginap bagi keluarga saya. Pertemuan-pertemuan itu saya manfaatkan betul untuk lebih mengenal keluarga calon istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah membaca dalam sebuah buku tentang persiapan pernikahan, bahwasannya sangat penting bagi seorang calon pengantin pria seperti saya untuk menjalin hubungan dekat dengan calon ibu mertua. Seorang ibu adalah orang yang paling dekat dan paling mengenal kepribadian putrinya. Di sisi lain, ibu juga yang lebih bisa menjalin keakraban dengan dengan calon menantu laki-laki, dibandingkan jika komunikasi dilakukan antara ayah dan calon menantu laki-laki. Ini mungkin disebabkan oleh kecanggungan yang biasa terjadi diantara sesama laki-laki. Karenanya menjalin komunikasi antara ibu dengan calon menantu laki-laki sangat berguna dan efektif untuk memperlancar proses menuju pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun membuktikannya. Begitu besar peranan Ummi pada hari-hari menjelang pernikahan saya. Ummi yang mengamati langsung sikap dan karakter saya selama beberapa kali pertemuan singkat itu, tampak berperan betul dalam memfasilitasi perkenalan yang lebih jauh antara saya dengan calon istri. Beliau secara baik menjelaskan dan mendeskripsikan anaknya, calon istri saya. Demikian juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyampaikan pemikiran-pemikiran saya, secara langsung maupun tidak langsung melalui Ummi.　Alhamdulillah mendapatkan respon yang sesuai. Misalnya ketika saya mengungkapkan bahwa saya merasa belum cukup mengenal karakter calon istri saya, dan terkadang masih menyimpan beberapa pertanyaan. Ummi menanggapinya dengan menjelaskan secara terbuka tentang calon istri saya, menceritakan perjalanan hidupnya, sifat-sifatnya, kelebihan dan juga kekurangannya. Juga menjelaskan tentang keluarga besarnya. Pak Yani juga masih berperanan dalam masa ini. Utamanya dalam hal-hal prinsip terkait pernikahan, misalnya mengenai mahar yang harus disiapkan. Pada suatu kesempatan, saya pernah menanyakan kepada Ummi tentang mahar yang diinginkan oleh calon istri saya. Beliau menjawab, bahwa calon istri saya pernah pada suatu kesempatan mengungkapkan keinginannya untuk memiliki suatu barang tertentu. "&lt;em&gt;Mungkin itu bisa dijadikan mahar,&lt;/em&gt;” kata Ummi. Namun Pak Yani menyampaikan bahwa calon ayah mertua saya pernah mengungkapkan bahwa yang sesuai sunnah Nabi adalah mahar yang berwujud emas. Akhirnya kami menyepakati bahwa maharnya adalah perhiasan emas, tanpa ditentukan berapa banyaknya. “&lt;em&gt;Terserah yang akan memberikan mahar saja…&lt;/em&gt;” Demikian ungkapan Ummi waktu itu. Pak Yani juga menambahkan, “&lt;em&gt;Jika ingin memberikan sesuatu yang lain, tetap saja berikan namun sebagai hadiah…&lt;/em&gt;” Disini saya kembali merasa sangat beruntung memperoleh calon istri dan keluarga sebaik ini. Bukankah Rasulullah SAW juga pernah bersabda bahwa sebaik-baik wanita yang akan dinikahi adalah yang paling mudah maharnya? Lebih jauh lagi, saya juga merasa sangat beruntung dan bersyukur atas proses pernikahan yang sedang saya jalani.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-3180011414639170002?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/3180011414639170002/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/01/menikah-dalam-bingkai-syariat-4.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3180011414639170002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3180011414639170002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/01/menikah-dalam-bingkai-syariat-4.html' title='Menikah dalam Bingkai Syariat (4)'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-4039008068928314415</id><published>2011-01-15T08:14:00.001+09:00</published><updated>2011-01-15T08:17:32.296+09:00</updated><title type='text'>Menikah dalam Bingkai Syariat (3)</title><content type='html'>Satu kemudahan lain yang juga saya alami ketika mempersiapkan pernikahan adalah bahwa orang tua calon istri saya lebih mementingkan unsur syariat yang harus dipenuhi daripada memusingkan segala tetek bengek adat istiadat dan hal-hal sejenis lainnya. Saya tahu, bahwa di Sunda berlaku kebiasaan yang hampir sama dengan di Jawa, terkait dengan mempersiapkan pernikahan. Bahkan Bapak saya pun meminta calon-calon besan, calon mertua kakak-kakak saya yang perempuan untuk berkunjung dulu ke rumah saya sebelum pernikahan dilangsungkan. Minimal untuk bisa berkenalan langsung dan memahami karakter keluarga besarnya. Tapi entah mengapa, kali ini kedua orang tua saya tampaknya sedikit berat untuk berkunjung ke Bandung untuk melamar secara resmi kepada orang tua calon istri saya. Memang kondisi fisik Bapak sudah jauh berkurang, sehingga cukup payah untuk sering melakukan perjalanan jauh. Tapi mungkin juga karena orang tua saya juga sudah sangat percaya dengan pilihan saya, sehingga merasa tidak perlu berjumpa terlebih dahulu dengan calon besan. Toh proses pernikahan saya yang seperti ini bukan yang pertama kali dialami oleh orang tua saya, karena kakak-kakak saya pun juga menikah dengan dijodohkan oleh orang lain yang dikenal baik oleh orang tua saya. Dan tidak pernah ada kekecewaan yang dialami keluarga saya atas proses-proses itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya sungguh beruntung. Orang tua calon istri tidak mempermasalahkan bahwa tidak ada kunjungan terlebih dahulu dari orang tua atau keluarga saya sebelum melangsungkan pernikahan. Tidak ada proses melamar secara resmi sebagaimana yang biasanya. Cukup pernyataan kesiapan dari saya untuk melanjutkan proses ke pernikahan sebagai gantinya, dan juga sebagai tanda bahwa kami sudah berkomitmen penuh untuk melanjutkan proses ke jenjang pernikahan. Semua komunikasi dilakukan melalui saya, dan alhamdulillah orang tua saya juga mempercayakan sepenuhnya kepada saya dan keluarga calon istri.  Paling jauh, pernah satu kali Bapak menelpon dan berbincang sejenak dengan ayah calon istri saya melalui telepon. Itupun karena difasilitasi oleh Pak Yani ketika beliau berkunjung ke Klaten untuk suatu keperluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga calon istri meminta akad nikah dilaksanakan sebulan lagi, yakni Jum’at malam tanggal 24 Februari. Saya bersyukur keluarga saya bersikap dengan sangat baik. Bapak dan Ibu menyerahkan segala sesuatunya sesuai kehendak keluarga besar calon istri. Mulai dari menentukan tanggal, sampai dengan segala hal yang menyangkut proses pernikahan. Keluarga calon laki-laki &lt;em&gt;pasrah bongkokan&lt;/em&gt; saja, begitu istilahnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-4039008068928314415?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/4039008068928314415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/01/menikah-dalam-bingkai-syariat-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4039008068928314415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4039008068928314415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/01/menikah-dalam-bingkai-syariat-3.html' title='Menikah dalam Bingkai Syariat (3)'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-3046545568851389529</id><published>2011-01-13T14:33:00.002+09:00</published><updated>2011-01-14T03:43:18.397+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Menikah dalam Bingkai Syariat (2)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Ada keraguan…&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin calon istri saya dan keluarganya tahu, bahwa calon istri saya ini sangat memenuhi kriteria yang saya harapkan. Terpaut beda usia beberapa tahun di bawah saya, calon istri saya tidak lama lagi akan lulus sebagai dokter dari Universitas Airlangga Surabaya. Ia juga dari keluarga yang harmonis dan dikenal ketokohannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Tapi bagaimana saya tahu apakah saya memenuhi kriteria calon suami dan menantu sesuai yang diharapkan?&lt;/em&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah kegalauan, saya terus melakukan shalat istikharah dan meminta masukan dari orang-orang terdekat saya. Seorang teman saya memberikan nasehat, bahwa jawaban Allah terhadap istikharah kita bisa berada dalam berbagai bentuk. “&lt;em&gt;Bisa jadi Allah langsung menanamkan keyakinan pada kita bahwa seseorang yang sedang diproses itu memang jodoh kita. Bisa juga sebaliknya, semakin ada ganjalan di hati kita untuk melanjutkan proses menuju pernikahan. Atau bahkan berupa informasi-informasi baru tentang calon pasangan kita, yang semakin menguatkan motivasi kita untuk menikah dengannya, atau juga sebaliknya,&lt;/em&gt;” demikian nasihat dari teman saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya alami, adalah Allah menunjukkan jodoh saya dengan menanamkan keyakinan di dalam hati saya melalui berbagai kemudahan yang saya rasakan selama mempersiapkan pernikahan, sehingga kegalauan yang masih sempat membayangi di saat awal saya menerima perjodohan ini lambat laun menghilang. Beberapa diantaranya bahkan lebih bersifat kebetulan. Misalnya ketika Pak Yani tiba-tiba mendapat tugas dinas ke Klaten, sehingga bisa dipertemukan dengan keluarga saya. Hal ini tidak pernah direncanakan sebelumnya. Juga kebetulan bahwa calon istri saat itu sedang berada di Bandung untuk liburan, sehingga akhirnya proses pernikahan itu bisa berjalan. Padahal sebelumnya sang akhwat sempat berniat melewatkan liburan dengan mengambil semester pendek di Surabaya, dan sebelumnya tidak ada niatan sama sekali untuk menikah. Juga beberapa kemudahan lain yang akan saya sampaikan nanti dibagian lain tulisan ini. Beberapa kemudahan terjadi seolah-olah seperti suatu skenario yang sudah dipersiapkan, dan saya tidak dapat menafsirkannya selain sebagai jawaban Allah terhadap doa saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Ya Allah, saya memohonkan pilihan menurut pengetahuanMu dan memohonkan penetapan dengan kesuasaanMu juga saya memohonkan kurniaMu yang besar, sebab sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui dan saya tidak mengetahui apa-apa. Engkau Maha Mengetahui segala yang ghaib. Ya Allah, jikalau di dalam ilmuMu bahwa calon istri saya ini baik untuk saya dalam agama, kehidupan, serta akibat segala urusan saya; takdirkanlah dia untuk saya dan mudahkanlah serta berikanlah berkah di dalamnya. Dan jika di dalam ilmumu bahwa calon istri saya ini buruk untuk saya dalam agama, kehidupan, serta akibat segala urusan saya; jauhkanlah dia dan jauhkanlah saya darinya serta takdirkanlah untuk saya yang baik-baik saja dimana saja adanya, kemudian puaskanlah hati saya dengan takdirMu itu.&lt;/em&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya mencoba bijak serta meyakinkan diri, bahwa Allah tidak akan pernah dzalim terhadap hambaNya, termasuk dalam memberikan jodoh kepada calon istri saya. Saya ingat Allah berjanji dalam salah satu firmannya, “&lt;em&gt;Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizqi yang mulia (surga)&lt;/em&gt;,” (QS An Nuur: 26).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Saya maupun calon istri saya pasti akan memperoleh jodoh yang sesuai&lt;/em&gt;, ” itu yang saya yakini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-3046545568851389529?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/3046545568851389529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/01/menikah-dalam-bingkai-syariat-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3046545568851389529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3046545568851389529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/01/menikah-dalam-bingkai-syariat-2.html' title='Menikah dalam Bingkai Syariat (2)'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-3127915388534393367</id><published>2011-01-11T11:59:00.002+09:00</published><updated>2011-01-11T12:10:00.327+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Menikah dalam Bingkai Syariat (1)</title><content type='html'>Ini tulisan saya yang menjadi salah satu artikel dalam buku &lt;em&gt;Menikah Tanpa Pacaran Oke Banget&lt;/em&gt;. Ingin berbagi ke semua, secara bersambung. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=====&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Bagaimana Nak, kapan jadinya kamu akan menikah?&lt;/em&gt;” ibu bertanya pada saya. Saya menjawab, “&lt;em&gt;Mencari calon istrinya saja di Bandung, kok tidak boleh sama orang Sunda. Ya susah…&lt;/em&gt;” Ibu berkata lagi, “&lt;em&gt;Kalau begitu ya tidak apa-apa dengan orang Sunda…&lt;/em&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu, tanggal 12 Dzulhijjah tahun 2006. Ditengah perjalanan saya mengantar ibu menuju kantornya untuk acara pemotongan kurban Idul Adha, akhirnya ibu menyetujui keinginan saya. Percakapan pendek yang mengakhiri diskusi panjang saya dengan ibu tentang kriteria calon istri. Saya hanya bersyukur dalam hati, akhirnya ibu bersedia juga mencabut syaratnya itu, bahwa saya tidak boleh menikah dengan orang dari suku Sunda. Syarat yang telah menyebabkan proses pernikahan saya terhenti selama ini. Segera setelah saya kembali ke Bandung, saya menemui seorang ustadz. Enam bulan yang lalu saya meminta bantuannya untuk mencarikan jodoh buat saya. Ustadz ini adalah seorang yang saya kenal baik dan beliau juga dengan baik mengenal saya. Saya memanggilnya Pak Yani. Beliau sering menjadi tempat saya bertanya tentang berbagai hal dan berdiskusi tentang segala sesuatu. Setelah kurang lebih dua tahun mengenalnya, saya merasa cukup dekat dan percaya untuk meminta beliau mencarikan calon istri buat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Yani tampak begitu bersemangat ketika saya menyampaikan berita itu. Ternyata tak lama, keesokan harinya beliau memberitahu bahwa ada seorang akhwat yang cocok untuk dijodohkan dengan saya. Hari berikutnya, saya diberi selembar kertas bergaris ukuran B5 dengan tulisan tangan, berisi biodata singkat seorang akhwat, keluarga, dan sedikit aktivitasnya, serta dua lembar foto. Saya menjadi teringat biodata yang dulu saya titipkan ke beliau. Dalam waktu itu saya tidak tahu harus bersikap seperti apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya aneh. Biodata 7 lembar itu terdapat keterangan lengkap diri saya dan keluarga beserta karakter masing-masing. Bahkan sampai bacaan favorit dan juga dua halaman khusus berisi penjelasan tentang paradigma saya terhadap pernikahan, cita-cita, rencana, dan konsepsi kedepan. Dan sekarang, saya hanya diberikan selembar biodata yang dibuat tergesa dengan tulisan tangan. Saya merasa aneh. Bahkan nama ibu dan ayah sang akhwat yang menurut Pak Yani cukup terkenal pun saya tidak mengenalnya. Dan selembar biodata itu jauh dari cukup buat saya untuk bisa membayangkan seperti apa sosok akhwat yang hendak dijodohkan dengan saya. Namun akhirnya tanpa berpikir terlalu panjang, hanya berbekal keyakinan kepada ustadz bahwa beliau akan mengusahakan yang terbaik untuk saya, memberi keberanian bagi saya untuk menyanggupi permintaan ustadz agar segera bertemu dengan akhwat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 26 Januari 2006. Salah satu hari yang akan sangat sulit untuk saya lupakan. Pagi itu menjelang siang. Saya dijemput Pak Yani dan diantar untuk bertemu, atau kerennya ber-ta’aruf dengan akhwat yang hendak dijodohkan dengan saya. Istri beliau juga turut serta. Singkat cerita, sampailah mobil kami di depan sebuah rumah dengan gedung dan masjid kecil di sekitarnya. Saat itu saya baru tahu bahwa orang tua akhwat ini mengelola sebuah sekolah berasrama yaitu SMP Islam Terpadu di lingkungan pesantren. Saya yang pertama keluar dari mobil, disusul oleh Pak Yani dan kemudian istrinya. Setelah mengetuk pintu, keluarlah seorang ibu yang masih cukup muda, menurut saya. Ia menyambut kedatangan kami. Segera saya diperkenalkan pak Yani kepada ibu muda itu, dan ternyata beliau adalah ibu dari akhwat yang hendak saya temui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm… dada saya kembali bergemuruh ketika menuliskan kisah ini. Sama seperti ketika saya duduk di kursi di ruang tamu rumah itu, yang ternyata di kemudian hari saya tinggali selama hampir 3 tahun. Setelah obrolan basa-basi sejenak membicarakan pengalaman ibadah haji yang baru saja dilakukan oleh ibu dan adik sang akhwat, akhirnya dia pun keluar dan turut serta terlibat dalam pembicaraan. Ayahnya sedang bepergian ke Ciamis untuk suatu keperluan. “&lt;em&gt;Tapi…ah, sebenarnya saya agak bingung untuk mengungkapkan kembali kisah ini.&lt;/em&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin perasaan saya waktu itu terlalu gugup sehingga detil pembicaraan yang terjadi tidak banyak yang saya ingat. Saya hanya mengingat bahwa saya lebih banyak bersembunyi dibalik pundak pak Yani yang duduk disebelah saya sambil sesekali melirik (atau mungkin mengintip!) ke arah akhwat itu. Pak Yani dan ibu dari sang akhwat-lah yang lebih banyak berbicara. Mereka memperkenalkan diri saya dan putrinya. Mereka yang memfasilitasi pembicaraan. Mungkin sang akhwat juga sama gugupnya, sehingga tidak banyak yang dia tanyakan atau ungkapkan saat itu. Singkatnya, tidak ada hal prinsip yang kami bicarakan, hanya sebatas saling mengenal karakter dan latar belakang masing-masing secara umum. Juga kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi seandainya jadi menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan siang bersama, kami pun berpamitan. Tak lupa saat itu Pak Yani bercerita bahwa keesokan harinya saya berencana untuk pulang ke Solo untuk suatu keperluan. Ternyata, ibu sang akhwat langsung berinisiatif membungkuskan oleh-oleh dari haji, untuk saya dan keluarga di Solo. Pak Yani bergurau, bahwa dahulu saat dia berta’aruf dengan keluarga istrinya sekarang, dia juga dibawakan oleh-oleh dari calon ibu mertuanya. Kemungkinan besar saya-pun juga akan diterima. Dan gurauan itu ternyata cepat pembuktiannya. Sabtu pagi berikutnya saat saya masih di Solo, Pak Yani menelepon dan berkata, “&lt;em&gt;Akh Amin, Ustadz dan keluarganya sudah siap untuk menerima lamaran antum.&lt;/em&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu cepat. Hanya dua hari berselang sejak saya bertaaruf dengan calon istri saya. Tapi mungkin keluarganya sudah terlebih dahulu membaca biodata saya sebelumnya. Hal yang luar biasa adalah, baru Jum’at malamnya saya bercerita kepada Bapak, Ibu, dan keluarga saya bahwa saya sudah diperkenalkan dengan seorang akhwat dengan latar belakang sebagaimana tertulis dalam selembar biodata yang saya terima. Siang harinya ketika saya menyampaikan berita penerimaan itu, ternyata Bapak dan Ibu juga langsung menerima. Mereka bersedia melanjutkan proses lebih lanjut ke “pernikahan”. “Sungguh suatu hal luar biasa buat saya. Hanya perlu sehari bagi Bapak dan Ibu untuk menerima calon yang saya ajukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun begitu, awalnya memang tidak semudah itu. Sejak setahun sebelumnya, saya sudah melakukan pendekatan dan diskusi panjang dengan kedua orang tua saya. Mulai dari meminta ijin untuk menikah, hingga akhirnya tentang kriteria calon istri yang diharapkan. Merumuskan kriteria calon istri adalah hal yang paling menyita perhatian dalam diskusi kami. Saya ingin agar kriteria calon istri itu sesedikit mungkin, dan semudah mungkin, namun tetap saja orang tua saya memberikan beberapa kriteria yang lain yang menurut saya tidak terlalu penting, misalnya masalah umur, suku, profesi, latar belakang keluarga, dan lain sebagainya. Setelah melalui beberapa diskusi dari hati ke hati, saya bisa menerima beberapa syarat dari orang tua saya, dengan beberapa catatan. Jadi ketika saya datang dengan usulan calon istri sesuai kriteria Bapak dan Ibu, persetujuan pun mudah didapat. Bapak dan ibu juga sudah sepenuhnya percaya akan kedewasaan saya, termasuk dalam mencari siapa calon pendamping saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri pun hanya perlu waktu seminggu untuk menerima sang akhwat ini sebagai calon istri saya. Saya cukup yakin bahwa Pak Yani hanya akan memilihkan yang terbaik, yang paling sesuai untuk saya. Jadi, ketika semua kriteria terpenuhi, setelah melakukan shalat istikharah beberapa kali, dan dengan dilandasi keyakinan dan tawakal pada Allah, saya pun merasa mantap untuk maju ke tahapan selanjutnya. Saya masih ingat pesan kakak saya, bahwa sayalah yang akan menanggung segala konsekuensi dari pilihan ini. “&lt;em&gt;Dengarkanlah kata hati nuranimu sendiri. Jangan menjadikan idealisme orang lain, termasuk guru mengaji atau siapapun sebagai landasan.&lt;/em&gt;” Demikian kakak saya dengan bijak memberikan nasehatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ah…, bukankah idealisme Pak Yani yang mencarikan calon istri, juga sama dengan idealisme saya? Kurang lebih itulah yang menjadi alasan. Yang paling penting bagi saya adalah calon istri sudah memenuhi kriteria yang saya inginkan. Kemudian telah ada perasaan kecocokan, terutama setelah melakukan ta’aruf . Saya juga setuju dengan pendapat kakak saya untuk tidak menyerahkan segala keputusan sepenuhnya pada orang lain. Keputusan akhir ada di tangan saya, dan saya menyadari betul hal ini. Tapi saya merasa bahwa saya tidak memiliki alasan apapun untuk menunda atau membatalkan proses ini. Saya juga telah melakukan beberapa kali istikharah, dan saya merasa sreg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Saya merasa tidak perlu mengenal dulu lebih lanjut, atau melakukan penjajakan secara khusus. Saya juga tidak bisa menerima pendapat bahwa pacaran diperlukan untuk menjajaki calon pasangan, dimana jika cocok bisa dilanjutkan ke pernikahan namun jika tidak, bisa putus kapan saja.&lt;/em&gt;” Selain banyak terjadinya kebohongan dalam pacaran, saya juga beranggapan bahwa penjajakan lewat pacaran lebih banyak dibingkai dengan nafsu. Bukan berdasarkan wawasan kedewasaan dan sikap objektif. Itulah  sebabnya mengapa saya lebih percaya kepada orang yang saya kenal baik untuk mencarikan jodoh buat saya. Walaupun keputusan akhir tetap ada pada saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-3127915388534393367?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/3127915388534393367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/01/menikah-dalam-bingkai-syariat-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3127915388534393367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3127915388534393367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/01/menikah-dalam-bingkai-syariat-1.html' title='Menikah dalam Bingkai Syariat (1)'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-1821268998071286275</id><published>2011-01-05T11:15:00.003+09:00</published><updated>2011-01-05T12:23:10.950+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Merindukan ukhuwah</title><content type='html'>Ketika bercerita tentang kesan dan pesannya menjalankan ibadah haji kemarin, Pak Wisnu, salah seorang sahabat saya, menekankan keyakinannya bahwa umat Islam pasti akan mampu menguasai dunia, setelah menyaksikan kekuatan umat Islam yang direpresentasikan dengan jamaah haji yang datang ke Makkah. Pertanyaannya, bilamanakah umat Islam bisa bersatu dalam menuju kebangkitan umat Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pertanyaan yang membuat saya prihatin. Jika melihat kondisi di Jepang, sebagai sebuah gambaran komunitas Islam minoritas, tampaknya dalam situasi terbatas umat Islam menjadi sedemikian rukun dan mampu bersinergi. Namun ketika berada dalam kemajemukan, situasinya berbeda. Coba kita kunjungi salah satu homepage Islam terkenal, yaitu Eramuslim.com. Situs ini pernah menjadi salah satu media utama gerakan tarbiyah di Indonesia, yang kemudian melahirkan partai keadilan sejahtera di Indonesia. Namun dinamika dakwah menjadikan sebagian kadernya memilih berada di luar barisan utama, dan bersikap kritis, terutama ditujukan kepada para pemimpinnya. Redaksi Eramuslim tampak berada di barisan ini. Lebih jauh, aktifitas de-marketing pks tampaknya menjadi salah satu aktifitasyang dilakukan di dunia maya. Coba tengok rubrik 'manhaj dakwah' atau editorialnya. Paling parah adalah bagian diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik itu bagus, karena kritik itu konstruktif. Beda dengan hujatan. Saya suka membaca kritik di Eramuslim, atau kalau dulu ada blog namanya pkswatch. Yang bikin sedih adalah ketika Eramuslim latah membiarkan fitur komentar tanpa termoderasi. Sama dengan pkswatch dulu. &lt;em&gt;In my opinion&lt;/em&gt;, pkswatch lebih &lt;em&gt;gentle &lt;/em&gt;karena pemilik blog (nickname DOS) bersedia melayani diskusi dengan para pengunjung blognya, meski ia menyembunyikan identitasnya. Eramuslim dalam websitenya acapkali menampilkan artikel atau berita yang dikemas sesuai opini para editornya, yang acap mengundang pembacanya untuk berkomentar, yang pro maupun kontra. Dan yang paling saya sesalkan, Eramuslim membiarkan adu komentar berlangsung, meski sudah mengarah kepada tuduhan, bahkan caci maki dan hinaan. Apalagi jika sudah menyangkut pks. Barisan yang kecewa pada pks, atau yang sejak awal tidak bersepakat dengan pola perjuangan pks seperti mendapat wadah untuk menumpahkan uneg-unegnya. Yang pro juga kadang terpancing untuk membalas. Padahal mereka, yang pro maupun kontra sebagian besar sama-sama berkembang dari aktifitas tarbiyah pks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saya sempat berpikir jika ada pengelola website yang mematikan fitur komentarnya sebagai arogan. Tapi contoh kasus di Eramuslim memberi perspektif bagi saya bahwa itu adalah sebentuk tanggung jawab dari pengelolanya. Alangkah baiknya jika Eramuslim turut memoderasi atau mematikan peluang dan sumber-sumber perpecahan itu, supaya Eramuslim tetap pantas menyandang slogan &lt;em&gt;Media Islam Rujukan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Itu baru di Eramuslim, sebagai salah satu contoh kasus di jamaah tarbiyah. Ternyata, perpecahan juga terjadi di gerakan dakwah yang lain, misalnya salafy. Jika cermat mengamati berbagai situs (website, blog, dll) salafy, tidak sulit menemukan artikel yang membahas penyimpangan-penyimpangan kelompok lain: pks, hti, jt, dsb, bahkan beberapa kelompok salafy sendiri. Hizbut Tahrir Indonesia juga tidak luput dari dari pertentangan, dibuktikan dengan berpisahnya Ust. Muhammad Al Khattah yang mendirikan hdi (Hizbud Da'wah Islam). Jika ditanya mengapa bergabung dengan hdi, beberapa aktifisnya menyatakan bahwa hti sudah parah terserang virus ashobiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya umat Islam perlu lebih banyak mengingat firman Allah, &lt;em&gt;Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. &lt;/em&gt;(QS Al Fath:29). Kemudian memperbanyak melakukan amal shalih sesuai pemahaman kita masing-masing, dan menghindari menyerang kelompok yang tidak sesuai dengan jalan yang kita tempuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. &lt;/em&gt;(QS At Taubah:105)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-1821268998071286275?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/1821268998071286275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/01/merindukan-ukhuwah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/1821268998071286275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/1821268998071286275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/01/merindukan-ukhuwah.html' title='Merindukan ukhuwah'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-7399675545177354543</id><published>2011-01-01T19:49:00.003+09:00</published><updated>2011-01-01T20:23:36.915+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Mungkin mereka (memang) para syuhada</title><content type='html'>&lt;em&gt;Amat bodoh dan celaka jika kita menganggap kelebihan lahiriah kita: kepandaian, kekayaan, dsb sebagai sesuatu yang patut dibanggakan atau bahkan disombongkan, karena itu adalah ujian yang akan dimintakan pertanggungjawabannya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;======&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu ketika, kami berdiskusi tentang jenazah para 'teroris' di Indonesia. Ada Amrozi, Ali Imron, Imam Samudra, dan sederet nama lainnya. Kami membincangkan tentang tanda-tanda syahid yang ada pada para jenazah tersebut. Ada yang baunya harum semerbak. Wajah-wajahnya terlihat damai dan tersenyum. Ada yang tampak seperti masih hidup dan hanya sedang tidur, berkeringat, padahal sudah beberapa hari meninggal. Ada yang jenazahnya senantiasa dinaungi awan dari sengatan terik matahari, dan lain sebagainya. Teman saya bilang, sepertinya mereka memang syahid. Hadits dan hujjah tentang tanda-tanda syuhada itu cukup kuat. Penjelasannya merujuk pada buku Dr. Abdullah Azzam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, saya sedikit terperangah. Saya tahu berita tentang tanda-tanda syahid itu. Tapi tidak pernah memikirkannya secara serius, tidak seperti hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi bukan berarti Allah meridhai tindakan mereka," saya bilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita nggak ingin mempertanyakan hadits dan ayat yang dijadikan hujjah bukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya belum pernah baca hadits atau ayatnya, dan saya bukan Ahli hadits. Tapi jika memang demikian, ada di Al Qur'an atau hadits yang shahih, saya tidak akan menyanggahnya. Kejadian ini pasti ada hikmahnya," jawab saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, saya cuma mau bilang tentang kenyataan ini. Menanggapi apa yang Mas sampaikan tadi tentang cara-cara kita berkontribusi terhadap kebangkitan Islam." teman saya menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, ini bukan &lt;em&gt;cuma&lt;/em&gt;. Implikasinya panjang," batinku. Dan keyakinanku tentang kesalahan metode perjuangan mereka sedikit pudar.  Saya terus berpikir. Sampai akhirnya saya teringat sebuah firman Allah. &lt;em&gt;Laa yukallifuLlaahu nafsan illa wus'aha... Tidaklah Allah membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya. &lt;/em&gt;Ya. Sesuai kemampuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah akan meminta pertanggungjawaban yang berbeda kepada setiap manusia, sesuai nikmat berupa kepandaian dan keterampilan yang Dia berikan. Tidak dipukul rata, dan itulah keadilan Allah. Dan dalam pikiran saya, memang orang-orang yang meninggal tersebut mungkin telah benar-benar melakukan mujahadah sesuai kapasitas yang mereka miliki. Berkorban bersungguh-sungguh, melakukan yang terbaik dalam membela agama Allah, sesuai jalan yang mereka yakini. Termasuk berpikir dan merenungkan bagaimana cara terbaik membela agama Allah. Jadi bukan sebuah pembenaran terhadap metodenya itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama juga seperti pada kasus perselisihan para Shahabat RA, tentang perintah Rasulullah untuk tidak sholat sebelum tiba di tempat Bani Quraidhah. Ada yang memaknai secara harafiah (sehingga mereka sholat asar sedangkan sudah malam), ada yang memaknai sebagai perintah Rasulullah SAW untuk mempercepat perjalanan (dan mereka segera sholat asar setelah masuk waktunya, meskipun belum tiba di tempat yang dituju). Dan Rasulullah tidak menyalahkan salah satupun diantaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita meyakini ada cara terbaik untuk berkontribusi pada kebangkitan Islam, dengan bermujahadah mengoptimalkan usaha kita dengan cara tersebut, Insy Allah kita pun berkesempatan menjadi syuhada. Amin ya Rabb...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-7399675545177354543?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/7399675545177354543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/01/mungkin-mereka-memang-para-syuhada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/7399675545177354543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/7399675545177354543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2011/01/mungkin-mereka-memang-para-syuhada.html' title='Mungkin mereka (memang) para syuhada'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-6592959430327649699</id><published>2010-11-15T08:57:00.004+09:00</published><updated>2010-11-15T12:05:03.448+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Berguru pada Ketulusan Mak Elah</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Ribuan kilo jarak yang kau tempuh,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Lewati rintang untuk aku anakmu…&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Ibuku sayang masih terus berjalan,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah…&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Seperti udara kasih yang engkau berikan,&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Tak mampu ku membalas, Ibu…&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;(Iwan Fals, &lt;em&gt;Ibu&lt;/em&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kasih Ibu kepada anaknya adalah salah satu anugerah terindah yang dimiliki manusia. Namun berbeda dengan Yusuf, seorang anak kecil dari pedesaan di pelosok Garut, Jawa Barat. Disaat berusia satu tahun dan menunjukkan gejala abnormal karena kelainan di otaknya, ibunya meninggalkan Yusuf dan ayahnya begitu saja. Keterbatasan ekonomi yang menjadi alasan, dan tampaknya itu pula yang menghalangi ayah Yusuf, seorang kuli serabutan untuk bisa merawat sendiri putra kesayangannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tapi Allah memang Maha Rahman. Dia mengutus sesosok Mak Elah untuk menjadi Ibu bagi Yusuf. Mengasuhnya, menyuapinya tatkala Yusuf lapar, menggendongnya ketika Yusuf rewel, menyayangi dan mengasihinya laksana darah dagingnya sendiri, meski tak ada hubungan keluarga sedikitpun antara Mak Elah dan Yusuf, selain sebatas tetangsa satu desa. Mak Elah bukanlah orang kaya, dia hanya seorang buruh cuci dan pencari rumput yang penghasilannya sangat pas-pasan bahkan untuk menghidupi dirinya seorang diri. Tapi keikhlasan dan ketulusan telah mendorong Mak Elah untuk memungut Yusuf tatkala di usianya yang setahun ditelantarkan oleh ibunya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setiap pagi Mak Elah menggendong Yusuf menempuh tikungan berliku menuju tempat pemandian umum di desanya. Keterbatasan ekonomi membuat Mak Elah tak mampu membuat sendiri fasilitas mandi di rumahnya. Di tempat itu Mak Elah memandikan Yusuf, membersihkan tubuhnya dengan penuh kasih, mengeringkannya, menggendongnya kembali ke rumah dan seterusnya memakaikannya baju. Kemudian Mak Elah akan menyuapi Yusuf dengan sarapan pagi sederhana yang dia siapkan. Seringkali kesedihan meliputi Mak Elah karena dia tidak punya uang untuk membelikan jajan buat Yusuf. Hanya usapan penuh kasih dan pelukan sayang yang bisa Mak Elah curahkan buat Yusuf, dan juga doa-doa yang senantiasa Mak Elah panjatkan sesuai sholat lima waktu yang selalu mereka lakukan bersama-sama, “&lt;em&gt;Ya Allah, berikan kesehatan dan kesembuhan kepada Yusuf, buatlah dia bisa berjalan. Angkatlah harkat dan martabatnya, dan berikan kebahagiaan padanya dunia akhirat…&lt;/em&gt;”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pertengahan 2010, sudah tujuh tahun Mak Elah merawat dan membesarkan Yusuf. Kelainan jaringan otak yang diderita menyebabkan Yusuf mengalami kelainan pertumbuhan, sehingga di usia delapan tahun tatkala anak-anak lain seusianya sedang berlari bermain gembira bersama, Yasuf baru bisa duduk saja, bahkan sesekali dengan terhuyung. Usia Mak Elah sudah tujuh puluh lima tahun sekarang. “&lt;em&gt;Emak nggak tahu, bagaimana klo nanti Emak sudah tiada,&lt;/em&gt;” demikian tutur emak ketika ditanya tentang masa depan Yusuf. Karena sedemikian sayangnya Mak Elah pada Yusuf, beliau melanjutkan tuturnya, “&lt;em&gt;Lamun Emak tos teu aya, upami tiasa Yusuf ngiring…&lt;/em&gt;”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mak Elah, tentu Yusuf akan sangat bahagia bisa mengikuti Mak ketika tiada. Bagaimana tidak, Allah pasti akan menempatkan Mak Elah di surgaNya, karena itulah balasan yang pantas diterima seseorang yang seikhlas dan setulus Mak Elah dalam menebar kasih pada sesama…&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-6592959430327649699?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/6592959430327649699/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2010/11/berguru-pada-ketulusan-mak-elah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6592959430327649699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6592959430327649699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2010/11/berguru-pada-ketulusan-mak-elah.html' title='Berguru pada Ketulusan Mak Elah'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-1309308931865809614</id><published>2010-03-27T18:43:00.004+09:00</published><updated>2010-03-27T18:51:56.567+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Mengenang ulama besar pendiri NU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/S63UQIBjSHI/AAAAAAAAAJE/AFtpdu0uWCs/s1600/hasyim-asyari-176x250.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 141px; FLOAT: left; HEIGHT: 200px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453248097312524402" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/S63UQIBjSHI/AAAAAAAAAJE/AFtpdu0uWCs/s200/hasyim-asyari-176x250.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Hari ini saya bersyukur, bahwa Ulil tersingkir secara sistematis dari pencalonan ketua PBNU. Tandanya umat Islam masih bisa berharap banyak pada NU. Saya copy dan paste kutipan pidato pendiri NU KH Hasyim Asyari &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; pada muktamar NU ke 11 tahun 1936 di Banjarmasin , yang sarat dengan nasihat mulia dari pemikiran dan bashirah beliau yang jernih dalam memandang permasalahan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Assalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa barakatuh &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah sampai kepada saya bahwa di kalangan kalian berkobar api fitnah dan pertentangan. Setelah saya fikir penyebabnya adalah apa yang ada dalam masyarakat zaman ini bahwa mereka telah mengganti Kitab Allah SWT. dan Sunnah Rasul-Nya SAW. Allah SWT berfirman ”Sesungguhnya orang-orang Mukmin bersaudara, maka damaikanlah antara dua saudara kalian…”tapi kenyataannya mereka menjadikan saudara-saudaranya sesama mukmin sebagai musuh. Mereka tidak melakukan perdamaian, tetapi justru melakukan kerusakan terhadap saudara-saudara mereka itu. Rasulullah SAW., bersabda ”janganlah kalian saling iri hati, benci, bertolak belakang, dan bersaing, tetapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”. Tetapi kenyataannya mereka saling dengki, benci, bertolak belakang, bersaing, dan bermusuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai ulama yang fanatik terhadap sebagian madzhab atau terhadap sebagian pendapat ulama, tinggalkanlah kefanatikan kalian dalam furu’ dalam mana ulama menjadi dua pendapat: satu pendapat mengatakan bahwa setiap mujtahid adalah benar. Pendapat lain mengatakan bahwa yang benar hanya satu tetapi yang salah tetap diberi pahala. Tinggalkanlah sifat fanatik dan kecintaan yang dapat mencelakakan ini. Belalah agam Islam. Berjihadlah terhadap orang yang melecehkan al-Qur’an dan sifat-sifat Allah Yang Maha Kasih juga terhadap penganut ilmu-ilmu batil dan akidah-akidah yang sesat. Berjihad terhadap orang semacam ini adalah wajib. Mengapa kalian tidak menyibukkan diri dalam jihad ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai kaum Muslimin, di tengah-tengah kalian orang-orang kafir telah merambah ke segala penjuru negeri, maka siapakah dari kalian yang mau bangkit untuk … dan peduli untuk membimbing mereka ke jalan petunjuk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, wahai para ulama, dalam keadaan seperti ini kalian harus berjihad dan fanatik. Kefanatikan kalian dalam masalah furu’ dan perbuatan kalian menggiring seseorang ke satu madzhab atau satu pendapat ulama maka hal itu tidak diterima oleh Allah SWT. Dan tidak diridhai oleh Rasul-Nya SAW. (Sebenarnya) yang mendorong hal itu hanyalah sifat fanatik, nafsu persaingan dan kedengkian. Seandainya as-Syafi’i, Abu Hanifah, Malik, Ahmad, Ibnu Hajar, dan Ramli hidup pasti mereka sangat tidak menyukai kalian dan tidak bertanggungjawab atas perbuatan kalian itu. Apakah akan diingkari perbedaan pendapat di kalangan ulama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian melihat melihat banyak orang awam yang jumlahnya hanya Allah Yang tahu, tidak melaksanakan shalat yang balasan atas orang yang tidak melaksanakannya al-Syafi’i, Malik, dan Ahmad adalah dipancung lehernya dengan pedang, sedangkan kalian membiarkan mereka. Bahkan jika salah seorang dari kalian melihat banyak dari tetangganya tidak melaksanakan shalat dia diam saja. Kemudian mengapa kalian mengingkari masalah furu’ dalam mana fuqaha’ berbeda pendapat sementara perbuatan yang secara ijma’ diharamkan seperti zina, judi, dan minum minuman keras dibiarkan? Jika demikian kalian tidak punya ghirah untuk Allah. Ghirah kalian hanya untuk al-Syafi’i dan ibn Hajar sehingga hal ini menyebabkan terpecahnya kalian, terputusnya silaturrahim, berkuasanya orang bodoh, dan jatuhnya wibawa kalian di mata orang banyak. Juga hal tersebut dapat menyebabkan orang bodoh berani berkata yang melecehkan kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para ulama, apabila kalian melihat ada orang yang mengamalkan suatu amalan berdasarkan pendapat seorang imam yang boleh ditaqlidi dari imam mazhab yang mu’tabarah, sekalipun pendapat itu kurang kuat, jika mereka tidak sependapat dengan kalian, maka kalian jangan bersikap kasar terhadap mereka melainkan bimbinglah mereka secara halus. Jika mereka tidak mau mengikuti kalian jangan jadikan mereka sebagai musuh. Jika ini dilakukan maka perumpamaannya sama dengan orang yang membangun sebuah istana dan pada saat yang sama menghancurkan kota. Janganlah perbedaan itu kalian jadikan sebab perpecahan, pertentangan, dan permusuhan. Ini sungguh merupakan kejahatan umum dan dosa besar yang dapat merobohkan bangunan ummat dan menutup pintu-pintu kebaikan. Demikianlah, Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari pertentangan dan memperingatkan dari hal-hal yang berakibat buruk dan menyakitkan. Allah berfirman ”…dan janganlah kalian berbantah-bantahan yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai kaum muslimin, sesungguhnya dalam peristiwa yang terjadi selama ini terdapat banyak pelajaran dan pesan yang dapat diperoleh oleh orang yang berfikir dewasa, lebih banyak dari apa yang dia peroleh dari khutbah dan nasehat para muballigh dan da’i. Peristiwa-peristiwa itu sesungguhnya merupakan ujian setiap saat. Maka apakah sudah saatnya mengambil pelajaran dan peringatan? Dan apakah sudah saatnya kita kembali sadar dari kemabukan dan kelalaian kita dan menyadari bahwa kemenangan kita bergantung pada tolong-menolong dan persatuan diantara kita, juga kesucian hati dan ketulusan di antara kita ? Atau kalau tidak, kita akan tetap dalam perpecahan, sikap tidak mau tolong-menolong, kemunafikan, dengki dan iri serta kesesatan yang abadi. Padahal agama kita satu yaitu Islam, mazhab kita satu yaitu Syafi’iyah, daerah kita satu yaitu Jawa, dan kita semua termasuk Ahlus-Sunnah wa al-Jama’ah. Maka demi Allah sungguh ini adalah cobaan yang nyata dan kerugian besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai kaum muslimin bertakwalah kepada Allah, kembalilah kepada Kitab Tuhan kalian, beramallah sesuai dengan Sunnah Nabi kalian. Tedanilah orang-orang saleh sebelum kalian, niscaya kalian akan beruntung dan berbahagia seperti mereka. bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesama kalian. Dan tolong-menolonglah kalian dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran, niscaya Allah melimpahkan Rahmat dan Ihsan-Nya kepada kalian. Janganlah kalian seperti orang-orang (munafik) yang berkata: ”kami mendengar” padahal mereka tidak mendengarkan. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-1309308931865809614?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/1309308931865809614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2010/03/mengenang-ulama-besar-pendiri-nu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/1309308931865809614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/1309308931865809614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2010/03/mengenang-ulama-besar-pendiri-nu.html' title='Mengenang ulama besar pendiri NU'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/S63UQIBjSHI/AAAAAAAAAJE/AFtpdu0uWCs/s72-c/hasyim-asyari-176x250.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-2439288593400810359</id><published>2009-11-18T05:59:00.003+09:00</published><updated>2009-11-18T09:56:17.843+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Jangan berikan amanah pada orang yang menganggur?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://joopenn.files.wordpress.com/2008/03/03-ps71-3deadlines-posters.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 340px; FLOAT: left; HEIGHT: 450px; CURSOR: hand" border="0" alt="" src="http://joopenn.files.wordpress.com/2008/03/03-ps71-3deadlines-posters.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Kemarin saya meng-install aplikasi dekstop toolbar di laptop saya, dan dalam gadget scratch-note saya iseng-iseng (meski akhirnya jadi sesuatu yang serius) mendaftar target-target dan deadline yang harus saya penuhi. Saya cukup terkejut karena sampai 2 pekan kedepan ternyata ada setidaknya 12 target yang harus segera saya selesaikan. Lebih dari setengahnya harus diselesaikan dalam pekan ini juga. Secara spontan saya berpikir bagaimana menyelesaikan target-target itu. Bahkan lebih jauh saya juga berpikir untuk menghindari penumpukan target dalam agenda kegiatan saya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya teringat nasihat Sensei beberapa waktu lalu, agar saya mempertimbangkan betul kegiatan-kegiatan yang ingin saya lakukan, dalam kaitannya dengan riset dan target study saya. Saya pun kemudian berpikir untuk mengurangi amanah atau menghindari amanah yang tidak berhubungan dengan study dan riset saya, sampai saya teringat dengan sebuah kejadian sekitar 4 tahun yang lalu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saat itu, saya berkumpul untuk mengikuti rapat koordinasi sebuah kegiatan dakwah di organisasi yang saya ikuti. Dalam rapat divisi tersebut, turut hadir pengurus bidang yang membawahi divisi kami. Dalam kesempatan itu, beliau menanyakan kesibukan kami masing-masing. Ketika sebagian besar dari yang hadir bercerita dan rata-rata hanya memiliki waktu luang sehari dalam seminggu, dimana di hari-hari yang lain rata-rata full aktivitas dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam, komentar beliau cukup menarik. Beliau sampaikan secara singkat bahwa padatnya aktivitas yang seperti demikian adalah sebuah hal yang wajar bagi seorang dai yang produktif. Dan dengan kenyataan itu beliau cukup yakin bahwa divisi ini akan mampu bekerja.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Waktu itu, saya sempat sedikit kaget. Dalam benak saya, dan mungkin benak teman-teman yang lain, mungkin kami menceritakan hal tersebut dengan sedikit harapan agar tidak diberikan beban yang terlalu berat. Namun yang terjadi justeru sebaliknya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saat ini, saya kadang sedikit ragu. Saya merasa ketika ada target yang cukup banyak yang harus dipenuhi, saya merasa lebih produktif. Mungkin memang seperti itu fitrahnya bahwa kita bekerja lebih baik ketika berada dibawah tekanan. Lebih lagi, ada juga teman yang cerita bahwa ketika dia tidak punya target spesifik yang harus dia penuhi, dia seperti kehilangan arah dan nggak jelas aktivitasnya. Namun disisi lain kadang banyaknya target itu terasa berlebihan dan meningkatkan tingkat stress saya juga meningkat. Namun yang jelas, sekali lagi saya merasa lebih produktif ketika ada banyak tugas yang menunggu untuk diselesaikan. Tapi, enaknya bagaimana ya? &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-2439288593400810359?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/2439288593400810359/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/11/jangan-berikan-amanah-pada-orang-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2439288593400810359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2439288593400810359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/11/jangan-berikan-amanah-pada-orang-yang.html' title='Jangan berikan amanah pada orang yang menganggur?'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-2320379836013424169</id><published>2009-10-13T08:14:00.002+09:00</published><updated>2009-10-13T08:36:06.176+09:00</updated><title type='text'>Dari kuliah dengan Simon Sze (lanjutan)</title><content type='html'>Kemarin tentang kedermawanan Gordon Moore. Berbicara tentang 3 milyar dollar, saya jadi ingat salah satu slide di kuliah itu, bahwa biaya investasi awal pendirian pabrik semikonduktor meningkat setiap tahunnya. Saat ini, di level teknologi  ~100 nm, diperlukan investasi sekitar 3 milyar dollar. Kemarin, di teknologi ~1 um, perlu sekitar 1 milyar dollar. Kedepan, saat teknologi mendekati ~20nm, bakal diperlukan sekitar 5 milyar dollar. Demikian kata Prof. Sze.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, saya langsung teringat Pak Samaun. Teringat cita-cita beliau untuk mendirikan industri semikonduktor di Indonesia. Teringan cemburunya beliau kepada negara bagian Kuching Malaysia, yang bersedia berinvestasi sampai 1 milyar dollar untuk mendirikan pabrik semikonduktor dengan nilai investasi total sekitar 3 milyar dollar di sana. Padahal Kuching tidak punya modal apa-apa sebelumnya, termasuk ahli-ahli semikonduktor sebelumnya. Ah, cita-cita itu sepertinya semakin jauh, dengan semakin besarnya investasi yang diperlukan. Dengan semakin kerasnya kompetisi di industri IC saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Insya Allah kita pasti bisa berperan dalam dunia itu. Seperti yang coba dilakukan Sehat dan Pantas Sutardja dengan Marvell-nya. Atau yang dilakukan Pak Eko dan Pak Trio dengan Versatile Silicon-nya. Dan semoga nanti saya dan kita bisa juga berkontribusi dengan cara kita masing-masing...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-2320379836013424169?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/2320379836013424169/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/10/dari-kuliah-dengan-simon-sze-lanjutan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2320379836013424169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2320379836013424169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/10/dari-kuliah-dengan-simon-sze-lanjutan.html' title='Dari kuliah dengan Simon Sze (lanjutan)'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-7763073602414911473</id><published>2009-10-10T07:36:00.003+09:00</published><updated>2009-10-10T07:48:29.653+09:00</updated><title type='text'>Dari kuliah dengan Simon Sze</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Seminggu kemarin, saya ikut &lt;em&gt;special lecture&lt;/em&gt; oleh Professor Simon Sze. Bagi yang belum kenal, dia adalah penulis buku yang dijadikan rujukan bagi hampir semua kuliah Fisika dan Devais Semikonduktor, salah satu kuliah wajib bagi nahasiswa S1 Teknik Elektro bidang keahlian Elektronika. Bukunya berjudul &lt;em&gt;"Physics of Semiconductor Devices"&lt;/em&gt; sudah dicetak ulang sampai edisi ketika. Harganya: 16,000 yen, atau sekitar 1.7 juta rupiah. Walah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang menarik. Pertama, saat kemarin dia menceritakan tentang sosok Gordon Moore (Klo masih nggak tahu siapa Moore, coba search di internet untuk 'moore law'), pendiri intel dan pencetus hukum Moore, salah satu hukum yang amat sangat diingat di kalangan industri chip. Padahal dia bukan fisikawan ataupun insinyur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Sze bilang, si Moore itu orang yang sangat dermawan. Dia menyumbangkan USD 3 milyar untuk &lt;em&gt;charity.&lt;/em&gt; Artinya, kata Sze, orang ini sangat-sangat kaya. Dan dia sangat suka dengan kedermawanan G. Moore ini. Yang menarik, Prof Sze berkomentar, &lt;em&gt;"If someday you have been successful and become rich, please donate most of your money, maybe 70 percent for charity. It is bad to raise your kids with money." &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aha, saya suka sekali pernyataan itu...&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-7763073602414911473?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/7763073602414911473/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/10/dari-kuliah-dengan-simon-sze.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/7763073602414911473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/7763073602414911473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/10/dari-kuliah-dengan-simon-sze.html' title='Dari kuliah dengan Simon Sze'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-615788532359880174</id><published>2009-08-19T15:36:00.003+09:00</published><updated>2009-08-19T16:06:43.739+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Menjadi suami yang bertanggung jawab, menjadi istri yang bersyukur</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Membaca kembali tulisan &lt;em&gt;"Sandal Jepit Istriku," &lt;/em&gt;membuat saya teringat kembali pada sebuah materi kajian tentang membina keluarga dakwah. Disana disampaikan tentang hak-hak dan kewajiban suami terhadap istri dan juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, tidak terlalu sulit untuk mencari atau merumuskan poin-poin dari hak dan kewajiban itu. Bahkan ada banyak buku bertebaran yang membahasnya secara panjang lebar. Namun ada satu hal yang saya rasa harus dimengerti oleh pasangan suami istri, bahwasannya masing-masing biasanya sama-sama berada pada posisi belajar dan berusaha menunaikan kewajibannya sebagai suami dan istri. Dengan demikian, masing-masing seharusnya juga menyadari bahwa kewajiban mereka belum tertunaikan sepenuhnya, dan sebagai konsekwensinya adalah tidak berlebihan dalam menuntut hak-haknya. Yang lebih berbahaya adalah jika suami atau istri tidak menyadari kewajibannya kepada pasangan dan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul diatas saya pilih, bukan karena saya menyimpulkan bahwa sumber masalah dalam keluarga biasanya adalah kurang tanggung jawabnya suami atau kurang bersyukurnya istri. Sejujurnya, sikap tanggung jawab maupun bersyukur itu adalah pantas disandangkan kepada kaduanya, suami maupun istri. Bahkan untuk kasus tertentu, misalnya kisah dalam cerita "Sandal Jepit Istriku," bukan suami yang kurang bertanggung jawab atau istri yang kurang bersyukur. Justru sang suami yang mungkin kurang bersyukur dan di sisi lain mungkin pula sang istri yang kurang bertanggung jawab mengurusi rumahnya. Substansinya adalah bagaimana bisa menjaga keseimbangan dalam menunaikan kewajiban dan dalam menuntut hak dari seorang suami terhadap istri dan juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja Islam mengajarkan bahwa dalam rumah tangga, suami adalah pemimpin dalam rumah tangga, sehingga dituntut tanggung jawabnya, sedangkan bersabar dan bersyukur terhadap kondisi suami dan rumah tangganya merupakan salah satu jalan bagi seorang istri untuk mencapai derajat ahli surga.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-615788532359880174?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/615788532359880174/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/08/menjadi-suami-yang-bertanggung-jawab.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/615788532359880174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/615788532359880174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/08/menjadi-suami-yang-bertanggung-jawab.html' title='Menjadi suami yang bertanggung jawab, menjadi istri yang bersyukur'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-7042333700719593111</id><published>2009-08-19T14:54:00.004+09:00</published><updated>2009-08-19T15:35:26.608+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Sandal Jepit Istriku</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Ada sebuah artikel lawas yang selalu membuat saya berkesan tiap kali membacanya. Dan kali ini saya ingin memuatnya kembali untuk kita semua.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;********************************************&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesal dan jengkel yang memenuhi kepala ini. Duh… betapa tidak gemas, dalam keadaan lapar memuncak seperti ini makanan yang tersedia tak ada yang memuaskan lidah. Sayur sop ini rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin nggak ketulungan. “&lt;em&gt;Ummi… Ummi, kapan kau dapat memasak dengan benar…? Selalu saja, kalau tak keasinan…kemanisan, kalau tak keaseman… ya kepedesan!&lt;/em&gt;” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu. ”&lt;em&gt;Sabar bi…, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khodijah. Katanya mau kayak Rasul…?&lt;/em&gt;” ucap isteriku kalem. “&lt;em&gt;Iya… tapi abi kan manusia biasa. Abi belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak tahan kalau makan terus menerus seperti ini…!&lt;/em&gt;” Jawabku dengan nada tinggi. Mendengar ucapanku yang bernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepala dalam-dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketika pulang benak ini penuh dengan jumput-jumput harapan untuk menemukan ‘baiti jannati’ di rumahku. Namun apa yang terjadi…? Ternyata kenyataan tak sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumah kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak (pecah). Pakaian bersih yang belum disetrika menggunung di sana sini. Piring-piring kotor berpesta pora di dapur, dan cucian… ouw… berember-ember. Ditambah lagi aroma bau busuknya yang menyengat, karena berhari-hari direndam dengan detergen tapi tak juga dicuci.&lt;br /&gt;Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfar sambil mengurut dada. “&lt;em&gt;Ummi…ummi, bagaimana abi tak selalu kesal kalau keadaan terus menerus begini…?&lt;/em&gt;” ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “&lt;em&gt;Ummi… isteri sholihat itu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia juga harus pandai dalam mengatur tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah…?&lt;/em&gt;” Belum sempat kata-kataku habis sudah terdengar ledakan tangis isteriku yang kelihatan begitu pilu. “&lt;em&gt;Ah…wanita gampang sekali untuk menangis…,&lt;/em&gt;” batinku berkata dalam hati. “&lt;em&gt;Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya mau jadi isteri shalihat…? Isteri shalihat itu tidak cengeng,&lt;/em&gt;” bujukku hati-hati setelah melihat air matanya menganak sungai dipipinya. “&lt;em&gt;Gimana nggak nangis! Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Rumah ini berantakan karena memang ummi tak bisa mengerjakan apa-apa. Jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah. Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,&lt;/em&gt;” ucap isteriku diselingi isak tangis. “&lt;em&gt;Abi nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orang yang hamil muda…&lt;/em&gt;” Ucap isteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"&lt;em&gt;Bi…, siang nanti antar Ummi ngaji ya…?&lt;/em&gt;” pinta isteriku. “&lt;em&gt;Aduh, Mi… abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja ya?&lt;/em&gt;” ucapku. “&lt;em&gt;Ya sudah, kalau abi sibuk, Ummi naik bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan di jalan,&lt;/em&gt;” jawab isteriku. “&lt;em&gt;Lho, kok bilang gitu…?&lt;/em&gt;” selaku. “&lt;em&gt;Iya, dalam kondisi muntah-muntah seperti ini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak-desakan dalam bus dengan suasana panas menyengat. Tapi mudah-mudahan sih nggak kenapa-kenapa,&lt;/em&gt;” ucap isteriku lagi. “&lt;em&gt;Ya sudah, kalau begitu naik bajaj saja,&lt;/em&gt;” jawabku ringan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja menjadi rindu padanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Motorku sudah sampai di tempat isteriku mengaji. Di depan pintu kulihat masih banyak sepatu berjajar, ini pertanda acara belum selesai. Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itu satu persatu. Ah, semuanya indah-indah dan kelihatan harganya begitu mahal. “&lt;em&gt;Wanita, memang suka yang indah-indah, sampai bentuk sepatu pun lucu-lucu,&lt;/em&gt;” aku membathin sendiri. Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendal jepit yang diapit sepasang sepatu indah. Dug! Hati ini menjadi luruh. “&lt;em&gt;Oh….bukankah ini sandal jepit isteriku?&lt;/em&gt;” tanya hatiku. Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya hati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku tak pernah memperhatikan isteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit kumal. Sementara teman-temannnya bersepatu bagus. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Maafkan aku Maryam,&lt;/em&gt;” pinta hatiku. “&lt;em&gt;Krek…,&lt;/em&gt;” suara pintu terdengar dibuka. Aku terlonjak, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warna baju dan jilbab umminya. Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu, kembali melintas ukhti-ukhti yang lain. Namun, belum juga kutemukan Maryamku. Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumah itu, tapi isteriku belum juga keluar. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berbaju gelap dan berjilbab hitam melintas. “&lt;em&gt;Ini dia mujahidahku!&lt;/em&gt;” pekik hatiku. Ia beda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memperhatikan isteri. Ya, aku baru sadar, bahwa semenjak menikah belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Aku terlalu sibuk memperhatikan kekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semua itu begitu banyak kelebihanmu, wahai Maryamku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku benar-benar menjadi malu pada Allah dan Rasul-Nya. Selama ini aku terlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku tak pernah kuurusi. Padahal Rasul telah berkata: “Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” Sedang aku..? Ah, kenapa pula aku lupa bahwa Allah menyuruh para suami agar menggauli isterinya dengan baik. Sedang aku…? terlalu sering ngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia tak dapat melakukannya. Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim!!! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“&lt;em&gt;Maryam…!&lt;/em&gt;” panggilku, ketika tubuh berbaya gelap itu melintas. Tubuh itu lantas berbalik ke arahku, pandangan matanya menunjukkan ketidakpercayaan atas kehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia. “&lt;em&gt;Abi…!&lt;/em&gt;” bisiknya pelan dan girang. Sungguh, aku baru melihat isteriku segirang ini. “&lt;em&gt;Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?&lt;/em&gt;” sesal hatiku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembali mengembang dari bibirnya. “&lt;em&gt;Alhamdulillah, jazakallahu…,&lt;/em&gt;”ucapnya dengan suara tulus. Ah, Maryam, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu. Lagi-lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukur memperoleh isteri zuhud dan ‘iffah sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar-binar karena perhatianku…?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-7042333700719593111?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/7042333700719593111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/08/sandal-jepit-istriku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/7042333700719593111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/7042333700719593111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/08/sandal-jepit-istriku.html' title='Sandal Jepit Istriku'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-542341395414118038</id><published>2009-08-17T14:36:00.002+09:00</published><updated>2009-08-17T14:42:50.978+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Kisah Jenius Kita di Negeri Orang</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Artikel Koran Tempo&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Berita dari Medan itu membuat Nelson Tansu lemas. Di Universitas Lehigh, Pennsylvania, Amerika Serikat, tempatnya bekerja sehari-hari, Agustus 2 tahun lalu ia meradang. Kabar itu demikian membuatnya shocked: mama tercintanya, Auw Lie Min, dan papa tersayangnya, Iskandar Tansu, direktur percetakan PT Mutiara Inti Sari, tewas. Mereka dibunuh oleh perampok di area perkebunan karet PTPN II Tanjung Morawa. Peristiwa itu sempat membuatnya "tak percaya" terhadap Indonesia. Pria kelahiran 20 Oktober 1977 ini adalah seorang jenius. Ia adalah pakar teknologi nano. Fokusnya adalah bidang eksperimen mengenai semikonduktor berstruktur nano. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Teknologi nano adalah kunci bagi perkembangan sains dan rekayasa masa depan. Inovasi-inovasi teknologi Amerika, yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari seluruh orang di dunia, bertopang pada anakanak muda brilian semacam Nelson. Nelson, misalnya, mampu memberdayakan sinar laser dengan listrik superhemat. Sementara sinar laser biasanya perlu listrik 100 watt, di tangannya cuma perlu 1,5 watt. Penemuan-penemuannya bisa membuat lebih murah banyak hal. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tak mengherankan bila pada Mei lalu, di usia yang belum 32 tahun, Nelson diangkat sebagai profesor di Universitas Lehigh. Itu setelah ia memecahkan rekor menjadi asisten profesor termuda sepanjang sejarah pantai timur di Amerika. Ia menjadi asisten profesor pada usia 25 tahun, sementara sebelumnya, Linus Pauling, penerima Nobel Kimia pada 1954, menjadi asisten profesor pada usia 26 tahun. Mudah bagi anak muda semacam Nelson ini bila ingin menjadi warga negara Amerika. Amerika pasti menyambutnya dengan tangan terbuka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Apakah tragedi orang tuanya membikin Nelson benci terhadap Indonesia dan membuatnya ingin beralih kewarganegaraan?"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Tidak. Hati Saya tetap melekat dengan Indonesia," katanya kepada Tempo. Nelson bercerita, sampai kini ia getol merekrut mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan riset S-2 dan S-3 di Lehigh. Ia masih memiliki ambisi untuk balik ke Indonesia dan menjadikan universitas di Indonesia sebagai universitas papan atas di Asia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jawaban Nelson mengharukan. Nelson adalah aset kita. Ia tumbuh cemerlang tanpa perhatian negara sama sekali. Bila Koran Tempo kali ini menurunkan liputan khusus mengenai orang-orang seperti Nelson, itu karena koran ini melihat sesungguhnya kita cukup memiliki ilmuwan dan pekerja profesional yang berprestasi di luar negeri. Diaspora kita bukan hanya tenaga kerja Indonesia. Kita memiliki sejumlah Nelson lain—di Amerika, Eropa, dan Jepang. Orang-orang yang sebetulnya, bila diperhatikan pemerintah, akan bisa memberikan sumbangan berarti bagi kemajuan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sayangnya, pemerintah seolah tak memiliki minat untuk lebih serius memikirkan hal itu. Tak pedulinya pemerintah kita terhadap para penemu asal Indonesia yang berprestasi di luar sesungguhnya pertanda kegagapan kita menyiapkan diri memasuki masa depan. Itu terasa sekali berbeda dengan pemerintah India dan Cina, yang memiliki strategi. India dan Cina sadar, di era kompetisi global ini, resep merebut masa depan adalah memberikan perhatian yang besar terhadap perkembangan ilmu dan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;India, misalnya, mempersiapkan diri besar-besaran memenuhi permintaan akan tenaga kerja ahli di Amerika dan Eropa. Mereka mencetak para ilmuwan riset, desainer chip, ahli rekayasa, sampai analisis finansial agar bisa mendapat pekerjaan penting di Amerika atau Eropa. Mereka menganggap itu sebagai aset dan investasi untuk menaklukkan masa depan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pete Engardio, penulis senior Business Week dalam bukunya, Chindia: Strategi China dan India Menguasai Bisnis Global, menjelaskan soal itu. Ia mengurai bagaimana kini Cina dan India berambisi memainkan peran yang lebih besar dalam menentukan standar global. Ia menjelaskan bagaimana India sekarang memainkan peranan tak ternilai pada rantai inovasi global. Raksasa-raksasa teknologi Amerika, seperti Motorola, Hewlett-Packard, Cisco System, Microsoft, GE Medical Systems, semua bergantung pada para ahli India untuk merancang dasar-dasar perangkat lunak dan multimedia bagi peralatan canggih masa depan. "Puluhan ribu profesional TI India bekerja di Silicon Valley," tulisnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sedangkan Cina, untuk menata ulang ekonomi global, mempersiapkan diri menjadi pemimpin dalam mengarahkan tren perkembangan produk elektronik digital, mobil, baja, kimia, sampai semikonduktor. Cina, menurut Engardio, berambisi, pada 2010 menghasilkan PhD di bidang sains dan rekayasa lebih banyak daripada yang dihasilkan Amerika.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Agresifnya Cina dan India ini dibenarkan oleh Dr Warsito P. Taruno, Direktur Centre for Tomography Research. Peraih Achmad Bakrie Award untuk kategori Sains 2009 ini kepada Tempo menceritakan pengalamannya saat menjadi peneliti di Departemen Teknik Kimia Ohio State University. "Sebanyak 70 persen mahasiswa dan perisetnya adalah orang Cina, sebanyak 10 persen orang India, sisanya negara-negara lain." Hal itu dimungkinkan karena, menurut Warsito, kebanyakan profesor Cina atau India biasanya menarik mahasiswa-mahasiswa asal negaranya untuk belajar dan bekerja di bawah mereka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seperti yang diamati Engardio, Warsito melihat banyaknya peneliti Cina dan India di universitas Amerika sangat berpengaruh pada perkembangan dunia bisnis di Cina. Penemuan-penemuan para peneliti itu banyak dimanfaatkan industri-industri di dalam negeri mereka sendiri. Bahkan bisnis sehari-hari lintas Amerika-India atau Amerika-Cina menjadi fenomena umum. "Di Amerika, saya biasa mengangkat telepon, eh ternyata itu telepon dari perusahaan-perusahaan asuransi di New Delhi, yang menawarkan asuransi atau kartu kredit, ha-ha-ha...," ujar Warsito.&lt;br /&gt;Dibanding Cina dan India, jelas kita terbelakang dalam strategi pengembangan teknologi itu. Namun, bila dibandingkan dengan Malaysia saja kita juga tertinggal, itu memalukan. Sekarang dapat diba- ca tetangga kita itu tengah mempersiapkan diri mencontoh strategi Cina dan India. Data UNESCO menyebutkan bahwa pada 2007 Malaysia mengirim 46.473 pelajar ke luar negeri. Sedangkan jumlah pelajar Indonesia di luar negeri 29.580 orang. Ambisi Malaysia menarik para ilmuwan bekerja untuk negeri mereka tampaknya tak main-main.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Saya pernah bertemu dengan orang dari Malaysia duatiga tahun lalu. Ia berterus terang sedang shopping 30 (orang bergelar) PhD dari Indonesia," tutur As Natio Lasman, Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir. Sulitnya mendapatkan dana meneliti di dalam negeri membuat fenomena brain drain atau mengalirnya ilmuwan kita ke luar negeri tak bisa ditampik. Apalagi tawaran dari negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia, sangat menggoda. Muhamad Askari, mahasiswa kita, kandidat doktor di Universitas Tsukuba, Jepang, membenarkan adanya godaan itu. Kepada Tempo, ia menjelaskan, universitas-universitas atau lembaga-lembaga asing sangat memperhatikan faktor kesejahteraan, dana, serta fasilitas riset (alat, bahan, dan literatur) bagi para penelitinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Itu yang berbeda dengan di Tanah Air. Bila untuk tahun ini Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman menyebutkan ada dana Rp 400 miliar yang akan diberikan pemerintah kepada 8.000 peneliti di sembilan lembaga penelitian milik pemerintah, memang itu suatu kemajuan. Tapi apakah itu cukup?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bila dihitung, satu penelitian mendapatkan dana Rp 50 juta. Apa yang dapat dihasilkan dengan dana Rp 50 juta? Menurut Warsito, satu tema penelitian sampai tuntas memerlukan Rp 200-300 juta per tahun. Ia mencontohkan, sebuah proyek yang dipesan NASA Amerika dihasilkan melalui penelitian dengan dana Rp 1,5 miliar selama tiga tahun.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Itulah yang menyebabkan para ilmuwan kita yang pernah bekerja di luar negeri, yang balik, tetap idealis harus banting tulang untuk mendapatkan dana tambahan riset. Sering mereka lalu mencari uang dengan jalan membuka warung. Warsito, misalnya, membuka jasa penyewaan Internet. Akan halnya Nurul Taufiqu Rohman, ilmuwan teknologi nano LIPI, penemu teknik membersihkan timbel pada kuningan dengan teknologi nano ini bersama temannya membuka penyewaan lapangan futsal. Dia juga membuka kantin yang menjual bakso dan sate di dekat lapangan itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Doktor Teknik Produksi Material Universitas Kagoshima ini tahu gajinya sebagai peneliti di LIPI, yang kurang dari satu juta rupiah per bulan, tidak bakal bisa mendukung hidup istri dan lima anak. Itu sebabnya, sebelum pulang ke Indonesia, Nurul menjadi pegawai negeri di Pusat Penelitian Daerah Kagoshima, Jepang, dengan gaji Rp 30 juta sebulan untuk ditabung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karena itu, bila ada sebagian ilmuwan Indonesia yang memilih tetap bertahan di luar negeri dengan alasan kesejahteraan, itu suatu hal yang wajar. Meskipun Warsito termasuk ilmuwan yang memilih pulang, ia tak menganggap salah apabila ada ilmuwan kita tetap bekerja di luar negeri. "Saya malah ingin pemerintah mendorong makin banyak ilmuwan Indonesia bekerja di luar negeri," katanya Senada dengan Warsito, Syarif Junaidi, pengajar di Jurusan Teknik Mesin dan Material Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), mengatakan seharusnya pemerintah bisa mengambil manfaat dari keberadaan ilmuwannya di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Mereka memiliki informasi dan dana riset untuk membiayai studi mahasiswa Indonesia," ujar peneliti di grup riset Advanced Material Processing and Integrity UKM ini. Syarif, yang doktor teknik material dari Universitas Kyushu di Fukuoka, Jepang, kini membimbing 11 mahasiswa yang delapan di antaranya adalah orang Indonesia yang dia beri beasiswa dan dibebaskan dari tuition fee. Semua itu berasal dari dana penelitian yang diberikan pemerintah Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Untuk mereka yang bertahan di mancanegara itu, tugas pemerintah adalah merawat hubungan. Bahwa kelak penemuan cerdas mereka bisa bermanfaat bagi kita. Selain Nelson Tansu, jenius kita kini yang masih bertahan di mancanegara antara lain M. Arief Budiman, yang menjadi pemimpin Library Technologies-- perusahaan bioteknologi Orion Genomics di Saint Louis, Missouri, Amerika. "Dia tergabung dalam penelitian paling prestisius di Amerika," ujar Warsito.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sementara itu, di bidang ekonomi, ada Sutarja bersaudara, yakni Sehat dan Pantas. Sehat, yang tamat S-1 di Iowa State University dan meraih gelar doktor di University of California Berkeley, mendirikan perusahaan chip Marvell Technology di Silicon Valley, yang memiliki 5.000 karyawan dan memiliki pusat perancangan di tujuh negara di luar Amerika, termasuk Jepang, Singapura, dan India. Pada 2007, majalah Forbes melansir bahwa kekayaannya mencapai US$ 1 miliar, dan termasuk orang terkaya di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di Benua Eropa, ada Johny Setiawan, yang juga bekerja di lembaga prestisius Max Planck Institute of Astronomy di Heidelberg, Jerman. Tak hanya itu, Johny juga mengepalai tim yang menemukan bintang dan planet di luar tata surya, HD 11977b, pada 2005.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tentunya aneh bila Departemen Pendidikan Nasional sendiri tidak memiliki data jumlah pelajar dan ilmuwan kita yang berada di luar negeri. Di hari kemerdekaan ini, pemerintah seharusnya mulai menata ulang visi-visi masa depannya. Bila tidak ingin menjadi bangsa yang makin terlunta- lunta di masa depan, pemerintah harus sigap memperhatikan siapa saja anak bangsa ini yang menghasilkan penemuan-penemuan jenius di mana-mana, termasuk di mancanegara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pemerintah harus memiliki strategi untuk memenangi pertarungan global ini. Untuk urusan kuliner saja, Thailand, misalnya, telah berancangancang, pada 2014 bisa membangun 20 ribu restoran Thailand di seluruh dunia. Sedangkan kita seolah tidak memiliki visi apa pun. Pemerintah harus mulai dengan menimba inspirasi dari para jenius kita yang "terlupakan": Nelson, Johny, Arief Budiman, Sutarja bersaudara.... &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-542341395414118038?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/542341395414118038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/08/kisah-jenius-kita-di-negeri-orang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/542341395414118038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/542341395414118038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/08/kisah-jenius-kita-di-negeri-orang.html' title='Kisah Jenius Kita di Negeri Orang'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-3068657421984126554</id><published>2009-08-02T18:09:00.003+09:00</published><updated>2009-08-02T18:11:43.858+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><title type='text'>Sadar bahwa orang pintar Indonesia pada lari ke luar negeri, tapi...</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Banyak Peneliti "Kabur" ke Luar Negeri&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;ANTARA/Ari Bowo Sucipto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangerang (ANTARA News) - Kepala Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Jeni Ruslan menyatakan para ahli peneliti Indonesia lebih banyak beralih keluar negeri daripada menjadi peneliti di negaranya sendiri."Banyak ahli dari peneliti Indonesia meninggalkan negara ini untuk menjadi peneliti di luar negeri, mereka mencari yang terbaik karena ditawari gaji yang mahal,"ujar Jeni kepada ANTARA di Tangerang, Sabtu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjelaskan, dari puluhan ahli peneliti di Indonesia yang sebelumnya menjadi peneliti di Indonesia, kini setengahnya bekerja di beberapa pusat penelitian di luar negeri."Gaji para peneliti di Indonesia kecil dan minim, bila jabatannya segitu gajinya tetap segitu. Akibatnya banyak ahli peneliti Indonesia berlomba-lomba menjadi peneliti di luar negeri, karena tawaran gaji yang lebih besar dari pusat penelitian yang ada di luar negeri, akhirnya kita kehilangan ahli-ahli terbaik Indonesia," kata Jeni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeni menilai produk ciptaan para peneliti Indonesia kurang dihargai oleh pemerintah maupun dari luar negeri, padahal mereka telah bekerja dengan maksimal dan dengan baik untuk menciptakan produk alat tersebut."Hasil kerja dari para peneliti kurang di-support pemerintah, setidaknya ada upaya pemerintah memberikan ruang gerak bagi peneliti untuk lebih mempromosikan hasil penelitian. Para peneliti pastinya sangat bangga jika hasil penelitiannya digunakan masyarakat luas, tetapi nyatanya produk para peneliti banyak disampingkan, " kata Jeni. Dia juga menilai dana penelitian dari pemerintah kurang dan fasilitas laboratorium yang kurang mendukung penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seharusnya produk para peneliti kita harus dihargai, contohnya produk dari Digantara (PT DI) yang berhasil menciptakan pesawat terbang," kata Jeni.Ia mengatakan, dengan kendala-kendala tersebut, peringkat Indonesia dari hasil penelitian masih jauh di bawah dari negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan India.(*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-3068657421984126554?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/3068657421984126554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/08/sadar-bahwa-orang-pintar-indonesia-pada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3068657421984126554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3068657421984126554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/08/sadar-bahwa-orang-pintar-indonesia-pada.html' title='Sadar bahwa orang pintar Indonesia pada lari ke luar negeri, tapi...'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-6414546134146389075</id><published>2009-07-23T12:46:00.003+09:00</published><updated>2009-07-23T13:01:37.806+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Bagaimana masa depan (anak) Indonesia?</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/Smfgja765xI/AAAAAAAAAI4/huPFHwZ2uWs/s1600-h/anak.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; FLOAT: left; HEIGHT: 210px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5361500780538554130" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/Smfgja765xI/AAAAAAAAAI4/huPFHwZ2uWs/s320/anak.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; Hari ini, 23 Juli adalah hari anak nasional. Tapi bukan itu alasan terkuat saya menulis ini, meski momentumnya pas. Toh tiap hari saya selalu mengingat kondisi anak-anak, minimal anak saya yang selalu saya rindukan. Tapi lebih karena sebuah keprihatinan akan kondisi anak-anak kita, khususnya di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemerhati anak menyampaikan, bahwa para guru di Australia lebih khawatir apabila anak-anak mereka tidak mau mengantri dibandingkan bila anak-anak memperoleh nilai yang buruk dalam pelajaran matematika. Kata mereka, hanya perlu waktu tiga bulan untuk mengajari anak-anak untuk memperoleh nilai bagus dalam pelajaran, tapi perlu waktu 15 tahun untuk mengajari dan membiasakan seseorang untuk mau mengantri dan istiqomah untuk selalu mengantri kedepannya. Saya trenyuh dengan kondisi pendidikan kita, dimana sebagian pendidik lebih suka mengajarkan kecurangan karena lebih khawatir jika murid-muridnya tidak lulus ujian nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di abad pertengahan, Inggris dan Spanyol sejajar dalam peradaban. Mereka sama-sama mampu membuat kapal laut yang besar dan kuat, mampu menjelajahi dunia, melakukan penaklukan dan kolonisasi. 500 tahun kemudian, Spanyol jauh tertinggal dari Inggris, salah satunya karena anak-anak spanyol dibesarkan dalam suasana telenovela, sedangkan anak-anak Inggris dibesarkan dalam semangan berpetualang dan belajar menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan anak-anak Indonesia? Semoga kita semua peduli dan mau berbuat sesuatu untuk anak-anak kita&lt;em&gt;. Ya Allah, tumbuhkan cinta kami kepada pasangan kami dan jadikan anak-anak kami menyejuk mata kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. &lt;/em&gt;Selamat hari anak Indonesia...&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-6414546134146389075?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/6414546134146389075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/07/bagaimana-masa-depan-anak-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6414546134146389075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6414546134146389075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/07/bagaimana-masa-depan-anak-indonesia.html' title='Bagaimana masa depan (anak) Indonesia?'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/Smfgja765xI/AAAAAAAAAI4/huPFHwZ2uWs/s72-c/anak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-2554967408173728125</id><published>2009-07-15T11:21:00.004+09:00</published><updated>2009-07-15T11:38:25.186+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><title type='text'>Ayo semangat peneliti Indonesia</title><content type='html'>Ditengah carut-marutnya dunia penelitian Indonesia, artikel yang saya post sebelumnya seolah memberikan secercah semangat baru buat saya. Sejak lama saya yakin, para ilmuwan dan peneliti Indonesia sangat mampu menghasilkan karya yang bisa dibanggakan. Contohnya ya roket dan pesawat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang membuat saya turut bangga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang mengerti sulitnya menekuni dunia penelitian di Indonesia, keberhasilan sebuah riset seperti ini menyimpan sebuah kerja keras yang luar biasa. Ditengah keterbatasan support dana, sulitnya menyediakan alat dan bahan karena 'kecurigaan' negara produsen, rendahnya penghargaan (baca: penghasilan) yang bisa diterima, berlebihannya ekspektasi masyarakat atas kerja ilmuwan ditengah ketidaktahuan mereka tentang bagaimana mengembangkan produk, maka bisa konsisten menghasilkan penelitian adalah sebuah prestasi tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat, di lab saya pernah (Saya tidak tahu apakah penelitian itu masih berlangsung) memulai penelitian pengembangan teknologi "Night Vision" yaitu mengembangkan kamera untuk kondisi gelap tanpa cahaya. Kita biasa melihatnya di film-film action dipakai pasukan khusus pada peperangan dan misi-misi malam hari. Saat ini, teknologi itu masih berputar dikalangan militer secara terbatas di negara maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide penelitian itu justru datang dari lembaga penelitian negeri jiran kita, yang turut disponsori tentara diraja malaysia. Mereka ingin berkolaborasi dengan kami, karena memang kemampuan riset mereka memang belum bisa apa-apa. Yang ingin saya ceritakan: ketika TNI mengetahui hal tsb, dengan bersemangat mereka menyatakan nggak mau kalah dan ingin turut memakai hasilnya nanti. Namun mereka tidak bisa terlibat banyak dalam pengembangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kasar saya ingin menyatakan: Mau hasilnya saja.... nggak mau susahnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak kasus sejenis di dunia penelitian kita. Saya yakin kita mampu, tapi bangsa kita membuat kemampuan itu seakan tiada makna... Semoga pemerintah, kementrian ristek, dan kementrian diknas yang baru bisa berbuat lebih baik untuk mendukung dunia penelitian Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-2554967408173728125?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/2554967408173728125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/07/ayo-semangat-peneliti-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2554967408173728125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2554967408173728125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/07/ayo-semangat-peneliti-indonesia.html' title='Ayo semangat peneliti Indonesia'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-6565855376906678802</id><published>2009-07-15T11:07:00.002+09:00</published><updated>2009-07-15T11:08:54.117+09:00</updated><title type='text'>Artikel bagus nih...</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Roket RX-420 &amp;amp; CN-235 Militer:&lt;br /&gt;Getarkan Australia, Singapura, Malaysia&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Oleh Cardiyan HIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momentum ini harus dijaga terus dan ditingkatkan sebagai kebanggaan atas kemampuan teknologi sendiri. Jangan sampai karya insinyur Indonesia ini dijegal justru  oleh orang Indonesia sendiri (biasa) para ekonom-ekonom Pemerintah yang sering menganggap karya bangsa sendiri sebagai terlalu mahal dan hanya buang-buang uang saja untuk riset ....! Inilah musuh yang sebenarnya. Waspadailah  kawan-kawan insinyur Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah berlangsung 2 pekan yang lalu, peluncuran roket RX-420 Lapan ternyata masih jadi buah bibir. Anehnya bukan jadi buah bibir di Indonesia yang lebih senang ceritera Pilpres, tetapi di Australia, Singapura dan tentu saja di negara tetangga yang suka siksa TKI dan muter-muterin Ambalat yakni Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui roket RX-420 ini menggunakan propelan yang dapat memberikan daya dorong lebih besar sehingga mencapai 4 kali kecepatan suara. Hal itu membuat daya jelajahnya mencapai 100 km. Bahkan bisa mencapai 190 km bila struktur roket bisa dibuat lebih ringan. Yang punya nilai tambah tinggi ini adalah 100% hasil karya anak bangsa, para insinyur Indonesia. Begitu pula semua komponen roket-roket balistik dan kendali dikembangkan sendiri di dalam negeri, termasuk software. Hanya komponen subsistem mikroprosesor yang masih diimpor. Anggaran yang dikeluarkan untuk peluncurannya pun “cuma” Rp 1 milyar. Kalah jauh dengan yang dikorupsi para anggota DPR untuk traveller checks pemenangan Miranda Gultom sebagai Deputi Senior Gubernur BI yang lebih dari Rp. 50 milyar. Apalagi kalau dibandingkan dengan korupsi BLBI yang lebih dari Rp. 700 trilyun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa malah menjadi buah bibir di Australia, Singapura dan Malaysia? Karena keberhasilan peluncuran roket Indonesia ini ke depan akan membawa Indonesia mampu mendorong dan mengantarkan satelit Indonesia bernama Nano Satellite sejauh 3.600 km ke angkasa. Satelit Indonesia ini nanti akan berada pada ketinggian 300 km dan kecepatan 7,8 km per detik. Bila ini terlaksana Indonesia akan menjadi negara yang bisa menerbangkan satelit sendiri dengan produk buatan sendiri. Indonesia dengan demikian akan masuk member "Asian Satellite Club" bersama Cina, Korea Utara, India dan Iran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah kekhawatiran Australia, Singapura dan Malaysia ini masuk akal, bukan? Kalau saja Indonesia mampu mendorong satelit sampai 3.600 km untuk keperluan damai atau keperluan macam-macam tergantung kesepakatan rakyat Indonesia. Maka otomatis pekerjaan ecek-ecek bagi Indonesia untuk mampu  meluncurkan roket sejauh 190 km untuk keperluan militer bakal sangat mengancam mereka sekarang ini pun juga!!! Kalau tempat peluncurannya ditempatkan di Batam atau Bintan, maka Singapura dan Malaysia Barat sudah gemetaran bakal kena roket Indonesia. Dan kalau ditempatkan di sepanjang perbatasan Kalimantan Indonesia dengan Malaysia Timur, maka si OKB Malaysia tak akan pernah berpikir ngerampok Ambalat. Akan hal Australia, mereka ada rasa takutnya juga. Bahwa mitos ada musuh dari utara yakni Indonesia itu memang bukan sekedar mitos tetapi sungguh ancaman nyata di masa depan dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;CN 235 Versi Militer&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rupanya Australia, Singapura dan Malaysia sudah lama “nyaho” kehebatan insinyur-insinyur Indonesia. Buktinya? Tidak hanya gentar dengan roket RX-420 Lapan tetapi mereka sekarang sedang mencermati pengembangan lebih jauh dari CN235 versi Militer buatan PT. DI. Juga mencermati perkembangan PT. PAL yang sudah siap dan mampu membuat kapal selam asal dapat kepercayaan penuh dan dukungan dana dari pemerintah.&lt;br /&gt;Kalau para ekonom Indonesia antek-antek World Bank dan IMF menyebut pesawat-pesawat buatan PT. DI ini terlalu mahal dan menyedot investasi terlalu banyak (“cuma” Rp. 30 trilun untuk infrastruktur total, SDM dan lain-lain) dan hanya jadi mainannya BJ Habibie. Tetapi mengapa Korea Selatan dan Turki mengaguminya setengah mati? Turki dan Korsel adalah pemakai setia CN 235 terutama versi militer sebagai yang terbaik di kelasnya. Inovasi 40 insinyur-insinyur Indonesia pada CN 235 versi militer ini adalah penambahan persenjataan lengkap seperti rudal dan teknologi radar yang dapat mendeteksi dan melumpuhkan kapal selam. Jadi kalau mengawal Ambalat cukup ditambah satu saja CN235 versi militer (disamping armada TNI AL dan pasukan Marinir yang ada)  untuk mengusir kapal selam dan kapal perang Malaysia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jadi  musuh yang sebenarnya ada di Indonesia sendiri. Yakni watak orang Indonesia yang tidak mau melihat orang Indonesia sendiri berhasil. Karya insinyur-insinyur Indonesia yang hebat dalam membuat alutsista dibilangin orang Indonesia sendiri terutama para ekonom pro Amerika Serikat dan Eropa: “Mending beli langsung dari Amerika Serikat dan Eropa karena harganya lebih murah”. Mereka tidak berpikir jauh ke depan bagaimana Indonesia akan terus tergantung di bidang teknologi, Indonesia hanya akan menjadi konsumen teknologi dengan membayarnya sangat mahal terus menerus sampai kiamat tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada kekurangan yang terjadi dengan industri karya bangsa sendiri, harus dinilai lebih fair dan segera diperbaiki bersama-sama. Misalnya para ahli pemasaran atau sarjana-sarjana ekonomi harus diikutsertakan dalam team work. Sehingga insinyur-insinyur itu tidak hanya pinter produksi sebuah pesawat tetapi setidaknya tahu bagaimana menjual sebuah pesawat itu berbeda dengan menjual sebuah Honda Jazz. Kalau ada kendala dalam pengadaan Kredit Ekspor sebagai salah satu bentuk pembayaran, tolong dipecahkan dan didukung oleh dunia perbankan, agar jualan produk sendiri bisa optimal karena akan menarik bagi calon pembeli asing yang tak bisa bayar cash.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-6565855376906678802?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/6565855376906678802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/07/artikel-bagus-nih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6565855376906678802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6565855376906678802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/07/artikel-bagus-nih.html' title='Artikel bagus nih...'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-3856208327229953255</id><published>2009-05-22T15:20:00.000+09:00</published><updated>2009-05-22T15:21:40.372+09:00</updated><title type='text'>Kepercayaan diri mahasiswa PhD baru</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/ShZESyHPIKI/AAAAAAAAAIo/xB9JeaD2_SQ/s1600-h/Image026.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 294px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/ShZESyHPIKI/AAAAAAAAAIo/xB9JeaD2_SQ/s320/Image026.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338529497774760098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p&gt;Ini adalah gambar yang dibuat oleh teman saya sesama mahasiswa PhD yang berasal dari Turki. Tentang grafik kepercayaan diri, spirit, dan semangat seorang mahasiswa PhD yang baru datang ke Jepang seperti saya. Waktu dia menggambarkannya, saya seolah ingin tergelak karena sangat persis dengan yang apa saya alami. Dia bilang hampir semua mahasiswa asing yang datang ke lab kami mengalaminya, termasuk dirinya. Ini hanya sekedar &lt;em&gt;share &lt;/em&gt;dari saya, dan boleh jadi berbeda dengan ditempat lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada saat berada di titik A, kita baru saja datang ke Jepang. Masih menyandang perasaan senang, gembira, dan yang paling penting untuk saya singgung adalah bangga karena kini menyandang gelar 'Kandidat Doktor.' Terlebih jika memperoleh beasiswa, dan ini di perguruan tinggi peringkat 21 dunia di bidang &lt;em&gt;engineering. &lt;/em&gt;Pada masa ini, biasanya tidak ada tuntutan. Masih &lt;em&gt;happy-happy&lt;/em&gt; saja. Masih masa adaptasi. Sensei juga belum menuntut banyak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seiring berjalannya waktu, sampailah pada titik B. Kita mulai berpikir, apa yang hendak saya lakukan disini. Sensei mulai nanya tentang riset kita. Dan kesadaran kita mulai menyeruak, bahwa ini saatnya kerja keras dimulai. Mulailah kita melahap paper, berpikir, untuk mengembangkan dan mematangkan rencana riset yang akan dijalankan, termasuk yang penting adalah menentukan target akhir dan &lt;em&gt;novelty&lt;/em&gt; dari penelitian kita.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sehingga sampailah kita pada titik C, dimana kita merasa telah menemukan topik yang pas. Perasaan sedikit enak karena ada beban yang terangkat, dan sekarang bisa kembali bernapas lega. Biasanya sensei juga tidak banyak komentar dalam fase ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Inilah susahnya. Orang Jepang pantang berkata 'tidak' atau menyatakan secara langsung/implisit jika mereka menginginkan sesuatu. Seperti saat &lt;em&gt;sensei&lt;/em&gt; saya bilang, "&lt;em&gt;Your progress until now is very good. Your topic is very chellenging, but...&lt;/em&gt;" Itulah saat kita sampai di titik D. Kita mulai sadar bahwa topik dan rencana riset yang kita buat dengan susah payah ternyata ada banyak lubangnya, banyak kelemahannya. Tapi kita nggak langsung mengerti karena disampaikan dalam kultur orang Jepang meski bahasanya Inggris. Dan semakin lama kita semakin banyak menemukan kelemahan itu. Biasanya setelah kita memaparkan topik dan rencana riset kita didepan lebih banyak anggota lab, terutama &lt;em&gt;associate professor&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;assistant professor. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semakin lama kita semakin merasa sulit dengan topik tersebut, sampai pada titik E, yaitu titik nadir dimana kita hampir menyerah. Kepercayaan diri dan semangat juga entah kemana. Seperti yang pernah saya rasakan, mau datang ke lab juga malas sekali.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tapi jangan khawatir, pada saat ini, di titik F biasanya bantuan datang. Biasanya berupa petunjuk dan arahan dari sensei. Bimbingannya mulai lebih terasa dan bisa kita tangkap, disaat kita sudah mulai mengerti gaya bahasa yang beliau gunakan. Dan saat itulah jalan menuju PhD kita kembali terlihat, seiring kembalinya semangat, motivasi, dan kepercayaan diri kita.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-3856208327229953255?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/3856208327229953255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/05/kepercayaan-diri-mahasiswa-phd-baru.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3856208327229953255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3856208327229953255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/05/kepercayaan-diri-mahasiswa-phd-baru.html' title='Kepercayaan diri mahasiswa PhD baru'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/ShZESyHPIKI/AAAAAAAAAIo/xB9JeaD2_SQ/s72-c/Image026.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-9123495170873887291</id><published>2009-05-12T00:11:00.002+09:00</published><updated>2009-05-12T00:21:59.539+09:00</updated><title type='text'>Sekali lagi tentang sombong</title><content type='html'>&lt;p&gt;Uh, lama juga tidak nulis. Sibuk ngurus acara Golden Week, dll. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di perjalanan pulang tadi, saya teringat diskusi beberapa pekan yang lalu tentang takdir. Ada teman yang berpandangan bahwa kita pasti bisa mengatasi segala ujian Allah pada kita. Saya rasa itu harus dicermati, dalam artian kita jangan terlalu yakin bahwa kita pasti lulus dari ujian Allah. Memang dalam Qur'an, tepatnya di surat Al Baqarah dikatakan bahwa Allah tidak akan membebani hambanya diluar kemampuannya. Tapi bagi saya ayat itu menunjukkan kasih Allah dan keadilanNya pada hambaNya, tidak akan membebani melebihi kemampuan sang hamba. Sama sekali tidak menjamin atau dapat diartikan bahwa kita pasti lulus dari ujian itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Justru di ayat yang sama, Allah mengajarkan sebuah doa orang-orang salih, yang memohon kepada Allah agar tidak memberikan cobaan yang tidak akan sanggup dipikul. Ini sebuah gambaran agar sebagai manusia kita selalu bersiap kepada cobaan, dan tidak perlu menantang Allah untuk menguji kita. Apalagi memohon ujian yang berat, karena yakin pasti bisa melewati. Duhai, betapa sombongnya jika sampai berpikiran demikian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekali lagi, ayat tentang tidak membebani diluar kemampuan adalah sebuah petunjuk untuk selalu optimis menjalani hidup dan menghadapi berbagai ujian yang ada. Namun bukan berarti kita bisa over confident dan menganggap kita pasti mampu mengatasi ujian hidup dengan kemampuan kita sendiri saja... &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-9123495170873887291?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/9123495170873887291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/05/sekali-lagi-tentang-sombong.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/9123495170873887291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/9123495170873887291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/05/sekali-lagi-tentang-sombong.html' title='Sekali lagi tentang sombong'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-3489223916261557665</id><published>2009-04-07T14:39:00.002+09:00</published><updated>2009-04-08T17:49:26.460+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><title type='text'>Delapan: Istiqamah</title><content type='html'>Syarat terakhir untuk keberhasilan dari sebuah upaya memperbaiki bangsa adalah ketekunan, ketelatenan, dan sikap tidak kenal menyerah dalam menjalani perjuangan, yang berkesinambungan. Saya menyebutnya dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Istiqamah.&lt;/span&gt; Karena sebuah perjuangan bukanlah sebuah perjalanan instan yang dapat ditempuh dengan cepat, dan hasilnya bisa dirasakan dalam waktu singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ke-Indonesiaan kita, tentu perjuangan memperbaiki bangsa ini adalah perjalanan panjang penuh kesulitan. Dan perjuangan itu hanya bisa dilakukan oleh jiwa-jiwa yang teguh dalam menjalani perjuangannya. Usaha yang dilakukan tidak boleh surut meski begitu jauh pulau impian itu akan bisa dicapai, dan bahkan setelah berbulan-bulan bahkan berbilang tahun dan generasi, masih sedikit hasil yang baru dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena panjangnya perjalanan itu, selain diperlukan ke-istiqamahan dalam dimensi keteguhan dan kesabaran, juga diperlukan istiqamah dalam hal kesinambungan sebuah perjuangan. Dari sinilah kemudian muncul perlunya kaderisasi dan regenarasi yang baik, yang akan menjamin keberlangsungan dari usaha itu. Regenerasi yang dimulai sejak membangkitkan kepedulian, menumbuhkan harapan, memunculkan keinginan bergerak, kemudian menyamakan visi dan misi, melakukan aksi nyata, memadukan kerjasama, menumbuhkan sikap rela berkorban, sampai akhirnya mampu melahirkan kembali generasi-generasi pejuang berikutnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-3489223916261557665?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/3489223916261557665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/04/delapan-istiqamah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3489223916261557665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3489223916261557665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/04/delapan-istiqamah.html' title='Delapan: Istiqamah'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-6617034734315756727</id><published>2009-04-06T15:42:00.003+09:00</published><updated>2009-04-06T15:58:04.033+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><title type='text'>Ketujuh: Pengorbanan</title><content type='html'>Apa yang dituntut dari anda apabila memperjuangkan sebuah keinginan, gagasan, atau cita-cita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya adalah pengorbanan. Pengorbanan psikis, fisik, juga finansial. Pengorbanan fisik karena untuk menggapai tujuan itu memang diperlukan kerja nyata yang menguras tenaga. Terkadang anda harus mengurangi jadwal istirahat karena harus mengalokasikan lebih banyak waktu untuk cita-cita itu. Juga pemikiran anda harus terkuras demi upaya-upaya yang dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh juga dibutuhkan pengorbanan dari segi finansial untuk membiayai upaya-upaya itu. Mungkin kita bisa mengusahakan sumber-sumber pemasukan lain atau donasi untuk membiayai perjuangan. Dan ini bukan tidak mungkin. Bahkan dengan pengelolaan yang tepat, kegiatan-kegiatan yang awalnya bertujuan sebagai kegiatan sosial bisa berkembang dan menggerakkan kegiatan perekonomian. Sebagai contoh paling gamblang adalah Aa Gym dengan Daarut Tauhid-nya. Namun untuk mencapai situasi itu juga tidak mudah. Dan pada awalnya atau bahkan sampai akhirnya pun pengorbanan finansial tetap dibutuhkan. Selain kemampuan anda menyumbang dan membiayai perjuangan, juga kerelaan anda melepas peluang-peluang ekonomi anda, baik karena melewatkan peluang bisnis bagi seorang usahawan maupun peluang berkembang dan memperoleh karir yang lebih baik, disebabkan tuntutan dalam memperjuangkan cita-cita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentu saja pengorbanan psikis atau mental. Ini sangat banyak bentuknya. Bahkan termasuk bagaimana anda harus tetap gigih berjuang tatkala tidak banyak orang lain yang bersedia bekerja sama dengan anda demi tujuan itu. Juga kesabaran dan ketabahan menghadapi berbagai kegagalan, hambatan, juga rintangan, termasuk pula ejekan atau hinaan dari orang lain disekitar anda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-6617034734315756727?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/6617034734315756727/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/04/ketujuh-pengorbanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6617034734315756727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6617034734315756727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/04/ketujuh-pengorbanan.html' title='Ketujuh: Pengorbanan'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-4069831947374105038</id><published>2009-04-03T12:17:00.004+09:00</published><updated>2009-04-03T18:26:33.089+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><title type='text'>Keenam: Kerjasama</title><content type='html'>Oke, anda sudah mulai berbuat secara terencana. Sebuah kemajuan yang sangat luar biasa, dan sangat saya apresiasi. Semakin anda berupaya, saya yakin jalan yang ditempuh akan semakin berat. Dan salah satu solusi yang sesuai bagi setiap halangan bagi suatu tujuan mulia adalah bekerja dan melakukannya bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.&lt;/span&gt; Itu peribahasa bangsa Indonesia yang menggambarkan pentingnya bekerjasama. Saya lebih suka mengingatkan kita akan sebuah firman Allah dalam QS Ali Imran, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan berpeganglah (komitmenlah) pada tali (syariat) agama Allah secara berjamaah (bersama-sama) dan janganlah bercerai-berai.&lt;/span&gt;" Sangat jelas sekali. Beramal kebajikan dalam satu barisan adalah kewajiban dan perintah Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan beramal dalam satu barisan, halangan yang berat akan terasa ringan. Kekuatan yang terakumulasi dari suatu kerja sama bukanlah penjumlahan linier dari anggotanya, karena dengan bekerjasama, kelemahan masing-masing anggotanya akan saling tertutupi oleh kelebihan yang lain. Dan yang cukup penting juga fungsi ukhuwwah dari sebuah gerakan. Satu dengan yang lain dapat saling mengingatkan dan saling menguatkan,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;karena sesuai firman Allah bahwa sesungguhnya mukmin terhadap mukmin lainnya itu laksana bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lain...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-4069831947374105038?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/4069831947374105038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/04/keenam-kerjasama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4069831947374105038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4069831947374105038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/04/keenam-kerjasama.html' title='Keenam: Kerjasama'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-8368795194960295826</id><published>2009-04-02T21:14:00.003+09:00</published><updated>2009-04-03T12:13:43.510+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><title type='text'>Kelima: Kerja yang kongkret</title><content type='html'>Setelah anda punya tujuan dan menetapkan langkah-langkah menuju tujuan itu, selanjutnya tinggal menunggu aksi nyata anda. Tentu saja aksi disini berbeda dengan perubahan yang saya maksud dengan memulai gerakan kita. Aksi nyata disini lebih dari sekedar meninggalkan sikap diam kita dan memulai melakukan sesuatu, akan tetapi menjadi bagian dari sebuah urutan proses dan tindakan yang terencana untuk mencapai sebuah cita-cita. Jadi yang membedakan adalah adanya keterkaitan akan apa yang anda lakukan dengan cita dan tujuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak orang yang peduli dan berharap, tapi sejak awal tidak mau terlibat. Yang dilakukan hanya menunggu dan berkomentar terhadap apa yang dilakukan orang lain. Bagi mereka yang ada keinginan berbuat, maka biasanya mereka akan aktif mencari tahu atau mencoba bergabung dengan kumpulan-kumpulan, organisasi, ormas, atau LSM untuk mencoba melakukan sesuatu. Bahkan dalam tataran paling sederhana dengan ikut berpartisipasi dalam kegiatan dan kepengurusan RT, RW, pengurus masjid, atau karang taruna di lingkungan tempat tinggalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada juga orang-orang yang sudah mengetahui tujuan dan langkah-langkah yang ingin ditempuh, namun tidak ada realisasinya. Ini sedikit lebih baik, karena biasanya orang-orang ini tidak banyak mengkritik atau berkomentar negatif, meski biasanya bisa juga berkomentar terhadap aksi dan upaya suatu kelompok. Mereka juga bisa menjadi pelaku pasif atau pendukung pinggiran bagi sebuah upaya perbaikan, gerakan moral, dsb. Perlu sedikit kemauan dan pengorbanan untuk menuju sebuah partisipasi nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimanakah posisi Anda saat ini?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-8368795194960295826?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/8368795194960295826/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/04/kelima-kerja-yang-kongkret.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/8368795194960295826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/8368795194960295826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/04/kelima-kerja-yang-kongkret.html' title='Kelima: Kerja yang kongkret'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-4755232552322466031</id><published>2009-04-01T16:47:00.003+09:00</published><updated>2009-04-01T17:08:54.714+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><title type='text'>Keempat: Visi dan Misi</title><content type='html'>Jika dorongan untuk berbuat itu sudah ada, dan diri ini sudah betul-betul siap untuk bergerak, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. Itu adalah Visi dan Misi. Dalam kalimat lain, saya membahasakannya tujuan dan langkah-langkah untuk mencapai tujuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui visi dan misi kita berbuat adalah sangat penting, karena inilah yang akan menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;guidance&lt;/span&gt; kita dalam beramal. Seperti Rasulullah SAW sampaikan, sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya. Dalam kalimat yang lain dan mungkin lebih jelas buat anda, Steven Covey bilang, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Start with the end in mind&lt;/span&gt;." Tujuan adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dream island&lt;/span&gt; yang hendak kita capai. Jika berbicara dalam konteks ke Indonesia-an, tujuan berbangsa itu telah termaktub dengan baik pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;preambule &lt;/span&gt;UUD 1945. Tapi saya lebih suka meringkasnya dengan memakai tujuan yang dipakai oleh Muhammadiyah, yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur.&lt;/span&gt; Negara yang sejahtera dibawah naungan ridha Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui tujuan, sepertinya tidak begitu sulit. Yang sulit adalah bagaimana menuju kesana. Ada banyak negarawan dan cendekiawan bangsa Indonesia yang telah menyampaikan pemikirannya tentang bangsa ini. Secara garis besar, saya setuju dengan ungkapan bahwa sumber masalah bangsa kita adalah adanya krisis moral multidimensi yang sedemikian parah, membawa bangsa Indonesia dalam jeratan ketitidakjujuran, rendahnya etika berbangsa dan bernegara, serta cengkeraman korupsi, kolusi, dan nepotisme. Semua berujung pada tiadanya ikatan dan nilai-nilai luhur yang dianut secara teguh bagi setiap rakyat Indonesia. Bukti kegagalan pengajaran PMP, PPKN, PSPB, kuliah Pancasila, atau Kewiraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya saya percaya bahwa salah satu langkah yang harus kita tempuh adalah mengembalikan bangsa Indonesia kepada nilai-nilai Islam yang sudah teruji dan kita yakini bersama atas kesempurnaannya. Pembinaan keIslaman harus dilakukan pada setiap individu. Pada gilirannya, setiap individu yang telah terbina harus bisa dan bersedia menyebarkan pengetahuan dan kemampuannya, dalam arti membina individu yang lainnya. Juga termasuk didalamnya upaya-upaya untuk mendudukkan pribadi-pribadi yang shaleh, berintegritas, profesional, dan berdedikasi pada jabatan-jabatan publik yang menyangkut hajat hidup rakyat, sebanyak-banyaknya sehingga terwujud atmosfer pemerintahan yang bersih dan profesional. Saya jadi ingat ungkapan seorang anggota DPR pada Jaksa Agung Abdurrahman Shaleh, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Anda jangan seperti ustadz di kampung maling...&lt;/span&gt;"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-4755232552322466031?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/4755232552322466031/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/04/keempat-visi-dan-misi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4755232552322466031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4755232552322466031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/04/keempat-visi-dan-misi.html' title='Keempat: Visi dan Misi'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-3166080164136217542</id><published>2009-03-31T14:12:00.004+09:00</published><updated>2009-04-01T17:12:08.604+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><title type='text'>Ketiga: Bergerak</title><content type='html'>Jika sudah ada harapan bahwa perbaikan itu bisa diusahakan, tahap selanjutnya ya mulai bergerak. Jangan hanya diam. Apalagi hanya bisa berkeluh kesah. Atau lebih buruk malah rajin mengkritik dan mempertanyakan usaha orang lain. Dan catatan saya, BERGERAK TIDAK CUKUP HANYA UNTUK DIRI SENDIRI. Sering saya menemui seseorang teman atau kenalan yang masih peduli pada nasib bangsa ini, dan ketika saya bertanya tentang apa yang bisa mereka lakukan untuk berkontribusi, jawabnya adalah menjadikan diri sendiri yang jujur, bersih, dan profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi untuk sebuah berkontribusi, saya rasa hal itu terlalu minimalis dan belum cukup. Selain untuk diri sendiri, anda juga harus mampu mengajak dan membangkitkan orang lain. Dan ini memang membutuhkan pengorbanan yang lebih. Berkorban waktu, tenaga, pikiran, dan biaya untuk upaya itu. Juga berkorban perasaan menghadapi penolakan, cemooh, ejekan, dan penolakan dari upaya-upaya itu. Tapi saya sadar bahwa ini memang tidak mudah, terutama jika memang masih kuat sikap egois dalam kepribadian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berani terima tantangan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, marilah kita merenungi firman Allah dalam QS An Nisa ayat 95:&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tidaklah sama antara mukmin yang duduk yang tidak  mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjuang di jalan Allah dengan harta  mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjuang dengan harta dan  jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada  masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah  melebihkan orang-orang yang berjuang atas orang yang  duduk dengan pahala yang besar.&lt;/span&gt;"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-3166080164136217542?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/3166080164136217542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/03/ketiga-bergerak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3166080164136217542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3166080164136217542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/03/ketiga-bergerak.html' title='Ketiga: Bergerak'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-2417817772718136045</id><published>2009-03-27T18:25:00.003+09:00</published><updated>2009-03-27T18:43:43.103+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><title type='text'>Kedua: Harapan</title><content type='html'>Setelah ada kepedulian pada diri kita akan lingkungan sekitar kita, akan nasib bangsa kita, tahapan selanjutnya adalah membangkitkan harapan pada diri kita, bahwasannya segala kesulitan, kemelaratan, keterpurukan itu bisa diatasi. Mengapa harapan itu penting? Tak lain karena dari harapanlah akan muncul aksi dan tindakan nyata dari seseorang. Saya yakin setiap orang menyimpan keinginan akan lingkungan kehidupan yang lebih baik serta menjadi bagian dari bangsa yang sejahtera dan bermartabat. Keinginan itu harus diikuti dengan adanya harapan sebagai pembuka munculnya aksi dan tindakan nyata untuk bergerak menuju keinginan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana caranya membangkitkan harapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bertolak dari tuntunan syariat dimana harapan itu harus dimiliki oleh setiap Muslim, saya menganjurkan satu hal. Selalu berpikir positif. Ada contoh tentang sulitnya membangun harapan tanpa didasari prasangka positif itu. Di sebuah milis yang saya ikuti, ada seorang member yang senantiasa mencela segala hal terkait politik di Indonesia. Terlebih atas usaha yang dilakukan sebagian orang untuk berpolitik secara santun dan bersih. Semuanya diukur dengan tolok ukur yang ideal. Akibatnya, tidak ada yang baik dan positif dari komentar-komentarnya terhadap segala aktifitas politik. Saya melihat, bahwa semua memang berawal dari paradigma, bahwa semua menyangkut politik itu buruk. Karenanya semua yang ber-embel-embel politik menjadi buruk. Semua parpol sama. Semua caleg sama. Semua capres sama. Karena memang sudah ada prasangka dan pola pikir bahwa semuanya buruk. Kalaupun ada satu dua prestasi yang dilakukan parpol, ada saja keburukan yang bisa diungkit. Seolah-olah setiap aktifis politik harus bertindak laksana malaikat yang tanpa salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berfikir positif itu penting, sehingga kita selalu bisa melihat peluang dibalik setiap kesulitan. Dan ketika peluang itu terlihat, kita akan mencoba berpikir kreatif untuk bisa mengambil peluang itu dan mewujudkannya menjadi sebuah kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya hanya ingin mengingatkan kembali bahwa harapan itu harus kita bangun jauh melewati batasan logika dan penalaran kita, seperti halnya harapan Zakaria AS ketika berdoa pada Allah SWT untuk mengaruniakan anak, meskipun Beliau menyadari bahwa istrinya seorang wanita yang mandul...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-2417817772718136045?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/2417817772718136045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/03/kedua-harapan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2417817772718136045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2417817772718136045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/03/kedua-harapan.html' title='Kedua: Harapan'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-2624966019028434504</id><published>2009-03-26T14:25:00.005+09:00</published><updated>2009-03-27T18:25:09.408+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><title type='text'>Pertama: Kepedulian</title><content type='html'>Dalam tulisan sebelumnya, saya bilang bahwa saya mencoba melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan. Saya sampaikan bahwa apa yang saya lakukan itu tidak untuk dibagi disini. Well, saya memang tidak akan membagi secara rinci apa yang sedang coba saya lakukan, tapi saya ingin membagi secara garis besar konsepnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita bisa melakukan sesuatu, hal pertama yang harus ada pada diri kita adalah kepedulian. Peduli terhadap nasib bangsa Indonesia. Peduli terhadap kemelaratan, keterpurukan, dan penderitaan rakyat Indonesia. Peduli kepada kerusakan moral dan kebobrokan penyelenggara negara. Meskipun dengan berbagai situasi itu, kita secara pribadi bisa survive dan masih bisa menikmati keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya inilah batas pembeda pertama antara seseorang yang memang ingin berbuat baik dengan mereka yang hanya ingin mementingkan diri sendiri. Yang menjadi masalah sekarang adalah seberapa besar lingkaran kepedulian kita. Seberapa besar perhatian kita kepada dunia kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah biasa jika kita hanya memperhatikan dan memikirkan apa-apa yang melekat dan secara langsung mempengaruhi kehidupan kita. Itu lingkaran kepedulian paling kecil seorang manusia normal dalam penilaian saya. Itu saya lihat pada kebanyakan orang Jepang di sekitar saya disini. Meski ada juga yang memberi perhatian kepada orang lain di sekitarnya. Setelah itu, ada orang-orang yang peduli kepada lingkungan sekitar yang ditemuinya sehari-hari. Dia peduli kepada teman-teman bermain, teman kuliah, keluarga dekat, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang memiliki kepedulian lebih besar, dia akan menaruh perhatian pada hal-hal yang secara tidak lengsung berpengaruh pada dirinya, atau bahkan yang tidak membawa pengaruh sedikitpun. Tapi tentu saja ada alasan-alasan khusus yang turut menentukan besar-kecilnya kepedulian seseorang pada dunianya, dan biasanya ini berkaitan erat dengan visi hidup dan nilai-nilai yang diyakini, termasuk didalamnya nilai-nilai agama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-2624966019028434504?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/2624966019028434504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/03/pertama-kepedulian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2624966019028434504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2624966019028434504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/03/pertama-kepedulian.html' title='Pertama: Kepedulian'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-7907214739454439487</id><published>2009-03-22T06:16:00.004+09:00</published><updated>2009-03-22T07:07:48.485+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Seburuk itukah Indonesia?</title><content type='html'>Hari ini, di sebuah milist yang saya ikuti, saya membaca sebuah forward tulisan opini tentang pelayanan kesehatan sebuah rumah sakit swasta di Indonesia. Forward tulisan itu diawali dengan subject email yang cukup menggetarkan, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cerminan dunia kedokteran kita.&lt;/span&gt;" Ada tanda tanya besar di benak saya akan keberanian sang penulis menggunakan subjek itu, seolah-olah ingin menjustifikasi bahwa seperti itulah adanya kedokteran di Indonesia. Sebuah kenyataan ataukah tuduhan belaka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai isinya, saya tidak perlu bercerita banyak tentang tulisan yang diforward, tapi saya ingin mengutip opini dari sahabat saya yang meneruskan tulisan itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tampaknya kerusakan di bumi Ina menyelinap ke semua bidang, permasalahan nggak hanya ekonomi, politik, social, pemerintahan, bencana alam, gizi buruk, pendidikan tak merata, buruknya siaran TV, masalah pembantu, pangan, BBM, listrik, hingga ke minayk tanah,.... tapi pada etika kedokteran yang tergolong masyarakat ilmiah dan syarat fungsi ........&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seburuk itukah Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tulisan itu saya perlihatkan kepada istri saya yang dokter, saya yakin tidak ada komentar terlalu serius dari istri saya, apalagi ketersinggungan berlebihan. Toh kejadian ini memang manusiawi, meskipun tingkat toleransi setiap orang atas masalah ini berbeda-beda. Hanya saja, membaca tulisan itu, membuat saya langsung teringat pada seorang sahabat saya di Indonesia, seorang dosen ITB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat saya itu, Dr. Soni Suhandono, pada suatu kesempatan sekitar dua tahun yang lalu, berkata, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saya sangat sedih karena media massa dan media informasi kita itu terlalu banyak dan terlalu rajin menampilkan sisi negatif bangsa kita. Seolah-oleh sudah tidak punya harapan lagi kita. Padahal ada sangat banyak sisi positif bangsa kita yang bisa diangkat dan diceritakan.&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan saya mendengarnya pertama kali adalah, bahwa ucapan itu muncul dari seseorang yang mencintai bangsanya, berharap banyak pada bangsanya, dan berpikiran positif serta ingin berbuat banyak memberikan sumbangsih bagi bangsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang betul, bahwa ada sangat banyak permasalahan menggelayuti bangsa Indonesia. Tapi itu bukan sebuah alasan buat kita berhenti berbuat dan berusaha melakukan sebuah usaha perbaikan. Dan itu juga bukanlah sebuah lisensi buat kita menjadikan permasalahan dan borok-borok masyarakat kita menjadi menu utama bahasan kita. Keburukan-keburukan itu memang harus diungkap, namun haruslah pada tempatnya, dan secara berimbang. Sewajarnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap saat saya membaca tulisan opini seperti itu, pertanyaan saya selalu sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lantas apa yang hendak Anda lakukan untuk memperbaikinya?&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keburukan itu sudah diungkap, lalu apa maksudnya mengungkapkan keburukan itu? Apakah ada solusi dan upaya perbaikan telah dilakukan? Ataukah ini hanya akan berakhir sebagai sebuah keluh kesah, curhat, pembukaan aib, atau hujatan untuk bangsa Anda sendiri?&lt;/span&gt;'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda punya pertanyaan sama seperti diatas untuk saya terkait tulisan-tulisan saya, saya hanya ingin menjawab singkat bahwa saya sedang berupaya melakukan sesuatu. Tapi itu tidak untuk diungkapkan disini. Jika anda ingin bergabung, hubungi saya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-7907214739454439487?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/7907214739454439487/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/03/seburuk-itukah-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/7907214739454439487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/7907214739454439487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/03/seburuk-itukah-indonesia.html' title='Seburuk itukah Indonesia?'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-5355498039264924053</id><published>2009-03-17T09:18:00.003+09:00</published><updated>2009-03-17T16:54:06.393+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Jepang'/><title type='text'>High trust society</title><content type='html'>Beberapa waktu yang lalu, saat mampir makan dengan seorang kenalan baru saat jalan-jalan di Akihabara, dia bilang bahwa pencopet bisa kaya dengan mudah di Jepang. Dia bilang, orang-orang Jepang sangat sembarangan dalam menyimpan dompet, hp, ipod, dan barang-barang berharga lainnya. Sebuah kebiasaan yang mencerminkan situasi keamanan di lingkungan sekitarnya. Tak jarang saya mendengar cerita orang-orang Jepang atau orang-orang yang terbiasa tinggal di Jepang mengalami kecurian atau kecopetan saat mereka bepergian ke luar Jepang. Tak lain karena di Jepang sudah berkembang kepercayaan yang tinggi kepada masyarakat akan kejujuran dan kesopanan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda ingin berbelanja ke supermarket, anda tidak diwajibkan untuk menitipkan tas, bawaan, atau jaket anda. Tidak ada kekhawatiran ada banyak pengutil di toko mereka. Demikian juga saat memasuki hotel, tidak ada pemeriksaan khusus atas anda atau barang bawaan anda. Tingkat kepercayaan dalam masyarakat sudah sedemikian tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin membahas tingginya tingkat kepercayaan ini terkait prosedur keuangan di Indonesia yang sering kita alami. Ada 2 atau lebih alasan saya ingin membahasnya. Pertama, saya memang sedang sedikit bete karena dana beasiswa saya yang belum juga turun meski sudah lewat dua setengah bulan. Karena prosedur, katanya. Kedua, karena kemarin saya membaca jumlah anggaran APBN yang menguap di Indonesia setiap tahunnya diperkirakan lebih dari 70 trilyun! Menyamai jumlah stimulus fiskal yang akan digelontorkan pemerintah menghadapi krisis ekonomi tahun 2009. Luar biasa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat kita tidak dapat dipercaya. Kira-kira itulah yang menjiwai diberlakukannya berbagai prosedur keuangan yang kadang terasa mengada-ada, dan dilaksanakan dengan tidak pas. Bagi orang-orang jujur, pemberlakuan berbagai prosedur tersebut adalah sebuah upaya transparansi dan akuntabilitas dalam hal keuangan. Celakanya, di sisi lain bagi orang-orang yang  tidak jujur, panjangnya birokrasi dan prosedur itu berarti semakin banyaknya orang atau pihak yang bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kecipratan&lt;/span&gt; dan ikut merasakan komisi dari sebuah prosedur. Alih-alih ingin meningkatkan efisiensi penggunaan keuangan, tapi jumlah anggaran yang menguap tidak juga berkurang, karena semakin jauhnya jarak tempuh suatu anggaran hingga dapat cair dan digunakan sehingga potensi kebocoran semakin bertambah. Setahun lebih masa saya di Indonesia, saya ikut mengurus kegiatan pengadaan barang dari sebuah proyek penelitian yang saya ikuti. Jumlahnya tidak besar, hanya beberapa ratus juta saja. Tapi saya bisa banyak belajar dan banyak tahu berbagai trik untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mengakali  &lt;/span&gt;ribetnya prosedur, termasuk mengetahui berbagai cara dan peluang untuk menggunakan anggaran untuk kepentingan pribadi. Menghilangkan anggaran sampai 10 atau 20 persen bukan sesuatu hal yang sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru kerugian dari sisi penggunaan anggaran. Kita belum menghitung potensi kerugian yang timbul akibat panjang dan berbelitnya prosedur birokrasi, yang berakibat telatnya pencairan anggaran. Sebagai contoh, bukan hal yang aneh ketika pada saat monitoring dan evaluasi kegiatan penelitian yang dilakukan mendekati akhir tahun anggaran, ada peneliti yang tidak dapat melaporkan penelitiannya sama sekali. Alasannya klasik dan nampaknya hampir dapat dimaklumi, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bagaimana melakukan penelitian, anggarannya baru turun bulan Mei&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;barangnya saja baru sebagian yang kami terima. Memangnya penelitian bisa selesai dalam satu minggu&lt;/span&gt;?"  Jadi jangan terlalu kaget jika kegiatan penelitian di Indonesia seperti tidak ada hasilnya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-5355498039264924053?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/5355498039264924053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/03/high-trust-society.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/5355498039264924053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/5355498039264924053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/03/high-trust-society.html' title='High trust society'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-675324220790125317</id><published>2009-03-08T09:36:00.004+09:00</published><updated>2009-03-08T10:46:19.711+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Jepang'/><title type='text'>Ihsan: melakukan yang terbaik</title><content type='html'>"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;To know life in every breath. Every cup of tea. Every life we take. That is the way of the warrior. That is Bushido&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sepenggal kalimat yang diucapkan Moritsugu Katsumoto, sang samurai terakhir kepada Capt. Nathan Algren pada sebuah adegan dalam film epik "The Last Samurai," salah satu film favorit saya. Jika anda belum pernah menonton film tersebut, atau tidak mengerti tentang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bushido&lt;/span&gt; (The way of warriors), mungkin akan sedikit sulit bagi anda untuk mengerti kaitan kalimat Katsumoto yang saya kutip tadi dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ihsan&lt;/span&gt;. Atau mungkin karena memang tidak jelas kaitannya, dan saya menuliskannya karena itu adalah salah satu kalimat favorit saya dari film itu. Tapi setidaknya kalimat berikut yang diucapkan Capt. Algren untuk menggambarkan kehidupan penduduk di desa katsumoto bisa memperjelas maksud saya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;...From the moment they wake, they devote themselves to the perfection of whatever they pursue. I have never seen such discipline.&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kalimat itu memang benar menggambarkan masyarakat Jepang pada umumnya, ditambah moralitas yang tinggi untuk menjaga kehormatan dan kejujuran, mungkin ini adalah salah satu alasan mengapa Jepang bisa berkembang sampai pada kemajuan yang kita saksikan pada saat ini. Karena mereka selalu memberikan yang terbaik untuk setiap tindakan, dengan selalu menjaga kehormatan dan kejujuran dalam setiap aktivitasnya. Ini adalah salah satu sisi positif Jepang yang saya rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya sebagai Muslim ingin menyampaikan, bahwa kita lebih berhak atas prinsip-prinsip hidup itu, untuk selalu memberikan dan melakukan yang terbaik dalam setiap usaha mencapai tujuan kita, karena itu adalah upaya kita mencapai derajat tertinggi seorang Muslim di sisi Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, kita mengenal tingkatan seseorang di sisi Allah sebagai Muslim, selanjutnya Mukmin, dan yang tertinggi adalah Muttaqin. Cukuplah kita mengingat firman Allah SWT dalam QS Al Hujurat ayat 14, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Orang-orang Arab Badui itu berkata: 'Kami telah beriman.' Katakanlah: Kamu  belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk (ber-Islam)', karena iman itu belum masuk  ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan  mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi  Maha Penyayang.&lt;/span&gt;" Sedangkan dalam surat yang sama di ayat 13 Allah menerangkan tentang posisi terbaik manusia di sisi Allah adalah orang yang bertaqwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apakah orang yang bertaqwa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak ayat Al Qur'an, Allah menerangkan ciri-ciri orang yang bertakwa, diantaranya adalah mereka yang berbuat baik/&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ihsan&lt;/span&gt;. Orang-orangnya disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Muhsinin&lt;/span&gt;. Ini seperti difirmankan Allah dalam QS Yusuf ayat 90, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sesungguhnya barang siapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak  menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.&lt;/span&gt;" Demikian juga yang tersurat dalam QS An Nahl ayat 30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tentunya perbuatan baik yang dilakukan bukan semata-mata dilihat dari baik-buruknya substansi amalan yang dilakukan, atau dengan memperhatikan hasilnya saja. Salah satu faktor penting yang menjadi penilaian sebuah perbuatan baik atau ihsan adalah proses dalam melakukan amal itu, sehingga perbuatan kebajikan itu menjadi sebuah amalan terbaik sebagaimana yang difirmankan Allah dalam QS Al Mulk ayat 2, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu  yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita kaji lebih lanjut terkait dengan proses melakukan amal kebaikan ini, kita akan menemukan jawabannya dalam sebuah hadits riwayat Muslim yang sangat terkenal, yaitu ketika Rasulullah SAW ditanya oleh Malaikat Jibril tentang ihsan, Beliau SAW menjawabnya "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan engkau melihatNya, dan jika engkau tidak dapat melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu.&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa tidak perlu memberikan penjelasan panjang lebar untuk menjelaskan bagaimana seandainya kita bekerja dan beribadah dihadapan Dzat yang paling kita cintai, paling kita takuti, yang Maha Berkuasa atas diri kita, selain kita akan melaksanakan aktivitas itu dengan cara terbaik yang bisa kita lakukan. Dan rasanya terlalu sempit jika melakukan aktivitas sebaik-baiknya itu hanya dicukupkan pada melaksanakan ritual dan ibadah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mahdhah&lt;/span&gt; saja, tapi seharusnya juga kita terapkan dalam setiap aktivitas kebaikan kita, karena dengan niatan yang bersih, segala aktivitas kita bisa bernilai ibadah disisi Allah SWT.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-675324220790125317?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/675324220790125317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/03/ihsan-melakukan-yang-terbaik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/675324220790125317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/675324220790125317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/03/ihsan-melakukan-yang-terbaik.html' title='Ihsan: melakukan yang terbaik'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-7622982807879143396</id><published>2009-02-23T23:05:00.004+09:00</published><updated>2009-02-23T23:22:03.268+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Jepang'/><title type='text'>Enaknya jadi kucing</title><content type='html'>Kemarin petang, saya keluar asrama buat membeli susu, telur, dan keperluan lainnya. Di jalan di dekat sebuah tempat membuang sampah, saya melihat seorang wanita terlihat menunduk di pinggir jalan. Setelah dekat, baru saya tahu bahwa dia sedang mengelus-elus seekor kucing. Tampaknya kucing ini adalah kucing yang biasa berinteraksi dengan manusia, terlihat sekilas dia menikmati usapan itu. Atau mungkin bekas kucing peliharaan yang baru dibuang pemiliknya, karena kucing itu terlihat gendut. Beda dengan kucing liar yang kadang saya temui di sekitar asrama yang selain kurus, juga agak takut berdekatan dengan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar setengah jam, ketika saya melewati tempat itu dalam arah pulang, kembali saya melihat si kucing sedang diusap-usap, namun kali ini oleh dua orang yang berbeda dengan yang tadi. Dan tadi petang, ketika saya pulang dari kampus, kembali saya melihat si kucing putih itu, juga sedang menikmati dielus-elus oleh seorang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat beberapa kali pernah menemukan orang Jepang yang sangat menyenangi piaraannya, kucing dan juga kebanyakan anjing. Sedemikian sayang, sampai-sampai tidak cukup hanya merawat dan merias si anjing dengan memakaikan baju, pita, dan asesoris lainnya, bahkan ada yang membawanya dengan box seperti box bayi! Astaga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah..wah..wah.. sebuah ironi lain yang saya temukan disini. Orang Jepang dimata saya tampak memiliki sifat individualis yang tinggi, meski mereka punya kesopanan kolektif yang baik, dan dari segi kepribadian juga memiliki sisi positif yang tidak sedikit. Tapi bagaimana mereka memperlakukan binatang seperti itu, sementara disisi lain hubungan sosial antar manusia termasuk lembaga perkawinan yang semakin tergusur, juga pranata-pranata sosial dikalangan remaja yang menyedihkan,  membuat saya berpikir bahwa memang ada yang salah dalam kepribadian orang Jepang...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-7622982807879143396?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/7622982807879143396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/02/enaknya-jadi-kucing.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/7622982807879143396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/7622982807879143396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/02/enaknya-jadi-kucing.html' title='Enaknya jadi kucing'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-3934744076206799263</id><published>2009-02-19T13:34:00.003+09:00</published><updated>2009-02-19T14:02:36.742+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Mengapa ada kaya dan miskin?</title><content type='html'>Pagi ini, seorang teman saya yang lebih muda bertanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mas, ada teman saya yang bertanya, jika Allah itu Maha Adil, mengapa Dia menciptakan manusia ada yang miskin dan ada yang kaya?&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menjawabnya singkat, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mungkin permasalahannya ada didalam menjadikan kaya dan miskin (banyaknya harta) itu sebagai ukuran keadilan&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi teman saya itu belum puas, dan melanjutkan perkataannya, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Orang kaya kan bisa hidup enak, bisa sekolah atau menyekolahkan anaknya, hidup lebih nyaman...&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya balik bertanya, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nanti saat dihisab (antara kaya dan miskin) sama tidak?&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tidak...&lt;/span&gt;" Jawab teman saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tanya lagi, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nah, yang kayak gitu adil tidak?&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wah, iya ya.... Saya mengerti sekarang...&lt;/span&gt;" Spontan dia berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering mengartikan keadilan itu sebagai memberikan hak orang lain sebagaimana haknya yang seharusnya dia terima. Keadilan tidak dapat disamaratakan sebagai menerima sesuatu yang sama besarnya, misalnya dalam hal ini rizqi dan kekayaan. Dan kita juga dapat menggunakan pandangan ini dalam upaya mensyukuri apa yang sudah diberikan Allah kepada kita. Jika saya mengalami suatu kegagalan, istri saya juga orang-orang terdekat saya selalu menyatakan dan menguatkan saya bahwa itulah yang yang terbaik bagi saya dari Allah. Jadi Allah pasti memberikan sesuatu sesuai dengan hak kita menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita tahu bahwa kita berhak atau tidak terhadap sebuah karunia? Dari sini, sebenarnya kita dapat memahami sunnatuLLah yang lainnya. SunnatuLLah itu bahkan banyak termuat dalam ungkapan-ungkapan bijak, misalnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jer Basuki Mawa Bea&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;No Pain No Gain, &lt;/span&gt; atau kalau tukul bilang, kristalisasi keringat he..he..he..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sudah selalu berusaha dan tak kunjung berhasil, bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, terkadang kita menjumpai keadaan dimana seolah-olah seseorang itu memang tidak beruntung. Jika memang demikian, sikap paling baik dari seorang yang beriman tentu saja adalah tetap menerima dan meyakini bahwa itu adalah yang terbaik yang dipilihkan oleh Allah. Jika tidak bisa, mungkin kita harus malu karena bersikap seperti anak TK yang menangis marah karena uang sakunya beda dengan uang saku kakaknya yang SMA...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh keadilan Allah sudah terjamin sampai hari pembalasan nanti, karena Allah akan mempertanyakan banyak hal tentang kekayaan kita, tentang bagaimana kita memperolehnya, dan buat apa saja kita membelanjakannya. Hal ini tidak akan dialami oleh orang miskin. Dan hal ini pula yang membuat Abdurrahman bin Auf RA menangis karena teringat sabda baginda Rasulullah SAW, bahwasannya Beliau menyaksikan Ibnu Auf memasuki surga dengan perlahan-lahan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-3934744076206799263?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/3934744076206799263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/02/mengapa-ada-kaya-dan-miskin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3934744076206799263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3934744076206799263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/02/mengapa-ada-kaya-dan-miskin.html' title='Mengapa ada kaya dan miskin?'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-6136584109283157042</id><published>2009-02-10T22:30:00.006+09:00</published><updated>2009-02-13T23:26:08.357+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Mampukah saya menjadi orang yang luar biasa?</title><content type='html'>Ini adalah salah satu inspirasi yang saya peroleh ketika menyaksikan rekaman acara 'kick andi' episode laskar pelangi. Ketika Ibu Muslimah yang asli ditanya bagaimana perasaannya setelah membaca buku laskar pelangi, beliau menjawab, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sekarang sih saya agak grogi gitu, masalahnya kan ibu tidak terpikirkan akan terangkat seperti ini, karena selama ini ibu hanyalah seorang guru desa biasa, tidak punya kelebihan, sekolah juga nggak tinggi, nggak pintar, yang pintar muridnya...&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah. Sungguh sebuah kerendahan hati yang luar biasa. Tapi tunggu dulu, bukan kerendahan  hati itu yang ingin saya bahas. Saya ingin membahas tentang hal-hal luar biasa yang bisa kita lakukan, seperti yang telah dilakukan ibu Muslimah dengan laskar pelanginya. Saya terinspirasi dengan Ibu Muslimah karena menurut saya dengan kapasitasnya sebagai guru yang juga membutuhkan kehidupan yang layak, juga ditengah berbagai keterbatasan yang melingkupi SD muhammadiyah belitong itu, beliau mampu untuk tetap tagak dan sepenuh hati menjalankan perannya yang mulia sebagai seorang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat dengan Bapak saya.  Dibesarkan dari keluarga miskin, merantau sendiri dan berusaha keras sehingga akhirnya bisa memperoleh gelar sarjana dengan biaya sendiri. Gelar sarjana itu bisa diraihnya disaat bapak saya berusia 42 tahun saat itu. Sungguh sebuah prestasi tersendiri di mata saya. Saya juga ingat dulu ada seorang lulusan sarjana dari UNS yang bisa menyelesaikan sarjananya dengan menjadi seorang tukang becak. Ah, sekarang saya malah merasa malu karena dulu ketika membaca berita itu, saya sempat menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tentang Bapak saya masih belum selesai. Dengan posisinya sebagai guru bergelar sarjana, ternyata ada segudang prestasi yang Bapak torehkan. Diakhir masa tugasnya sebagai guru pns sekaligus kepala sebuah sma muhammadiyah, beliau berhasil meninggalkan sebuah sekolah yang telah menambah belasan ruang kelas baru, meninggalkan ratusan juta dana di kas sekolah, juga peningkatan peringkat sekolah berdasar rata-rata NEM. Sangat kontras dibandingkan ketika Bapak menerima jabatan itu, dimana kas sekolah tidak mencapai ratusan ribu rupiah. Semua dijalaninya dengan penuh kejujuran dan rasa tanggung jawab. Tidak jarang saya menyaksikan para orang tua siswa yang datang ke rumah dan pulang sambil meninggalkan amplop 'pelicin'. Jika diberikan terang-terangan, Bapak saya menolaknya dengan halus, dan jika dengan sembunyi-sembunyi diselipkan dibawah taplak meja, pasti Bapak akan mengejar sang tamu untuk mengembalikan amplopnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan itu saja. Bapak saya juga menginisiasi pembentukan organisasi dakwah di lingkungan tempat-tinggal saya. Dan menyemangati muslimin di lingkungan kami untuk bergotong royong membangun masjid secara swadaya. Menyemangati muslimin untuk menabung sehingga bisa berkurban, dlsb. Sekarang di daerah tempat tinggal saya yang terdiri dari 3 RW, telah berdiri 3 masjid yang cukup besar, dan setiap tahunnya masyarakat bisa berkurban belasan ekor sapi serta puluhan ekor kambing. Padahal, para penduduk dilingkungan kami bukanlah dari kalangan orang-orang berpunya, yang kebanyakan hanya bisa berkurban setelah menabung selama setahun penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehm... saya jadi merasakan beban yang sangat berat. Ibu Muslimah, juga Bapak saya telah menunjukkan bagaimana Beliau telah bersyukur atas segala kenikmatan yang diperoleh, dangan membayarnya melalui berbagai episode kepahlawanan. Jika mereka yang sarjana, atau bahkan lulusan sekolah setingkat SMP (Ibu Muslimah) bisa menunjukkan prestasi sedemikian luar biasa, lantas prestasi seperti apa yang harus bisa saya tunjukkan? Saya betul-betul merasa beban ini sedemikian berat... Saya harus benar-benar berusaha keras dan cerdas...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat komentar seorang teman dari teman saya di sini. Suatu saat, teman saya menerima pujian dari temannya yang lain, karena berhasil menjadi mahasiswa pascasarjana di TIT. Dia bilang, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Terima kasih, tapi biasa saja lah&lt;/span&gt;... " Temannya yang memberi pujian menimpali, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ya nggak bisa biasa saja. Kamu udah bisa sekolah di universitas teknik nomor 21 di dunia, ya nggak boleh biasa-biasa saja...&lt;/span&gt;"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-6136584109283157042?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/6136584109283157042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/02/mampukah-saya-menjadi-orang-yang-luar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6136584109283157042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6136584109283157042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/02/mampukah-saya-menjadi-orang-yang-luar.html' title='Mampukah saya menjadi orang yang luar biasa?'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-722671147476473096</id><published>2009-02-05T14:05:00.001+09:00</published><updated>2009-02-05T14:05:49.303+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Putus asa membawa pada kekufuran</title><content type='html'>Sebelumnya, saya telah menulis tentang golput sebagai tanda lemahnya iman. Saya sempat menyinggung di akhir tulisan itu, jika golput dilakukan sebagai ekspresi keputus asaan kepada upaya perbaikan kondisi bangsa Indonesia, itu berbahaya karena boleh jadi membawa jatuh dalam jurang kekufuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golput adalah sebuah pilihan amal, yang bentuknya adalah dengan tidak beramal. Karenanya, penilaiannya hanya wewenang Allah, satu-satunya yang mengetahui isi hati manusia. Jadi, jika saya menulis tentang kemungkinan golput sebagai tanda lemahnya iman, bukan berarti saya sedang menjustifikasi anda yang golput sebagai lemah iman lho... Pesan saya adalah, anda harus memastikan bahwa anda memiliki tujuan yang jelas dari tindakan itu, serta jelas pula di pikiran anda tahapan langkah-langkah yang diambil untuk mencapai tujuan itu. Trus saya harap juga bahwa anda sudah memperhitungkan visibilitasnya, achievable nggak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya tidak terlalu optimis, bahwa orang yang golput kebanyakan berada pada posisi golput yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;on mission&lt;/span&gt;. Tapi sekali lagi, saya tidak berhak menilai. Namun di sisi lain, kekhawatiran saya itulah yang memotivasi saya membuat tulisan ini. Mungkin juga ini yang mendasari sebagian ulama kita mengeluarkan fatwa haramnya golput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kok merasa, ada banyak yang golput karena dilandasi perasaan putus asa, ataupun karena memang tidak peduli pada perbaikan bangsa Indonesia. Untuk yang kedua, yah memang harus dibangkitkan kesadaran akan pentingnya arti sebuah suara, termasuk pertanggung jawabannya di hadapan Allah kelak. Masalahnya, dalam sistem demokrasi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;one man one vote.&lt;/span&gt; (heheh... jangan lupa one man one dollar for palestine yah...). Anda punya tanggung jawab yang sama besar tidak peduli siapapun anda dan bagaimanapun latar belakang anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya merasa, banyak yang memilih golput karena putus asa? Karena saya sangat banyak menemui orang-orang yang mengkampanyekan golput, dimana pada saat yang bersamaan senantiasa mencaci, mencerca, bahkan menghina usaha perbaikan yang dilakukan sebagian yang lain. Pokoknya di dalam pikirannya, yang ada hanya hal negatif aja terkait perpolitikan dan pemilu. Jika orang golput karena tidak peduli, karena tidak sadar arti penting pemilu, mereka akan lebih bersikap pasif. Jika orang golput karena punya agenda dan pemikiran lain tentang perbaikan bangsa, mereka juga tidak akan terlalu banyak menghujat usaha-usaha yang dilakukan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua point yang ingin saya sampaikan. Pertama, bahwa putus asa akan menjatuhkan seseorang kedalam kekufuran. Cukuplah kita mengingat firman Allah dalam QS Yusuf ayat 87, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"...dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat  Allah, melainkan kaum yang kafir&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, asa atau harapan itu haruslah membentang melebihi batasan logika dan penalaran kita. Sesuatu yang secara akal tidak mungkin, bukan berarti membolehkan kita untuk terlalu cepat menyerah dan berputus asa. Apa lagi jika terlalu banyak hal yang tidak pasti, misalnya dalam memperbaiki nasib bangsa memlalui pemilu. Ini dicontohkan oleh salah seorang Rasulullah, Nabi Zakaria sebagaimana dikisahkan dalam pembukaan surat Maryam. Beliau berdoa, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban,  dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku  dari sisi Engkau seorang putera&lt;/span&gt;". Nabi Zakaria sadar bahwa istrinya seorang wanita yang mandul. Secara nalar tidak mungkin untuk mengandung dan melahirkan anak. Tapi Nabi Zakaria tetap berdoa, memohon, dan berharap kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mari untuk selalu memupuk harapan akan perbaikan bangsa Indonesia, kaum muslim, dan umat manusia, karena harapan itu selalu ada...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-722671147476473096?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/722671147476473096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/02/putus-asa-membawa-pada-kekufuran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/722671147476473096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/722671147476473096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/02/putus-asa-membawa-pada-kekufuran.html' title='Putus asa membawa pada kekufuran'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-186625683047426</id><published>2009-02-04T16:00:00.003+09:00</published><updated>2009-02-04T16:18:48.756+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Selamat ya Bunda..</title><content type='html'>Hari ini ada sebuah berita yang sungguh membahagiakan saya. Istri saya dinyatakan lulus dari semua poli dari DM yang sudah dijalaninya. Berarti tinggal mengikuti sumpah dokter, dan kemudian menempuh UKDI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm... baru sekarang saya merasakan kegembiraan seperti ini, atas kelulusan seseorang selain diri saya sendiri. Ketika kakak-kakak dan adik saya di wisuda atau mengikuti sumpah dokter, rasanya-biasa-biasa saja. Pun ketika saya sendiri melewati sidang tugas akhir maupun sidang magister, rasanya juga tidak begitu luar biasa, walaupun saya juga merasa gembira sekali. Tapi hari ini saya begitu gembira, atas kelulusan istri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini maknanya ketika istri atau pasangan kita telah menjadi bagian diri kita. Saya jadi mengerti bagaimana orang tua kita merasa bahagia ketika kita lulus atau di wisuda. Kebahagiaan itu tidak dapat diungkapkan. Saya bahkan masih ingat dulu dua kali Bapak dan Ibu saya pergi ke Bandung untuk menghadiri wisuda saya, walaupun saya bahkan menganggap acara wisuda itu sesuatu yang biasa dan bahkan bilang ke Bapak Ibu bahwa saya tidak apa-apa jika Bapak Ibu tidak dapat menghadiri acara wisuda. Ketika saya bilang bahwa saya tidak memesan foto wisuda magister saya, Bapak terlihat kecewa. Sekarang saya tahu mengapa beliau sampai kecewa. Saya juga berharap bahwa nanti saya juga akan berbahagia atas kelulusan anak-anak saya, dan semoga mereka dapat meraih prestasi yang lebih baik dari orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bunda, selamat ya atas kelulusannya. Perjuangan 6 tahun akhirnya berbuah juga ya... Semoga diberikan barakah oleh Allah dan menjadi pintu barakah bagi kita semua...&lt;/span&gt;"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-186625683047426?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/186625683047426/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/02/selamat-ya-bunda.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/186625683047426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/186625683047426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/02/selamat-ya-bunda.html' title='Selamat ya Bunda..'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-6844625362866212980</id><published>2009-01-26T15:12:00.003+09:00</published><updated>2009-01-26T16:02:27.808+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><title type='text'>Mampukah mikro-nano-elektronika Indonesia bangkit?</title><content type='html'>Cita-cita pak Samaun masih selalu terngiang dalam benak saya. Untuk memajukan mikroelektronika Indonesia, berkontribusi bagi kesejahteraan bangsa Indonesia. Bahkan semboyan pusat mikroelektronika ITB yang beliau dirikan adalah, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Microelectronics Prospers the Nation.&lt;/span&gt; Keren bukan? Hanya saja mikroelektronika Indonesia sampai saat ini masih belum mampu menyejahterakan bangsa Indonesia. Menyejahterakan para dosen dan peneliti yang bergabung di PAU sih memang iya. Dan saya memang pernah kecipratan dikit he..he..he...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mampukah mikroelektronika Indonesia bangkit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu sudah sekian lama menjadi pemikiran saya, dan juga teman-teman di pusat mikroelektronika ITB. Dan sudah sekian lama kami berusaha untuk kebangkitan itu. Di pusat mikroelektronika ITB sebenarnya ada dua mainstream yang bisa dikatakan mewakili mikroelektronika. Pemrosesan rangkaian terintegrasi (IC), dan perancangan rangkaian terintegrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bahas dulu tentang perancangan IC. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Alhamdulillah,&lt;/span&gt; sekarang ada grup riset yang dipimpin Pak Trio Adiono yang bergerak di bidang ini. Mungkin grup ini satu-satunya di Indonesia. Saya tidak menutup kemungkinan bahwa mungkin ada banyak ekspert orang indonesia di bidang ini, tapi sejauh yang saya tahu, hanya di grup inilah dimana orang Indonesia bersatu dan memegang kendali secara penuh. Prestasinya juga lumayan. Artinya grup ini telah memiliki cukup banyak pengalaman mengerjakan riset desain IC yang dibiayai pemerintah (Dalam RUSNAS maupun riset insentif), juga mengerjakan pesanan desain dari perusahaan terkemuka dunia secara profesional. Sayang untuk yang kedua ini tidak banyak yang saya ketahui, karena sifatnya memang lebih rahasia. Pernah juga saya diajak pak Trio bergabung di grupnya. Tapi mungkin Pak Samaun dan Pak Irman telah sukses mencuci pemikiran saya, sehingga saya bertahan di proses.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Well, &lt;/span&gt;kalau di bidang proses IC, kami memang merasa tertinggal dari grup pak Trio. Tapi bukan berarti kami tidak berusaha. Saya mungkin tidak perlu bercerita banyak tentang berbagai effort yang pernah kami lakukan, semenjak era Pak Samaun, Pak Reka Rio, sampai era Pak Basuki dan sekarang Pak Irman sebagai kepala Lab Devais dan Proses IC. Mungkin masalahnya klise, tapi tantangan terbesarnya memang masalah keterbatasan dana. Jika anda mengerti, bisa mempertahankan fungsionalitas peralatan di Lab Proses itu sudah merupakan sebuah prestasi. Namun sungguh sayang, kemampuannya sudah semakin tertinggal dibandingkan dengan teknologi terkini di bidang mikroelektronika. Kami juga sudah tidak berharap banyak kepada pemerintah maupun ITB untuk dukungan dalam hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah situasi serba sulit, saya bersyukur di ITB masih ada beberapa pihak yang peduli pada perkembangan mikroelektronika di Indonesia. Tapi memang kami harus berpikir dengan lebih realistis sekarang. Saya sangat ingat salah satu topik diskusi yang pernah berkembang antara Pak Irman dengan Pak Samaun. Pak Samaun menyatakan bahwa untuk menguasai teknologi, ada dua hal yang bisa dilakukan yaitu mengembangkan sendiri atau membeli teknologi itu. Membeli jelas kami tidak mampu karena itu menyangkut masalah uang yang sangat besar. Pak Samaun sering mencontohkan pengembangan pabrik semikonduktor di Kuching Malaysia. Anda harus tahu, bahwa pemerintah negara bagian Malaysia juga menggelontorkan puluhan juta dollar untuk proyek itu, sesuatu dukungan yang bagi kami mustahil diberikan oleh pemerintah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengembangkan sendiri, juga tidak kalah sulitnya. Pak Samaun sudah puluhan tahun memimpin putra-putra Indonesia terbaik di ITB untuk merealisasikan hal itu, tapi harapan itu belum terwujud juga. Ada beragam masalah yang menghalangi, mulai dari tiadanya dukungan industri nasional, sampai kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada pengembangan mikroelektronika ITB. Di saat-saat terakhir kemarin, saya lebih condong kepada pendapat Pak Irman dalam memilih strategi mengembangkan mikroelektronika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya cukup sedih menuliskannya, tapi pilihan itu harus diambil, yaitu mengubur keinginan kami untuk mengembangkan mikroelektronika untuk mengejar ketertinggalan teknologi saat ini. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gap&lt;/span&gt;-nya sudah terlalu jauh untuk dikejar, apalagi dengan berbagai kesulitan yang kini menghimpit kami. Pilihan yang kami tempuh adalah, mencoba memulai pengembangan bidang nano-elektronika. Kemampuan bidang mikroelektronika yang ada kami pertahankan, sebatas untuk keperluan edukasi dan memberikan dasar kemampuan bagi para mahasiswa atau calon peneliti. Syukur-syukur kami bisa melakukan beberapa riset yang bagus. Saya masih ingat demikian sedihnya Pak Samaun atas pilihan itu. Tapi alasan yang dikemukakan pak Irman juga sangat masuk akal. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apalah saya dibandingkan pak Samaun? Pak Samaun pernah menjadi dirjen, direktur lipi, mendirikan batan, dan sebagainya. Jika saya menempuh jalan yang sama dengan yang pernah ditempuh pak Samaun, apakah saya bisa memberi hasil yang lebih baik..?&lt;/span&gt;" demikian pernah diungkapkan Pak Irman kepada Pak Samaun suatu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Samaun, anda jangan terlalu bersedih. Jika kami beristirahat dari peperangan itu, bukan berarti kami melupakan dan menyerah dari upaya menggapai cita-cita kita. Kami yang tersisa sekarang masih punya keyakinan kok bahwa ada yang bisa diperbuat. Saya berangkat ke Jepang juga karena motivasi yang sama, bahwa mimpi itu masih bisa kita gapai. Pak Irman memang sekarang lebih fokus pada bisnis, tapi saya masih percaya dan menaruh harapan bahwa beliau masih sangat concern dengan pengembangan mikro-nano-elektronika. Harapannya, jika saya kembali nanti, saya bisa fokus pada pengembangan nano teknologi tanpa harus pusing memikirkan masalah kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan memang masih panjang, menunggu untuk ditempuh. Perjalanan itu tidak akan mudah, tapi Insya Allah kami akan tetap bersemangat untuk mencoba meraih cita-cita itu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-6844625362866212980?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/6844625362866212980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/mampukah-mikro-nano-elektronika.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6844625362866212980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6844625362866212980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/mampukah-mikro-nano-elektronika.html' title='Mampukah mikro-nano-elektronika Indonesia bangkit?'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-8796449112029544060</id><published>2009-01-26T12:05:00.003+09:00</published><updated>2009-03-26T14:18:32.278+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>(1) Menuju pernikahan: Sudahkah ingin menikah</title><content type='html'>Saya sudah lama ingin membuat serial tulisan tentang suatu tema pernikahan. Dulu saya sempat menulis tentang persiapan menikah aktifis dakwah kampus, namun terhenti, setelah satu dua tulisan. Dan sekarang pun saya sedikit ragu untuk menulis lagi yang seperti itu. Khawatir akan kontinuitasnya. Tapi saya pikir, mumpung ada kemauan, dimulai aja..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin menulis tentang menuju pernikahan. Tentang persiapan-persiapan, juga proses menuju pernikahan. Tentu saja saya tulis dalam kacamata seorang ikhwan. Untuk kacamata akhwat, biar Istri saya saja yang menuliskannya. Nanti bisa saling melengkapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa, hal pertama yang harus pikirkan oleh seseorang yang hendak menikah adalah apakah memang betul diri kita sudah berniat menikah. Saya tidak menafikan bahwa ada atau bahkan banyak yang menikah tanpa didasari keinginan untuk menikah. Contoh paling gampang tentu saja mereka yang menikah karena dijodohkan orang tua, atau menikah karena keterpaksaan lainnya, misalnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;married by accident&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang akan sangat membedakan antara orang yang berniat menikah dengan yang tidak adalah sisi kesiapan. Setidaknya akan muncul motivasi dari seseorang yang ingin menikah, untuk mempersiapkan pernikahan. Dan ini akan berpengaruh besar pada proses persiapan selanjutnya, bahkan sampai saat berumah tangga itu dijalani. Orang yang berniat menikah tentu akan mencari tahu kesiapan apa saja yang dibutuhkan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Jika sudah tahu, dia akan melakukan persiapan itu. Anda pasti setuju kan, bahwa melakukan persiapan itu pasti lebih baik dari pada yang tidak, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;in any case?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Perbedaan selanjutnya tentu saja dalam hal antusiasme menuju pernikahan. Tidak antusiasnya salah satu pihak yang akan menikah, bisa jadi menimbulkan masalah di kemudian hari. Kalau sudah tidak antusias, penyakit selanjutnya adalah ketidak pedulian. Coba kita bayangkan, seseorang yang menikah, tapi tidak peduli dengan pernikahannya? Siapa saja yang dirugikan? Yang paling merasakan tentu saja pasangannya. Menikah adalah menyatukan dua manusia, termasuk menyatukan keinginan, visi, bahkan gairah hidup. Bisa saja, jika keinginan, visi, dan gairah hidup salah satu sedemikian kuat, sehingga bisa mengayomi rumah tangga pasangan itu. Bagaimana jika tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak kisah pernikahan gagal karena sikap pasif dan tidak peduli salah satu pihak, istri atau suami, pada pernikahan mereka. Sebagai contoh, disekitar saya ada seorang suami yang merasa pernikahannya sudah gagal, karena semua mimpinya dahulu belum menjadi kenyataan. Adanya himpitan ekonomi adalah penyebabnya. Sebenarnya istrinya masih memiliki motivasi, masih memiliki harapan, dan mau berjuang. Namun permasalahannya ternyata sulit diselesaikan, karena sang suami ini bersikap tidak peduli lagi pada pernikahannya, kepada istri dan anak-anaknya. Akhirnya, sang istrilah yang meminta cerai kepada suaminya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Naudzubillah..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, bagaimana kita mengenali bahwa kita sudah berkeinginan menikah? Wah... jawaban saya untuk pertanyaan ini sebenarnya saya tujukan untuk mereka yang sebenarnya sudah ingin menikah, namun tidak menyadari adanya keinginan itu. Saya ingin berbicara secara sederhana saja, bahwa jika ada beberapa hal berikut ini, boleh jadi anda sudah ingin menikah, atau minimal sudah saatnya anda berpikir untuk mempersiapkan pernikahan. Yang pertama adalah, jika anda sudah pernah berandai-andai dimana anda sedang berumah tangga, anda jadi suami atau istrinya. Tidak peduli siapa pasangan anda dalam pengandaian anda itu. Klo pasangan anda sudah jelas, artinya anda jatuh cinta pada sosok tersebut, dan ingin menikah dengannya. Simpel saja bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua adalah, jika mulai banyak orang yang menanyakan kepada anda, kapan akan menikah. Bisa jadi pertanyaan itu dari orang tua, saudara, atau sahabat, dan itu adalah sebuah pertanda bahwa ada sebagian sisi kesiapan menikah yang sudah anda penuhi. Biasanya dari segi umur, kedewasaan, kesiapan finansial/kemapanan, atau bahkan karena pergaulan anda sudah mengkhawatirkan..! Ini bisa saja karena anda terlalu dekat dengan lawan jenis, atau sebaliknya, anda takut berdekatan dengan lawan jenis, sehingga menikah diharapkan menjadi sebuah solusi buat anda. Jika sudah ada yang mulai mengingatkan anda untuk menikah, maka saya sarankan anda untuk menumbuhkan keinginan untuk menikah itu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-8796449112029544060?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/8796449112029544060/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/menuju-pernikahan-sudahkah-ingin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/8796449112029544060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/8796449112029544060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/menuju-pernikahan-sudahkah-ingin.html' title='(1) Menuju pernikahan: Sudahkah ingin menikah'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-4974914233131696289</id><published>2009-01-25T19:58:00.006+09:00</published><updated>2009-01-25T23:41:14.822+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Menjemput Impian - Saksi Cinta Sejati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SXxGC5oW2mI/AAAAAAAAAFk/7mq06WWbmIs/s1600-h/old.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 493px; height: 231px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SXxGC5oW2mI/AAAAAAAAAFk/7mq06WWbmIs/s320/old.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295184277524634210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gambar ini adalah scene favorit saya dari klip KLa Project, Menjemput Impian. Mungkin kita sudah biasa melihat kemesraan satu pasangan, tapi saya selalu merasakan romantisme yang lebih dalam jika kemesraan itu ditampilkan oleh mereka yang telah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sepuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, mungkin waktu adalah salah satu saksi yang bisa membuktikan kesejatian cinta. Dan gambar diatas terlalu sempit untuk menampilkan sebentuk kemesraan sejati dari sepasang kekasih abadi. Jujur, saya tidak pernah menemui kedua orang tua saya menampilkan kemesraan. Tapi saya percaya dan meyakini sepenuhnya jalinan cinta dan kasih suci diantara mereka. Tidak pula dengan ucapan-ucapan mesra dan semacamnya. Panggilan sayang Ibu saya untuk Bapak adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mas&lt;/span&gt;, tidak ada yang lain. Tapi kami sebagai orang Jawa memang tidak membutuhkan kata-kata untuk menyatakan cinta. Walau saya kini harus belajar mengungkapkan cinta secara verbal, karena istri saya menghendakinya seperti itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saya bisa menjadi seperti sosok dalam gambar itu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-4974914233131696289?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/4974914233131696289/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/menjemput-impian-saksi-cinta-sejati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4974914233131696289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4974914233131696289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/menjemput-impian-saksi-cinta-sejati.html' title='Menjemput Impian - Saksi Cinta Sejati'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SXxGC5oW2mI/AAAAAAAAAFk/7mq06WWbmIs/s72-c/old.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-2043229836320819297</id><published>2009-01-25T10:19:00.005+09:00</published><updated>2009-01-25T10:56:09.634+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Mengenang Pak Samaun (lagi)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SXvFI5tetZI/AAAAAAAAAFc/snvHoJOazvM/s1600-h/TMRND_PAUME.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SXvFI5tetZI/AAAAAAAAAFc/snvHoJOazvM/s320/TMRND_PAUME.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295042543625352594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SXvFCvzdMZI/AAAAAAAAAFU/gcQ6IjSOHWs/s1600-h/Di+clean+room+PAU+bareng+Pak+Samaun.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SXvFCvzdMZI/AAAAAAAAAFU/gcQ6IjSOHWs/s320/Di+clean+room+PAU+bareng+Pak+Samaun.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295042437886849426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seorang dosen di Teknik Elektro ITB pernah berkata setengah bercanda, bahwa penemu transistor adalah kakek gurunya. Soalnya dia berguru kepada satu-satunya orang Indonesia yang berguru langsung pada penemu transistor. Orang Indonesia itu, Samaun Samadikun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, saya mungkin tidak bisa ikut mengklaim hal yang sama. Tapi tahun-tahun terakhir masa aktif pak Samaun di ITB, sebagian besar dihabiskan di lab tempat saya beraktivitas, yaitu lab devais dan proses IC, PAUME ITB. Saya pun sempat melewatkan saat-saat berdiskusi dengan Pak Samaun, dan berkesempatan untuk mengenal beliau secara dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat kesan pertama saya dengan Pak Samaun adalah ketika beliau menjadi pembicara tamu dalam sebuah responsi praktikum saat saya masih mahasiswa sarjana dulu, seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya. Ketika beliau menjawab pertanyaan, ingin dilahirkan kembali sebagai apa... Ternyata dikemudian hari, saya berkesempatan berdiskusi langsung dengan beliau karena ruangan kami hanya dipisahkan satu atau dua sekat dinding saja, dalam satu lab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu saat Pak samaun bertanya pada kami, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menurut adik-adik ini, masa depan Indonesia ini apakah baik atau buruk?&lt;/span&gt;" Beliau, meski lebih pantas menjadi kakek, lebih suka membahasakan adik kepada kami. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Soalnya klo kita semua yakin bahwa Indonesia akan lebih baik, saya akan suruh anak saya pulang ke Indonesia untuk membangun Indonesia...&lt;/span&gt;" Ah... saya mungkin masih terlalu bodoh saat itu, sehingga tidak dapat langsung menangkap esensi pertanyaan beliau...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam hal teknis penelitian, beliau juga sangat bersemangat untuk membantu, terutama ketika kami sedang berhubungan dengan orang Malaysia untuk menjajaki sebuah kerjasama penelitian, yang akhirnya terwujud  setelah Pak Samaun berpulang (Gambar sebelah atas). Juga saya tidak pernah melupakan, suatu hari Pak samaun berkeliling lab ingin meminjam obeng yang kecil, yang katanya dia ingin membongkar hp beliau yang rusak. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Siapa tahu bisa saya betulkan sendiri...&lt;/span&gt;" Kata Pak Samaun. Aduhai Pak Samaun, penglihatan beliau sudah jauh berkurang, tangannya pun sudah bergetar ketika memegang obeng, tapi semangatnya terkadang membuat saya malu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Samaun juga sangat menghargai kami para asisten peneliti, meski kami masihlah sangat muda. Beliau bahkan senang ketika suatu saat saya berdiskusi dan berani beradu argument dengan Pak Samaun tentang sebuah topik penelitian. Ah betapa tidak sopannya saya waktu itu.. Bahkan beliau juga berkenan suatu saat turut mendampingi kami melakukan proses dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;clean room &lt;/span&gt;(Gambar kedua di bawah). Saya mengerti bahwa itu adalah upaya beliau memberikan semangat kepada kami untuk tetap bergiat dalam Mikroelektronika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan terakhir saya dengar dari sopir pribadi keluarga Pak Samaun yang merangkap teknisi di Lab, Pak Ajat. Beberapa minggu setelah pemakaman Pak Samaun, Pak Ajat datang ke lab untuk mengambil beberapa dus barang pribadi Pak Samaun yang masih tertinggal, dan sempat bercerita kepada saya. Satu dua hari sebelum meninggal, ketika menerima rombongan dosen Elektro yang menjenguk beliau, Pak Samaun sempat menanyakan saya, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bagaimana kabarnya si Amin, apakah masih ngurusi proses...?&lt;/span&gt;" Saya betul-betul terharu, merasakan semangatnya dan harapannya yang masih demikian kuat bahwa Elektronika akan membawa kesejahteraan bagi bangsa Indonesia. Juga terharu merasakan pengharapan Pak Samaun atas diri saya untuk ikut meneruskan harapannya itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan-kesan itu, kini tersimpan baik dalam benak saya, dan menjadi salah satu sumber motivasi saya untuk terus bergiat dalam bidang yang sedang saya jalani ini...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-2043229836320819297?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/2043229836320819297/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/mengenang-pak-samaun-lagi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2043229836320819297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2043229836320819297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/mengenang-pak-samaun-lagi.html' title='Mengenang Pak Samaun (lagi)'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SXvFI5tetZI/AAAAAAAAAFc/snvHoJOazvM/s72-c/TMRND_PAUME.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-6052545957578282111</id><published>2009-01-22T21:49:00.003+09:00</published><updated>2009-01-25T10:18:24.816+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Mengenang Pak Samaun</title><content type='html'>&lt;span class="postbody"&gt;Saya tuliskan lagi sebuah catatan dari seorang staf pengajar Elektro ITB, Pak Armein, tentang Pak samaun Samadikun. Saya selalu terharu membaca tulisan ini. Saya selalu teringat beliau setiap saya mengunjungi situs PAUME ITB, atau lab saya dulu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perginya Sang Mahaputera dan Mahaguru Berkemeja Putih.&lt;br /&gt;In memoriam Prof. Samaun Samadikun, 1931-2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu 15 November 2006, sms dari Irman Idris mengabarkan wafatnya Prof.&lt;br /&gt;Samaun Samadikun. Saya tidak bisa berbohong. Dalam hati kecil ada rasa&lt;br /&gt;terimakasih, beliau sudah bisa beristirahat di pelukan Sang Pencipta.&lt;br /&gt;Kesakitan dan penderitaan fisiknya akibat berbagai pengobatan sudah&lt;br /&gt;berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berangkat sore itu menuju rumah duka di Kebayoran Baru. Saya memacu&lt;br /&gt;kendaraan merah saya, mencoba meninggalkan mobil biru. Tapi Kastam&lt;br /&gt;Astami di mobil biru tidak bergeming, terus mengekori mobil merah. Mobil&lt;br /&gt;lain yang dikendarai Adi Indrayanto dan Trio Adiono segera tertinggal&lt;br /&gt;jauh, entah belok ke mana dulu mereka itu... Kastam sebenarnya tidak&lt;br /&gt;pernah suka berkendaraan keluar kota, apalagi ke Jakarta. Tapi hari ini&lt;br /&gt;kita akan melihat beliau untuk terakhir kali. Mervin Hutabarat&lt;br /&gt;berkomentar, berapa banyak yang akan berusaha melawat kita seperti ini&lt;br /&gt;nanti ya... OK, belum waktunya bersedih. Kami perlu tertawa sekarang. We&lt;br /&gt;need these laughters for the things to come...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang tersenyum saat melawat di rumah duka. Jangankan yang&lt;br /&gt;melawat. Yang dilawatpun tersenyum. Semua tenang, seperti sedang&lt;br /&gt;menyiapkan diri . Semua sedang mengumpulkan tenaga untuk menghadapi&lt;br /&gt;hari-hari esok. Hari-hari saat kesadaran penuh menerjang. Saat&lt;br /&gt;kehilangan beliau betul-betul merasuk....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bercengkerama santai. Irman Idris tersenyum bangga karena ia&lt;br /&gt;sempat memandikan beliau. Ah seperti yang tidak tahu saja, semua iri&lt;br /&gt;dengan Irman, anak kesayangan beliau. Bagaimana tidak, pak Samaun licik&lt;br /&gt;nih, menghabiskan waktu terbanyak dengan Irman. Mata Irman merah. Ah&lt;br /&gt;rasakan, ini belum apa-apa, golden boy, tunggu minggu depan setelah&lt;br /&gt;semua tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, saya, Mervin Hutabarat, dan Rio Seto berhenti di warung&lt;br /&gt;Cipularang. Kami pesan kopi, karena hari sudah terlalu larut. Dengan&lt;br /&gt;sigap anak muda pelayan warung mengaduk kopi kami. Ah, tahukah engkau&lt;br /&gt;bahwa hari ini seorang mahaputera telah pergi? Tujuhpuluh lima tahun ia&lt;br /&gt;berjuang supaya anak mu menjadi orang pintar dan merdeka. Dan tidak lagi&lt;br /&gt;harus berjualan kopi tengah malam di tengah jalan tol begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana bisa menulis tentang orang besar ini? Kata-kata yang dipilih tidak&lt;br /&gt;akan cukup dan tidak akan adil. Toh anak-anak didiknya harus memulai.&lt;br /&gt;Budi Rahardjo mencoba mengirim email pagi itu. Ah, blogger nomer wahid&lt;br /&gt;di tanah air tidak mampu melawan kepedihannya. Kata-katanya terhenti.&lt;br /&gt;Onno Purbo banting setir dan menulis wikipedia. Excellent idea, Onno.&lt;br /&gt;Diapun tidak sanggup meneruskannya. Siapa memangnya yang sanggup? Tidak&lt;br /&gt;heran, banyak memilih diam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arak-arakan kuda perang bergemuruh. Menaiki gunung dan menuruni lembah.&lt;br /&gt;Sang panglima dengan gagah berani menerjang di ujung terdepan. Ia&lt;br /&gt;menyatakan perang pada keterbelakangan. Ia memusuhi ketertinggalan.&lt;br /&gt;Silicon Valley harus berdiri di Bandung. Mikroelektronika harus&lt;br /&gt;mensejahterakan rakyat. Rakyat harus mendapat lapangan kerja dari&lt;br /&gt;teknologi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, deru perang membahana. Apa kita bisa? tanya bala tentaranya. Ini&lt;br /&gt;teknologi tinggi. Panglima ini Doktor dari Stanford, berguru langsung&lt;br /&gt;pada penemu transistor. Ia penerima royalti dari panten nya di Amerika.&lt;br /&gt;Ia penulis di jurnal Nature. Jadi kalau dia bilang bisa, ya bisa... Sang&lt;br /&gt;panglima hanya tersenyum, mengangkat senjatanya, dan memacu kuda nya.&lt;br /&gt;Ikut aku, bila ada yang harus berkorban, akulah yang pertama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;September 2006. Perang sedang bergemuruh, dan langit memerah. Hawa&lt;br /&gt;Bandung panas. Bala tentara tertegun menegok ke belakang. Mengapa kuda&lt;br /&gt;perang sang panglima menyimpang dan menaiki bukit? Dari kejauhan ia&lt;br /&gt;melambai. Ia memerintahkan pasukan untuk meneruskan peperangan, tapi&lt;br /&gt;semua diam dan menatap nanar. Sang panglima sedang menapaki gunung&lt;br /&gt;keagungan. Gunung Sang Pencipta, Gunung Sang Panglima Yang Maha Tinggi.&lt;br /&gt;Tidak ada kata yang terucap. Semua mengerti, tidak lama lagi ia akan&lt;br /&gt;tiba di pucak. Tugas nya sudah akan berakhir. Markas Besar sudah mulai&lt;br /&gt;memanggilnya pulang....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 2006. Satu per satu jubah kebesarannya tertanggalkan. Di rumah&lt;br /&gt;sakit MMC, kondisi fisik beliau menurun. Saya tahu dari pak Suhartono&lt;br /&gt;bahwa Eniman Yunus dan prof Adang Suwandi membawa rombongan STEI&lt;br /&gt;menjenguk beliau. Saya harus ikut! Kebetulan Budi Rahardjo dan Pak&lt;br /&gt;Merati bisa mengantarkan kami ke sana sekaligus menjenguk. Wah prof&lt;br /&gt;Samaun, insinyur sejati. Dalam kesakitannya, masih juga ia minta Prof.&lt;br /&gt;Soegijardjo untuk mendesain alat untuk tempat tidurnya. Memang ada pak&lt;br /&gt;Sukrisno dan Pak Sarwoko di situ yang bisa mewujudkannya. Tapi yah, kami&lt;br /&gt;semua tidak mau banyak bicara, panglima harus istirahat. "Take good care&lt;br /&gt;of your health", katanya sambil menyalami saya. Dua kali dia berpesan&lt;br /&gt;seperti itu, so I better listen. "I will be watching you form above.."&lt;br /&gt;katanya tersenyum. Budi tidak terima, dan dengan cepat menukas, "tidak&lt;br /&gt;pak, kami tunggu makan tiap selasa siang di PAU..!" Rupanya itu&lt;br /&gt;percakapan terakhir...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di puncak itu ada salju putih. Jubah kebesaran di puncak adalah jubah&lt;br /&gt;putih. Jubah kesederhanaan. Ah, ia sudah menggunakan jubah kesahajaan&lt;br /&gt;ini sejak muda. Ia tahu semua pasukan balatentara memimpikan emas&lt;br /&gt;permata. Ia tersenyum. Ya tentu, tidak ada yang lebih membahgiakannya&lt;br /&gt;daripada melihat semua orang sejahtera. That is the whole idea of this&lt;br /&gt;war.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, is it? Mengapa bapak suka dengan kemeja putih? Gunung-gunung sudah&lt;br /&gt;bapak lewati. Banyak gunung penuh intan permata. Direktur Sarana&lt;br /&gt;Akademis. Dirjen di Departemen Tambang dan Energi. Ketua LIPI. Direktur&lt;br /&gt;PAU-ME.. ok yang ini saya tahu salah-salah bapak bisa tekor, tapi yang&lt;br /&gt;lain itu bukan saja basah... tsunami, pak... Bukan saja kecipratan,&lt;br /&gt;bapak menghindarpun akan basah kuyup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kita tahu apa? Soal kaya raya, pak Samaun yang paling tahu. Ketika&lt;br /&gt;beliau lulus di Stanford, Silicon Valley baru mulai. Kalau ia mau, kaya&lt;br /&gt;rayalah beliau di Silicon Valley. Tapi ia memutuskan untuk pulang dan&lt;br /&gt;membangun ITB. Buat beliau, memperkaya bangsa itu jauh lebih penting&lt;br /&gt;daripada memperkaya diri sendiri. Oh boy, how he has lived through this&lt;br /&gt;credo...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba saja datang ke rumah Pak Samaun. Lihat sendiri kebersahajaan&lt;br /&gt;beliau. Lihat sendiri dindingnya. Lihat sendiri kursi tamu nya. Lihat&lt;br /&gt;sendiri rak buku nya. Lihat sendiri lah... If you ever need to preach&lt;br /&gt;about living full of integrity, just visit his house for five minutes&lt;br /&gt;folks&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu tidak, pak Samaun itu selalu mempersilahkan orang lain duluan naik&lt;br /&gt;lift? Bila berpapasan di lorong, ia menepi duluan. (Saya juga begitu&lt;br /&gt;pak, tapi lebih karena takut kecopetan.) Betapa santun nya pak Samaun&lt;br /&gt;ini. Orang kecil pun ia hormati. Di istana atau di kantin mahasiswa, pak&lt;br /&gt;Samaun memperlakukan orang sama. Sepanjang hidup saya, tidak pernah&lt;br /&gt;sekalipun saya mendengar ia menjelekkan orang lain. Either you believe&lt;br /&gt;me or not, I don't really care.. pokoknya tidak pernah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kami dimarahi habis waktu menggosipi dosen yang sibuk cari uang&lt;br /&gt;dengan mengajar sana-sini. Pertama: pendidik itu tidak boleh diketawai.&lt;br /&gt;Bisa saja dia mengajar karena mencintai murid-muridnya. Kedua: boleh&lt;br /&gt;dong tidak seragam di ITB ini. Apa hak kita untuk membuat orang lain&lt;br /&gt;sama dengan kita? We felt so stupid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa beda guru dengan mahaguru? Guru adalah tempat kita belajar semasa&lt;br /&gt;hidupnya. Mahaguru masih terus mengajari kita bahkan setelah ia wafat.&lt;br /&gt;Ia mengajari akan kekayaan hidup. Ia mengajari tentang memajukan orang&lt;br /&gt;lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini rahasia ya, punten, ketika Prof Samaun harus dibedah di Perth,&lt;br /&gt;beliau butuh USD 25,000. Saya tahu persis pihak keluarga bingung karena&lt;br /&gt;tidak ada dana. Prof. Adang dan Prof Ilse membuka rekening dana&lt;br /&gt;kesehatan untuk beliau pada suatu siang. Wah, belum sempat sore, dalam&lt;br /&gt;hitungan jam, rekening itu sudah berisi lebih dari Rp 250 juta! Pada&lt;br /&gt;saat mereka meminta untuk menghentikan pengiriman dana, dana sudah&lt;br /&gt;mencapai Rp. 400 juta lebih. Pelajaran berharga tentang makna kekayaan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ada staf kami kehabisan beasiswa, beliau meminta kita menggunakan&lt;br /&gt;sisa dana kesehatan ini. Wah, no way pak, ini persembahan orang untuk&lt;br /&gt;kesehatan bapak. He was not very happy, but nothing he could do, karena&lt;br /&gt;dulu dia sendiri yang memaksa agar rekening itu tetap dipegang PAU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa kaya nya Prof Samaun. Semua membantu beliau dengan diam-diam.&lt;br /&gt;Biaya obat dan masuk rumah sakit konon tahu beres. Sya tidak pernah&lt;br /&gt;tahu. Semua mencintai beliau. Semua meninggalkan rumah untuk melawat&lt;br /&gt;rumah duka. Semua sembunyi-sembunyi meneteskan air mata. Semua bertekad&lt;br /&gt;meneruskan cita-cita beliau. Ia menginginkan intan permata buat semua.&lt;br /&gt;Tapi, ia memberi contoh kekayaan yang sebenarnya. Ah, sang mahaguru,&lt;br /&gt;dari liang lahat sekalipun masih juga kami diajari....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar gembira. Pemakaman dipindah ke Taman Makan Pahlawan Kalibata! Ah,&lt;br /&gt;betapa senangnya hati ini. Akhirnya ada juga kebaikan bangsa ini kepada&lt;br /&gt;seorang mahaputera. Seperti biasa, saya tidak pernah tahu apa yang&lt;br /&gt;terjadi. Mesti ada yang menyayangi beliau dan diam-diam mengurusinya.&lt;br /&gt;Terimakasih. .. Terimakasih. ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ufuk barat awan kembali memerah... Dari kejauhan ia melambaikan&lt;br /&gt;tangannya. Balatentara melambaikan penghormatan pada panglima besar.&lt;br /&gt;Perang melawan kemiskinan belum selesai, tapi tugas panglima sudah&lt;br /&gt;selesai. Sang panglima sudah kembali menghadap Yang Maha Tinggi, tegap&lt;br /&gt;melaporkan pelaksanaan tugas-tugasnya di medan perang. Ah, Ia sudah&lt;br /&gt;menapaki puncak bersalju itu. Puncak kebesaran dalam kesahajaan. Ia&lt;br /&gt;sudah tiba di sana... panglima kita sudah tiba di sana...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa bilang Tuhan tidak mengasihi bangsa kita. Tuhan maha baik, telah&lt;br /&gt;mengirimkan pada kita seorang mahaguru. Tuhan sungguh baik. Selama 75&lt;br /&gt;tahun Ia memberikan pada bangsa ini seorang mahaputera yang mencintai&lt;br /&gt;bangsa ini sampai ke tulang sumsumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oktober 2004, prof Samaun tergesa-gesa mendatangani saya. Kamu punya&lt;br /&gt;eulogy untuk Prof. Kudrat bagus sekali. Aduh, dari matanya ia seperti&lt;br /&gt;bertanya: what are you going to write about me? Shut, I am trapped, nih.&lt;br /&gt;Betul kan, seminggu setelah beliau wafat, tidak ada yang bisa ditulis.&lt;br /&gt;Mau tulis apa? Wong konsentrasi kerja saja susah payah begini. Setiap&lt;br /&gt;kata pertama ditulis, pandangan jadi kabur karena airmata tidak mau&lt;br /&gt;kompromi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, saya kira yang bisa saya tulis untuk bapak adalah doa syukur,&lt;br /&gt;terimakasih Tuhan, karena kami sudah diberi Prof Samaun Samadikun.&lt;br /&gt;Terimakasih Tuhan, terimakasih. ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandung, 20 November 2006.&lt;br /&gt;AZRL&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-6052545957578282111?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/6052545957578282111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/mengenang-pak-samaun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6052545957578282111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6052545957578282111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/mengenang-pak-samaun.html' title='Mengenang Pak Samaun'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-8101484042529099228</id><published>2009-01-22T17:03:00.004+09:00</published><updated>2009-01-22T17:26:31.573+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Palestina'/><title type='text'>Yahudi vs Muslim</title><content type='html'>Beberapa fakta menarik terkait statistik Muslim dan yahudi di dunia. Saya dapatkan dari email seorang kenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;The figures are speaking themselves very loudly. We are unable to listen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Interesting facts. *&lt;br /&gt;         An eye opener - Comparison!&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;         Demographics:&lt;br /&gt;         World Jewish Population: 14.1 million&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;          Distribution:&lt;br /&gt;         7 M in America&lt;br /&gt;         5 M in Asia&lt;br /&gt;         2 M in Europe&lt;br /&gt;         100 thousand in Africa&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;          World Muslim Population: 1.5 billion&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;          Distribution:&lt;br /&gt;         1 billion in Asia/Mid-East&lt;br /&gt;         400 M in Africa&lt;br /&gt;         44 M in Europe&lt;br /&gt;         6 M in the Americas&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;          FACT: For every Jew there are 107 Muslims&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;          Yet, the 14 million Jews are more powerful than the entire 1.5 billion Muslims&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;          Why?&lt;br /&gt;          Here are some of the reasons:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Movers of Current History:&lt;br /&gt;         o  Albert Einstein (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Sigmund Freud (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Karl Marx (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Paul Samuelson (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Milton Friedman (Jewish)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medical Milestones:&lt;br /&gt;         o  Vaccinating Needle: Benjamin Ruben (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Polio Vaccine: Jonas Salk (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Leukaemia Drug: Gertrude Elion (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Hepatitis B: Baruch Blumberg (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Syphilis Drug: Paul Ehrlich (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Neuro muscular: Elie Metchnikoff (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Endocrinology: Andrew Schally (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Cognitive therapy: Aaron Beck (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Contraceptive Pill: Gregory Pincus (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Understanding of Human Eye: G. Wald (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Embryology: Stanley Cohen (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Kidney Dialysis: Willem Kloffcame (Jewish)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nobel Prize Winners:&lt;br /&gt;         In the past 105 years, 14 million Jews have won 180 Nobel prizes&lt;br /&gt;         whilst 1.5 billion Muslims have contributed only 3 Nobel winners&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inventions that changed History:&lt;br /&gt;         o  Micro- Processing Chip: Stanley Mezor (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Nuclear Chain Reactor: Leo Sziland (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Optical Fibre Cable: Peter Schultz (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Traffic Lights: Charles Adler (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Stainless Steel: Benno Strauss (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Sound Movies: Isador Kisee (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Telephone Microphone:  Emile Berliner (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Video Tape Recorder: Charles Ginsburg (Jewish)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Influential Global Business persons:&lt;br /&gt;         o  Polo: Ralph Lauren (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Coca Cola (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Levi's Jeans: Levi Strauss (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Sawbuck's: Howard Schultz (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Google: Sergey Brin (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Dell Computers: Michael Dell (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Oracle: Larry Ellison (Jewish)&lt;br /&gt;         o  DKNY: Donna Karan (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Baskin &amp;amp; Robbins: Irv Robbins (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Dunkin Donuts: Bill Rosenberg (Jewish)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Influential Intellectuals/ Politicians:&lt;br /&gt;         o  Henry Kissinger, US Sec of State (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Richard Levin, PresidentYaleUniver sity (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Alan Greenspan, US Federal Reserve (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Joseph Lieberman  (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Madeleine Albright, US Sec of State (Jewish)&lt;br /&gt;         o  CasperWeinberger, US Sec of Defence (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Maxim Litvinov, USSR Foreign Minister (Jewish)&lt;br /&gt;         o   DavidMarshal, Singapore Chief Minister (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Isaacs Isaacs, Gov-GenAustralia  (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Benjamin Disraeli, British Statesman (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Yevgeny Primakov, Russian PM  (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Barry Goldwater, US Politician (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Jorge Sampaio, President Portugal  (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Herb Gray, Canadian Deputy - PM  (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Pierre Mendes, French PM   (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Michael Howard, British Home Sec.  (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Bruno Kriesky, Austrian Chancellor  (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Robert Rubin, US Sec of Treasury  (Jewish)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Global Media Influential:&lt;br /&gt;         o  Wolf Blitzer,  CNN  (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Barbara Walters,   ABC News  (Jewish)&lt;br /&gt;         o   EugeneMeyer, Washington Post (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Henry Grunwald, Time Magazine  (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Katherine Graham, Washington Post  (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Joseph Lelyeld, New York Times  (Jewish)&lt;br /&gt;         o  Max Frankel, New York Times  (Jewish)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Global Philanthropists:&lt;br /&gt;         o George Soros  (Jewish)&lt;br /&gt;         o Walter Annenberg  (Jewish)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why are they powerful?   Why are Muslims powerless?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Here's another reason. We have lost the capacity to produce knowledge.&lt;br /&gt;         o  In the entire Muslim World (57 Muslim Countries) there are only 500 universities.&lt;br /&gt;         o  In USA alone, 5,758 universities&lt;br /&gt;         o  In India alone, 8,407 universities&lt;br /&gt;         o  Not one university in the entire Islamic World features in the Top 500 Ranking Universities of the World&lt;br /&gt;         o  Literacy in the Christian World  90%&lt;br /&gt;         o  Literacy in the Muslim World     40%&lt;br /&gt;         o  15 Christian majority-countries, literacy rate 100%&lt;br /&gt;         o  Muslim majority - countries ,  None&lt;br /&gt;         o  98% in Christian countries completed primary&lt;br /&gt;         o  Only 50% in Muslim countries completed primary.&lt;br /&gt;         o  40% in Christian countries attended university&lt;br /&gt;         o  In Muslim countries a dismal 2% attended.&lt;br /&gt;         o  Muslim majority countries have 230 scientists per one million Muslims&lt;br /&gt;         o  The USA has 5000 per million&lt;br /&gt;         o  The Christian world 1000 technicians per million.&lt;br /&gt;         o  Entire Arab World only 50 technicians per million.&lt;br /&gt;         o  Muslim World spends on research/developmen t 0.2% of GDP&lt;br /&gt;         o  Christian World spends 5 % of GDP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Conclusion:&lt;br /&gt;         o  The Muslim World lacks the capacity to produce knowledge&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another way of testing the degree of knowledge is the degree of diffusing knowledge.&lt;br /&gt;         o  Pakistan 23 daily newspapers per 1000 citizens&lt;br /&gt;         o  Singapore 460 per 1000 citizens&lt;br /&gt;         o  In UK book titles per million is 2000&lt;br /&gt;         o  In Egypt book titles per million is only 17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Conclusion:&lt;br /&gt;         o  Muslim World is failing to diffuse knowledge&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Applying Knowledge is another such test.&lt;br /&gt;         o  Exports of high tech products from   Pakistan is 0.9% of its exports&lt;br /&gt;         o  In Saudi Arabia is 0.2%&lt;br /&gt;         o  Kuwait , Morocco and Algeria 0.3%&lt;br /&gt;         o  Singapore alone is 68%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Conclusion:&lt;br /&gt;         Muslim World is failing to apply knowledge&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What do you conclude?   No need to tell. The figures are speaking themselves very loudly. We are unable to listen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Advice:&lt;br /&gt;Please educate yourself and your children. Always promote education, don't compromise on it, and don't ignore your children's slightest misguidance from education. We are the world's biggest and strongest nation, all we need is to identify and explore our ownselves. Our victory is with our knowledge, our creativity, our literacy... ....Wake up... It's not too late!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         The figures are speaking themselves very loudly. We are unable to listen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Extracts of speech by Hafez A.B Mohamed,&lt;br /&gt;Director-General, Al Baraka Bank.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-8101484042529099228?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/8101484042529099228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/yahudi-vs-muslim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/8101484042529099228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/8101484042529099228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/yahudi-vs-muslim.html' title='Yahudi vs Muslim'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-4991729632528001804</id><published>2009-01-21T21:22:00.004+09:00</published><updated>2009-01-21T21:49:15.021+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Beda tipis kesombongan dan percaya diri</title><content type='html'>Anda seseorang yang percaya diri? Sudahkah anda yakin bahwa sikap percaya diri itu tidak tergelincir menjadi sebuah kesombongan? Sebabnya, sangat tipis perbedaan antara sikap percaya diri dengan sombong. Seseorang yang sering berprestasi boleh jadi akan memiliki kepercayaan diri yang besar, namun dalam beberapa kesempatan tampak seperti sebagai melakukan kesombongan. Sikap percaya diri memang harus dimiliki setiap orang, yang merupakan kebalikan dari sikap inferior atau rendah diri, merasa diri tidak sebaik orang lain. Karenanya sikap yang muncul adalah kurangnya keyakinan dan hilangnya rasa takut karena menganggap diri ini kurang berkemampuan atau sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak berhati-hati, maka sikap percaya diri bisa berubah menjadi kesombongan. Saya rasa, ada beberapa indikasi bilamana kita telah jatuh kedalam kesombongan, meski awalnya hanya berupa sikap percaya diri. Sifat sombong muncul dikala kita merasa diri kita lebih dibandingkan orang lain. Manifestasinya bisa berupa sikap meremehkan orang lain, menganggap enteng pendapat dan masukan orang lain, keras kepala dengan pendapat pribadi. Inilah salah satu bahayanya bersifat sombong. Sulit untuk diingatkan dan dikembalikan kepada jalan yang benar tatkala melakukan kesalahan. Dia lebih memandang siapa orang yang berbicara dan jarang memperhatikan substansi pembicaraan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang percaya diri akan tetap memperhatikan setiap kritik, saran, dan masukan yang disampaikan kepadanya. Namun orang yang sombong, akan menganggap kritik dan saran sebagai bentuk ketidaksukaan orang kepadanya. Ungkapan-ungkapan, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ah..kamu aja yang sirik...&lt;/span&gt;" atau "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Emangnya kamu siapa...?&lt;/span&gt;" atau "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Siapa dulu dong,.. saya...&lt;/span&gt;" bisa menandakan sikap sombong mulai muncul dalam diri. Jika ada orang yang menasehati anda, jangan terlalu percaya diri, itu menandakan bahwa anda harus mulai mengevaluasi diri, jangan sampai anda melakukan sebuah kesalahan yang besar, karena Allah telah mengharamkan bau surga untuk tercium oleh seseorang yang ada dalam hatinya sikap sombong. Anda mungkin merasa tidak menyombongkan diri, tapi jika ungkapan dan nasihat itu muncul dari orang dekat anda, anda memang betul-betul harus bertaubat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menghindari rasa sombong? Menurut saya, salah satu caranya adalah dengan selalu membangkitkan kesadaran bahwa segala keberhasilan kita adalah sebuah anugerah dan tidak mungkin terjadi melainkan karena pertolongan Allah. Ini kuncinya. Dengan selalu menyadari betapa kita kecil dan tiada berarti dimata Allah, akan bisa menekan rasa kesombongan kita. Karenanya, jangan pernah merasa prestasi kita adalah hasil jerih payah kita semata. Bahkan kadang kala, kegagalan juga harus disyukuri, karena kegagalan merupakan salah satu peringatan Allah kepada kita untuk tetap jauh dari sikap sombong...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-4991729632528001804?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/4991729632528001804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/beda-tipis-kesombongan-dan-percaya-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4991729632528001804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4991729632528001804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/beda-tipis-kesombongan-dan-percaya-diri.html' title='Beda tipis kesombongan dan percaya diri'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-5892702984133401841</id><published>2009-01-20T19:44:00.003+09:00</published><updated>2009-01-20T19:59:26.338+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><title type='text'>Mendiknas keblinger...</title><content type='html'>Malam ini saya cukup terperangah ketika membaca sebuah berita di internet, bahwa Mendiknas Indonesia sangat pede untuk kembali menaikkan standar kelulusan UN di Indonesia. Saya kutipkan sedikit pernyataan mendiknas, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketika standarnya 5,25, yang tidak lulus juga sekitar 8 persen. Nampaknya, berapa pun yang saya pasang, yang tidak lulus sekitar itu. Yang penting membuat soal yang bagus dan menghasilkan lulusan yang bermutu.&lt;/span&gt;" (baca: http://www.detiknews.com/read/2009/01/20/172104/1071664/10/mendiknas-berapa-pun-yang-saya-pasang-yang-tak-lulus-8-persen )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pernyataan ngawur menurut saya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menteri keblinger.  &lt;/span&gt;Pernyataan BERAPA PUN memperlihatkan sebuah penarikan kesimpulan yang tidak mengindahkan kaidah ilmiah. Apakah jika dia pasang nilai standar kelulusan yang sama dengan tahun sebelumnya, ketidak lulusannya akan tetap 8 persen? Dimana buktinya bahwa dinas pendidikan menganggap menghasilkan lulusan bermutu itu penting, jika tingkat kelulusan saja tidak dimaknai secara betul?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan ngawur, atau bahkan memperlihatkan sebuah kemunafikan. Jangan-jangan dia hanya pura-pura tidak tahu bahwa besaran kelulusan itu sebagiannya adalah hasil permainan oknum tidak terpuji dinas pendidikan, yang hanya mementingkan reputasinya di mata atasan. Saya pernah mendengar penuturan beberapa kenalan, bahwa di sebagian daerah, masalah kelulusan sudah diatur sedemikian rupa secara terorganisir melibatkan dinas pendidikan,  dan tim sukses dari sekolah. Mulai yang berupa distribusi jawaban, sampai manipulasi hasil ujian. Yang terparah, seseorang yang seharusnya lulus bahkan sempat tidak diluluskan hanya karena ingin memenuhi target kelulusan sekitar 8 persen tadi. Apa yang salah jika tingkat kelulusan lebih tinggi dari rata-rata? Klo murid-murid tambah pinter kan seharusnya bangga? Betul-betul menyedihkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana masa depan bangsa ini jika para pengelola pendidikan dan gurunya sudah seperti ini?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-5892702984133401841?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/5892702984133401841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/mendiknas-keblinger.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/5892702984133401841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/5892702984133401841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/mendiknas-keblinger.html' title='Mendiknas keblinger...'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-3124038430958165941</id><published>2009-01-20T08:30:00.003+09:00</published><updated>2009-01-20T08:58:00.429+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Jangan pernah ragu kepada Allah</title><content type='html'>Saya benar-benar meyakini bahwa Allah Maha Kaya dan Maha Kasih terhadap makhluqNya. Berulang kali saya mengalami kejadian yang membuat saya merenung dan semakin menyadari, bahwa Allah benar-benar telah menetapkan rizqi bagi setiap hambaNya. Dan Allah seperti firmanNya dalam sebuah hadits qudsi, sesuai dengan persangkaan hambaNya. Jika kita meyakini kebesaran dan kasih sayang Allah, tiadalah keraguan bahwa pasti akan ada jalan sehingga Allah menunjukkan kasih sayangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dulu, disaat untuk pertama kalinya saya meminjamkan setengah uang tabungan saya yang tidak seberapa, karena saya baru saja mulai bekerja. Saya pinjamkan tabungan saya untuk seorang teman yang kesulitan membayar SPP semester pendek yang ingin dia ikuti, untuk dapat lulus tepat waktu. Hanya ukhuwah yang menjadi motivasi saya waktu itu. Dan dalam waktu singkat, Allah berkenan menunjukkan kebesaranNya. Dalam sebuah acara yang diadakan organisasi yang saya pimpin, awalnya kami terancam kerugian yang cukup besar karena kurangnya peserta. Tapi dengan kuasa Allah, dalam waktu singkat tidak lebih dari 3 hari terakhir menuju hari pelaksanaan, peserta yang mendaftar membengkak sehingga akhirnya kegiatan ini menghasilkan surplus yang cukup besar, sama dengan potensi kerugian yang kami perhitungkan sebelumnya. Saya sendiri langsung teringat dengan uang yang saya pinjamkan, dan hanya bisa bersyukur memuji Allah atas besarnya kasih sayang Allah pada kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti juga ketika saya hendak menikah dulu, saya persiapkan dengan menabung sejumlah uang untuk keperluan pernikahan. Kurang dari sebulan menjelang pernikahan saya, seorang sahabat yang juga hendak menikah menelpon menceritakan kesulitan keuangan yang dialaminya, bahwa walimahnya terancam batal karena pihak mertua yang seharusnya menanggung sebagian biaya, tidak dapat menyediakan dana yang dibutuhkan. Padahal undangan sudah disebar. Kembali saya meminjamkan sebagian besar tabungan saya yang saya persiapkan untuk pernikahan. Dan kembali Allah berkenan menunjukkan kasih sayangNya. Saya dipertemukan dengan keluarga mertua yang sangat baik, dan tidak berniat memberatkan calon menantunya dengan beban keuangan. Bahkan sedikit sumbangan yang saya siapkan pun ditolak. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Itu disimpan aja buat nanti ngontrak rumah&lt;/span&gt;," demikian kata mertua saya waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti juga ketika saya tidak mendapatkan beasiswa monbusho untuk program integrated master-doktor 4 tahun di Tokodai, ternyata kemudian saya mendapatkan beasiswa doktoral 3 tahun dari dikti, dan pada saat bersamaan saya tetap diterima untuk langsung memasuki program doktor di Tokodai. Artinya, waktu yang saya perlukan untuk menempuh pendidikan di Jepang setahun lebih pendek dibanding jika saya memperoleh beasiswa Monbusho. Belum lagi dengan status saya di Tokodai sebagai mahasiswa yang "bayar sendiri," memungkinkan saya untuk mencari sumber-sumber tunjangan keuangan lain, dan dengan bantuan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sensei&lt;/span&gt; yang sangat baik kepada saya, saya pun mendapatkan tambahan dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya bisa selalu merenungi kebesaran dan kasih sayang Allah selama ini kepada saya. Sungguh sebuah rencana indah yang telah Allah siapkan, dan saya sebagai hamba hanya bisa menjalaninya dengan penuh rasa syukur. Saya semakin yakin, bahwa dengan memiliki harapan dan keyakinan hanya kepada Allah, maka Dia tidak akan pernah mengecewakan kita. Ah... betapa sayangnya Allah kepada saya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-3124038430958165941?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/3124038430958165941/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/jangan-pernah-ragu-kepada-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3124038430958165941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3124038430958165941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/jangan-pernah-ragu-kepada-allah.html' title='Jangan pernah ragu kepada Allah'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-8528631535436464087</id><published>2009-01-19T10:45:00.005+09:00</published><updated>2009-01-19T11:22:47.309+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Kita kumpulan manusia biasa...</title><content type='html'>Diawal masa berinteraksi dengan sebuah gerakan dakwah, ada beberapa pesan yang sangat membekas dari beberapa sahabat saya. Ketika menerima pesan itu, rasanya tidak ada sesuatu yang istimewa. Tapi pengalaman dan interaksi saya ternyata membuktikan, pesan itu adalah salah satu pesan yang sangat pas diingat-ingat dan dijadikan pegangan dalam menumpang kereta dakwah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua pesan yang kali ini ingin saya bagi, yaitu bahwa &lt;em&gt;bergabung dengan gerakan dakwah bukanlah jaminan masuk surga.&lt;/em&gt; Selain itu,&lt;em&gt; kadang-kadang saudara kita yang sama-sama tergabung dalam gerakan ini akan menjadi ujian bagi kita. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dulu pernah saya mengalami satu fase dalam hidup dimana saya membenci gerakan dakwah yang sekarang saya berkecimpung di dalamnya. Permasalahannya sederhana. Saya melihat beberapa aktivis dakwah di sekitar saya yang me-representasi-kan gerakan dakwah ini terlihat begitu angkuh. Termasuk kepada saya. Seolah-olah orang lain yang berada diluar barisan mereka adalah golongan lain yang tidak cukup pantas dihargai sepenuhnya. Itu membuat saya menjauh dari kelompok aktivis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat berusaha mengaktualisasi diri dan nilai-nilai yang saya yakini. Saya pernah aktif dalam sebuah kelompok kesenian dan pecinta budaya. Awalnya saya cukup menikmati, sampai akhirnya nurani saya lambat laun mulai berontak, dan saya merasakan kegersangan dalam sanubari saya. Ada sebuah kekosongan. Ada bagian keinginan saya tidak terpenuhi, dan itu adalah keinginan untuk bermanfaat bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dengan perantaraan seorang sahabat lama, kembali saya berinteraksi dalam gerakan dakwah. Saya akui, memulainya kembali amatlah sulit. Saya bahkan seringkali merasa tersiksa setiap kali mengikuti pertemuan yang diselenggarakan dalam kerangka kegiatan dakwah itu. Tapi semua saya jalani. Saya tekan dalam-dalam rasa sakit itu, demi sebuah keyakinan dan tujuan yang sedang kembali saya bangun. Saya pegang erat sebuah pesan dari sahabat saya yang lain, bahwa untuk mampu menghayati dan memahami esensi sebuah barisan gerakan dakwah, tidak cukup hanya dengan mempelajari teori, dialog verbal, atau diskusi dan semacamnya. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kamu harus terjun, berjuang dan menjalaninya bersama-sama, sehingga nantinya akan bisa mengerti sendiri sepenuhnya tentang dakwah...&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, sudah lebih dari lima tahun saya bergabung kembali dalam barisan dakwah. Para aktivis '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;angkuh&lt;/span&gt;' itu juga masih ada. Anggapan eksklusif itu juga kadang masih disematkan pada diri kami. Tapi saya sadar sepenuhnya bahwa hal itu adalah sebuah riak dan dinamika dari sebuah gerakan. Mungkin diantara beberapa teman memang merasa dirinya lebih dibanding yang lain. Tapi mungkin pula ungkapan itu muncul dari orang lain yang memang angkuh dan memusuhi idealisme kami. Kita harus bijak dalam menakar dan menimbang-nimbang setiap persoalan. Karena kita adalah kumpulan manusia, pasti ada saja kesalahan dan ketidaksempurnaan yang terjadi. Namun tentunya kita harus mampu menilai, seberapa jauh perbaikan yang telah dan akan berhasil kita gulirkan. Bekerja keras untuk bekerja dan berkarya adalah lebih penting dari sekedar mencemooh dan berkomentar atas sebuah upaya yang dilakukan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terpenting adalah saya sudah dan selalu berusaha mengenal dan memahami tujuan hidup saya. Selanjutnya adalah memilih sebuah jalan menuju tujuan itu, dan mencoba konsisten untuk tetap berada di jalan menuju cita-cita itu. Selama ini adalah jalan yang saya anggap terbaik, maka yang harus saya lakukan hanyalah memberikan yang terbaik demi terus melangkah menuju tujuan itu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-8528631535436464087?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/8528631535436464087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/kita-kumpulan-manusia-biasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/8528631535436464087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/8528631535436464087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/kita-kumpulan-manusia-biasa.html' title='Kita kumpulan manusia biasa...'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-8779517938559647611</id><published>2009-01-18T21:06:00.002+09:00</published><updated>2009-01-19T10:22:53.993+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Karena kita seorang Muslim</title><content type='html'>Karena kita seorang Muslim,&lt;br /&gt;syahadah adalah ruh segala aktivitas kita,&lt;br /&gt;sholat fardhu adalah telaga rekreasi untuk melepas penat kita,&lt;br /&gt;shaum adalah wujud empati dan solidaritas kita,&lt;br /&gt;zakat adalah manifestasi cinta kasih kita pada sesama,&lt;br /&gt;dan Haji adalah persembahan cinta kita untuk Rabbul izzati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kita seorang Muslim,&lt;br /&gt;Allah dan RasulNya adalah kekasih utama kita,&lt;br /&gt;Al Qur'an dan sunnah Nabi adalah surat cinta kita,&lt;br /&gt;keheningan malam adalah saat bercinta melalui qiyam kita,&lt;br /&gt;dan kematian adalah saat perjumpaan kita dengan Kekasih Tercinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kita seorang Muslim,&lt;br /&gt;akhlaqul karimah adalah pakaian kita,&lt;br /&gt;dzikir dan nasihat adalah nyanyian kita,&lt;br /&gt;infaq dan sedekah adalah kebiasaan kita,&lt;br /&gt;dan prestasi adalah bahasa kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kita seorang Muslim,&lt;br /&gt;mencintai Muslim yang lain adalah jiwa kita,&lt;br /&gt;berdakwah adalah jalan hidup kita,&lt;br /&gt;menjaga izzah dihadapan kafir adalah semangat kita,&lt;br /&gt;dan membela Islam hingga syahid di jalanNya adalah dambaan kita&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-8779517938559647611?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/8779517938559647611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/karena-kita-seorang-muslim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/8779517938559647611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/8779517938559647611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/karena-kita-seorang-muslim.html' title='Karena kita seorang Muslim'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-3419512929747102476</id><published>2009-01-18T08:23:00.004+09:00</published><updated>2009-01-19T10:22:53.993+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Menguji keikhlasan</title><content type='html'>Tadi malam, saya berangkat ke Asakusa untuk menyampaikan ceramah dan materi pada suatu acara. Sampai disana, ternyata saya tidak menjumpai seorangpun, hanya ada anak-anak Malaysia yang berniat beritikaf di masjid itu. Segera setelah berhubungan dengan panitia, saya baru tahu bahwa saya melewatkan sebuah pemberitahuan lewat email yang dikirim sehari sebelumnya, bahwa acara itu dibatalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah.... awalnya, saya merasa aneh. Kecewa... ya saya akui ada sedikit rasa kecewa. Mengingat jarak yang saya tempuh menuju lokasi itu lumayan jauh, memerlukan perjalanan setidaknya satu setengah jam dari asrama saya. Namun saya segera banyak beristighfar dan menepis perasaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kabuura maqtan 'indaLLaahi an taquulu maa laa ta'maluun...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering menyampaikan topik tentang keikhlasan. Orang ikhlas tidak akan mudah kecewa dan mengeluh. Dan sekarang Allah kembali mengajarkan saya tentang arti sebuah keIkhlasan. Ikhlas adalah sebuah amalan hati. Orang lain tidak dapat menilai keikhlasan kita. Tapi kita selalu bisa menilai apakah kita ikhlas atau tidak, tentu saja jika nilai-nilai yang kita yakini adalah nilai-nilai yang bersih dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rabbani&lt;/span&gt; sehingga valid untuk mengukur keikhlasan diri kita. Dan sekarang, saya bisa menilai keikhlasan saya berdasar seberapa jauh saya kecewa terhadap kejadian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tunggu dulu, meskipun merupakan sebuah amalan hati, keikhlasan tetap saja dapat teramati dalam perilaku keseharian. Seorang pejabat yang istiqamah menjalankan tugas-tugasnya secara lurus tanpa korupsi, adalah perwujudan dari keikhlasannya. Seorang ustadz yang selalu bersemangat membagi ilmu tanpa peduli apakah dibayar atau tidak, atau tanpa peduli seberapa besar event tempat dia berbicara atau tidak, adalah perwujudan sebuah keikhlasan. Seperti juga kisah seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shahabiyah&lt;/span&gt; yang rela menikah dengan pemuda yang buruk rupa, karena hanya mencari ridha Allah. Atau seperti kisah Andi dalam film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kiamat Sudah Dekat&lt;/span&gt; yang rela Sarah menikah dengan orang lain, sebuah pengejawantahan keikhlasan sehingga akhirnya dia malah dinyatakan lulus dalam menguasai ilmu ikhlas...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-3419512929747102476?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/3419512929747102476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/menguji-keikhlasan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3419512929747102476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3419512929747102476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/menguji-keikhlasan.html' title='Menguji keikhlasan'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-5603672986341853530</id><published>2009-01-15T09:51:00.001+09:00</published><updated>2009-01-19T10:31:05.124+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Palestina'/><title type='text'>We will not go down in Gaza..</title><content type='html'>A blinding flash of white light&lt;br /&gt;            Lit up the sky over Gaza tonight&lt;br /&gt;            People running for cover&lt;br /&gt;            Not knowing whether they’re dead or alive&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            They came with their tanks and their planes&lt;br /&gt;            With ravaging fiery flames&lt;br /&gt;            And nothing remains&lt;br /&gt;            Just a voice rising up in the smoky haze&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            We will not go down&lt;br /&gt;            In the night, without a fight&lt;br /&gt;            You can burn up our mosques and our homes and our schools&lt;br /&gt;            But our spirit will never die&lt;br /&gt;            We will not go down&lt;br /&gt;            In Gaza tonight&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            Women and children alike&lt;br /&gt;            Murdered and massacred night after night&lt;br /&gt;            While the so-called leaders of countries afar&lt;br /&gt;            Debated on who’s wrong or right&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            But their powerless words were in vain&lt;br /&gt;            And the bombs fell down like acid rain&lt;br /&gt;            But through the tears and the blood and the pain&lt;br /&gt;            You can still hear that voice through the smoky haze&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            We will not go down&lt;br /&gt;            In the night, without a fight&lt;br /&gt;            You can burn up our mosques and our homes and our schools&lt;br /&gt;            But our spirit will never die&lt;br /&gt;            We will not go down&lt;br /&gt;            In Gaza tonight&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;             (Composed by Michael Heart)&lt;br /&gt;             Copyright 2009&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="425" height="344"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/dlfhoU66s4Y&amp;hl=en&amp;fs=1"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="false"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/dlfhoU66s4Y&amp;hl=en&amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-5603672986341853530?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/5603672986341853530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/we-will-not-go-down-in-gaza.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/5603672986341853530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/5603672986341853530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/we-will-not-go-down-in-gaza.html' title='We will not go down in Gaza..'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-502072247530259224</id><published>2009-01-11T15:35:00.003+09:00</published><updated>2009-01-19T10:15:07.226+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Persiapan sebelum menikah</title><content type='html'>Mempersiapkan pernikahan adalah salah satu topik yang saya menaruh perhatian&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt; di dalamnya. Saya bahkan membuat tulisan tentang menikah tanpa pacaran, yang saat ini sedang menunggu untuk diterbitkan. Saya ingin sedikit membahas satu persiapan yang kadang dilewatkan oleh para ikhwan/akhwat yang akan menikah dengan perantaraan, apakah dengan ustadz, teman, atau siapapun, dengan model tukar-menukar biodata, taaruf, khitbah, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa diskusi dan pengalaman terkait proses menuju pernikahan, satu hal yang sering dilupakan adalah mengkondisikan keluarga sebelum memulai proses. Sebagian menganggap bahwa hal itu bisa dilakukan setelah proses taaruf dan ada kecocokan diantara ikhwan/akhwat. Jika keluarga tidak mempermasalahkan dan setuju dengan pilihan yang ada, di pihak ikhwan maupun akhwat, ya tidak ada masalah. Yang dikhawatirkan adalah jika proses terhenti pada tahap melanjutkan ke komunikasi antar keluarga. Rasanya proses-proses yang telah dilalui sebelumnya menjadi tidak berguna, padahal biasanya juga sudah menyita tenaga, waktu, terutama perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa masalah yang timbul biasanya terkait ijin orang tua untuk menikah, terkait dengan kerelaan orang tua melepas anak untuk menikah, juga kesiapan orang tua terkait dalam prosesi pernikahan. Hal lain yang biasa menjadi sumber permasalahan adalah kriteria calon istri atau suami yang diharapkan. Biasanya orang tua memiliki keinginan dan kriteria tersendiri tentang calon menantu yang mereka harapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa minta ijin itu perlu? Bagi seorang wanita, meminta ijin menikah itu mutlak diperlukan. Syarat pernikahan yang sah adalah seorang wali, dan wali yang paling berhak adalah ayah dari seorang wanita. Bagaimana untuk seorang laki-laki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita boleh saja menganggap bahwa keputusan menikah adalah urusan seorang lelaki yang sudah dewasa dan mandiri. Orang tua tidak akan mendapat pengaruh terlalu besar terkait dengan siapa kita menikah. Saya bilang, pendapat ini benar tapi salah. Benar bahwa kita (suami) yang bertanggung jawab pada keluarga, anak dan istri kita. Bukan orang tua kita. Tapi jika dilihat konteksnya, pernyataan itu adalah sebuah bentuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;over confidence&lt;/span&gt; seorang lelaki untuk membina rumah tangga. Bukan keluarga orang tua yang akan banyak terpengaruh oleh masalah dengan siapa kita menikah, namun keluarga kita yang akan banyak terpengaruh oleh bagaimana penerimaan orang tua kita terhadap pernikahan kita. Kecuali jika anda adalah orang yang benar-benar individualis dan tidak pernah ambil pusing dengan pendapat orang akan diri anda. Tapi cukuplah anda mengingat bahwa bakti seorang anak lelaki kepada orang tua tidak terputus oleh pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk juga masalah kriteria. Bisa jadi kriteria yang diberikan orang tua itu tidak sesuai dengan idealisme kita. Materialistis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kek&lt;/span&gt;, terlalu memandang bibit, bebet, bobot &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kek&lt;/span&gt;, masalah kesukuan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kek&lt;/span&gt;, tapi itu semua sangat layak kita pertimbangkan. Anda jangan menyalahkan orang tua atas idealisme mereka yang berbeda, karena dengan menyalahkan mereka, berarti yang salah adalah anda sendiri. Anda gagal untuk memperbaiki idealisme orang tua anda, jika memang idealisme anda yang betul. Atau bisa jadi anda tidak memahami latar belakang pengalaman, motivasi, atau filosofi kriteria itu. Intinya, jangan sok pintar dan menggurui orang tua anda. Memulai sebuah langkah baru, sebuah ikatan baru berumah tangga yang diniatkan untuk kebaikan, tidak perlu sampai mengorbankan dan merusak hubungan yang sudah terjalin antara seorang anak dan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengkondisikan keluarga sebelum memulai proses ini penting, karena di Indonesia, selain keterlibatan mutlak keluarga akhwat dalam proses pernikahannya, juga banyak keluarga akhwat yang mensyaratkan keterlibatan keluarga (dan orang tua) calon suami dalam proses pernikahan.  Sebagaimana saya singgung di depan, memang bisa saja itu dilakukan setelah ada kesepakatan antara ikhwan-akhwat yang akan saling menikahi. Tapi jika timbul kesulitan atau lebih buruk penentangan, akan menjadi awal yang kurang baik untuk kelanjutan proses pernikahan itu. Jauh lebih baik jika semua hal diatas sudah dijelaskan dan diselesaikan ketika memulai proses, untuk meminimalisir kemungkinan adanya hambatan dari pihak keluarga. Belum lagi masalah lain yang timbul karena semakin lamanya jeda waktu antara taaruf dan kesepakatan antara ikhwan-akhwat dengan saat akad nikah itu sendiri, seperti kemungkinan timbulnya fitnah pada tenggang waktu tersebut. Ini bisa berbentuk hubungan dan komunikasi yang terlalu sering dan berlebihan antara ikhwan-akhwat yang belum lagi halal satu dengan yang lain, dan mungkin diperparah dengan munculnya perasaan suka dan menaruh hati &amp;amp; harapan diantara keduanya. Padahal keduanya belum lagi pasti akan menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memulai proses taaruf, anda yang berniat menikah akan memiliki waktu yang panjang dan cukup untuk berbicara dan berdiskusi dengan keluarga dan utamanya orang tua, untuk meminta ijin, berbicara dari heti ke hati tentang keinginan masing-masing, termasuk berdakwah dan mengkondisikan keluarga sehingga proses menuju pernikahan akan berlangsung dengan lancar dan membawa barakah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-502072247530259224?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/502072247530259224/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/persiapan-sebelum-menikah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/502072247530259224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/502072247530259224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/persiapan-sebelum-menikah.html' title='Persiapan sebelum menikah'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-7996717962733463336</id><published>2009-01-07T17:39:00.004+09:00</published><updated>2009-01-19T10:31:05.125+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Palestina'/><title type='text'>Mengapa kita membela Palestina</title><content type='html'>Maaf agak panjang, tapi worthed koq buat dibaca. Tulisan teman saya di jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;========&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 1945&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit gelap. Bukan oleh awan yang hendak menurunkan hujan. Angkasa dipenuhi pesawat sekutu yang bergemuruh. Di dalamnya, para serdadu masih menyisakan keangkuhan. Mereka baru saja menghancurkan pasukan Jepang di Front Pasifik. Dari langit, mereka menebar ancaman: "menyerah, atau hancur".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pekan sebelumnya, pengibaran bendera Belanda memicu amarah para perindu kemerdekaan. Seorang pejuang mencabik warna biru dari bendera Belanda di Tunjungan, menggemakan pesan bahwa negeri ini tak rela kembali dijajah. Tentara sekutu menjawab dengan salakan senapan, bersembunyi di balik alasan "memulihkan perdamaian dan ketertiban". Jiwa-jiwa merdeka itu berontak. Brigadier Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris di Surabaya, terbunuh. Sekutu murka. Rakyat gelisah. Surabaya telah lama dikenal sebagai salah satu pusat perlawanan. Laskar-laskar dari berbagai pesantren dan daerah banyak yang menjadikan kota ini sebagai markas. Di kota ini pulalah, Cokroaminoto dan Soekarno muda mendiskusikan cita-cita kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara dari lelaki kurus itu menghapus semua keraguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saudara-saudara rakyat Surabaya. Bersiaplah! Keadaan genting. Tetapi saya peringatkan sekali lagi. Jangan mulai menembak. Baru kalau kita ditembak. Maka kita akan ganti menyerang mereka itu. Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan untuk kita saudara-saudara. Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.&lt;br /&gt;Semboyan kita tetap. Merdeka atau mati. Dan kita yakin, Saudara-saudara. Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita. Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.&lt;br /&gt;Percayalah Saudara-saudara! Tuhan akan melindungi kita sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Merdeka!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya itu akan terus dikenang sebagai tonggak kemerdekaan Indonesia. Semua yang mengaku mencintai negeri ini tidak layak untuk menjadikan peristiwa itu berdebu di pojokan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaza, peralihan tahun 2008-2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota padat berpenduduk sekitar 1,5 juta orang –mayoritas pengungsi akibat pengusiran biadab Israel sejak tahun 1948, 1967, dan ekspansi ilegal pemukiman yahudi yang tak pernah menghormati perjanjian yang dibuatnya sendiri- itu mencekam. Sejak 27 Desember 2008, pesawat-pesawat Israel yang dilengkapi dengan bom-bom terbaru kiriman Washington  membombardir kota ini. Ehud Barak, Menteri Pertahanan Israel, menyatakan bahwa operasi berjudul "Cast Lead" ini akan memakan waktu lama. Hingga hari ini, 510 orang telah meninggal dunia dan ribuan luka-luka. Tidak ada jurnalis diizinkan masuk. Bantuan medis pun kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demonstrasi bergolak dari Jakarta sampai Eropa. Dari Jordania hingga Amerika. Posko bantuan dibuka di mana-mana, meskipun masih sangat kurang dibandingkan kebutuhan penduduk Gaza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati saya sakit saat ada yang berkata: "Ngapain kita ngurusin Palestina, wong negeri kita saja masih amburadul".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita tidak melupakan sejarah bahwa Al-Hajj Amin Al Husaini, Mufti Palestina, adalah orang pertama yang menyiarkan kemerdekaan Indonesia di radio internasional. Alasan yang sepintas terlihat nasionalis ini adalah pengkhianatan kejam pada nasionalisme Indonesia itu sendiri. Preambule Undang-undang Dasar 1945 mendeklarasikan dengan jelas perlawanan pada segala bentuk penjajahan. Soekarno dan Hatta berkali-kali menandaskan bahwa nasionalisme Indonesia tumbuh di taman kemanusiaan. "Jangan pikirkan hal lain kecuali Indonesia" adalah logika yang menghina keindonesiaan. Hati saya lebih sakit lagi saat ada yang mengatakan "Itu kan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai dan menembakkan roket! Media di Indonesia terlalu berpihak pada Palestina, nih…gak berimbang!" Lalu, yang berimbang itu seperti apa? Seperti media massa Barat yang lebih menyalahkan HAMAS, menyiarkan propaganda Israel bahwa serangan ini adalah respon dari tindakan HAMAS menyerang Israel, menyalahkan sikap HAMAS yang memutus gencatan senjata? Sepertinya kita harus menelaah peringatan Finkelstein, seorang ilmuwan Yahudi, dalam bukunya Beyond Chutzpah: On the Misuse of Anti-Semitism and Abuse of History dan Image and Reality of Israel-Palestinian Conflict. Sejarah telah dibajak untuk tidak pernah mengkritisi Israel dan media massa pun tidak bebas dari pembajakan ini. Untuk melihat bias media barat dalam isu Palestina, silakan buka www.ifamericansknew .org .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, menurut saya, media di Indonesia masih terlalu berpihak pada Israel. Tidak ada yang  menyebutkan fakta bahwa pemutusan gencatan bersenjata oleh HAMAS itu didahului oleh surat protes gerakan perlawanan itu atas terbunuhnya 4 orang petani di Gaza oleh tentara Israel. Tidak ada yang mengingatkan bahwa Israel terus melanggar perjanjian damai yang disepakatinya sendiri dengan membiarkan pemukiman ilegal terus tumbuh. Kita juga tak boleh lupa dengan tembok pemisah apartheid Israel yang memutus akses rakyat Palestina pada kebutuhan vital kehidupan. Belum lagi blokade Gaza yang lebih kejam dari Blokade Berlin pada masa Perang Dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu kan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai…" Sampaikan pernyataan itu pada Bung&lt;br /&gt;Tomo dan para pendiri negeri ini. Alhamdulillah, para pendiri negeri ini menolak iming-iming perdamaian palsu di bawah ketiak Ratu Belanda. Soekarno bahkan menantang: "Ini dadaku, mana dadamu!" Kalau kita menggunakan logika yang sama, berarti kita mendukung Agresi Militer Belanda pada tahun 1948. "Itu kan salah para pejuang kemerdekaan Indonesia yang tidak mau damai!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak yang mengingatkan bahwa Israel berdiri dengan berkubang darah pembersihan etnis yang menghalalkan pembantaian dan pengusiran terhadap penduduk asli Palestina (Ilan Pappe: The Ethnic Cleansing of Palestine ). Komunitas Yahudi yang hidup dalam perdamaian di bawah Khilafah Utsmaniyah tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan saudara-saudara mereka yang mengungsi dari kebiadaban Eropa dan membawa ide rasis radikal untuk mendirikan Israel (Amy Dockser Marcus, Jerusalem 1913). Bayangkan, komunitas yahudi saat itu yang sekecil komunitas muslim di Swedia saat ini tiba-tiba menuntut Negara sendiri dengan luas wilayah yang melebihi luas wilayah penduduk aslinya. Kalau muslim di Swedia tiba-tiba menuntut mendirikan Negara Islam, mereka pasti segera dicokok dan dilabeli teroris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memori pembantaian ini dihapus dari sejarah dunia dan dari kesadaran rakyat Israel. Pada saat yang bersamaan, kenangan pahit ini terus hidup di antara rakyat Palestina. Maka, sangat sulit bagi orang Palestina untuk menerima perdamaian yang tidak pernah berpihak pada mereka, lha wong keberadaan Israel saja tidak legal! Wajar jika popularitas HAMAS semakin lama justru semakin meningkat. Indonesia saat itu tegas tidak mengakui Israel karena melihat fakta ini. Sayang, kini banyak yang sudah lupa. Banyak yang terjebak dalam narasi fiktif "Israel yang cinta damai terancam keberadaannya oleh HAMAS yang ekstrimis yang tidak mau damai".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun kita harus menerima fakta bahwa berdasarkan hukum rimba Israel itu eksis, tidak berarti bahwa kita berhak menyalahkan mereka yang menghendaki perdamaian sejati yang lahir dari kemerdekaan. Saya mendukung proses perdamaian, tapi harus dengan dialog yang adil dan terbuka yang melibatkan HAMAS sebagai kekuatan riil di Timur Tengah. Tidak sekedar perjanjian sepihak yang dibuat AS dan Israel lalu dipaksakan pada Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemanusiaan. Keindonesiaan. Islam. Ketiganya memaksa saya berpihak pada yang lemah dan tertindas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"If you stand for nothing, you will fall for anything"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malcolm X&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-7996717962733463336?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/7996717962733463336/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/mengapa-kita-membela-palestina.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/7996717962733463336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/7996717962733463336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/mengapa-kita-membela-palestina.html' title='Mengapa kita membela Palestina'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-9119875616787192468</id><published>2009-01-05T18:19:00.002+09:00</published><updated>2009-01-19T10:22:53.994+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Yas we can...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yas we can&lt;/span&gt;... mungkin anda lebih mengenalnya sebagai slogan kampanye Barrack Obama. Tapi itu adalah inspirasi baru yang saya temukan sore ini. Sehabis mengikuti sidang terbuka disertasi teman saya seorang Prancis, Ben, saya ngobrol dengannya. Awalnya, saya menanyakan hal-hal biasa, tentang berapa paper yang sudah dia bikin, tentang bagaimana awalnya dia mengerjakan Ph.D, dan hal-hal semacamnya. Tapi pembicaraan menjadi sangat menarik ketika dia menceritakan tentang seorang alumni lab berkebangsaan India, namanya Manoharan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bercerita kepada Ben, bahwa saya mengalami sedikit kesulitan memulai Ph.D saya. Saya merasa kesulitan dengan keterbatasan penguasaan bahasa Jepang saya, juga kesulitan berinteraksi dengan orang-orang di lab. Ben kemudian bercerita tentang seorang Manoharan. Seorang yang datang dari India, sama sekali tidak mampu berbahasa Jepang dan tidak memiliki pengalaman dalam fabrikasi semikonduktor. Luar biasa. Semua dipelajarinya, mulai bagaimana mengoperasikan alat-alat (Yang semua manualnya dalam bahasa Jepang), sampai melakukan eksperimen dan penelitian. Semua dilakukannya sendiri, hingga dia berhasil membuat 4 paper internasional. Bahkan dia bisa membuat manual-manual penggunaan peralatan di lab dalam bahasa Inggris. Yang paling luar biasa, semuanya dilakukan dalam waktu 3 tahun saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sungguh menginspirasi saya. Saya merasa saya punya sedikit kelebihan dibanding Manoharan ketika dia memulai Ph.D-nya. Sebagian dasar fabrikasi dan pemrosesan semikonduktor sudah saya kuasai. Saya tidak sedang menyombongkan diri, tapi di lab saya di ITB, pada saat berangkat ke Jepang, mungkin saya termasuk yang paling jago dalam hal proses IC. Kalahnya mungkin sama Mang Ayub saja he..he... Tapi dia kan memiliki 3 tahun lebih banyak jam terbang dibandingkan saya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, saya semakin yakin, saya pasti bisa... Saya harus lebih bersemangat lagi dalam mengerjakan kegiatan saya selanjutnya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-9119875616787192468?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/9119875616787192468/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/yas-we-can.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/9119875616787192468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/9119875616787192468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/yas-we-can.html' title='Yas we can...'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-6177384293913004575</id><published>2009-01-04T07:43:00.002+09:00</published><updated>2009-01-19T10:22:53.995+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Bersyukur (lagi) sebagai orang Indonesia...</title><content type='html'>Ini tulisan saya menyambung posting sebelumnya dengan judul yang sama. Setelah membaca posting yang kemarin, saya tidak ingin Anda menyangka bahwa saya menyukai kondisi Indonesia yang serba terpuruk, dan tidak berharap untuk suatu kondisi yang lebih baik. Saya jelas tidak menyukainya. Saya hanya mencoba mensyukuri. Sangat berbeda antara menyukai dengan mensyukuri. Keduanya bisa muncul bersamaan, rasa suka dan syukur, atau muncul sendiri-sendiri. Orang yang bersyukur, akan bisa menikmati sesuatu yang disyukurinya, meski sebenarnya dia mengaharap sesuatu yang lain. Orang yang menyukai, bisa jadi tidak bersyukur, seperti orang yang diuji Allah dengan nikmat harta, namun membelanjakan hartanya di jalan yang dimurkai Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya mencoba mengajak untuk memandang dari paradigma yang positif. Saya akan menceritakan sesuatu yang lebih pribadi sifatnya, tapi semoga bisa memberi inspirasi. Dalam perjalanan hidup saya, saya merasa bahwa biasanya saya bisa lebih berkontribusi pada suatu lembaga, organisasi, atau komunitas apapun yang bersifat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;belum establish.&lt;/span&gt; Saya pernah berkecimpung dalam banyak aktivitas sosial. Dalam organisasi, gerakan keagamaan, dan juga yayasan. Saya koq merasa lebih berguna berada dalam organisasi yang baru dibentuk dan belum berkembang. Saya selalu merasa bisa mengaktualisasi diri di sana. Memang saya akui, ada banyak pengorbanan yang harus diberikan. Mungkin ada banyak sisi kenyamanan kita yang terusik. Tapi saya suka memulai sesuatu yang baru. Saya jadi bisa bebas bereksperimen dengan segala rencana dan konsepsi saya dengan komunitas yang baru terbentuk itu. Dan saya jadi bisa lebih banyak belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klo dilihat dari sudut pandang Indonesia, Indonesia dengan masyarakatnya yang sangat majemuk dan dinamis memberikan banyak peluang kepada kita untuk memilih cara kita berkontribusi. Anda ingin menjadi pengusaha, maka ada begitu banyak peluang bisnis yang bisa dicoba. Ada yang ingin menjadi birokrat yang baik, maka ada banyak sisi buruk sistem birokrasi kita yang menunggu untuk dibenahi, lengkap dengan berbagai tipe manusia (birokrat lain) dan bermacam kepentingan siap menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sparing partner &lt;/span&gt;anda. Anda juga bisa menjadi akademisi, karena Indonesia sangat kaya dengan potensi sumber daya manusia yang cerdas yang tidak kalah dengan sumber daya negara maju seperti Jepang sekalipun, namun tidak berkembang karena tidak tersentuh atau hanya terhambat oleh keterbatasan yang ada. Namun, saya kurang tahu apakah para pekerja atau karyawan bisa berbuat banyak membuat perubahan... Jalannya terlalu panjang untuk memiliki cukup pengaruh dan kekuatan yang memberi efek bagi orang banyak. Itulah mengapa menjadi karyawan adalah pilihan terakhir saya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bersyukurlah juga karena anda masih punya banyak peluang untuk berkontribusi dan memberi arti bagi sebuah perkembangan kemanusiaan yang ada di Indonesia...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-6177384293913004575?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/6177384293913004575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/bersyukur-lagi-sebagai-orang-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6177384293913004575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6177384293913004575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/bersyukur-lagi-sebagai-orang-indonesia.html' title='Bersyukur (lagi) sebagai orang Indonesia...'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-8436231654915170391</id><published>2009-01-03T16:11:00.002+09:00</published><updated>2009-01-19T10:22:53.995+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Menatap esok lebih baik</title><content type='html'>Ini posting pertama saya di tahun 2009. Di tengah rasa sedih mendalam memikirkan nasib saudara-saudara seiman di Palestina, sambil menyesali diri yang hanya bisa membantu melalui sejumput doa dan infaq yang tidak seberapa. Semoga Allah berkenan segera memberikan kemenangan bagi kaum Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun baru 2009, kebetulan hanya berselang 4 hari setelah tahun baru hijriyah 1430. Saya merasakan berjuta harapan dalam menatap hari esok. Berharap segala sesuatunya lebih baik. Kondisi menjadi lebih baik, dan yang paling penting, bahwa saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik di mata Allah dan di mata manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pergantian tahun, saya selalu ingat sebuah sabda Baginda Rasulullah SAW, bahwa barang siapa yang hari esoknya lebih baik dari hari sebelumnya, dia termasuk orang beruntung. Barang siapa yang hari esok sama saja dengan hari sebelumnya, dia termasuk orang yang merugi. Dan celakalah orang yang hari esoknya lebih buruk dari hari sebelumnya. Harapan untuk mendapatkan esok yang lebih baik, itulah yang selalu mewarnai hidup saya. Dan harapan itu hanya dapat digantungkan pada Allah semata...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-8436231654915170391?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/8436231654915170391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/menatap-esok-lebih-baik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/8436231654915170391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/8436231654915170391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2009/01/menatap-esok-lebih-baik.html' title='Menatap esok lebih baik'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-4069116972481221372</id><published>2008-12-30T23:15:00.002+09:00</published><updated>2009-01-19T10:24:55.305+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Palestina'/><title type='text'>Ayo boikot amerika dan israel</title><content type='html'>&lt;p&gt;     &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;"&gt;       &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;         Ini adalah daftar produk-produk perusahaan amerika yang secara langsung atau tidak langsung mendanai israel laknatuLLah alaihim:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Restoran:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;KFC&lt;br /&gt;Arbys&lt;br /&gt;McDonalds&lt;br /&gt;McBurger&lt;br /&gt;Pizza Hut&lt;br /&gt;Chilies&lt;br /&gt;Hardees&lt;br /&gt;Paridies&lt;br /&gt;Pizza Little Sitzer&lt;br /&gt;Jack in the Box&lt;br /&gt;A&amp;amp;W&lt;br /&gt;Kantez&lt;br /&gt;Baskin Robbins&lt;br /&gt;Wimpy&lt;br /&gt;Dominos Pizza&lt;br /&gt;Texas&lt;br /&gt;Slizer &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;blockquote&gt;     &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;"&gt;       &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;       &lt;/span&gt;     &lt;/span&gt;        &lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;- Pepsi dan anak perusahaannya: Mirinda dan 7up&lt;br /&gt;- Coca-Cola dan anak perusahannya: Sprite dan Fanta &lt;/span&gt;       &lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;   &lt;blockquote&gt;     &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;"&gt;       &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;       &lt;/span&gt;     &lt;/span&gt;        &lt;/blockquote&gt;   &lt;p&gt;     &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;"&gt;       &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;         Produk Hanes and Crystal: Mayonnaise, Kecap&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;California Garden and Warner &amp;amp; Lambert&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;T-Shirt, Sepatu: Semua baju dan sepatu merk Nike (pernah tertulis kata "Allah" dalam sebuah produknya), Adidas, Kate dan Calvin Klein&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan Listrik : Power, Union Air, Clifinitour , Admiral, Harmony, Alaska, Duncan, Motorola, Alcatel.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;Baterei: Everydy, Energizer dan Doorsill&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil: Ford, Chrysler, Hammer, Chevrolet, Puck&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Semua produk General Electric&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan-Perusahaan AS yang mendanai Zionisme Internasional:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;A &amp;amp; M FOODS&lt;br /&gt;A &amp;amp; W BRANDS&lt;br /&gt;A. CAMACHO, INC .&lt;br /&gt;A. ZEREGA'S SONS&lt;br /&gt;A. PANZA &amp;amp; SONS&lt;br /&gt;A.E. STALEY MANUFACTURING COMPANY&lt;br /&gt;A.J. ALTMAN&lt;br /&gt;A.L. BAZZINI CO&lt;br /&gt;A ARHUS, INC&lt;br /&gt;ABBA AB BEIJER COMPANY&lt;br /&gt;ABCO LABORATORIES&lt;br /&gt;ABEL &amp;amp; SCHAFER&lt;br /&gt;ABELES &amp;amp; HEYMANN&lt;br /&gt;ABRAHAM'S NATURAL FOOD&lt;br /&gt;ACCRU PAC GROUP&lt;br /&gt;ACE BAKING CO .&lt;br /&gt;ACIME SMOKED FISH CORP&lt;br /&gt;ADAMS VEG. OILS&lt;br /&gt;ADAM MILLING&lt;br /&gt;ADRIENNE'S GOURMET FOODS&lt;br /&gt;ADVANCED SPICE &amp;amp; TRADING&lt;br /&gt;AG PROCESSING&lt;br /&gt;AGRO FOODS&lt;br /&gt;AIR PRODUCTS &amp;amp; CHEMICALS,INC&lt;br /&gt;AJINOMOTO, U.S.A&lt;br /&gt;AK PHARMA, INC&lt;br /&gt;AKZO &amp;amp; PACIFIC OLEOCHEMICALS&lt;br /&gt;ALBERTO-CULVER COMPANY&lt;br /&gt;ALBRIGHT &amp;amp; WILSON CO .&lt;br /&gt;ALCAN FOIL PRODUCTS&lt;br /&gt;ALEX FRIES &amp;amp; BROS .&lt;br /&gt;ALGOOD FOOD COMPANY&lt;br /&gt;ALL STAR FOODS&lt;br /&gt;ALLE PROCESSING&lt;br /&gt;LLEN FOOD PRODUCTS&lt;br /&gt;ALLFRESH FOOD PRODUCTS&lt;br /&gt;ALLIED CUSTOM GYPSUM COMPANY&lt;br /&gt;ALLIED FOOD DISTRIBUTORS&lt;br /&gt;ALLTECH&lt;br /&gt;ALEO FARMS&lt;br /&gt;ALTA DENA&lt;br /&gt;ALUMAX FOILS &lt;/span&gt;       &lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;   &lt;blockquote&gt;     &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;"&gt;       &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;       &lt;/span&gt;     &lt;/span&gt;        &lt;/blockquote&gt;        &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;"&gt;       &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;         &lt;b&gt;Bahan-bahan Kimia dan pembersih:&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;         1. PT. Procter and Gamble (memproduksi: Oloiez, Pampers, Ferry, Downy, Ariel, Tide, Head and Shoulder, Pantene, Camay, Zeset, Mack Factor, Carmen)&lt;br /&gt;2. PT. Johnson &amp;amp; Johnson (memproduksi: Shower to Shower, Cream Johnson�)&lt;br /&gt;3. Nectar&lt;br /&gt;4. Avon&lt;br /&gt;5. Revlon&lt;br /&gt;6. Gardena&lt;br /&gt;7. Pasta gigi Corset&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat Tulis: Bulpen merk Shiver, Parker dan Hear&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank Amerika: Bank America International, American Express, Bank of America, Bank of New York&lt;br /&gt;Lain-lain: Rokok AS seperti: Marlboro, Kant, Janstown, Lark, Merit, Gold Cost, Carlton, LM, More.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-4069116972481221372?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/4069116972481221372/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/ayo-boikot-amerika-dan-israel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4069116972481221372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4069116972481221372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/ayo-boikot-amerika-dan-israel.html' title='Ayo boikot amerika dan israel'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-4901838247125197274</id><published>2008-12-30T17:57:00.004+09:00</published><updated>2009-01-19T10:22:53.996+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Bersyukur sebagai orang Indonesia</title><content type='html'>Hari ini, saya membaca artikel tulisan Ust Yusuf Mansyur yang dikirimkan seorang teman. Isinya tentang demikian terpuruknya Indonesia di mata dunia. Terpuruk reputasinya, juga terpuruk nilai mata uangnya. Sedemikian burukkah..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 bulan tinggal di Jepang yang bagi saya menggambarkan kehidupan di negara maju, justru memberikan banyak alasan kepada saya untuk bersyukur menjadi orang Indonesia. Salah satunya, saya bersyukur karena Indonesia adalah negara berkembang. Artinya, harapan Indonesia untuk terus memperbaiki kehidupan dan kesejahteraannya masih terbuka lebar. Perekonomian Indonesia masih mungkin tumbuh dan terus tumbuh. Dan harapan akan masa depan yang lebih baik ini merupakan sumber motivasi yang sangat penting bagi bangsa Indonesia, sehingga lebih giat bekerja menggapai cita-citanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat isi prinsip ekonomi kedua yang saya pelajari sewaktu duduk di kelas 1 SMP, yang menyatakan bahwa tingkat kepuasan dari sebuah kebutuhan akan berkurang jika kebutuhan itu telah terpenuhi. Makanan akan terasa sangat nikmat di mulut orang yang kelaparan. Tapi makanan yang sama, boleh jadi merupakan makanan yang membosankan dan tidak mendatangkan selera makan bagi orang yang kenyang, atau sudah terbiasa menyantapnya. Kemajuan dan peningkatan kesejahteraan akan lebih membahagiakan bagi bangsa yang baru beranjak dari keterpurukannya, seperti Indonesia. Saya senang bahwa rakyat Indonesia akan tetap berbahagia untuk waktu yang lama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kemajuan sudah mendekati garis asimtot, yang hadir selanjutnya adalah kejenuhan. Ketika kemakmuran dan kesejahteraan sudah ditangan, yang hadir adalah kebingungan. Ini sudah beberapa kali saya ungkapkan dalam beberapa tulisan saya di blog ini sebelumnya. Beberapa orang yang mengalami kejenuhan dan kebingungan yang luar biasa, bahkan melakukan tindakan-tindakan yang sulit diterima dengan akal sehat. Seperti seorang laki-laki yang menusuk para pejalanan kaki di Akihabara beberapa tahun yang lalu, hingga menyebabkan beberapa orang terbunuh. Alasannya sungguh mengejutkan, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saya sangat bosan dengan hidup saya...&lt;/span&gt;"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-4901838247125197274?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/4901838247125197274/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/bersyukur-sebagai-orang-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4901838247125197274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4901838247125197274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/bersyukur-sebagai-orang-indonesia.html' title='Bersyukur sebagai orang Indonesia'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-6005440622197269994</id><published>2008-12-28T14:36:00.002+09:00</published><updated>2009-01-19T10:22:53.996+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Melihat kedalam...</title><content type='html'>Ada sebuah filosofi sederhana yang diajarkan Bapak saya. Saya yakin kita semua juga sering mendengarnya. Sebagai manusia hendaknya kita lebih banyak melihat diri kita dan melakukan mawas diri, berusaha mengevaluasi kekurangan diri sendiri dari pada sibuk mencari kesalahan orang lain. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bapak tidak pernah mengingat-ingat kesalahan orang lain, tapi Bapak selalu mengingat perbuatan baik yang pernah dilakukan orang lain,&lt;/span&gt;" demikian pernah dikatakan Bapak pada suatu hari. Sederhana memang. Tapi tampaknya sulit dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini saya begitu banyak menemukan orang yang lebih banyak menimpakan kesalahan kepada orang atau pihak lain, atas suatu kesulitan atau kegagalan yang mereka rasakan.  Memang iya sih, dalam beberapa kasus kesusahan, kegagalan, atau penderitaan yang kita alami juga atas peran orang lain. Tapi hanya berfokus pada kesalahan orang lain, tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik, dan kita tidak akan pernah belajar dari kekurangan dan kesalahan kita. Sebuah evaluasi yang baik selalu menganalisis hambatan dan gangguan yang datang dari luar, juga kesalahan dan kekurangan yang diri sendiri lakukan. Langkah selanjutnya tentu saja memperbaiki diri agar tidak melakukan kesalahan dan kekurangan yang sama, serta bagai mana bertindak agar selanjutnya diri sendiri juga lebih resisten terhadap hambatan dan gangguan yang datang dari pihak yang lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-6005440622197269994?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/6005440622197269994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/melihat-kedalam.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6005440622197269994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/6005440622197269994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/melihat-kedalam.html' title='Melihat kedalam...'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-4779668657113962860</id><published>2008-12-28T08:05:00.003+09:00</published><updated>2009-01-19T10:24:55.306+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Palestina'/><title type='text'>Untuk Saudaraku Muslimin Palestina..</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SVa1Edv0uuI/AAAAAAAAAE0/kPK1vinl3ls/s1600-h/qunut1.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 151px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SVa1Edv0uuI/AAAAAAAAAE0/kPK1vinl3ls/s400/qunut1.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284610301075176162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SVa1AkXcbII/AAAAAAAAAEs/V5G1-opyLIc/s1600-h/qunut2.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 190px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SVa1AkXcbII/AAAAAAAAAEs/V5G1-opyLIc/s400/qunut2.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284610234132491394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SVa08_p1HKI/AAAAAAAAAEk/_8S_ZOC7jmk/s1600-h/qunut3.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 199px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SVa08_p1HKI/AAAAAAAAAEk/_8S_ZOC7jmk/s400/qunut3.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284610172737887394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-4779668657113962860?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/4779668657113962860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/untuk-saudaraku-muslimin-palestina.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4779668657113962860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4779668657113962860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/untuk-saudaraku-muslimin-palestina.html' title='Untuk Saudaraku Muslimin Palestina..'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SVa1Edv0uuI/AAAAAAAAAE0/kPK1vinl3ls/s72-c/qunut1.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-7533845716601875965</id><published>2008-12-26T12:00:00.005+09:00</published><updated>2009-01-19T10:22:53.996+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Cinta dan pengorbanan</title><content type='html'>Berkorban untuk orang lain, saya definisikan sebagai mengalahkan kepentingan pribadi untuk kepentingan orang lain, sehingga diri sendiri harus menanggung suatu kondisi yang lebih sulit atau tidak nyaman, dibandingkan jika pengorbanan itu tidak dilakukan. Mengaitkan cinta dengan pengorbanan, saya jadi teringat dengan ungkapan Sujiwo Tejo, seorang seniman Indonesia, bahwa tidak ada pengorbanan untuk cinta. Tapi saya ingin mengubah ungkapan itu menjadi, 'Kita harus mau berkorban demi cinta, namun tiada pengorbanan bagi sebuah cinta yang tulus.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta yang tulus? Ya. Maksud saya cinta yang paripurna. Ketika kita sudah menganggap kepentingan orang atau sesuatu yang kita cintai sebagai kepentingan kita sendiri. Saat itu, tiada lagi pengorbanan. Bahkan sesuatu yang dimata orang lain sebagai sebuah pengorbanan, malah menjadi sesuatu yang membahagiakan, bagi seseorang yang melakukannya demi cinta yang tulus. Seperti kebahagiaan seorang ibu ketika melahirkan bayinya, segala kesusahan yang terasa selama 9 bulan sebelumnya terhapus sudah. Seperti kebahagiaan istri saya ketika saya senang, bergembira, dan berbahagia ketika menikmati masakannya. Juga seperti bahagianya ibu saya yang melihat anak-anaknya bergembira menikmati masakan Ibu ketika pulang ke Solo, meski untuk itu beliau di usianya yang cukup tua harus bersusah payah berbelanja, meracik bumbu, dan mengolah masakan sehingga acap kali kecapekan. Seperti kebahagian seorang Muslimah mengenakan jilbab, meski kaum feminis menganggapnya sebagai suatu bentuk ketertindasan. Seperti kebahagiaan seorang Muslim sejati tatkala menghadapi kematiannya sebagai syuhada...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa membedakan cinta yang tulus dengan yang biasa? Karena buat saya cinta itu bukan sesuatu yang diskrit. Cinta bisa berkurang dan bisa bertambah. Kita bisa belajar untuk mencintai. Cinta juga bisa dibina, ditumbuhkan, dan dirawat. Cinta yang tulus adalah bentuk cinta yang sudah tumbuh berkembang secara sempurna. Tugas kitalah untuk selalu menjaga cinta kita senantiasa tulus kita berikan kepada yang kita cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bagi anda yang mulai menghitung-hitung pengorbanan apa saja yang telah anda berikan kepada orang yang menurut anda sedang anda cintai, mungkin itu tanda bahwa ketulusan cinta anda sedang berkurang...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-7533845716601875965?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/7533845716601875965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/cinta-dan-pengorbanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/7533845716601875965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/7533845716601875965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/cinta-dan-pengorbanan.html' title='Cinta dan pengorbanan'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-3273552639164327166</id><published>2008-12-22T21:40:00.003+09:00</published><updated>2009-01-19T10:17:06.728+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>PMS</title><content type='html'>Saya habis berdiskusi dengan istri saya tentang satu hal baru yang harus dimengerti oleh seorang suami yang baru menikah. Hal itu adalah tentang kedatangan 'tamu bulanan' seorang akhwat yang biasanya diawali dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pre-menstrual syndrome &lt;/span&gt;(PMS). Seorang wanita yang hendak mengalami datang bulan, akan mengalami perubahan kondisi kejiwaan, yang biasanya berupa perubahan negatif dalam kondisi psikologis dan mood-nya. Ini alamiah, tapi saya tidak tahu mengapa, yang jelas saya mengalaminya sendiri. Disaat-saat tertentu, emosi istri saya kadang-kadang seperti tidak terkendali. Jika sebagai suami nggak sabar, atau memahami kondisi, bisa-bisa berlanjut pada pertengkaran dan membawa rasa sakit hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cuma ingin membagi tips buat para suami dan istri yang lain, terutama mereka yang baru menikah. Buat para istri, jika anda merasa sedang mengalami PMS, saya mohon beritahukanlah hal itu pada suami. Tentu saja pada saat sebelumnya saat mood anda sedang bagus dan anda sedang mesra-mesranya dengan suami, anda harus menjelaskan dulu tentang PMS ini kepada suami. Jadi anda cukup berkata pada suami, bahwa anda sedang PMS. Kalau suami anda mengerti, hal ini akan jauh lebih memudahkan anda berdua melewati PMS ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini saya buktikan sendiri. Beberapa hari yang lalu, istri saya secara terus terang bilang bahwa dia sedang malas ngobrol dengan saya, karena mood-nya sedang jelek pas PMS. Saya langsung mengerti dan sama sekali tidak tersinggung dengan keberatan istri saya untuk berbicara. Dan semuanya lebih baik dari sebelumnya. Cukup sehari-dua hari kami tidak berkomunikasi intens, selanjutnya sudah seperti biasa, karena istri saya sudah bisa mengendalikan emosinya. Tidak ada ketersinggungan atau letupan sedikitpun, jauh berbeda dengan yang kami alami sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anda para suami, saat-saat istri mengalami PMS adalah saat untuk menyingkirkan ego, dan saatnya menunjukkan kecintaan yang tulus pada istri dengan rasa memahami dan berempati pada kondisinya. Jika istri anda tidak mau ngobrol, ya biarkan dia sejenak menghabiskan waktunya sendiri. Seperti istri saya kemarin, cara yang dipilihnya untuk memperbaiki emosinya adalah dengan mendengarkan tilawah/murattal Qur'an. Saya pikir itu cara yang sangat bagus. Bisa saja istri anda menghabiskan waktu dengan mengerjakan hobi atau aktivitas lain yang disukainya. Paling jauh anda perlu menemaninya ngobrol atau jalan-jalan, jika itu yang diinginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa para istri harus memberitahu suaminya saat dia mengalami PMS? Jawabannya adalah karena para suami tidak pernah datang bulan apalagi mengalami PMS! Buat para istri, jangan terlalu berharap suami anda langsung bisa mengerti dan selalu bertingkah manis saat anda mengalami PMS. Anda para istri mungkin tidak menyadari betapa anehnya (jika tidak bisa dibilang menyebalkan) sikap anda saat mengalami PMS...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-3273552639164327166?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/3273552639164327166/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/pms.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3273552639164327166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3273552639164327166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/pms.html' title='PMS'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-707690157689139888</id><published>2008-12-21T02:51:00.003+09:00</published><updated>2009-01-19T10:22:53.997+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Akhirat itulah yang hakiki</title><content type='html'>Ketika saya menghafal kembali surat Al Haqqah sembari membaca artinya, ada sesuatu yang menggugah saya, dan semoga menambah keimanan saya. Disini, kembali Allah SWT menampilkan kisah orang yang tidak memiliki keimanan dan memiliki persepsi yang salah tentang hakikat hidup, yang semua berpangkal dari tiadanya keimanan kepada Allah. Ujungnya diantaranya adalah persepsi yang salah tentang kematian. Ya... sebagian orang menganggap bahwa kematian adalah akhir segalanya. Padahal keyakinan itu adalah salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wahai... kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu...&lt;/span&gt;" Sebuah ungkapan dari manusia yang hanya bisa menyesali keadaannya di akhirat. Menyangka bahwa semua urusan dari kehidupannya di dunia akan selesai setelah mati. Kesadaran itu muncul ternyata sudah terlambat. Dan ini dimulakan oleh tiadanya keimanan dalam diri mereka. Sebagaimana Allah mengisahkan dalam surat Al Haqqah, bahwasannya orang-orang yang itu tiada beriman. Mereka mendustakan adanya hari akhir (Seperti kisah kaum tsamud, aad, dan firaun), dan juga tidak berbuat baik diantara sesama manusia. Pada akhirnya hanya kehinaan yang dirasakan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-707690157689139888?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/707690157689139888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/akhirat-itulah-yang-hakiki.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/707690157689139888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/707690157689139888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/akhirat-itulah-yang-hakiki.html' title='Akhirat itulah yang hakiki'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-9192377805533861749</id><published>2008-12-18T14:00:00.002+09:00</published><updated>2009-01-19T10:22:53.997+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Berinteraksi dengan Islam</title><content type='html'>Ini adalah pointer materi yang saya siapkan untuk kajian Midori 19 Desember 2008. Silakan membaca, semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;================================================================&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berinteraksi dengan Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Interaksi pribadi dengan Islam yang paripurna menghasilkan pribadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rabbani&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sibghah&lt;/span&gt; Allah: QS 2:138), yaitu pribadi yang berinteraksi dengan sempurna dengan Islam dan seolah-olah menjadi satu kesatuan (Hadits Aisyah tentang akhlaq Rasulullah SAW).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dasar interaksi ini adalah keimanan yang bersih dan menyelamatkan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saliimul Aqidah&lt;/span&gt;) yang mencakup mulai pemahaman yang betul tentang pokok-pokok keimanan (Hadits tentang Islam, iman, dan ihsan), pemahaman yang paripurna tentang kesempurnaan Islam (QS 34:28; 5:3), serta kesediaan untuk menerima dan melaksanakan syariat Islam seutuhnya (QS 2:208; 49:14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Proses interaksi dengan Islam dilakukan dalam berbagai aspek kemanusiaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Akal, adalah dengan melengkapi ilmu dan pengetahuan tentang Islam, sebagai salah satu sumber motivasi dalam mencintai Allah (QS 17:36). Lihat juga kisah Ibrahim AS dalam mengenal Allah (QS 2:260; QS 6:75-79).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Hati, adalah dengan memupuk iman dan rasa cinta (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mahabbah&lt;/span&gt;) kepada Allah, sehingga muncul penerimaan sempurna pada syariat Allah. Pada puncaknya, ilmu (akal) dan perasaan (hati) menumbuhkan keyakinan dan tekad (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;azzam&lt;/span&gt;) yang kuat dalam mengejar ridha Allah (QS 3:173, 160)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Jasmani, adalah dengan adanya keterlibatan fisik (amal) dalam interaksi dengan Islam (QS 3:146).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ketiga aspek di atas, harus berjalan dengan beriringan, dalam arti suatu amal ibadah dan amal shalih lainnya harus dilandasi dengan ilmu tentang syariat amal tersebut dan dibalut dengan kemauan dan keimanan dalam rangka mengejawantahkan rasa cinta seseorang kepada Allah Penciptanya (QS 3:146).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Perjalanan interaksi dengan Islam bukanlah sebuah proses instan, melainkan suatu proses bertahap dan berkelanjutan sebagaimana Rasulullah dengan bimbingan Allah telah membina dan membentuk generasi sahabat (QS 17:106), juga dalam pengharaman &lt;span style="font-style: italic;"&gt;khamr&lt;/span&gt; (QS 2:219 → 4:43 → 5:90-91). Juga karena tantangan dan godaan itu akan berlangsung sepanjang hayat yang menyebabkan naik turunnya keimanan (QS 48:4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Dalam proses interaksi dengan Islam juga diperlukan interaksi dengan Muslim yang lain, termasuk dalam rangka saling mengajarkan dan memberikan nasihat (QS 2:151; 3:79; 62:2). Dari sinilah muncul pula kebutuhan untuk berinteraksi dengan Islam dalam aspek &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ukhuwwah&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Kesimpulannya, pembentukan pribadi rabbani hanya bisa di capai dengan proses pendidikan rabbani berkelanjutan yang memadukan keempat aspek tersebut (Akal, perasaan, jasmani, dan sosial) secara lengkap&amp;amp;sempurna (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tarbiyah Islamiyah istimrariyah mutakammilah&lt;/span&gt;), dan dilakukan secara seimbang (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tawazun&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a'lamu bishshawaab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-9192377805533861749?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/9192377805533861749/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/berinteraksi-dengan-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/9192377805533861749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/9192377805533861749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/berinteraksi-dengan-islam.html' title='Berinteraksi dengan Islam'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-2331213981390990663</id><published>2008-12-16T13:52:00.002+09:00</published><updated>2009-01-19T10:22:53.997+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Orang lain sebagai cermin diri kita</title><content type='html'>Ada sebuah ungkapan menarik yang saya dengar dari Tukul Arwana, bahwasannya memperlakukan orang lain itu layaknya kita sedang bercermin. Jika ingin melihat sosok yang menyenangkan, enak dipandang, dan full senyum didalam cermin, kita juga harus tampil menyenangkan, enak dipandang, dan juga full senyum. Maksudnya, dalam berhubungan dengan orang lain, kita ingin mendapatkan hubungan balik yang menyenangkan, keramahan, dan senyuman, maka kita pun harus bersikap menyenangkan, ramah, dan memberikan senyuman terlebih dahulu. Manusia sudah diberikan fitrah untuk condong kepada kebaikan, sehingga ketika diperlakukan baik akan memberikan balasan yang baik pula. Demikian pula sebaliknya. Kurang ramahnya atau kurang bersahabatnya sikap orang lain kepada kita bisa jadi disebabkan karena kurang baik dan kurang bersahabatnya sikap kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya menjadi lain jika ternyata orang yang kita hadapi memang memiliki sifat dan perangai yang buruk. Orang seperti ini selalu memberikan sikap yang tercela dan tidak bersahabat kepada orang lain, walau sebaik apapun sikap orang itu kepadanya. Layaknya sebuah cermin buram yang tertutup jelaga dan kotoran, selalu menampilkan sosok yang kelabu ketika kita menggunakannya bercermin. Yang harus kita lakukan adalah mencuci dan membersihkan cermin itu, sehingga bersih mengkilap dan kembali dapat menampilkan sosok yang dihadapinya apa adanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-2331213981390990663?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/2331213981390990663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/orang-lain-sebagai-cermin-diri-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2331213981390990663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2331213981390990663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/orang-lain-sebagai-cermin-diri-kita.html' title='Orang lain sebagai cermin diri kita'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-2330276000463536648</id><published>2008-12-15T10:16:00.004+09:00</published><updated>2009-01-19T10:22:53.998+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Lakukan apa yang kita bisa...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SUWxa94-G7I/AAAAAAAAADk/sgEaGkZDghY/s1600-h/Abu+trika.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 306px; height: 268px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SUWxa94-G7I/AAAAAAAAADk/sgEaGkZDghY/s320/Abu+trika.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279821215010003890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Masih senada dengan posting saya yang terakhir sebelumnya, iman kita buktikan dengan melakukan tindakan atau amal sekecil apapun. Lihatlah seorang Abu Trika, striker kenamaan Mesir. Profesinya sebagai pemain sepak bola profesional tidak menghalangi dirinya untuk tetap memperhatikan nasib saudara-saudaranya seiman di Palestina. Bahkan, untuk aksinya Abu Trika mendapatkan kartu kuning dan harus membayar sejumlah denda kepada penyelenggara pertandingan. Bahkan kemudian menyusul peringatan dari Federasi Sepakbola Afrika atas tindakan tersebut. Sungguh aneh karena ketika seorang pemain Ghana mengibarkan bendera Israel di ajang world cup 2006, baik FIFA atau lembaga yang lain tidak bereaksi apapun atas kejadian itu. Ternyata tindakan Abu Trika juga mengundang simpati dari rakyat Mesir. Sebagian besar masyarakat Mesir pecinta sepak bola bahkan menyatakan kesediaannya menyumbang untuk membayar denda yang harus dibayar Abu Trika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, bukan hanya disitu aksi Abu Trika. Dia bersama anggota Timnas Mesir lainnya memperkenalkan sujud syukur seorang Muslim kepada komunitas internasional. Setelah menerima piala dari Presiden Federasi Sepakbola Afrika, Abu Trika dan teman-temannya kembali ke lapangan, membentuk barisan, dan bersama-sama melakukan sujud syukur. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa tindakan itu menjadi pintu hidayah bagi beberapa anggota timnas satu negara afrika lain menuju Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar rakyat Mesir mungkin bersimpati atas penderitaan saudara Muslimnya di Gaza. Dan Abu Trika telah memberitahukan ke dunia, adanya bencana kemanusiaan yang terjadi di Gaza dan Palestina. Juga sikap rakyat Mesir dan simpati mereka. Tanpa mengurangi profesionalisme dalam aktifitas mereka sehari-hari, setidaknya orang-orang ini layak kita jadikan referensi dalam bagaimana kita bisa berbuat nyata untuk sesuatu yang kita yakini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-2330276000463536648?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/2330276000463536648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/lakukan-apa-yang-kita-bisa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2330276000463536648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2330276000463536648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/lakukan-apa-yang-kita-bisa.html' title='Lakukan apa yang kita bisa...'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SUWxa94-G7I/AAAAAAAAADk/sgEaGkZDghY/s72-c/Abu+trika.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-7791336052495488363</id><published>2008-12-14T07:35:00.003+09:00</published><updated>2009-01-19T10:22:53.998+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Golput indikasi lemahnya iman?</title><content type='html'>Rasulullah SAW dalam haditsnya menyatakan bahwa kita harus mencegah kemungkaran dengan tangan atau kekuasaan, jika tidak mampu dengan lisan, dan jika masih tidak mampu dengan hati/doa. Cara terakhir hanya dilakukan oleh mereka yang lemah iman. Lantas, apakah semua yang beramal dengan hati imannya lemah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak. Mengapa? Karena jika memang demikian, Rasulullah SAW-pun bisa dikategorikan lemah iman, padahal itu sesuatu yang tidak mungkin. Ketika keluarga Yasir &lt;span style="font-style: italic;"&gt;radhiyallahu anhum&lt;/span&gt; mendapat penyiksaan demikian berat, beliau juga hanya bisa mendoakan mereka. "Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya Allah menjanjikan surga bagi kalian..." hanya itu ungkapan Beliau SAW ditengah kesedihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada satu yang beda. Ditengah "hanya" doa dan empati yang bisa Beliau panjatkan, kita semua sudah mengetahui betapa besar dan terencana upaya Rasulullah SAW untuk menolong keluarga-keluarga yasir yang lain yang akan ada. Siang-malam dakwah yang dilakukannya, ditengah bimbingan dari Yang Maha Pandai, perlahan namun pasti Islam itu berkembang dan akhirnya mampu memimpin dan melindungi seluruh umatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilu, layaknya sebuah kesempatan beramal buat kita, meski nampaknya kebanyakan kita hanya memiliki dua pilihan. Ikut (amalan lisan) atau tidak ikut (amalan hati). Kecuali jika ada yang menganggap bahwa tidak ikut/golput tapi "lantang" bersuara itu sebagai sebuah amalan lisan (termasuk mengajak golput), meski seberapa lantang dan seberapa besar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;impact&lt;/span&gt; yang muncul yang mengarah pada kebaikan itu harus dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golput, bisa jadi diantara indikasi lemahnya iman, jika dibarengi dengan sikap berpangku tangan dan ketidak-mauan untuk berbuat. Mau atau tidak mau, itu amalan hati. Hanya Allah yang mengetahui, dan saya tidak mungkin menghakimi. Golput memang sebuah pilihan, namun setiap pilihan harus didasari motivasi dan alasan yang kuat, sebagaimana Rasulullah SAW ketika memilih untuk "hanya" mendoakan keluarga Yasir. Apakah Rasulullah tidak cukup harta sehingga tidak bisa melakukan seperti apa yang dilakukan Abu Bakar terhadap Billal ketika disiksa oleh Umayyah? Saya yakin tidak demikian, tapi yang sebenarnya hanya Allah yang tahu. Kita hanya bisa menyimpulkan bahwa upaya Rasulullah lebih banyak menyelematkan yasir yang lain, dibanding Abu Bakar yang hanya menyelamatkan Bilal seorang. Pun begitu, kita semua juga mengenal kiprah Abu Bakar dalam dakwah Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah mengapa, saya termasuk tidak setuju dengan pengharaman golput secara umum. Tapi saya setuju golput haram bagi mereka yang tidak punya pilihan lain yang bisa diperbuat untuk memperbaiki negeri ini, dan memiliki kemauan untuk melakukannya. Allah jua yang Maha Tahu akan isi hati siapapun yang golput, demikian juga hanya Allah yang Maha Tahu isi hati orang-orang yang berada di posisi yang berlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi setidaknya bagi mereka yang melakukan sesuatu, pasti didasari karena adanya sebuah harapan. Manusia tidak ada yang suci kecuali para Nabi dan Rasul yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ma'shum&lt;/span&gt;, mungkin ada kekurangan ditengah upayanya beramal shaleh. Namun setidaknya ada resultan yang positif kearah kebaikan dari upayanya, untuk sedikit melangkah kepada harapan yang baik itu. Jika kita sudah tidak ada harapan alias berputus asa, itu bukan saja indikasi iman yang lemah, tapi sudah menjadi indikasi hilangnya keimanan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita tunjukkan amalan-amalan nyata terbaik kita...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-7791336052495488363?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/7791336052495488363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/golput-indikasi-lemahnya-iman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/7791336052495488363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/7791336052495488363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/golput-indikasi-lemahnya-iman.html' title='Golput indikasi lemahnya iman?'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-9120850680654310730</id><published>2008-12-02T14:09:00.009+09:00</published><updated>2009-01-19T10:24:01.068+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Jepang'/><title type='text'>Welcome winter</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/STTEBWEBqxI/AAAAAAAAADc/FrP58S5jo3w/s1600-h/Fall+Okayama+Campus.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 180px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/STTEBWEBqxI/AAAAAAAAADc/FrP58S5jo3w/s320/Fall+Okayama+Campus.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275056590939073298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/STTD6-HIPRI/AAAAAAAAADU/y7BGM3BMIVE/s1600-h/Fall+Aobadai.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 180px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/STTD6-HIPRI/AAAAAAAAADU/y7BGM3BMIVE/s320/Fall+Aobadai.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275056481430420754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Musim gugur hampir usai. Suhu sudah semakin dingin dan sering kali dibawah 10 derajat celcius sekarang. Hanya mengenakan jaket sudah tidak cukup lagi. Untuk tidur nyenyak pun harus dibantu dengan menyalakan pemanas di kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun-daun sudah menguning, memerah dan kemudian berguguran. Gambar ini adalah suasana di jalan yang setiap hari saya lewati ketika menuju lab tempat saya menempuh studi. Disebelah kiri adalah suasana jalan di kampus Tokodai Ookayama, dan sebelah kanan adalah di jalan dari asrama menuju stasiun Aobadai. Indahnya, membawa pesan datangnya musim dingin yang begitu dingin, yang pertama akan saya rasakan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-9120850680654310730?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/9120850680654310730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/welcome-winter.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/9120850680654310730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/9120850680654310730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/12/welcome-winter.html' title='Welcome winter'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/STTEBWEBqxI/AAAAAAAAADc/FrP58S5jo3w/s72-c/Fall+Okayama+Campus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-8824784246136752773</id><published>2008-11-14T05:32:00.003+09:00</published><updated>2009-01-19T10:22:53.998+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Seandainya semua muslim bersatu</title><content type='html'>Kemarin, untuk kesekian kalinya kembali saya bertemu kenalan saya yang orang Iran itu. Kebetulan namanya sama dengan nama saya: Muhammad Amin. Cuma beda ujungnya, karena dia Muhammad Amin Rahimian. Tapi ada sedikit yang berbeda saat pertemuan kemarin, dia tersenyum sangat ramah kepada saya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu senyumnya disebabkan perbincangan kami dua hari sebelumnya. Saat itu di musholla, saya sedang menunggu waktu isya sekitar jam 6, ketika saya lihat dia wudhu dan menjalankan sholat tanpa ngajak saya. Saya bertanya, 'Are you just having isha pray?' Jawabannya kok mengejutkan, 'No, I just have maghrib pray.' Trus saya bilang,, 'Lho, ini kan udah waktu isya?' Dia jawab lagi 'Saya syiah. Kami boleh melakukan sholat maghrib antara jam 5 sampai jam 7'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syiah. Saya nggak membayangkan suatu saat bertemu dan ngobrol dengan seorang syiah dari negeri dengan penganutnya yang terbesar. Kemudian kita ngobrol, tentang Iran, juga tentang ahmadinejad, tentang posisi minyak bagi Iran, tentang bahasa Arab, Inggris, dan Persia bagi rakyat Iran, sampai juga masalah syiah, termasuk kaitannya dengan sistem politik Iran. Kami juga ngobrol tentang beberapa kesamaan dalam ajaran syiah dan sunni. Bahwa kami juga menghargai ahlul bait. Bahwa ada juga konsep imam mahdi, dsb. Dia agak surprise saat tahu bahwa saya cukup tahu tentang syiah. Dia bilang bahwa sangat sedikit menemui orang lain yang mengerti tentang syiah. Bahkan dia gembira bahwa saya mengenal Hassan dan Hussein RA, dan mengerti tantang konsep 12 imam syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang agak mengejutkan saya, adalah saat ada seorang temen kebangsaan Arab saudi datang. Sontak dia melirihkan suaranya, dan bersikap seolah sedang tidak terjadi apa-apa. Ketika kemudian saya tanya ada apa, dia memberi tanda gerakan memotong leher... Ah, ternyata permusuhan itu memang nyata... Dia bilang, eh bukan saya yang mengajak lho, tapi kamu yang duluan mengajak saya ngobrol... Sampai kemudian ketika kami bertemu kemarin, saya mengerti bahwa sikap bersahabat saya demikian berarti buat dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, saya tahu tentang penyimpangan syiah. Saya juga tidak sedang berusaha membela atau menonjolkan satu sisi baik orang syiah. Tapi jika dengan orang-orang nasrani, atheis, juga budha saya menjalin hubungan baik (di lab dan di kampus umpamanya), tentu dengan syiah saya juga tidak antipati. Kan mereka lebih dekat kepada keyakinan saya dari pada yang saya sebutkan sebelumnya. Saya cuma berusaha meresapi indahnya jika kita mengedepankan persamaan kita, dan tidak fokus pada perbedaan dan kebencian. Walaupun kita tetap harus mengerti batasan pergaulan, termasuk dengan  syiah, sampai kemarin saya bilang padanya, "Please, don't get angry or feel disturbed if we (sunni) don't accept you as a prayer's imam..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya prihatin, bisa nggak ya umat Islam yang mengaku ahli sunnah wal jamaah ini (saja) bersatu dan tidak mengedepankan perbedaan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-8824784246136752773?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/8824784246136752773/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/11/seandainya-semua-muslim-bersatu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/8824784246136752773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/8824784246136752773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/11/seandainya-semua-muslim-bersatu.html' title='Seandainya semua muslim bersatu'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-2964142056964116635</id><published>2008-11-13T14:26:00.002+09:00</published><updated>2009-01-19T10:26:49.935+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Maju Tak Gentar Membela Yang Bayar...</title><content type='html'>Itulah judul salah satu artikel Kompas kemarin (baca http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/12/13033261/maju.tak.gentar.membela.yang.bayar), bercerita tentang pragmatisme rakyat kecil terhadap pemilu. Rakyat miskin digambarkan sudah tidak percaya lagi pada janji-janji politisi, sehingga memilih berpikir praktis untuk mendukung mana yang memberikan benefit yang instan menjelang pemilu. Saya percaya, ada banyak koq rakyat miskin yang masih memiliki harga diri dan hati nurani, tapi seberapa dominankah? Ditambah dengan segala keterbatasan informasi bagi sebagian besar rakyat Indonesia, semakin lengkaplah kelemahan rakyat kecil sehingga selalu hanya menjadi target kekuasaan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya hipotesis sederhana, yang mungkin sama juga dipikirkan oleh anda. Partai/politisi yang mengandalkan kekuatan uang, lebih spesifik lagi mengandalkan politik uang dalam mencapai kekuasaan (Bagi-bagi uang, sembako), mengandalkan artis dan hiburan murahan untuk menggalang massa, dan yang gemar melakukan fitnah dan black campaign pada rivalnya, saya yakin mereka lebih menyukai rakyat Indonesia yang tetap lugu, bodoh, terbelakang, dan minim wawasan. Mereka pasti anti dengan kalimat 'mencerdaskan rakyat Indonesia'. Mengapa demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya sederhana saja. Jika rakyat Indonesia pandai dan cerdas, terlebih memiliki akses informasi yang baik, tidak akan mempan terhadap ketiga hal diatas. Inilah yang ditakuti oleh para politisi busuk, karena mereka akan lebih sulit melanggengkan kekuasaannya. Jadi, jika anda memilih partai dan politisi busuk ini, jangan berharap banyak rakyat Indonesia akan bertambah cerdas, karena justeru mereka akan berusaha menjaga agar rakyat Indonesia tetap lugu, bodoh, terbelakang, dan buta wawasan. Mereka akan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, supaya cukup modal untuk pemilihan selanjutnya, termasuk membungkam para oknum penegak hukum jika diperlukan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-2964142056964116635?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/2964142056964116635/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/11/maju-tak-gentar-membela-yang-bayar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2964142056964116635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2964142056964116635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/11/maju-tak-gentar-membela-yang-bayar.html' title='Maju Tak Gentar Membela Yang Bayar...'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-1503990708697942734</id><published>2008-11-10T11:41:00.004+09:00</published><updated>2009-01-19T10:26:04.780+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Semoga bapak sehat dan barakah umurnya..</title><content type='html'>Saya ingin sedikit curhat. Kejadian pagi ini di perjalanan menuju kampus membuat saya sedikit sedih. Saya ketemu bapak-bapak tua yang sendirian bepergian naik kereta. Naiknya sama sengan saya, dari Aobadai, transit di Futako Tamagawa dan turun di Ookayama. Bahkan kami naik kereta di Abobadai dari pintu yang sama. Usianya sudah senja, terlihat dari keriput serta  langkah kakinya yang tertatih tiada mampu melangkah cukup jauh dan cepat karena kemunduran sistem motoriknya sudah nampak jelas terlihat. Sedih, saat naik kereta yang tidak begitu penuh namun tiada tempat duduk tersisa. Tak ada yang peduli dengan si bapak tua yang berdiri dengan keterbatasan fisiknya. Untung saat itu bukan jam sibuk sehingga tampaknya bapak tua cukup menikmati perjalanan berkeretanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung tambah sedih dan teringat dengan Bapak saya di Solo. Usianya mungkin tidak setua si bapak di kereta, tapi Bapak saya mengalami gangguan syaraf sehingga tidak mempu berdiri terlalu lama, bahkan 5 menitpun tak kuasa. Saya sedih dan merasa tidak berbakti, sebagai satu-satunya anak lelaki yang meninggalkan orang tua saya sejak saya kuliah dulu. Saya sungguh bersyukur kakak sulung saya tinggal serumah dengan Bapak-Ibu. Namun tetap saja saya merasa bersalah, meski berulang kali Bapak-Ibu menegaskan keikhlasannya bahwa saya hidup berjauhan dengan beliau, dulu ketika saya berangkat menempuh kuliah S1, kemudian ketika saya memulai s2 saya, dan terakhir kemarin ketika saya akan berangkat ke Jepang. Salah satu keinginan terakhir Bapak adalah Beliau berharap masih dapat menyaksikan saya menyelesaikan pendidikan s3 ini dan kembali pulang ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat kembali masa-masa dulu saya setia mengantar Bapak dan Ibu jika ada keperluan, meski di awal-awal kadang dengan perasaan sedikit dongkol karena mengganggu aktivitas saya (Mohon ampun ya Allah atas kekhilafan saya dahulu... Semoga Engkau tidak menghapuskannya dari tabungan amal shalih saya). Sungguh saya merindukan bisa membantu mewujudkan keinginan dan kebutuhan Bapak-Ibu, dan selalu memendam keinginan untuk bisa mendampingi masa tua Bapak-Ibu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang jauh disini, yang bisa saya lakukan hanyalah bekerja dan berusaha keras dan cerdas untuk mewujudkan harapan Bapak saya. Dan hanya untaian doa yang bisa saya persembahkan, semoga Bapak selalu sehat, diringankan sakitnya, diberikan kesabaran, kegembiraan, dan kebahagiaan, dan senantiasa diberkahi usianya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-1503990708697942734?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/1503990708697942734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/11/semoga-bapak-sehat-dan-barakah-umurnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/1503990708697942734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/1503990708697942734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/11/semoga-bapak-sehat-dan-barakah-umurnya.html' title='Semoga bapak sehat dan barakah umurnya..'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-361522638352834512</id><published>2008-11-08T18:42:00.005+09:00</published><updated>2009-01-19T10:22:53.998+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Islam tidak ditegakkan dengan kekerasan</title><content type='html'>Saya terharu ketika melihat menemukan video ini di youtube,&lt;br /&gt;http://www.youtube.com/watch?v=69pme1jxQbA, dan masih banyak video-video lain sejenisnya. Sejak peristiwa 11 September, 20.000 orang Amerika memeluk Islam setiap tahunnya. Sungguh, jika Allah berkehendak, tiada yang dapat memalingkan siapapun dari hidayahNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai peristiwa akhir-akhir ini membuat saya merenung kembali tentang bagaimana mengembalikan kejayaan Islam. Yang cukup menyita perhatian saya tentu saja eksekusi Amrozi dkk yang sampai saat saya menuliskan ini masih belum ada kepastiannya. Muslim di Indonesia dan umumnya didunia tentunya merupakan salah satu pihak yang dirugikan oleh tindakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah tunggu dulu..., saya tidak ingin menilai benar atau tidaknya tindakan Amrozi dan kawan-kawannya, karena saya yakin Allah Maha Adil lagi Maha Mengetahui. Tapi berlipat gandanya jumlah muallaf baru di negeri paman sam sepertinya lebih karena pengetahuan dan pemahaman yang benar tentang Islam, yang mereka dapatkan dari kaum Muslim disekitar mereka. Memang tidak dapat dipungkiri, peristiwa 11 September (Atau mungkin juga peristiwa bom bali) menjadi salah satu alasan para mualaf ini mulai berpikir dan mencari tahu tentang Islam. Tapi itu berlaku di Amerika dan Eropa, dimana budaya belajar dan kebutuhan akan informasinya lebih berkembang dari pada Indonesia. Tapi tentu saja ada banyak cara yang lebih baik untuk menimbulkan ketertarikan orang kepada Islam, dan menebar teror bukanlah salah satu cara yang dibenarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya kaum Muslimin disekitar para pencari kebenaran tadi bersikap apriori terhadap non-Muslim yang bertanya tentang Islam (Meski hal itu wajar saja pasca 9/11), mungkin orang-orang ini akan semakin teguh pemahamannya yang salah tentang Islam. Di sisi lain, boleh jadi pula kemauan mereka untuk bertanya itu, karena mereka telah melihat akhlaq yang mulia yang telah ditunjukkan oleh orang-orang Muslim tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apa hubungannya dengan kelompok Amrozi? Jujur saja, perilaku yang ditunjukkan oleh kelompoknya justru semakin membuat orang yakin bahwa Islam mengajarkan kekerasan. Islam semakin menjadi bahan olok-olok dan pelecehan. Bahkan Muslim pun juga dihalalkan darahnya karena tidak sejalan dengan cara-cara mereka dalam mengamalkan Islam. Saya sama sekali tidak meyakini bahwa cara-cara ini akan mengembalikan kejayaan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lebih yakin bahwa dengan pemahaman yang benar, menyeluruh, dan seimbang tentang Islam, kemudian mengamalkan dan mengejawantahkannya dalam keseharian adalah metode paling jitu mengembalikan Islam pada kejayaannya. Kaum Muslim yang masih awam dengan Islam harus disentuh dan diajak lebih dekat dengan Islam dengan kelembutan dan keteladanan. Sikap ramah, jujur, amanah, dan toleran terhadap perbedaan pasti lebih menarik dari pada sikap kaku dan permusuhan yang terkadang masih ditunjukkan oleh sebagian kaum Muslimin, bahkan kepada sesama kaum Muslimin. Alangkah menyedihkan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-361522638352834512?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/361522638352834512/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/11/islam-tidak-ditegakkan-dengan-kekerasan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/361522638352834512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/361522638352834512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/11/islam-tidak-ditegakkan-dengan-kekerasan.html' title='Islam tidak ditegakkan dengan kekerasan'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-3474633535392119600</id><published>2008-11-06T12:53:00.009+09:00</published><updated>2009-01-19T10:24:01.069+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Jepang'/><title type='text'>Sebagian orang Jepang hidup di alam animasi..</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SRJtfFOZx1I/AAAAAAAAACs/_D-9v4TL6RM/s1600-h/Thick_comic_books.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 168px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SRJtfFOZx1I/AAAAAAAAACs/_D-9v4TL6RM/s320/Thick_comic_books.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5265391295095490386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SRJtU7B0TZI/AAAAAAAAACk/HHUVB2mBTDM/s1600-h/ManReadComic.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 216px; height: 288px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SRJtU7B0TZI/AAAAAAAAACk/HHUVB2mBTDM/s320/ManReadComic.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5265391120559656338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sebelumnya saya pernah menulis tentang ada yang hilang di Jepang, mungkin ini adalah salah satu tandanya. Orang Jepang, atau lebih tepat saya bilang sebagian laki-laki Jepang keranjingan dengan komik. Adalah hal yang biasa anda menemukan laki-laki Jepang, dari anak-anak sampai orang tua membaca komik saat naik kereta di Jepang, selain tentunya mereka membaca buku, main gamewatch, tidur, atau menyibukkan diri dengan handphone  masing-masing. Komiknya bahkan jauh lebih tebal dari komik yang kita temui di Indonesia. Kira-kira sebesar dan setebal buku telepon di Indonesia. Bahkan saking keranjingan-nya pada komik, baru-baru ini ada seorang lelaki Jepang yang membuat petisi agar pemerintah mengijinkan seseorang menikahi tokoh komik kesayangannya. Anehnya, dalam beberapa hari, petisinya mendapatkan dukungan ribuan penggemar komik lainya. Bahkan (Ini yang membuat saya ingin menuliskannya di blog ini), di kampus saya pun, saya sempat menemukan di salah satu gedung, terdapat rak yang diletakkan ditempat umum, sebagian berisi komik. Setelah saya cermati, ternyata semacam tempat sampah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu mengapa, atau apa yang begitu menarik dari membaca komik itu. Bisa dipahami jika itu dilakukan oleh anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang daya imajinasinya. Tapi jika dilakukan oleh orang dewasa (Bahkan perdana mentri Jepang, Taro Aso-pun mengaku sebagai penggemar komik!), saya tidak habis pikir. Apakah komik itu menjadi sebuah pelarian, disamping hiburan tentu saja? Sebagaimana kebiasaan orang Jepang minum arak sehabis kerja mereka? Saya tidak tahu. Yang jelas, jika sampai ingin menikahi tokoh komik yang hanya merupakan imajinasi, boleh jadi mereka memang hidup di alam animasi. Tidak mengejutkan juga jika anda datang ke Jepang dan berkomentar bahwa orang Jepang seperti hidup dalam dunia masing-masing...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya jadi rindu dengan keramahan orang Indonesia, yang saling memperhatikan satu dengan yang lain serta lingkungan sekitarnya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-3474633535392119600?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/3474633535392119600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/11/sebagian-orang-jepang-hidup-di-alam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3474633535392119600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3474633535392119600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/11/sebagian-orang-jepang-hidup-di-alam.html' title='Sebagian orang Jepang hidup di alam animasi..'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SRJtfFOZx1I/AAAAAAAAACs/_D-9v4TL6RM/s72-c/Thick_comic_books.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-4159148802244611149</id><published>2008-11-04T20:28:00.002+09:00</published><updated>2009-01-19T10:24:01.069+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Jepang'/><title type='text'>Caranya ngirit di Tokyo</title><content type='html'>Sebagian besar situs yang saya kunjungi yang bercerita tentang kehidupan di Tokyo memaparkan bahwa biaya hidup di Tokyo minimal adalah 150 ribu yen. Well, secara simpel saya setuju aja. Tapi tahukah anda kalau saya sebulan saat ini hanya menghabiskan kurang dari 50 ribu yen?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang pengaruh paling besar datang dari biaya asrama, dimana biaya sewa, perawatan, internet, gas, air, dan listrik, total hanya sekitar 20 ribuan yen saja. Untuk makan, rata-rata sebenarnya saya menghabiskan hanya 20 ribuan yen. Jadi, klo mau hidup ngirit di Tokyo, jika diasumsikan biaya sewa apartemen, listrik, air, internet, dan gas sekitar 75 ribuan yen (Hidupnya di Apato ya, single room, tapi bisa dapat yg dgn fasilitas bed, AC/pemanas, dan fridge lho..), cukuplah sebulan 100 ribu yen.. Tapi anda harus perhitungkan biaya-biaya untuk modalnya ya, misalnya biaya awal pindah ke apato (total sekitar 4x biaya sewa bulanan, yah 200ribuan yen cukup lah...), biaya punya alat masak, dll, meski gak begitu mahal juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gimana supaya ngirit? Menurut saya ada 4 langkah utama ngirit.&lt;br /&gt;1. Pastikan anda menggunakan commuter pass untuk menggunakan kereta. Bayangkan. Dari asrama sampai kampus saya, sehari pp perlu 480yen. Sebulan, asumsi libur sabtu-minggu 8 hari, untuk transportasi minimal perlu 10,560yen. Dengan commuter card, anda cukup mengeluarkan 3,500yen sebulan, dan anda bisa bolak-balik sepuasnya sepanjang jalur langganan anda.&lt;br /&gt;2. Masak sendiri. Biaya makan yg cukup enak dan mengenyangkan sekitar 350yen. Jika sehari anda menghabiskan sekitar 1,200 (tambah minum, dll), sebulan anda menghabiskan sekitar 36 ribu yen. Dengan masak sendiri, biaya ini bisa ditekan kurang dari setengahnya. Saya biasa belanja mingguan sekitar 2000-3000 yen. Nggak kurang gizi koq, asal nggak berlebihan. Bisa mengkonsumsi telor/ikan/daging tiap hari, sayur, minum susu murni 2 liter/minggu, sari buah 2 liter/minggu, dll.&lt;br /&gt;3. Berbelanja di toko yang benar. Untuk belanja kebutuhan sehari-hari, saya cukup mengandalkan 4 toko. Fit Care Depot untuk belanja beras, susu, telor, dan air mineral, toko khusus sayuran untuk belanja sayuran dan ikan, serta 99 yen shop untuk kelengkapan belanja. Barang-barang keperluan sehari2 lainnya (alat2 masak, dll) enak dibeli di 100yen shop. Catatan, saya sebulan lebih di Tokyo belum pernah belanja daging, karena meragukan status kehalalannya.&lt;br /&gt;4. Jangan konsumtif. Harus disiplin untuk berhati-hati membelanjakan uang. Misalnya diajak makan teman di kantin, beli bento, dll. Kadang-kadang, saat anda jalan-jalan ke flea market (pasar barang bekas), biasanya nafsu belanja suka muncul melihat harga barang yg begitu murah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, ada jg trik tambahan lain, misalnya menyiasati nelepon ke Indonesia, atau mengurangi belanja alat2 elektronik. Tapi yg ini situasional. Selamat berusaha...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-4159148802244611149?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/4159148802244611149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/11/caranya-ngirit-di-tokyo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4159148802244611149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4159148802244611149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/11/caranya-ngirit-di-tokyo.html' title='Caranya ngirit di Tokyo'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-3860237112485052285</id><published>2008-11-01T13:33:00.004+09:00</published><updated>2009-01-19T10:22:53.999+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan dan Motivasi'/><title type='text'>Always do the best...</title><content type='html'>Saya ingin menulis kembali, apa yang sempat saya sampaikan pas pengajian midori tadi malam... Tentang sebuah pengalaman lama yang begitu berkesan. Saat itu, saya masih tingkat 2 kuliah di Elektro ITB. Di sebuah responsi praktikum elektronika, sengaja menghadirkan salah seorang putra terbaik Indonesia, satu-satunya orang Indonesia pegiat mikroelektronika yang belajar langsung dari penemu transistor, Pak Samaun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sedikit berbagi pengalaman, beliau menerima pertanyaan yang bagus, "Pak samaun, if you are reborn and able to choose, who would you choose to be?". Jawabannya sangat mengesankan saya, "Saya ingin menjadi Samaun Samadikun. Tapi Samaaun Samadikun yang lebih giat, lebih keras berusaha, dan lebih baik dan bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pernyataan yang bagi saya menggambarkan kesadaran yang paripurna tentang hidup (Paripurna dalam salah satu sudut pandang tentu saja...). Bahwa hidup bukan melulu merupakan fungsi hasil dan pencapaian, tapi juga merupakan sebuah fungsi proses. Bahwasannya beliau menggunakan kata-kata 'lebih', itu mengambarkan tidak semua kehidupan yang dijalaninya menggembirakan, tapi juga ada yang mengecewakan. Tapi yang tersirat buat saya adalah, keberhasilan, kepuasan, sekaligus kekecewaan atau bahkan penyesalan itu berpadu menjadi sebuah paparan kehidupan yang indah dan membahagiakan, sehingga tiada penyesalan di penghujung kehidupannya, tercermin dari pernyataannya, "Saya ingin kembali dilahirkan sebagai Samaun Samadikun..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, saya menyampaikan ini terkait topik kajian tadi malam tentang kesia-siaan hidup. Sejauh saya mengerti, tiada yang sia-sia dalam hidup ini. Kegagalan, kekecewaan, sesuatu yang kita sesali boleh jadi akan memberi pelajaran sangat berharga bagi kita. Maybe, it just a matter of time, sampai saat kita memahami hikmah yang terkandung dari sesuatu yang kita sesali itu. Seperti kata Allah SWT, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh  jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah  mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, seperti pesan Pak Samaun, boleh jadi pula yang patut kita sesali adalah dikala kita tidak berusaha memberikan yang terbaik dalam hidup ini...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-3860237112485052285?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/3860237112485052285/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/11/always-do-best.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3860237112485052285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/3860237112485052285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/11/always-do-best.html' title='Always do the best...'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-7424448344913032694</id><published>2008-10-30T21:00:00.002+09:00</published><updated>2009-01-19T10:18:35.552+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><title type='text'>Setuju...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SQmiDHyTVHI/AAAAAAAAABg/qngMuTR15-E/s1600-h/173637p.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 298px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SQmiDHyTVHI/AAAAAAAAABg/qngMuTR15-E/s320/173637p.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5262915814072472690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-7424448344913032694?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/7424448344913032694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/10/setuju.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/7424448344913032694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/7424448344913032694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/10/setuju.html' title='Setuju...'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SQmiDHyTVHI/AAAAAAAAABg/qngMuTR15-E/s72-c/173637p.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-2508164940989808640</id><published>2008-10-30T10:10:00.001+09:00</published><updated>2009-01-19T10:18:35.552+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Untuk Indonesia'/><title type='text'>LIPI dan BPPT Promosikan Vendor Anti-Spam Asing</title><content type='html'>Satu aja komentar saya: Saya ikut malu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau berkelit seperti apapun (baca: http://www.detikinet.com/read/2008/10/30/073042/1028187/323/lipi-dan-bppt-promosikan-vendor-anti-spam-asing), tetap saja memalukan. Melengkapi reputasi buruk lainnya di mata saya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-2508164940989808640?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/2508164940989808640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/10/lipi-dan-bppt-promosikan-vendor-anti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2508164940989808640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/2508164940989808640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/10/lipi-dan-bppt-promosikan-vendor-anti.html' title='LIPI dan BPPT Promosikan Vendor Anti-Spam Asing'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-4056988778007866853</id><published>2008-10-19T11:23:00.002+09:00</published><updated>2009-01-19T10:24:01.069+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Jepang'/><title type='text'>Ada yang hilang di Jepang</title><content type='html'>Pertama kali datang di Jepang, saya langsung terkesan dengan banyak hal. Tentang kedisiplinan orang Jepang. Tentang kebersihan Jepang. Tentang sistemnya yang lengkap dan membuat hidup sangat teratur. Tentang kesadaran masyarakatnya tentang pengelolaan sampah. Tentang penghargaannya pada pejalan kaki, pada anak-anak, orang sakit, ibu membawa bayi, dan orang tua. Tentang sistem transportasi massal-nya. Tentang biaya hidup di Tokyo yang selangit. Dan banyak hal lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada satu hal yang hilang yang saya rasakan. Tapi mungkin ini hanya di Tokyo dan kota besar lainnya. Orang-orang disini hidup seakan tanpa makna. Hidup sudah sangat teratur, namun disertai persaingan yang berat. Saya kadang suka naik kereta di gerbong paling belakang, memperhatikan kondektur bekerja. Kesan pertama saya: Seperti robot! Hilang sisi-sisi kemanusiaanny. Walaupun ternyata, kondektur yang pertama kali saya perhatikan memang pas yang kayak robot. Salah satu hal yang memperlihatkan kosongnya hidup orang-orang adalah, dalam seminggu pertama saya tinggal di Tokyo, dua kali kereta Den en Toshi Line yang saya tumpangi telaaaaat banget (Disini, lebih dari 1-2 menit sudah masuk kategori telat) karena ada orang bunuh diri lompat kearah kereta yang berjalan kencang....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi juga ada hal yang menarik lainnya, disini banyak banget orang tua! Jauh lebih banyak dari tempat lain yang pernah saya datangi...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-4056988778007866853?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/4056988778007866853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/10/ada-yang-hilang-di-jepang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4056988778007866853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/4056988778007866853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/10/ada-yang-hilang-di-jepang.html' title='Ada yang hilang di Jepang'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-468419690575927192</id><published>2008-10-19T11:03:00.004+09:00</published><updated>2009-01-19T10:24:01.069+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Jepang'/><title type='text'>Naik den sha</title><content type='html'>Jaringan kereta api merupakan nafas kehidupan orang Jepang, khususnya di Tokyo. Seperti angkot bagi orang Bandung kayaknya. Cuma yang ini lebih gila. Di sebuah line/jurusan, melintas setidaknya 1 rangkaian kereta setiap 3-5 menit. Ada yang lokal, ada juga yang ekspress. Bagi anda yang hendak ke Jepang, saya sarankan agar mengerti dulu tentang jaringan kereta api, minimal pada tempat2 yang akan anda kunjungi. Untuk mengetahui rute dan jurusan bepergian dengan kereta api, asalkan anda tahu nama stasiun/&lt;span style="font-style: italic;"&gt;eki&lt;/span&gt; berangkat dan tujuan, bisa menggunakan http://world.jorudan.co.jp/norikae/cgi-bin/engkeyin.cgi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian kereta di Jepang sudah dilengkapi layar/running text yang berisi penjelasan dalam tulisan Jepang dan English. Tapi yang jelas ada announcment, walau sebagian masih disampaikan dalam bahasa Jepang saja. Karenanya, harus benar-benar ingat nama eki tujuan, sehingga mengerti ketika disebut oleh kondektur. Hati-hati pada pengucapan oleh orang Jepang bagi anda yang tidak biasa, serta jangan salah turun di eki sebelum eki tempat anda ingin turun. Dalam pengumuman kondektur, biasanya selain nama eki yg akan tiba, disebutkan juga eki selanjutnya. Klo yang paling aman ya lihat nama stasiunnya klo keretanya melambat mau berhenti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diperhatikan jika naik kereta pas jam sibuk, saking ramainya sampai harus berdesak-desakan di kereta. Bahkan ada petugas yg khusus membantu orang (mendorong) masuk ke kereta. Nah, orang jepang tidak suka didesak orang, dimana orang itu menghadapnya. Jadi, klo anda harus mendesak orang karena ingin masuk kereta, atau karena terdesak orang lain, pastikan anda membelakangi orang yang akan di desak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-468419690575927192?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/468419690575927192/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/10/naik-den-sha.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/468419690575927192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/468419690575927192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/10/naik-den-sha.html' title='Naik den sha'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09419386864534994545</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_AYT3y59wx94/SPcA1y1pzJI/AAAAAAAAABI/RME3JcxSYNk/S220/nad26.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29915940.post-8584066282485532786</id><published>2008-10-16T21:46:00.007+09:00</published><updated>2009-01-19T10:24:01.070+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tentang Jepang'/><title type='text'>Terima kasih banyak Bahar!</title><content type='html'>Pertama kali menginjakkan kaki di Jepang, kebingungan langsung menyelimuti saya. Memang sih, sudah ada yang akan menjemput, tapi ternyata dia terlambat datang. Alhasil, setelah melewati pihak imigrasi dan cukai, saya kebingungan di pintu keluar terminal 2 Bandara Narita karena yang saya cari nggak ada. Seseorang yang pake jaket merah, yang mau menjemput saya. Mungkin sikap saya yang kelihatan kebingungan, mengundang perhatian polisi yang lagi nongkrong. Saya kaget setengah mati ketika 2 orang Jepang tiba-tiba menghampiri, trus ngomong dalam bahasa Jepang. Karena saya gak ngerti, yang satu bilang 'Do you speak English? We are from police departement...'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nanya ini itu, dan dijelaskan bahwa saya sedang menunggu kawan yang akan menjemput, merekapun berlalu. Setelah beberapa lama, ada orang yang wajahnya seperti dari asia tenggara, bawa kertas dengan tulisan 'Muhammad Solikhul Hadi.' Saya langsung ajak bicara dalam bahasa Indonesia dan ternyata mahasiswa Indonesia juga, namanya Hendriansyah, yang menjemput mahasiswa Indonesia yang baru datang. Setelah menunggu sambil ngobrol, ternyata satu pesawat bareng saya ada 4 orang mahasiswa baru Indonesia yang datang. Mas Hadi dari Malang, Pak Wisnu dari Bogor, serta seorang lagi yang saya lupa namanya. Nggak lama, penjemput saya pun datang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lha, kok yang jemput masih muda banget...?&lt;/span&gt; Kirain yang jemput saya kurang lebih seumuran. Udah bapak-bapak punya anak isteri. Padahal waktu kirim-kiriman email dan sms-an, saya selalu panggil Pak Bahar... Ternyata usianya baru sekitar 20 tahun... Baru kuliah tingkat 1 program S1 di Tokodai. Walah.... Tapi ternyata Bahar ini bahasa Jepang udah lancar, karena sudah menyelesaikan program bahasa Jepang dulu di Osaka. Paling penting, orangnya baik banget....he..he..he...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat jemput saya, Ookayama-Narita harus ditempuh selama 2 jam lebih dan menghabiskan sekitar 1500yen. Pulang pergi 3000yen, bisa buat kebutuhan hidup 3 hari. Itu udah pasti orang baik yg mau berkorban buat orang yang baru aja kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari pertama di kampus, saya juga tidak bisa lepas dari bantuan orang lain. Selain Bahar yang jemput, ada Mas Akhmadi yang ngantar saya check in ke Shofu. Trus ada Kudotani san yang ngurusin administrasi, soalnya dia ditunjuk ama Oda Sensei jadi mentor di lab. Habis itu, lagi-lagi Bahar berbaik hati nunjukin mushola, ngajakin ke acara kumpul2 PPI Tokodai di Miyamaedaira setelah lebaran, trus menemani saya beli laptop di COOP, termasuk yang paling penting minjemin uang 15ribu yen karena uang yg saya bawa kurang... aha...!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;- * m a m i e n * -&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29915940-8584066282485532786?l=dnaontheblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/feeds/8584066282485532786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/10/terima-kasih-banyak-bahar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/8584066282485532786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29915940/posts/default/8584066282485532786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dnaontheblog.blogspot.com/2008/10/terima-kasih-banyak-bahar.html' title='Terima kasih banyak Bahar!'/><author><name>Muhammad Amin Sulthoni</name><uri>http://www.blogger.c
