Ada satu kontradiksi lain yang saya rasakan ketika membaca 3 tahapan HT menegakan kembali daulah Islam. Aktifitas pokok para anggota HT di tahapan kedua adalah menyerang segala aktifitas pemerintah dalam berinteraksi dengan rakyatnya. Yang lucu, diujung marhalah itu, thariqah/metode yag ditempuh HT adalah melakukan tholabun nusyroh, yaitu meminta pertolongan kepada pihak-pihak yang memiliki kekuatan agar mau menerima konsep HT tentang daulah Islam.
Sekarang mari kita lihat dulu tentang tholabun nusyroh dalam shirah Nabi SAW. Syabab HT akan mengatakan bahwa Rasulullah SAW melakukan tholabun nusyroh kepada pemimpin Quraisy, Thaif, dan Madinah. Ketika ditanya tentang bagian mana atau hadits apa yang menjadi pijakan tholabun nusyroh, kita tidak akan mendapat jawaban pasti, selain klaim bahwa Rasulullah SAW melakukannya. Saya yakin, pasti ada satu kesempatan dimana Rasulullah meminta bai`at dari para kaum Muslimin, diantaranya adalah Bai`at Aqabah pertama dan Kedua. Tapi tolong dicatat bahwa bai`at itu diberikan setelah mereka menerima tarbiyah Islam melalui Mush`ab bin Umair RA, shahabat yang diutus Rasulullah SAW sebagai guru yang mengajari Islam kepada penduduk Madinah. Apakah Mush`ab RA diutus Rasul untuk melakukan tholabun nusyroh?
Kita bisa lihat dari aktifitas Mush`ab di Madinah. Faktanya, Mush`ab RA tidak mengkhususkan dakwahnya kepada para pemimpin Madinah, tapi kepada siapa saja yang ditemuinya. Kita tentu ingat kisah masuk Islamnya 2 pemimpin Aus dan Khazraj, Saad bin Muadz dan Usaid bin Hudhair RA. Merekalah yang mendatangi majelis ilmu Mush`ab dan kemudian menerima Islam. Bahkan Allah menegur RasulNya karena mementingkan dakwah kepada para pemimpin Quraisy dan mengacuhkan seorang buta Ummi Maktum yang ingin belajar Islam dari Rasulullah SAW.
Jadi jika dilihat dari shirah Rasul, sangat berbeda konteksnya dengan konsep tholabun nusyroh ala HT. HT akan mendatangi kaum Muslim yang berada dalam tampuk kekuasaan untuk menawarkan konsep negara HT dan meminta pemimpin tersebut untuk melaksanakannya. Menurut opini saya, ini adalah satu metode instan yang ingin ditempuh HT dalam upayanya membangun daulah Islam yang pertama. Tidak ada proses terlebih dahulu agar pihak terkuat yang dimintakan tholabun nusyroh itu memang siap menerima dan melaksanakan syariat Islam, yang tentunya ini adalah jalan panjang yang penuh kesulitan, yang disebut HT sebagai sebuah metoda yang tidak praktis. Padahal jika mau jujur, metode inilah yang dipakai Rasul SAW dalam mengembangkan dakwahnya.
Apakah ada umat yang masuk Islam setelah Rasulullah menegakkan sistem imarah (kepemimpinannya) di Madinah? Jawabannya tentu ada. Tapi mereka yang masuk Islam dikarenakan kuatnya pengaruh kaum Muslimin, terutama setelah fathu makkah tentu sangat berbeda kualitasnya dengan generasi yang memperoleh pembinaan langsung dari Rasulullah SAW. Ini terbukti bahwa ketika Rasul telah wafat dan Abu Bakar RA menjadi khalifah, dua pertiga umat di daerah kekuasaan Islam murtad dan berbalik memusuhi khalifah, dan menyisakan sepertiganya yang terdapat di daerah Makkah, Madinah, dan Thaif. Ini menunjukkan pentingnya proses pembinaan pribadi bagi setiap Muslim.
Kembali ke tholabun nusyroh, untuk masa sekarang kita fokuskan pembahasan di negara yang menganut demokrasi seperti Indonesia. Faktanya, dakwah HT berkembang di negara-negara demikratis yang memberikan kebebasan penduduknya berbicara dan berpendapat. Di Indonesia, tentu saja fokus aktifitas HT saat ini adalah menyerang segala bentuk interaksi pemerintah dengan masyarakat Indonesia karena mereka berada di marhalah tafa`ul ma`al ummat (berinteraki dengan masyarakat). Jangan berharap ada komentar positif muncul dari HTI terkait pemerintah Indonesia, karena memang demikianlah metode dakwahnya. Namun pengalaman reformasi 1998 membuktikan bahwa mengganti rezim berkuasa itu tidak mudah, dan yang memegang kendali kekuasaan selanjutnya tidak jauh berbeda dengan kondisi sebelumnya, hanya berganti kulit saja.
Kira-kira, apakah penguasa baru ini akan mau menerima konsep HT, yang sebelumnya paling getol mengkritik dan menjadi oposan pemerintah? Terlebih jika menilik kembali proses "tholabun nusyrah" ala Rasulullah (jika memang dilakukan Nabi) yang mendudukkan Nabi SAW sebagai pemimpin, apakah masuk akal jika sekonyong-konyong HT dijadikan pemimpin, atau setidaknya terlibat dalam pemerintahan? Jika HT tidak terlibat, kemudian siapa yangberperan mengawasi pelakanaan syariat itu nantinya? Inilah absurdnya ide tholabun nusyroh jika dikaitkan kondisi riil saat ini. Lantas, adakah manfaat yang bisa dirasakan bangsa Indonesia dari berbagai kritik dan hujatan yang dilontarkan HT kepada pemerintah, selain bertambah kacaunya kehidupan bernegara dikarenakan semakin bertambahnya jumlah pembangkang dikalangan rakyat negeri ini? Kesimpulan saya, keadaan akan berujung pada revolusi tanpa adanya jaminan bahwa selanjutnya Islam akan memimpin negeri ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar