Tak lama setelah menikah, saya dan istri dihadapkan pada sebuah realita bahwa kami harus berpisah dan tidak dapat melewatkan waktu bersama-sama. Istri saya harus menyelesaikan studinya di Surabaya, sedangkan saya masih bekerja di Bandung. Berat rasanya. Segala mimpi indah yang saya bayangkan bisa saya rasakan dan nikmati setelah saya menikah belum lagi menjadi kenyataan. Keindahan membina rumah tangga dalam kebersamaan belum dapat saya alami sekarang.
Ada satu keinginan yang tertanam dalam diri saya ketika dulu menguatkan azzam untuk menikah, diantara keinginan saya yang lain. Keinginan itu adalah, agar dengan menikah saya menjadi lebih kuat dalam menjalani hidup, dalam melaksanakan segala peranan dan amanah yang saya emban. Ingin rasanya ada seseorang disisi kita yang senantiasa memberikan dukungan, membantu mengangkat segala beban dari diri kita. Beberapa kali saya pernah merasa sendiri, utamanya tatkala beban-beban kuliah, pekerjaan, atau aktivitas lainnya terasa menumpuk dan menyesakkan hati. Disaat itu pula-lah keinginan untuk segera menikah semakin membesar.
Satu hal yang pasti, saat berjauhan saya jadi makin sering merasa kesepian. Sering kali rasa jenuh, rasa capek, atau beban-beban yang menumpuk setelah seharian beraktivitas, berubah menjadi sebuah kesedihan. Dulu saya membayangkan setelah menikah, saya akan selalu bersemangat pulang ke rumah, karena ada someone special menunggu disana. Tapi kenyataannya dalam perjalanan pulang dari kantor, saya menyadari kalau yang saya sayangi tidak sedang menunggu di pintu rumah, langsung kesedihan itu menyeruak, dan jadilah kepulangan itu menjadi satu momen yang menyiksa, membawa saya dalam rasa sepi yang lain. Saya jadi ingat, sebelum menikah ada seorang teman menanyakan tentang calon istri. Menanggapi kemungkinan saya berjauhan dengan istri (seperti yang saya alami), dia yang juga berjauhan dengan istrinya setelah menikah menyatakan, "Tolong dipikirkan lagi, berjauhan itu berat..." "Yah memang berat..." jawaban saya waktu itu. Tapi saya sama sekali tidak menyangka kalau seberat ini rasanya.
Cukup dulu keluh kesahnya. Mari berpikir positif. Secara lahir, memang saya merasa beban semakin berat, dan semakin sering merasa kesepian. Sebenarnya saya sadar, ternyata beban-beban yang saya terima memang bertambah drastis setelah saya menikah. Jadi bukan melulu karena berjauhan dengan isteri-lah yang membuat kadang saya merasa lebih lemah. Tapi, apakah ini berarti saya harus melupakan cita-cita yang sering saya singgung di tulisan ini?
Selama ini, ada satu hal yang membuat saya bertahan, yakni kesadaran bahwa ini merupakan salah satu konsekuensi yang harus saya tunaikan, karena menerima dia sebagai isteri saya. Saya tidak mungkin mengharapkan bahwa semuanya senantiasa indah setelah menikah, karena menikah juga disertai dengan berbagai konsekuensi. Ini adalah pertanggungjawaban saya atas sebuah pilihan yang saya ambil. Lebih jauh saya juga merasa ini sebuah pelatihan yang Allah siapkan untuk saya. Abi dan ummi menghibur dengan mengatakan, "Biasanya, keluarga yang bahagia, langgeng, dan tahan uji itu, sudah diuji dengan berbagai kesulitan sejak awal mereka menikah. Lebih bagus dan lebih tangguh yang menikah mulai dari nol, dari pada yang sudah mapan sebelumnya."
Semoga memang demikian, karena dengan berpikir seperti itu, saya menyadari bahwa saya sedang ditempa untuk menjadi lebih kuat. Saya yakin bahwa Allah tidak akan memberi ujian diluar kemampuan hamba-Nya dan boleh jadi saya akan mengalami ujian yang lebih berat dari ini. Saya harus bersyukur bahwa Allah berkenan men-tarbiyah saya melalui ujian ini. Demikian juga dengan permasalahan-permasalahan lain yang mungkin menunggu. Tinggal bagaimana kita berparadigma, dan bagaimana pula kita menyikapinya.
Senin, Februari 14, 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar