Selasa, Agustus 28, 2012

Infrastruktur Manajemen Pengelolaan Masjid

Hari Ahad lalu, saya menghadiri launching program Midori Masjid-based Microfinance di Masjid Al Hidayah Sukajadi. Salut buat Ust Topan n crew untuk launching program ini. Sebuah karya nyata, meskipun kecil tapi semoga menjadi langkah awal mengembalikan kemuliaan umat Islam.

Satu hal menarik disampaikan salah seorang sahabat saya yang ahli manajemen, tentang infrastruktur dasar manajemen. Disampaikannya dalam acara itu sebenarnya dalam konteks revitalisasi manajemen masjid. Tapi saya senang dengan konsepnya yang general untuk setiap bentuk manajemen dan organisasi.

Ada  4 bagian penyusun manajemen.

Activity.  Tentu setiap organisasi atau institusi memiliki aktifitas yang menghasilkan produknya. Dalam konteks pengelolaan masjid, aktifitas DKM/takmir masjid adalah mengelola aktifitas peribadatan, perawatan masjid, mengatur penggunaan masjid, dsb. Rata-rata semua sudah mengerti dan mencoba menjalankannya dengan baik, yang diimplementasikan dalam bentuk pertemuan-pertemuan pengurus masjid, pembuatan jadwal kegiatan, dll.

Finance. Sisi kedua manajemen adalah pengelolaan sumberdaya keuangan, meliputi pengelolaan sumber-sumber keuangan (misalnya kencleng dan kotak infaq, donatur tetap, bantuan pemerintah, dll), pencatatan dan administrasi, serta pendayagunaan (alokasi dana, prioritas pembiayaan, rencana pengembangan kedepan, dll). Sampai disini, bentuk manajemen sederhana biasanya sudah ada.

Customer satisfaction. Masuk ke point ketiga, sudah banyak kalangan pengurus masjid yang melupakan: kenyamanan dan kepuasan jamaah masjid. Yang penting mesjid terawat, jamaah sholat fardhu terselenggara sudah cukup. Padahal seharusnya pengurus masjid senantiasa berpikir untuk memaksimalkan fungsi masjid bagi umat Islam. Menyangkut hal ini, ada ungkapan menarik dari KH Miftah Faridl bagi para pengurus masjid, bahwa pengurus masjid baru bisa dikatakan berhasil jika jumlah jamaah sholat Jum'at di masjid itu sama banyaknya dengan jumlah jamaah sholat Subuhnya. Ada banyak hal yang sifatnya teknis yang turut mempengaruhi tingkat partisipasi jamaah. Bukan hanya masalah kebersihan dan kenyamanan masjid, tapi sampai proses mentarbiyah jamaah masjid dan memotivasi mereka untuk datang ke masjid, tentunya menjadi salah satu ukuran yang mendukung kepuasan jamaah ini.

Sustainability. Satu aspek penting lain yang lebih sering lagi dilupakan adalah sustainability=kaderisasi. Satu generasi kepengurusan yang berhasil dalam ketiga aspek pertama tentu bisa dikatakan berprestasi. Tapi prestasi itu menjadi cepat ditelan jaman manakala terjadi kegagalan mempertahankannya, yaitu ketika gala dalam mempersiapkan generasi selanjutnya.


Akhirnya, untuk dapat menjaga dan mengembangkan manajemen yang sedang berjalan, diperlukan proses evaluasi atas keempat sisi tersebut secara seimbang. Seringkali kita gagal memperbaiki manajemen karena gagal menentukan parameter-parameter untuk menilai tingkat keberhasilan manajemen dalam keempat sisi tersebut. Disinilah pentingnya kemampuan untuk membuat tolok ukur yang seimbang sisi kuantitatif dan kualitatifnya. We can not achieve success, if we can not measure achievement.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar