Senin, November 15, 2010

Berguru pada Ketulusan Mak Elah

Ribuan kilo jarak yang kau tempuh,
Lewati rintang untuk aku anakmu…
Ibuku sayang masih terus berjalan,
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah…
Seperti udara kasih yang engkau berikan,
Tak mampu ku membalas, Ibu…
(Iwan Fals, Ibu)

Kasih Ibu kepada anaknya adalah salah satu anugerah terindah yang dimiliki manusia. Namun berbeda dengan Yusuf, seorang anak kecil dari pedesaan di pelosok Garut, Jawa Barat. Disaat berusia satu tahun dan menunjukkan gejala abnormal karena kelainan di otaknya, ibunya meninggalkan Yusuf dan ayahnya begitu saja. Keterbatasan ekonomi yang menjadi alasan, dan tampaknya itu pula yang menghalangi ayah Yusuf, seorang kuli serabutan untuk bisa merawat sendiri putra kesayangannya.

Tapi Allah memang Maha Rahman. Dia mengutus sesosok Mak Elah untuk menjadi Ibu bagi Yusuf. Mengasuhnya, menyuapinya tatkala Yusuf lapar, menggendongnya ketika Yusuf rewel, menyayangi dan mengasihinya laksana darah dagingnya sendiri, meski tak ada hubungan keluarga sedikitpun antara Mak Elah dan Yusuf, selain sebatas tetangsa satu desa. Mak Elah bukanlah orang kaya, dia hanya seorang buruh cuci dan pencari rumput yang penghasilannya sangat pas-pasan bahkan untuk menghidupi dirinya seorang diri. Tapi keikhlasan dan ketulusan telah mendorong Mak Elah untuk memungut Yusuf tatkala di usianya yang setahun ditelantarkan oleh ibunya.
Setiap pagi Mak Elah menggendong Yusuf menempuh tikungan berliku menuju tempat pemandian umum di desanya. Keterbatasan ekonomi membuat Mak Elah tak mampu membuat sendiri fasilitas mandi di rumahnya. Di tempat itu Mak Elah memandikan Yusuf, membersihkan tubuhnya dengan penuh kasih, mengeringkannya, menggendongnya kembali ke rumah dan seterusnya memakaikannya baju. Kemudian Mak Elah akan menyuapi Yusuf dengan sarapan pagi sederhana yang dia siapkan. Seringkali kesedihan meliputi Mak Elah karena dia tidak punya uang untuk membelikan jajan buat Yusuf. Hanya usapan penuh kasih dan pelukan sayang yang bisa Mak Elah curahkan buat Yusuf, dan juga doa-doa yang senantiasa Mak Elah panjatkan sesuai sholat lima waktu yang selalu mereka lakukan bersama-sama, “Ya Allah, berikan kesehatan dan kesembuhan kepada Yusuf, buatlah dia bisa berjalan. Angkatlah harkat dan martabatnya, dan berikan kebahagiaan padanya dunia akhirat…
Pertengahan 2010, sudah tujuh tahun Mak Elah merawat dan membesarkan Yusuf. Kelainan jaringan otak yang diderita menyebabkan Yusuf mengalami kelainan pertumbuhan, sehingga di usia delapan tahun tatkala anak-anak lain seusianya sedang berlari bermain gembira bersama, Yasuf baru bisa duduk saja, bahkan sesekali dengan terhuyung. Usia Mak Elah sudah tujuh puluh lima tahun sekarang. “Emak nggak tahu, bagaimana klo nanti Emak sudah tiada,” demikian tutur emak ketika ditanya tentang masa depan Yusuf. Karena sedemikian sayangnya Mak Elah pada Yusuf, beliau melanjutkan tuturnya, “Lamun Emak tos teu aya, upami tiasa Yusuf ngiring…
Mak Elah, tentu Yusuf akan sangat bahagia bisa mengikuti Mak ketika tiada. Bagaimana tidak, Allah pasti akan menempatkan Mak Elah di surgaNya, karena itulah balasan yang pantas diterima seseorang yang seikhlas dan setulus Mak Elah dalam menebar kasih pada sesama…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar