Selasa, Juli 22, 2008

Bisakah BPPT kayak MIMOS?

Bismillah...
Udah lama banget gak ngeblog. (Kayak yang rajin ngeblog aja he..he...). Tiba-tiba aja pengen.
Baru saja di STEI ada rombongan tamu dari MIMOS Malaysia. Dengerin (lagi) presentasinya dari president MIMOS, jadi mikir situasinya di Indonesia. Koq rasanya jadi nelangsa...

MIMOS (http://www.mimos.my/) berperan dalam kegiatan riset teknologi di Malaysia. Sebagai lembaga dibawah MOSTI Malaysia (Kementrian RISTEK), MIMOS punya tugas menjembatani kegiatan riset dasar maupun applied yang ada di universitas dengan industri lokal Malaysia. Fungsinya ya melakukan riset scaling up dari prototype lab hasil penelitian university, atau mengumpulkan dan mengelaborasi hasil-hasil riset dasar, mengembangkannya agar sesuai kebutuhan pasar dan industri, dalam arti memiliki added value yang tinggi.

Keberadaan MIMOS memperlihatkan sikap 'nyaah' (mengerti) dari MOSTI setidaknya akan tiga hal: pertama tentang tuntutan industri akan produk-produk invensi dan pengembangan, kedua bahwa terdapat jalan panjang yang melibatkan berbagai ahli berbagai disiplin ilmu untuk membawa sebuah hasil penelitian dari dasar sampai ke konsumen, dan ketiga bahwa adalah sangat sulit dan hampir impossible bagi peneliti di universitas untuk menjalankan hal tersebut (poin kedua) sendirian. Pemerintah Malaysia agaknya cukup tahu diri akan kewajibannya dalam hal ini sehingga meng-create lembaga MIMOS. Satu hal yang menarik, para petinggi MIMOS ternyata tidak berlatar belakang akademis saja, tapi masing-masing memiliki pengalaman di Multi National Corporation. Tapi mereka punya barisan professor yang menjadi staf ahli di MIMOS.

Apakah Pemerintah RI gak ngerti dengan yang tadi? Aku yakin mengerti. Setidaknya klo beberapa kali mendengarkan presentasi Ibu Tien Muhtadi semasa beliau menjabat sebagai Deputi Menristek bidang sistem pengembangan iptek nasional (Sipteknas). Ada penelitian hulu ada penelitian terapan. Yang kurang adalah kesadaran bahwa tidak bisa mengharapkan para peneliti yang sebagian besar kafaahnya dari riset dasar atau sedikit terapan (Namanya mungkin terapan, tapi masih jauuuuuh hasilnya bisa memenuhi kebutuhan industri) untuk menjalankan semua proses pengembangan produk tadi. Maunya pemerintah, cukup dengan ngasih bantuan biaya penelitian, tanggung jawab lainnya ada di peneliti. Ngawur besar.... Bahkan semua juga udah tahu berapa besar anggaran kementrian ristek di negara kita... Ngerti, tapi nggak tahu diri...


Judul tulisan ini memang 'Bisakah BPPT kayak MIMOS?'. Tapi aku nggak mau membahas BPPT. Aku nggak tahu dalemnya bppt. Tapi jika tahu bahwa wapres JK pernah 2 kali nyemprot Menristek didepan forum tentang 'tidak bergunanya' BPPT, bahkan bilang agar BPPT nyewain aja gedungnya di Thamrin biar ada pemasukan (biar berguna dikit),
kira-kira ketahuan seperti apa kerjanya bppt. Jalan-jalan ke webnya BPPT, ekspose hasil-hasil penelitiannyapun udah kadaluwarsa sejak 2004...

Tapi... Semoga ada pejabat BPPT yang mau menyadari harapan ini...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar