Sabtu, Februari 05, 2011

Menikah dalam Bingkai Syariat (6)

Saat Memulai Rumah Tangga

Saat-saat memulai rumah tangga merupakan saat-saat yang demikian indah. Mungkin hampir sama dengan yang dirasakan oleh setiap pasangan yang sedang jatuh cinta atau sedang berpacaran. Bedanya, kami melakukannya dengan penuh kejujuran. Penuh kejujuran karena kami sadar sepenuhnya bahwa dengan ikatan pernikahan, maka kami harus betul-betul membuka diri satu dengan yang lain, dan segera menyesuaikan diri dengan karakter pasangan. Tidak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi. Itulah mungkin salah satu nikmatnya langsung menikah.

Pacaran bagi saya penuh dengan kebohongan. Apa lagi jika dilakukan oleh mereka yang tidak berniat untuk menikah. Memang terkadang ada sedikit rasa khawatir jika saja sifat atau sisi buruk saya diketahui oleh istri. Saya yakin demikian juga sebaliknya. Tapi saya sadar bahwa setiap orang tidak ada yang sempurna. Pasti memiliki kekurangan. Yang terpenting adalah kesadaran untuk mengakui kekurangan itu dan berusaha memperbaiki, serta belajar menerima pasangan apa adanya. Inilah yang saya maksud dengan jujur.

Disinilah saya merasakan sangat diperlukan adanya keikhlasan dalam menikah. Keikhlasan untuk tetap setia kepada visi dan cita-cita kita menikah. Keikhlasan untuk menerima kondisi pasangan apa adanya dan seutuhnya. Dengan adanya keikhlasan ini, cinta pun akan tumbuh dan bersemi dengan sendirinya dalam jiwa kita.

Sering orang bilang bahwa untuk menuju pernikahan harus didasari dengan cinta. Tapi saya membuktikan bahwa pernikahan yang suci dan ikhlas itulah yang akan memberikan kita “cinta sejati”. Maksudnya cinta yang suci karena dibingkai dalam sebuah niat dan cita-cita yang luhur dan agung dalam membina rumah tangga, dalam jalinan pernikahan. Bukan cinta yang tumbuh karena didasari ketertarikan fisik semata. Sehingga ketika terjadi hal-hal yang bisa mengganggu ketulusan cinta, kesetiaan kepada cita-cita itulah yang senantiasa mengingatkan untuk bisa mengesampingkan ego, ikhlas memberikan pengorbanan demi terwujudnya cita-cita dan harapan.

Satu hal istimewa yang saya rasakan saat memulai kehidupan berumah tangga adalah, menikah benar-benar merupakan sebuah pengalaman baru bagi saya ketika berdekatan langsung dengan seorang wanita. Salah tingkah, perasaan berdebar-debar, dan rasa malu selalu mewarnai hari-hari kami. Terutama disaat-saat pertama kami berdua. Namun perasaan berbunga-bunga disertai keinginan yang menggebu-gebu untuk ‘memadu kasih’ itu sedemikian kuat, dan lama-kelamaan mengikis rasa canggung diantara saya dan istri. Juga kesadaran bahwa sekarang kami adalah suami istri yang sudah dihalalkan Allah satu untuk yang lain. Semua itu membantu kami untuk belajar saling menyayangi.

Saya dan istri sama-sama dididik dalam keluarga yang taat beragama. Sebelum menikah, saya adalah seorang laki-laki yang senantiasa menjaga jarak dengan wanita yang bukan mahram. Saya tahu bahwa berdua-duaan, bermesraan, bersentuhan dengan seseorang yang bukan mahram kita adalah sesuatu yang dilarang. “Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesuangguhnya zina adalah sebuah perbuatan keji dan sesuatu yang buruk,” demikian Allah berfirman dalam QS Al Isra ayat 32.

Mendekati zina dilarang. Berarti semua aktivitas yang menjadi jalan terjadinya zina juga dilarang. Membiasakan diri kita untuk dekat dengan yang berlainan jenis, meski hanya persahabatan, juga terlarang. Itulah yang menjadi prinsip saya.

Saya tidak pernah membiarkan cinta kepada seseorang akhwat tumbuh dalam hati. Saya setuju bahwa mencintai seorang wanita adalah fitrah seorang lelaki. Tapi membiarkan cinta tumbuh dalam kondisi kita belum siap menikah, bagi saya sama saja dengan menyiksa diri. Siapa yang bisa bekerja dan berkarya dengan produktif, jikalau hati memendam rasa cinta dan rindu? Saya tidak melihat cara yang lebih baik untuk melampiaskan rasa cinta antara sepasang insan selain dengan menikah.

Setelah menikah, semua larangan itu sudah tidak ada lagi. Bahkan sebaliknya, aktivitas-aktivitas itu bisa bernilai ibadah. Saya merasakan kebahagiaan yang sempurna disaat saya bisa mengungkapkan cinta dan kasih sayang dalam aktivitas yang mengundang ridha Allah. Bukankah para sahabat Rasulullah pernah bertanya pada Baginda, “Apakah seorang yang melepaskan syahwatnya (kepada istrinya) baginya pahala sedekah?” Rasulullah menjawab, “Ya, bukankah bila ia melakukan pada hal yang haram dia berdosa? Jika ia melakukannya pada yang halal ia berpahala (sedekah).”*)

Indahnya percintaan yang sering dilukiskan dalam sinetron atau roman, itulah yang kami rasakan. Saat-saat diawal pernikahan begitu berkesan, dan menjadi sesuatu yang sangat sulit saya lupakan. Menuliskan kembali kisah ini bukanlah sesuatu yang sulit bagi saya, karena begitu dalam setiap kejadian itu membekas dalam ingatan saya. Barangkali ini juga satu kebahagiaan yang saya rasakan ketika menikah dengan proses yang Islami. Tanpa pacaran. Kesenangan dan kebahagiaan dalam romantika percintaan dapat dirasakan seutuhnya tanpa halangan, hanya bersama seseorang yang selamanya akan menjadi teman dalam menjalani hari-hari ke depan. Berdua saling berbagi suka dan duka.

Saya tidak bisa membandingkan kebahagiaan itu dengan mereka yang sudah melakukan pacaran sebelum menikah, karena saya tidak pernah pacaran. Tapi saya bisa membayangkan hambarnya sebuah pernikahan bagi mereka yang sudah berpacaran lama sebelumnya. Keindahan dan kebahagiaan di awal pernikahan, lengkap dengan rasa malu, salah tingkah, hati berdebar dan berbunga-bunga, pasti sudah habis dirasakan di masa awal pacaran. Saya berpendapat, pernikahan yang sebelumnya diawali pacaran hanya akan menjadi sebuah prosesi keluarga dan publikasi biasa bahwa hubungan mereka sudah ‘resmi’. Rasanya menikah seperti itu menjadi ‘biasa’, tidak membawa kesan, dan tidak bermakna. Apalagi bagi mereka yang terbiasa pacaran dan sudah berganti-ganti pacar. Cinta mungkin sudah tidak ada artinya lagi, sehingga istri atau suami hanyalah orang kesekian kalinya yang pernah singgah di hati. Hilanglah sudah keistimewaan dan keindahan pernikahan.

Sangat lucu jika ada seorang yang biasa berganti-ganti pacar, mengatakan bahwa dia sering berpindah ke lain hati karena belum menemukan tambatan jiwa yang akan dinikahi untuk teman sehidup semati. Sungguh sebuah omong kosong. Cinta pertamalah yang paling berkesan, itu yang saya rasakan. Seperti firman Allah yang saya ungkap sebelumnya, lelaki yang baik-baik akan mendapatkan wanita yang baik-baik dan begitu juga sebaliknya. Seorang yang doyan berganti pasangan hanya layak bagi orang yang rajin berganti-ganti pacar. Sesering apapun berganti pacar, tidak akan bertemu dengan orang yang dirasakan paling sesuai, karena sejak awal niatnya hanya untuk menjajaki. Cinta yang ada juga hanyalah cinta yang semu karena berangkat dari paradigma yang salah.

Tapi tunggu dulu. Setelah saya menikah, saya benar-benar menyadari bahwa pernikahan tidak berhenti pada urusan cinta dan kebahagiaan. Meskipun segala sesuatu yang kita lakukan sebagai suami istri sudah merupakan sesuatu yang halal. Saya merasakan adanya nuansa lain dalam setiap aktivitas berumah tangga. Hal itu adalah tanggung jawab. Dengan menikah dan berumah tangga, berarti kita sudah siap menanggung risiko dan bertanggung jawab sendiri secara penuh terhadap segala tindakan dan pilihan kita.

Sebagai seorang suami, saya merasakan perubahan yang begitu besar dalam masalah bertanggung jawab ini, bahkan kepada diri sendiri sekalipun. Alhamdulillah, kedua orang tua saya sudah mulai mengajarkan tentang tanggung jawab berkeluarga itu sejak saya menyatakan keinginan untuk menikah. Sejak saat itu berhentilah semua dukungan finansial dari orang tua saya. Tentu bukan karena mereka tidak sayang, tetapi saya menyadari betul hal itu sebagai latihan bagi saya yang akan menikah. Jika menghidupi diri sendiri saja tidak mampu, bagaimana bisa bertanggung jawab menghidupi keluarga?

*)Bunyi hadits shahih lengkap riwayat Muslim: Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah telah jadikan untuk kalian, setiap tasbih sebagai sedekah, setiap takbir sebagai sedekah, setiap tahlil sedekah, setiap tahmid sedekah, setiap amar ma'ruf sedekah, setiap nahyi munkar sedekah, dan pada kemaluan istri kalian sedekah.’ Sahabat keheranan dan bertanya, ‘Apakah seseorang yang melepaskan syahwatnya (pada istrinya) baginya pahala sedekah?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya, bukankah bila ia melakukan pada hal yang haram dia berdosa? Jika ia melakukannya pada yang halal ia berpahala (sedekah).’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar