Kamis, Juli 23, 2009

Bagaimana masa depan (anak) Indonesia?

Hari ini, 23 Juli adalah hari anak nasional. Tapi bukan itu alasan terkuat saya menulis ini, meski momentumnya pas. Toh tiap hari saya selalu mengingat kondisi anak-anak, minimal anak saya yang selalu saya rindukan. Tapi lebih karena sebuah keprihatinan akan kondisi anak-anak kita, khususnya di Indonesia.

Seorang pemerhati anak menyampaikan, bahwa para guru di Australia lebih khawatir apabila anak-anak mereka tidak mau mengantri dibandingkan bila anak-anak memperoleh nilai yang buruk dalam pelajaran matematika. Kata mereka, hanya perlu waktu tiga bulan untuk mengajari anak-anak untuk memperoleh nilai bagus dalam pelajaran, tapi perlu waktu 15 tahun untuk mengajari dan membiasakan seseorang untuk mau mengantri dan istiqomah untuk selalu mengantri kedepannya. Saya trenyuh dengan kondisi pendidikan kita, dimana sebagian pendidik lebih suka mengajarkan kecurangan karena lebih khawatir jika murid-muridnya tidak lulus ujian nasional.

Di abad pertengahan, Inggris dan Spanyol sejajar dalam peradaban. Mereka sama-sama mampu membuat kapal laut yang besar dan kuat, mampu menjelajahi dunia, melakukan penaklukan dan kolonisasi. 500 tahun kemudian, Spanyol jauh tertinggal dari Inggris, salah satunya karena anak-anak spanyol dibesarkan dalam suasana telenovela, sedangkan anak-anak Inggris dibesarkan dalam semangan berpetualang dan belajar menyelesaikan masalah.

Bagaimana dengan anak-anak Indonesia? Semoga kita semua peduli dan mau berbuat sesuatu untuk anak-anak kita. Ya Allah, tumbuhkan cinta kami kepada pasangan kami dan jadikan anak-anak kami menyejuk mata kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa. Selamat hari anak Indonesia...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar