Membaca kembali tulisan "Sandal Jepit Istriku," membuat saya teringat kembali pada sebuah materi kajian tentang membina keluarga dakwah. Disana disampaikan tentang hak-hak dan kewajiban suami terhadap istri dan juga sebaliknya.
Well, tidak terlalu sulit untuk mencari atau merumuskan poin-poin dari hak dan kewajiban itu. Bahkan ada banyak buku bertebaran yang membahasnya secara panjang lebar. Namun ada satu hal yang saya rasa harus dimengerti oleh pasangan suami istri, bahwasannya masing-masing biasanya sama-sama berada pada posisi belajar dan berusaha menunaikan kewajibannya sebagai suami dan istri. Dengan demikian, masing-masing seharusnya juga menyadari bahwa kewajiban mereka belum tertunaikan sepenuhnya, dan sebagai konsekwensinya adalah tidak berlebihan dalam menuntut hak-haknya. Yang lebih berbahaya adalah jika suami atau istri tidak menyadari kewajibannya kepada pasangan dan keluarganya.
Judul diatas saya pilih, bukan karena saya menyimpulkan bahwa sumber masalah dalam keluarga biasanya adalah kurang tanggung jawabnya suami atau kurang bersyukurnya istri. Sejujurnya, sikap tanggung jawab maupun bersyukur itu adalah pantas disandangkan kepada kaduanya, suami maupun istri. Bahkan untuk kasus tertentu, misalnya kisah dalam cerita "Sandal Jepit Istriku," bukan suami yang kurang bertanggung jawab atau istri yang kurang bersyukur. Justru sang suami yang mungkin kurang bersyukur dan di sisi lain mungkin pula sang istri yang kurang bertanggung jawab mengurusi rumahnya. Substansinya adalah bagaimana bisa menjaga keseimbangan dalam menunaikan kewajiban dan dalam menuntut hak dari seorang suami terhadap istri dan juga sebaliknya.
Hanya saja Islam mengajarkan bahwa dalam rumah tangga, suami adalah pemimpin dalam rumah tangga, sehingga dituntut tanggung jawabnya, sedangkan bersabar dan bersyukur terhadap kondisi suami dan rumah tangganya merupakan salah satu jalan bagi seorang istri untuk mencapai derajat ahli surga.
Well, tidak terlalu sulit untuk mencari atau merumuskan poin-poin dari hak dan kewajiban itu. Bahkan ada banyak buku bertebaran yang membahasnya secara panjang lebar. Namun ada satu hal yang saya rasa harus dimengerti oleh pasangan suami istri, bahwasannya masing-masing biasanya sama-sama berada pada posisi belajar dan berusaha menunaikan kewajibannya sebagai suami dan istri. Dengan demikian, masing-masing seharusnya juga menyadari bahwa kewajiban mereka belum tertunaikan sepenuhnya, dan sebagai konsekwensinya adalah tidak berlebihan dalam menuntut hak-haknya. Yang lebih berbahaya adalah jika suami atau istri tidak menyadari kewajibannya kepada pasangan dan keluarganya.
Judul diatas saya pilih, bukan karena saya menyimpulkan bahwa sumber masalah dalam keluarga biasanya adalah kurang tanggung jawabnya suami atau kurang bersyukurnya istri. Sejujurnya, sikap tanggung jawab maupun bersyukur itu adalah pantas disandangkan kepada kaduanya, suami maupun istri. Bahkan untuk kasus tertentu, misalnya kisah dalam cerita "Sandal Jepit Istriku," bukan suami yang kurang bertanggung jawab atau istri yang kurang bersyukur. Justru sang suami yang mungkin kurang bersyukur dan di sisi lain mungkin pula sang istri yang kurang bertanggung jawab mengurusi rumahnya. Substansinya adalah bagaimana bisa menjaga keseimbangan dalam menunaikan kewajiban dan dalam menuntut hak dari seorang suami terhadap istri dan juga sebaliknya.
Hanya saja Islam mengajarkan bahwa dalam rumah tangga, suami adalah pemimpin dalam rumah tangga, sehingga dituntut tanggung jawabnya, sedangkan bersabar dan bersyukur terhadap kondisi suami dan rumah tangganya merupakan salah satu jalan bagi seorang istri untuk mencapai derajat ahli surga.
Assalamualaikum...
BalasHapusakh, ceritanya menyentuh.
terimakasih buat bagi ilmunya.
semoga ilmu ini bermanfaat. aminn