Beberapa waktu yang lalu, ada teman saya mengatakan bahwa sehabat saya yang syabab HT itu pernah mengkritik PKS, mengapa tidak mendakwahi para panglima angkatan bersenjata, para jendral dan sejenisnya. Terus terang saya sempat tidak ngeh akan hal itu, sampai saya membaca tulisan Taqiyuddin Nabhani tentang "Terjun ke Masyarakat." Berikut ini sebagian kutipannya.
----- Awal Kutipan -----
"Dengan demikian, terjun dan berjuang di tengah-tengah masyarakat, tidak hanya menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung di antara sesama anggota masyarakat, akan tetapi menyerang secara total interaksi yang berlangsung antara penguasa dengan umat dalam perkara yang menyangkut kemaslahatan manusia."
"Oleh karena itu, semestinya aktivitas Hizb yang paling menonjol adalah aktivitas menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dengan umat dalam semua aspek, baik menyangkut cara penguasa tersebut mengurus kemaslahatan, seperti pembangunan jembatan, pendirian rumah sakit, atau cara melaksanakan aktivitas, yang menyebabkan penguasa tersebut mampu melaksanakan (urusan umat), seperti pembentukan kementerian dan pemilihan wakil rakyat."
"Pemerintah yang ada di dunia Islam saat ini tidak dapat disamakan sosok pejabat pemerintah(al-hakim)-nya, sebagaimana dalam pemerintahan Islam. Yang ada saat ini adalah pemerintah yang sesuai dengan gambaran sistem Demokrasi. Pemerintah saat ini mencerminkan (eksistensi-pen) kelompok yang berkuasa, dan bukan pada diri seorang pejabat pemerintah yang menjadi pelaksana."
"Jadi Hizb tidak dapat dikategorikan terjun ke tengah-tengah masyarakat, kecuali setelah berhasil memasukinya dan menjadi pembimbing terhadap seluruh bentuk interaksi antara para penguasa dengan umatnya, dan sebaliknya, berdasarkan pemikiran-pemikiran yang diadopsinya."
"Sesungguhnya sebuah negara muncul melalui tumbuhnya pemikiran baru, yang menjadi asasnya, sehingga kekuasaan di dalam negara itu akan berubah mengikuti perubahan pemikiran-pemikiran tadi"
"Kekuasan berada di tangan kelompok yang paling kuat dari berbagai kelompok-kelompok lain di tengah masyarakat."
"Ini adalah perkara yang alami dan pasti terjadi dalam setiap kekuasaan yang mengatur dan memelihara kemaslahatan manusia. Ini berlaku baik dalam sistem kekuasaan kesukuan, Demokrasi, Islam bahkan dalam kekuasaan diktator sekalipun. Semuanya merupakan kekuasaan kelompok, dan bukan kekuasaan individu. Sebab individu yang mengatur dan memelihara kemaslahatan manusia, sesungguhnya hanya diperoleh dari dukungan satu kelompok yang kuat, atau diam (ridlo)nya kelompok itu terhadap kekuasaannya."
"Pengambilalihan kekuasaan di negara manapun tidak mungkin terjadi kecuali dengan menjadikan kumpulan pemahaman, standardisasi dan qana’ah diadopsi oleh umat atau oleh kelompok kuat di antara mereka sebagai thariqah untuk meraih kekuasaan."
"Namun jika pengambilalihan kekuasaan untuk melaksanakan sekumpulan pemahaman, standardisasi dan qana’ah tersebut berbeda atau kotradiktif dengan pemahaman yang diyakini, diterima serta dipegang teguh oleh masyarakat, maka (pengambilalihan kekuasaan-pen) hanya bisa dicapai melalui serangan dari luar, di mana kekuatan fisik dan pemikirannya mengalahkan kekuatan fisik dan pemikiran umat."
"Hizb dengan karakternya sebagai institusi pasti akan saling bertabrakan dengan institusi negara dan institusi umat agar keduanya dapat diserang secara serentak."
"Selama Hizb tidak berubah pemahaman, standardisasi dan qana’ah-nya, maka secara pasti Hizb terus-menerus menyerang dua institusi tersebut, yaitu institusi umat dan institusi negara secara serentak, termasuk Hizb akan terus menyerang institusi kelompok kuat di tengah-tengah masyarakat, sehingga menjadi satu institusi, di mana institusinya yang menonjol berada di tengah-tengah institusi umat sebagai pusat kepemimpinan. Dengan institusi baru ini, maka Hizb dapat menyerang institusi negara. Dan dengan dua institusi ini yaitu (institusi) pemikiran (Hizb) dan operasional (negara), maka ia akan mendominasi seluruh kelompok lainnya, yang kesemuanya dilebur menjadi satu institusi, yaitu institusi umat."
----- Akhir Kutipan -----
Kutipan-kutipan diatas semakin memperjelas bagaimana proses HT melakukan pengambilalihan kekuasaan. Ada beberapa point yang kembali ingin saya garis bawahi:
1. Penggunaan istilah 'menyerang,' yang seolah-olah institusi yang ada (pemerintah dan masyarakat) adalah musuh. Tidak adakah istilah lain yang lebih halus? Ini bagi saya menyiratkan bagaimana HT memandang pemerintah (demokratis) dan masyarakat yang mendukungnya.
2. HT menganggap bahwa pemerintah yang ada saat ini, yang berkuasa dalam sistem demokrasi adalah bukan pelayan/pelaksana kekuasaan umat, tapi representasi dari kelompok penguasa, yang merupakan gambaran dari demokrasi itu sendiri. Disini terlihat jelas bahwa HT memandang yang menjadi sumber masalah adalah "demokrasi"-nya. Karenanya, mereka adalah musuh yang wajib diserang dalam setiap aspeknya.
3. Berawal dari menyerang segala aktifitas pemerintah demokratis ini, HT berharap ada suatu kondisi yang memungkinkan adanya pergantian penguasa. Silakan menyimpulkan sendiri, kondisi seperti apa yang dimaksud? Saya rasa, tidak ada istilah yang lebih mendekati maknanya selain revolusi atau kudeta.
4. Dalam kondisi tersebut, kelompok terkuatlah yang akan memegang kekuasaan. Filosofi dan nilai-nilai yang dianut kelompok terkuat ini yang akan diterapkan dan menjadi nilai dan filosofi yang dianut oleh komponen masyarakat lainnya. Disini saya baru ngeh atas kritik pada pks tersebut, karena mungkin menurut HT kelompok terkuat adalah militer. Harapannya saat revolusi terjadi, militer dipimpin oleh para jendral dan komandan yang shaleh.
5. Jika memang berpendapat demikian, mengapa bukan HT sendiri yang memfokuskan dakwahnya kepada para presiden, petinggi partai, dan para pemimpin-pemimpin militer? Faktanya, dakwah HT lebih bisa diterima di kalangan luar pemerintahan, sebagaimana sikap HT yang memilih berada diluar sistem pemerintahan demokratis. Karenanya, sulit bagi saya untuk tidak menyimpulkan bahwa HT mengarahkan pada sebuah revolusi.
6. Revolusi dalam sejarah manusia, tidak bisa lepas dari pertumpahan darah. Dan jikapun revolusi itu terjadi, apakah militer akan dengan serta merta menerima pemikiran HT? Ataukah mereka berbalik memusuhi rakyat yang dipandang sebagai pembangkang?
Allahu a'lam bish shawaab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar