Jumat, Mei 22, 2009

Kepercayaan diri mahasiswa PhD baru

Ini adalah gambar yang dibuat oleh teman saya sesama mahasiswa PhD yang berasal dari Turki. Tentang grafik kepercayaan diri, spirit, dan semangat seorang mahasiswa PhD yang baru datang ke Jepang seperti saya. Waktu dia menggambarkannya, saya seolah ingin tergelak karena sangat persis dengan yang apa saya alami. Dia bilang hampir semua mahasiswa asing yang datang ke lab kami mengalaminya, termasuk dirinya. Ini hanya sekedar share dari saya, dan boleh jadi berbeda dengan ditempat lainnya.

Pada saat berada di titik A, kita baru saja datang ke Jepang. Masih menyandang perasaan senang, gembira, dan yang paling penting untuk saya singgung adalah bangga karena kini menyandang gelar 'Kandidat Doktor.' Terlebih jika memperoleh beasiswa, dan ini di perguruan tinggi peringkat 21 dunia di bidang engineering. Pada masa ini, biasanya tidak ada tuntutan. Masih happy-happy saja. Masih masa adaptasi. Sensei juga belum menuntut banyak.

Seiring berjalannya waktu, sampailah pada titik B. Kita mulai berpikir, apa yang hendak saya lakukan disini. Sensei mulai nanya tentang riset kita. Dan kesadaran kita mulai menyeruak, bahwa ini saatnya kerja keras dimulai. Mulailah kita melahap paper, berpikir, untuk mengembangkan dan mematangkan rencana riset yang akan dijalankan, termasuk yang penting adalah menentukan target akhir dan novelty dari penelitian kita.

Sehingga sampailah kita pada titik C, dimana kita merasa telah menemukan topik yang pas. Perasaan sedikit enak karena ada beban yang terangkat, dan sekarang bisa kembali bernapas lega. Biasanya sensei juga tidak banyak komentar dalam fase ini.

Inilah susahnya. Orang Jepang pantang berkata 'tidak' atau menyatakan secara langsung/implisit jika mereka menginginkan sesuatu. Seperti saat sensei saya bilang, "Your progress until now is very good. Your topic is very chellenging, but..." Itulah saat kita sampai di titik D. Kita mulai sadar bahwa topik dan rencana riset yang kita buat dengan susah payah ternyata ada banyak lubangnya, banyak kelemahannya. Tapi kita nggak langsung mengerti karena disampaikan dalam kultur orang Jepang meski bahasanya Inggris. Dan semakin lama kita semakin banyak menemukan kelemahan itu. Biasanya setelah kita memaparkan topik dan rencana riset kita didepan lebih banyak anggota lab, terutama associate professor dan assistant professor.

Semakin lama kita semakin merasa sulit dengan topik tersebut, sampai pada titik E, yaitu titik nadir dimana kita hampir menyerah. Kepercayaan diri dan semangat juga entah kemana. Seperti yang pernah saya rasakan, mau datang ke lab juga malas sekali.

Tapi jangan khawatir, pada saat ini, di titik F biasanya bantuan datang. Biasanya berupa petunjuk dan arahan dari sensei. Bimbingannya mulai lebih terasa dan bisa kita tangkap, disaat kita sudah mulai mengerti gaya bahasa yang beliau gunakan. Dan saat itulah jalan menuju PhD kita kembali terlihat, seiring kembalinya semangat, motivasi, dan kepercayaan diri kita.

1 komentar:

  1. wah saya baca artikel tentang hidup murah di tokyo versi anda..sungguh membantu..kebetulan saya mau brangkat ke sana bulan juli ini sampai agustus..moga2x bisa ditanya2xin lagi deh kalo kebingungan hehe

    salam hangat
    mas gembol

    BalasHapus