Sekitar seminggu yang lalu, Faiq pernah menangis dengan sangat heboh. Gara-garanya, dia ingin ikut bundanya mengaji, padahal dia belum mandi dan bunda harus segera berangkat. Sudah sejak satu jam sebelumnya saya menyuruh dan mengajak Faiq mandi. Tapi tidak mau. Akhirnya pagi itu, dengan menangis keras karena tidak boleh ikut bunda, saya hukum Faiq dengan menyuruhnya tetap didalam kamar kecuali dia berhenti menangis. Bukan, bukan dikurung tetapi saya larang dia turun tempat tidur kecuali dia sudah berhenti menangis. Pintu kamar pun saya biarkan terbuka.
Saya sengaja melakukannya, seperti yang pernah saya lakukan pada Nadia saat dia datang menyusul saya ke Jepang. Saat pertama datangke Jepang, manja bukan main. Saat itu, rasanya tidak terlalu sulit. Karena disekitar kami melihat betapa kuat usaha para orang tua mendisiplinkan anak. Beberapa pekan, Nadia menjadi lebih tangguh, mandiri, dan tidak cengeng.
Sampai sekitar satu jam kemudian, tangis Faiq belum juga reda. Kadang menjadi pelan karena mungkin dia capek, namun ketika saya tengok ke dalam kamar, tangisannya segera bertambah keras kembali. Saya tunggu sampai dia diam. Tidak saya bentak atau saya marahi, tapi saya bilang bahwa dia sudah bertindak nakal karena tidak mau mandi, dan memaksa ikut pergi meski tidak mandi, dan kemudian menangis saat dilarang. Saya tekankan, betapa ayah-bundanya sayang pada Faiq, dan segala yang kami atur buat dia itu untuk kebaikannya.
Saya tunggu, sekitar 30 menit kemudian tangisnya berhenti. Beberapa saat kemudian dia bergabung dengan Nadia dan Hasna yang lagi asyik nonton Dodo. Tak berapa lama, mereka bertiga sudah kembali tertawa gembira.
Terkadang saya khawatir jika anak-anak membenci ayahnya karena dianggap galak. Saya tidak galak. Tapi saya dibesarkan di keluarga yang disiplin, dan tidak mengenal kamus 'dilarang berkata tidak/jangan pada anak.' Tapi agar anak-anak tidak menjauh, saya sering memeluk anak-anak, mencium, memandikan agar bisa tetap dekat dengan anak-anak. Memang, kalau ada Bundanya, anak-anak pasti pilih sama bunda. Tapi klo bunda sedang tak ada, anak-anak tetap mudah diatur dan diarahkan.
Hari ini saya merasa senang. Sejak kejadian itu, ternyata ada perubahan drastis pada Faiq. Dia lebih mudah diberikan nasihat. Meski malas, tiap pagi Faiq mau dibangunkan untuk kemudian mandi, sarapan, dan ke TK. Padahal sebelumnya, Faiq paling anti dengan sekolah. Namun sepekan terakhir, saya malah sengaja membangunkan Faiq dan mengatakan dia harus siap-siap sekolah. Bukan untuk main dengan Bu Eva (gurunya Faiq).
Rabu, April 08, 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar