Sabtu, Januari 01, 2011

Mungkin mereka (memang) para syuhada

Amat bodoh dan celaka jika kita menganggap kelebihan lahiriah kita: kepandaian, kekayaan, dsb sebagai sesuatu yang patut dibanggakan atau bahkan disombongkan, karena itu adalah ujian yang akan dimintakan pertanggungjawabannya.

======

Satu ketika, kami berdiskusi tentang jenazah para 'teroris' di Indonesia. Ada Amrozi, Ali Imron, Imam Samudra, dan sederet nama lainnya. Kami membincangkan tentang tanda-tanda syahid yang ada pada para jenazah tersebut. Ada yang baunya harum semerbak. Wajah-wajahnya terlihat damai dan tersenyum. Ada yang tampak seperti masih hidup dan hanya sedang tidur, berkeringat, padahal sudah beberapa hari meninggal. Ada yang jenazahnya senantiasa dinaungi awan dari sengatan terik matahari, dan lain sebagainya. Teman saya bilang, sepertinya mereka memang syahid. Hadits dan hujjah tentang tanda-tanda syuhada itu cukup kuat. Penjelasannya merujuk pada buku Dr. Abdullah Azzam.

Awalnya, saya sedikit terperangah. Saya tahu berita tentang tanda-tanda syahid itu. Tapi tidak pernah memikirkannya secara serius, tidak seperti hari itu.

"Tapi bukan berarti Allah meridhai tindakan mereka," saya bilang.

"Kita nggak ingin mempertanyakan hadits dan ayat yang dijadikan hujjah bukan?"

"Saya belum pernah baca hadits atau ayatnya, dan saya bukan Ahli hadits. Tapi jika memang demikian, ada di Al Qur'an atau hadits yang shahih, saya tidak akan menyanggahnya. Kejadian ini pasti ada hikmahnya," jawab saya.

"Ya, saya cuma mau bilang tentang kenyataan ini. Menanggapi apa yang Mas sampaikan tadi tentang cara-cara kita berkontribusi terhadap kebangkitan Islam." teman saya menimpali.

"Ah, ini bukan cuma. Implikasinya panjang," batinku. Dan keyakinanku tentang kesalahan metode perjuangan mereka sedikit pudar. Saya terus berpikir. Sampai akhirnya saya teringat sebuah firman Allah. Laa yukallifuLlaahu nafsan illa wus'aha... Tidaklah Allah membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya. Ya. Sesuai kemampuannya.

Allah akan meminta pertanggungjawaban yang berbeda kepada setiap manusia, sesuai nikmat berupa kepandaian dan keterampilan yang Dia berikan. Tidak dipukul rata, dan itulah keadilan Allah. Dan dalam pikiran saya, memang orang-orang yang meninggal tersebut mungkin telah benar-benar melakukan mujahadah sesuai kapasitas yang mereka miliki. Berkorban bersungguh-sungguh, melakukan yang terbaik dalam membela agama Allah, sesuai jalan yang mereka yakini. Termasuk berpikir dan merenungkan bagaimana cara terbaik membela agama Allah. Jadi bukan sebuah pembenaran terhadap metodenya itu sendiri.

Sama juga seperti pada kasus perselisihan para Shahabat RA, tentang perintah Rasulullah untuk tidak sholat sebelum tiba di tempat Bani Quraidhah. Ada yang memaknai secara harafiah (sehingga mereka sholat asar sedangkan sudah malam), ada yang memaknai sebagai perintah Rasulullah SAW untuk mempercepat perjalanan (dan mereka segera sholat asar setelah masuk waktunya, meskipun belum tiba di tempat yang dituju). Dan Rasulullah tidak menyalahkan salah satupun diantaranya.

Jika kita meyakini ada cara terbaik untuk berkontribusi pada kebangkitan Islam, dengan bermujahadah mengoptimalkan usaha kita dengan cara tersebut, Insy Allah kita pun berkesempatan menjadi syuhada. Amin ya Rabb...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar