Di ITB ada beberapa dosen yang sangat rajin mengingatkan mahasiswa lewat mailist tentang ini itu, tentang jumlah sks yang harus dipenuhi sesuai tingkatan, tentang masa liburan yang nggak boleh disia-siakan dan harus diisi dengan semester pendek dan kerja praktek, dll. Kesannya buat saya, seakan-akan mahasiswa itu jadi seperti anak kecil yang harus dibilangin ini itu. Unfortunately, ternyata beberapa dosen mengakui bahwa memang ada degradasi kualitas input mahasiswa ITB. Mereka memang lebih childish dan kurang mengerti etika serta sopan santun dibanding pendahulunya.
Kemarin saya sedikit ngobrol dengan anggota tim kurikulum ITB tentang kualitas pendidikan di ITB. Mengomentari kesan saya itu, beliau bilang bahwa itu didasari kebijakan ITB bahwa mahasiswa harus lulus tepat waktu. Nah, upaya beberapa dosen yang 'rajin' ini agar ujung-ujungnya jumlah mahasiswa yang lulus tepat waktu meningkat dan waktu lulus study dapat semakin ditekan. Jika dulu kita biasa mendengar mahasiswa ITB lulus setelah tujuh tahun, turun menjadi sekitar lima setengah tahun di akhir 90-an, saat ini rata-rata kelulusan adalah empat setengah tahun. Padahal beban study dan tuntutan kompetensi semakin berat. Satu topik tugas akhir di angkatan 90-an, saat ini tingkat kesulitannya sudah setara dengan satu modul praktikum. Akibatnya bisa dibayangkan effort yang harus diberikan mahasiswa agar bisa mengimbangi tuntutan studinya. Alasan yang sering dipakai untuk kebijakan lulus tepat waktu adalah agar mahasiswa lama tidak 'mendzalimi' adik kelasnya, dalam arti menuh-menuhin ruang kuliah, memakai peralatan padahal harusnya dipakai yang muda-muda. dll. OK, ini memang masuk akal, meski salah satu akibatnya, mahasiswa jadi kehabisan waktu untuk mengembangkan diri di luar aspek kognitifnya. Akibatnya secara usia sudah harus menikah dan bekerja, tapi mental dan karakter masih sangat perlu di bina.
Yang menurut saya lebih konyol adalah kebijakan ZERO DROP OUT. Saya tidak tahu apa tujuannya. Sepertinya kini ITB lebih khawatir pada study mahasiswanya dari pada orang tuanya sendiri. Iya kalau kebijakan itu dimanifestasikan ke pembuatan sistem yang lebih mendukung dan 'memudahkan' mahasiswa untuk lulus. Yang saya khawatirkan adalah, ketika implementasinya adalah menurunkan persyaratan kelulusan. Jelas-jelas mendegradasi kualitas pendidikan itu sendiri.
Lucu juga bahwa sekarang fungsi dosen mulai bergeser dari pengajar menjadi pendidik. Klo dulu ada anak SD, SMP, atau SMA nggak naik kelas atau nggak lulus, yang disalahkan adalah guru dan sekolahnya. Itu karena guru itu nggak sekadar ngajar, tapi juga mendidik. Klo di perguruan tinggi, kesalahan itu tetap ditujukan ke mahasiswa yang gagal. Tapi sekarang, dosen dan perguruan tinggi pun turut dipersalahkan ketika ada mahasiswa yang DO atau ada kuliah yang tingkat kelulusannya rendah. Misalnya klo sekarang kuliah DRE (Dasar Rangkaian Elektrik), yang dulu dikenal sebagai DTE (Dasar Teknik Elektro). Dari dulu, tingkat kegagalannya berkisar 30%-40%. Ketika itu terjadi tatkala DRE masuk dalam program TPB, pengelola TPB marah-marah pada para dosen DRE karena banyak mahasiswa yang gak lulus sampai terancam DO karena tidak bisa lulus TPB sampai batas waktu. Ya memang para mahasiswanya sendiri yang males-males dan nggak bertanggung jawab pada dirinya sendiri, keluh seorang dosen menanggapi teguran itu. Padahal secara usia mereka harusnya cukup dewasa untuk sekadar mengerti konsekwensi mereka mengambil kuliah.
Sebagai bahan pemikiran, klo kita mengerti cerita mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang berangkat belajar ke luar negeri, sesungguhnya tingkat kelulusan mereka tidaklah seratus persen. Misalnya yang ke Jepang saja, khususnya di Tokodai, tidak sedikit mahasiswa asing atau Indonesia yang pulang tanpa berhasil membawa gelar. Saya bahkan kenal dengan beberapa diantaranya. Dan sepertinya itu tidak menjadi masalah terlalu serius. Tokodai tetap menjadi perguruan tinggi tujuan di Asia-pasifik dan bahkan di dunia. Ini karena substansi pendidikan itu dipertahankan, dan tidak ditukar dengan sesuatu yang bertajuk 'zero drop out' ataupun 'lulus tepat waktu.' Dan mereka yang menunjukkan kinerja maksimal akan di-reward dengan kemungkinan lulus lebih cepat. Tidak ada istilah cumlaude atau semacamnya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar