Sedikit tentang manhaj dakwah dalam persepsi saya, maka yang saya maksud dengan manhaj dakwah disini adalah bagaimana suatu gerakan memahami dan mengejawantahkan syariat Islam kedalam bentuk aktifitas dakwah. Jadi manhaj disini adalah produk dari pemahaman akan syariat Islam, dan bukan syariat Islam itu sendiri. Mungkin sebagian gerakan melakukan klaim bahwa manhaj mereka adalah yang paling sesuai Al Qur'an dan As Sunnah, namun tentu saja itu menurut pemahaman mereka dan bukan sebuah kebenaran mutlak. Sedangkan mengenai Islamnya sendiri, tentu tidak ada keraguan lagi bahwa Islam satu-satunya manhaj hidup -dalam segala aspeknya- yang baik dan benar.
Yang pertama adalah bagaimana HT mempersepsikan kepribadian manusia. Saya mencoba membuat skema tentang aspek kepribadian manusia, yang saya simpulkan dari bagian awal (bab pertama) dari tulisan Ust. Taqiyudin berjudul Syakhsiyyah Islamiyyah terbitan HTI Press 2007.

Ada sedikit quote yang saya ambil dari buku itu yang saya tulis di bawahnya, untuk mempertegas dua point dari catatan yang saya buat.
Pertama, HT memandang bahwa persepsi (mafahim) merupakan pusat dari kepribadian manusia. Ini terlihat jelas dari skema tersebut, dimana persepsi yang dipadukan dengan fakta akan membentuk sebuah pola pikir (aqliyah). Fakta merupakan sesuatu yang tidak bisa dikontrol oleh seorang individu, karenanya yang bisa dibentuk dalam proses pembentukan kepribadian adalah pembentukan persepsi ini. Di sisi lain dalam pembentukan pola sikap (nafsiyah), persepsi juga berperan besar dalam membentuk kecenderungan (muyul), dan selanjutnyanya dalam kombinasinya dengan muyul akan membentuk pola sikap.
Kedua, HT berpegangan pada pendapat bahwa yang membentuk persepsi adalah bagaimana seorang individu mampu mengolah suatu informasi (maklumat), mampu membayangkan dengan inderanya dengan bersandar pada suatu tolok ukur (qaidah) sehingga membentuk sebuah persepsi. Jelas bahwa indera itu dimiliki semua orang, dan informasi sifatnya tidak dapat dikontrol oleh individu sebagaimana fakta, karenanya dalam membentuk kepribadian, yang harus disiapkan adalah tolok ukurnya. Untuk membentuk kepribadian Islami, maka suatu pribadi harus menjadikan syariat Islam sebagai satu-satunya qaidah yang dianut.
Konsekwensi dari kedua hal diatas adalah bagaimana pola yang digunakan HT dalam pembentukan kepribadian para kadernya. Saya belum pernah mengikuti proses kaderisasi HT. Namun saya mencoba menyimpulkan secara singkat bahwa dalam pembentukan kepribadian ala HT, pembentukan persepsi menjadi fokusnya. Beberapa saat yang lalu saya sempat berbincang dengan seorang anggota HT yang cukup senior. Ketika mengomentari tentang suatu acara pembahasan pernikahan Islami, beliau menyatakan bahwa HT juga memandang bahwa acara tersebut penting, tapi HT berpandangan bahwa itu bukan fokusnya, dan bukan sesuatu yang urgen. Saya jadi teringat beberapa waktu lalu (cukup lama), beliau juga sempat berkomentar singkat mengenai acara pelatihan kepanduan (mukhoyyam). Yang saya tangkap waktu itu beliau mengatakan bahwa lebih baik beliau tinggal di rumah saja karena acara semacam ini tidak bermanfaat. Saya berasumsi, komentar tersebut adalah dalam konteks pembentukan kepribadian Islami.
Salah satu keunggulan dari pola kaderisasi semacam ini tentu saja adalah kesiapan dalam menghadapi berbagai perang pemikiran yang terjadi. Resistensi terhadap berbagai pemikiran non-Islami akan kuat, juga akan mampu menjawab/menangkis serangan terhadap pemikiran Islami dan bahkan memberikan serangan balik terhadap pemikiran-pemikiran non-Islami semacam komunisme, kapitalisme, dsb. Namun tentu keunggulan kepribadian dari sisi yang lain, misalnya akhlaq, kafaah syar'i, muamalah, dsb masih menyisakan pertanyaan.
Disini saya ingin menggaris bawahi tentang aspek kejiwaan (nafs/qalb). Sangat banyak ayat Qur'an dan Hadits yang menyebut tentang posisi jiwa/hati dalam diri manusia. Bahkan seorang teman saya yang seorang imam masjid di Tokyo menyatakan, bahwa yang membuat keputusan itu adalah hati. Bukan akal. Jadi mengapa nafs/qalb tidak mendapat tempat dalam kepribadian Islami ala HT?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar