Jumat, Juni 22, 2012

FPI di mata saya

Oktober 1999. Sidang umum MPR baru saja memilih Gus Dur sebagai Presiden RI keempat. Dimotori Amien Rais dengan poros tengahnya, Gus Dur sukses melampaui perolehan suara Megawati dalam voting yang dilakukan di MPR waktu itu. Massa PDIP yang kecewa mulai bergolak, dan di beberapa daerah mulai bergerak menumpahkan kemarahannya.

Kota Solo waktu itu belum lagi pulih dari sisa-sisa kerusuhan Mei 1998. Disana ada banyak pendukung Megawati dan PDIP. Mereka turun ke jalan, mencari sasaran untuk melampiaskan kemarahan mereka. Balai kota dirusak dan dibakar, dan yang dicari juga adalah aset-aset Muhammadiyah yang banyak tersebar di kota Solo, karena Amien Rais dikenal berasal dari Muhammadiyah. Termasuk diantaranya SMA Muhammadiyah 1 Surakarta. Waktu itu massa sudah mulai berkumpul di jalan di depan SMA MUHI Solo. Mereka mulai beringas, dan mulai melempari sekolah dengan batu, kayu, dan benda apa saja. Kaca-kaca jendela pecah berhamburan. Di dalam sekolah hanya ada Pak Bedjo, sang penjaga sekolah dengan keluarganya. Ketika keadaan semakin mencekam, Pak Bedjo menemukan ide brilian, dia menelepon FPIS atau front pembela Islam Surakarta.

Setelah beberapa lama, yang untungnya belum terlambat, datang satu mobil bak terbuka dan dua motor yang dibawa oleh laskar FPIS. Sekitar 15 orang, kurang seimbang dengan puluhan atau bahkan ratusan orang pendukung PDIP bercampur preman yang waktu itu berkumpul dan merusak SMA MUHI. Tapi 15 orang ini memang siap perang dan ingin menjemput syahid. Mereka datang dengan membawa samurai, menyeretnya di jalan hingga menimbulkan percikan api yang cukup besar. Cukup untuk membuat para pendukung PDIP untuk ketakutan, bubar kocar-kacir menyelamatkan diri berlarian masuk ke kampung-kampung. Dan selamatlah SMA MUHI Solo dari amukan massa yang sedang emosi.

Dan malam itu, laskar-laskar FPIS berpatroli mengelilingi kota Solo ke titik-titik yang rawan dirusak massa. Mereka siap perang, lengkap dengan persenjataannya, tapi bukan untuk merusak tapi untuk membela asset dan kekayaan umat Islam. Sedangkan polisi entah bersembunyi kemana.

Media massa Indonesia memang tidak pernah adil memberitakan FPI. Tapi masyarakat Muslim Indonesia tahu siapa FPI sebenarnya. Memang FPI tidak sempurna, tapi saya adalah pendukung FPI. Semoga allah selalu memberi petunjuk dan meridhoi perjuanganmu FPI...

1 komentar:

  1. amiin. allohu akbar..allohu akbar..allohu akbar.. hidup fpi

    BalasHapus