Apakah aqidah dan keimanan Islam itu selalu sesuai akal pikiran?
Sebagian isi Al Qur'an saat diturunkan sudah mengandung berbagai informasi tentang dunia yang baru bisa dimengerti pikiran manusia berabad kemudian. Tentang benda-benda langit yang bergerak pada jalurnya. Tentang air laut yang tidak bercampur, tentang gunung sebagai pasak-pasak yang meneguhkan bumi. Tentang proses penciptaan manusia, dsb. Beberapa kalimat diatas sebenarnya sudah selesai untuk menjelaskan bahwa aqidah dan keimanan Islam tidak melulu harus sesuai dengan akal pikiran manusia, karena Al Qur'an merupakan satu bagian tak terpisahkan dari keimanan seorang Muslim.
Tapi tentu saja, jika akal kita bisa mengerti akan menjadi jauh lebih baik keimanan kita. Dalam sebuah kesempatan, seorang ustadz menceritakan kisah Ibrahim muda ketika dia mencari Tuhannya. Akalnya yang cerdas menuntunnya kepada kenyataan bahwa Tuhan pasti lebih agung dari bintang, bulan, dan matahari. Pun ketika Ibrahim berkomunikasi dengan Tuhannya, Ibrahim muda meminta bukti dari Tuhannya untuk menenteramkan hatinya yang masih bergolak, sehingga Allah SWT memberikan pelajaran kepada Ibrahim muda bagaimana Allah SWT menghidupkan kembali empat ekor burung yang sudah dicincang oleh Ibrahim, dicampur adukkan dan dipisahkan ke empat bukit yang berbeda. Dan akhirnya Ibrahim muda pun menyerah pada sebuah kenyataan yang tidak dapat dijelaskan akalnya. Imannya menjadi teguh, tidak goyah.
Dan imannya yang kokoh itupun diwariskan pula kepada anaknya Ismail, yang bersama dengan ayahnya dengan penuh keyakinan menjalankan perintah berqurban. Tiada rasionalisme yang bisa menjelaskan perintah itu, selain bahwa itulah perintah Tuhan yang harus diterima dan dilaksanakan apa adanya.
Jadi, jika ada sisi-sisi keimanan yang sulit dijamah oleh akal kita, sangat mungkin itu karena akal kitalah yang memang belum mampu memikirkannya. Jika demikian, tidak usah menolak sisi keimanan itu dan jangan pula mencoba mencari-cari penjelasan yang boleh jadi malah membawa kita pada kekufuran. Ingatlah bahwa Iblis dilaknat oleh Allah SWT menjadi calon penghuni neraka karena menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam karena lebih mengutamakan akalnya yang belum bisa menjangkau hikmah perintah Allah tersebut dengan membandingkan penciptaannya dengan penciptaan Adam.
Senin, April 18, 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar