Kemarin saya meng-install aplikasi dekstop toolbar di laptop saya, dan dalam gadget scratch-note saya iseng-iseng (meski akhirnya jadi sesuatu yang serius) mendaftar target-target dan deadline yang harus saya penuhi. Saya cukup terkejut karena sampai 2 pekan kedepan ternyata ada setidaknya 12 target yang harus segera saya selesaikan. Lebih dari setengahnya harus diselesaikan dalam pekan ini juga. Secara spontan saya berpikir bagaimana menyelesaikan target-target itu. Bahkan lebih jauh saya juga berpikir untuk menghindari penumpukan target dalam agenda kegiatan saya.Saya teringat nasihat Sensei beberapa waktu lalu, agar saya mempertimbangkan betul kegiatan-kegiatan yang ingin saya lakukan, dalam kaitannya dengan riset dan target study saya. Saya pun kemudian berpikir untuk mengurangi amanah atau menghindari amanah yang tidak berhubungan dengan study dan riset saya, sampai saya teringat dengan sebuah kejadian sekitar 4 tahun yang lalu.
Saat itu, saya berkumpul untuk mengikuti rapat koordinasi sebuah kegiatan dakwah di organisasi yang saya ikuti. Dalam rapat divisi tersebut, turut hadir pengurus bidang yang membawahi divisi kami. Dalam kesempatan itu, beliau menanyakan kesibukan kami masing-masing. Ketika sebagian besar dari yang hadir bercerita dan rata-rata hanya memiliki waktu luang sehari dalam seminggu, dimana di hari-hari yang lain rata-rata full aktivitas dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam, komentar beliau cukup menarik. Beliau sampaikan secara singkat bahwa padatnya aktivitas yang seperti demikian adalah sebuah hal yang wajar bagi seorang dai yang produktif. Dan dengan kenyataan itu beliau cukup yakin bahwa divisi ini akan mampu bekerja.
Waktu itu, saya sempat sedikit kaget. Dalam benak saya, dan mungkin benak teman-teman yang lain, mungkin kami menceritakan hal tersebut dengan sedikit harapan agar tidak diberikan beban yang terlalu berat. Namun yang terjadi justeru sebaliknya.
Saat ini, saya kadang sedikit ragu. Saya merasa ketika ada target yang cukup banyak yang harus dipenuhi, saya merasa lebih produktif. Mungkin memang seperti itu fitrahnya bahwa kita bekerja lebih baik ketika berada dibawah tekanan. Lebih lagi, ada juga teman yang cerita bahwa ketika dia tidak punya target spesifik yang harus dia penuhi, dia seperti kehilangan arah dan nggak jelas aktivitasnya. Namun disisi lain kadang banyaknya target itu terasa berlebihan dan meningkatkan tingkat stress saya juga meningkat. Namun yang jelas, sekali lagi saya merasa lebih produktif ketika ada banyak tugas yang menunggu untuk diselesaikan. Tapi, enaknya bagaimana ya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar