Ini adalah bagian ketiga dari catatan saya mengenai metode dakwah Hizbut Tahrir, masih dari kitab Mafahim Hizbut Tahrir yang memuat pokok-pokok pikiran HT oleh sang pendirinya, Taqiyuddin Nabhani. Disini kita akan lebih jauh menemukan ideologi radikal HT yang saya rasa tidak banyak orang yang awam akan HT mengetahuinya.
----- Awal Kutipan -----
"Diharuskan meneladani kehidupan Rasulullah SAW di Makkah dan mengikuti langkahnya dalam berdakwah..."
"dimulai dengan langkah pengkajian dan pemahaman tsaqafah Islam yang disertai dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban Islam"
"...beralih ke fase berikutnya, yaitu tafa'ul (berinteraksi) dengan ummat, sampai ummat dapat memahami Islam dan mengerti keharusan terwujudnya daulah Islam."
"...dengan membeberkan kerusakan-kerusakan masyarakat tersebut serta mencela dan menyerang pemahaman-pemahaman mereka yang salah, pendapat-pendapat mereka yang rusak serta merendahkannya."
"Melakukan aktifitas selain dakwah adalah racun dan penghalang dakwah."
"Rasulullah SAW ketika menyerukan Islam di Makkah yang penuh dengan berbagai kefasikan/kemaksiatan dan kekejian, tetapi beliau tidak mengambil tindakan apapun untuk menghilangkannya."
"beliau hanya mencela tuhan-tuhan mereka, menganggap dungu akal pikiran mereka dan merendahkan perbuatan mereka."
"Karenaitu, tidak diperbolehkan bagi suatu kelompok yang mengemban dakwah —dalam kapasitasnya sebagai sebuah kelompok— melakukan aktifitas selain dakwah. Hendaknya kelompok tersebut membatasi dirinya dalam aspek ide dan dakwah."
"tidak ada larangan bagi individu-individu anggota suatu kelompok dakwah mengerjakan aktifitas sosial atau kemasyarakatan. Akan tetapi suatu kelompok dakwah tidak diperkenankan melakukannya, karena tugasnya tidak lain adalah menegakkan daulah Islam..."
"Tujuan kutlah adalah melangsungkan kembali kehidupan Islam di negeri Islam dan mengembangkan dakwah Islam ke seluruh dunia. Metode yang ditempuh untuk mencapai hal ini ialah melalui pengambil-alihan kekuasaan."
----- Akhir Kutipan -----
Hmmm, nampaknya ini akan menjadi satu tulisan yang mengundang kontroversi, mengingat demikian kontroversialnya isi dari pernyataan-pernyataaan yang saya buatkan catatannya.
Pertama, sebuah langkah awal yang bagus dari HT ketika mencoba meneladani Rasulullah SAW dalam berdakwah, yaitu dimulai dari pengkajian dan penerapan Islam dalam tataran individu. Hanya saja pertanyaan saya disini, adalah sejauh mana penerapan Islam itu dilakukan pada diri anggotanya? Dalam buku Daulah Islamiyah, Taqiyudin Nabhani menyatakan bahwa para sahabat anggota kelompok dakwah pertama adalah para penghafal Al Qur'an. Tapi sejauh mana HT mewajibkan para syababnya untuk menghafal al Qur'an, selain ayat-ayat yang terkait politik dan kekuasaan? Dalam berbagai tulisan, banyak syabab HT mengklaim bahwa HT sangat memperhatikan aspek aqidah, ibadah, dan akhlaq dari para anggotanya. Hanya saja memang, diakui atau tidak, cukup sulit kita temukan implementasi kongkret dari hal itu. Yang menonjol kemudian adalah karakter HT yang sering mencela penguasa. Saya sendiri paham bahwa memang HT melarang anggotanya bergerak mengatasnamakan HT kecuali dalam dakwah siyasiyah mereka. Kalaupun ada yang melakukan aktifitas lain: terlibat dalam aktivitas sosial, dalam kajian fiqh, atau kajian keIslaman lain yang non politik, dianggap sebagai tindakan pribadi. Celakanya, HT memandang aktifitas lain selain penegakan daulah sebagai racun dan penghalang dakwah. Di lapangan kemudian memang jarang kita temui aksi riil HT dalam pembinaan umat (non-politik) dan sosial. Maka tidak salah memang jika banyak yang menganggap HT kurang memperhatikan aspek aqidah, ibadah, dan akhlaq ini.
Kedua, setelah menyiapkan kader-kader dakwah, langkah selanjutnya yang ditempuh HT adalah tafa'ul (berinteraksi) dengan ummat, sampai ummat dapat memahami Islam dan mengerti keharusan terwujudnya daulah Islam. Memahamkan umat akan Islam secara keseluruhan adalah sebaik-baiknya aktifitas, namun menjadikan tujuannya "Sampai umat dapat mengerti keharusan terwujudnya daulah Islam," adalah jelas menyelewengkan inti dakwah Rasulullah itu sendiri, karena Rasulullah dalam sirah maupun Al Qur'an yang turun pada masa itu (di Makkah), tidak pernah menyinggung keharusan menegakkan daulah. Karenanya menurut pendapat saya, kesesuaian dakwah HT dengan metode Rasulullah harus bisa diukur juga melalui bagaimana mereka menyiapkan karakter Muslim dan umat Islam sebelum umat mampu menegakkan kepemimpinan Islam. Sayangnya justeru hal ini diharamkan HT untuk dijadikan salah satu misi dakwah berjamaahnya.
Ketiga, metode HT untuk menegakkan daulah adalah dengan melakukan pengambilalihan kekuasaan. Disinilah sebenarnya wajah sesungguhnya HT terlihat, yaitu selain berkarakteristik radikal, juga bersifat subversif terhadap penguasa yang bagi mereka tidak memenuhi kriteria daulah Islam. Bagi saya pribadi, sebenarnya boleh saja sebuah gerakan dakwah memiliki misi untuk memegang kekuasaan, dan menggunakan kekuasaan itu untuk kepentingan dakwah. Namun caranya harus sesuai dengan syariat yang dipahami dengan cara yang benar. Rasulullah memang merendahkan pemahaman dan perilaku jahiliyah masyarakat Makkah diwaktu beliau berdakwah. Namun yang beliau rendahkan adalah dalam konteks Islam VS Jahiliyah/ghairul-Islam yang jelas substansinya, misalnya penyembahan berhala, perlakukan yang salah terhadap wanita dan budak, dsb. Perlu saya garis bawahi, belum pernah saya menemukan celaan Rasulullah terhadap sistem pemerintahan saat itu (yang menurut saya bersifat Aristokrat), selain Rasulullah SAW mencela para pemimpin Quraisy karena kebiadaban pribadi mereka. Mengapa ini saya berikan catatan, tidak lain karena saat ini, aktifitas HT lebih banyak mencela penguasa di negeri Muslim dan membawa penyebab kerusakan yang terjadi adalah karena kesalahan sistem yang dipakai, bukan karena kesalahan pribadi mereka. Padahal sebagaimana saya bahas dalam catatan sebelumnya, syarat sebuah masyarakat yang sejahtera adalah keimanan dan ketaqwaan penduduknya, bukan karena sistem yang dipakai. Masyarakat yang terdiri dari penduduk yang shalih dan shalihat tentu akan menjadikan orang-orang yang shalih dan shalihat juga sebagai pemimpin mereka, dan menggunakan sistem yang tidak melanggar syariat Islam dalam mengelola urusannya. Apakah mereka menggunakan sistem demokrasi, monarki, teokrasi, atau aristokrasi hanya akan menjadi masalah teknis bagaimana menjalankan amanat kekhilafahan itu.
Apa yang dilakukan HT saat ini (Studi kasus di Indonesia) adalah berusaha menggiring opini masyarakat bahwa perubahan menuju kondisi yang lebih baik hanya akan bisa diraih dengan mengganti sistem pemerintahan yang ada dengan sistem daulah Islam yang mereka pahami, dengan cara membeberkan kerusakan dan penyelewengan yang ada, dan menimpakan kesalahan dan penyebabnya kepada sistem demokrasi. Persis seperti yang digariskan Taqiyuddin Nabhani. Apa yang diharapkan adalah sebuah pembangkangan massif yang berujung pada lemahnya pemerintah dan memungkinkan terjadinya kudeta. Dan disinilah benang merah aktifitas HT terlihat jelas:
- berjuang di luar sistem, namun bersikap oposisi terhadap pemerintah
- mencela dan menjelekkan penguasa
- menjadikan demokrasi sebagai penyebab buruknya kondisi masyarakat
- memandang bahwa daerah yang merajalela kerusakan dan demoralisasi sebagai tempat ideal untuk titik tolak dakwah
Jika anda membaca bahasan utama publikasi-publikasi resmi HT, di Indonesia contohnya majalah bulanan al Wa'ie dan buletin mingguan al Islam, anda pasti akan mengerti maksud saya. HTI sepertinya berharap bahwa suatu saat revolusi akan meletus di Indonesia yang berujung pada munculnya daulah Islam.
Salah satu konsekwensi logis dari hal ini adalah: segala upaya perbaikan masyarakat (Islahul ummat) yang dilakukan dalam kerangka pemerintah (daarul kufur) yang dianggap tidak sesuai dengan daulah Islam adalah musuh (racun) dan penghalang dakwah HT. Karenanya sulit bagi saya untuk tidak menyimpulkan bahwa HT tidak senang dengan aktifitas kelompok Muslim lain yang berjuang mewujudkan pemerintah yang baik, bersih, adil, dan amanah selema tidak berniat mendirikan daulah Islam. Misalny di Indonesia, entah apakah itu dilakukan PKS, PPP, PAN, PKB, atau parpol yang bernafas Islam lainnya. Bahkan, mereka mungkin tidak akan merasa sedih apabila ada diantara para aktifisnya mengalami sandungan, dan menimpakan kesalahannya pada sistem demokrasi yang dianut.
Allahu a'lamu bishshawaab
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Assalamu'alaykum wrwbkt
BalasHapusDear mas Amin Sultoni, berpendapat dan berkesimpulan berbeda tentu2 sah saja. Tapi kalau boleh saya mengkonfirmasi kesimpulan anda :
1. HT tidak menempatkan diri sebagai oposisi, HT menempatkan diri sebagai organisasi amar ma'ruf nahi mungkar. Bila pemerintah berbuat mungkar maka akan dicegah, tapi bila berbuat baik maka akan didukung aktivitas kebaikan itu
2. buruknya keadaan sekarang bukan karena demokrasi, tapi karena jauhnya umat dari aqidah dan syariat Islam. demokrasi hanya salah satu penyebab saja. barangkali karena Indonesia yang kita tinggali ini adalah negara demokrasi, maka yang sering terdengar tentu kritikan terhadap demokrasi
3. dalam pandngan tempat ideal untuk berdakwah justru tempat disana syiar syiar islam exist sehingga masyarakatnya masih terikat secara fikiran dan perasaannya dengan sistem islam
4. tidak ada kamus kudeta dalam HT yang ada adalah istilamul hukmi, dimana justru penguasalah yang memberikan kekuasaan itu secara sukarela
terimakasih & wassalam
Wa'alaikumsalam wr wb,
BalasHapusTerimakasih mas dnux,
1. Alhamdulillah, saya juga tidak menyangkal bahwa HT bertujuan amar ma'ruf nahyi munkar. Semoga konsisten, jujur, dan adil.
2. Jadi buruknya keadaan sekarang bukan karena demokrasi, tapi karena jauh dari aqidah dan syariah ya? Tapi menurut HT, metode paling praktis memperbaiki aqidah dan mengembalikan umat pada syariat adalah dengan membentuk pemerintahan Islami. Akibatnya HT menempatkan masalah demokrasi seakan bagian aqidah itu sendiri, dan memiliki porsi yang sedemikian penting, lebih penting dari memperbaiki aqidah umat secara langsung.
3. Lalu bagaimana anda mengomentari tulisan Ust. Taqiyudin Nabhani tentang titik awal, titik tolak, dan titik sentral dakwah, sebagaimana yang saya kutip di tulisan sebelumnya?
4. Semoga HT memang nggak mengarahkan revolusi/kudeta, dengan cover istilah apapun. Jujur, itulah harapan saya. Tapi yang saya pahami dari tulisan-tulisan pendiri HT dan realitas aktivitas HT saat ini, memang demikian arahnya sebagaimana yang saya tulis.
Assalamu'alaikum wr. wb.
BalasHapusSelama membaca uraian dan tulisan akhi tentang metode dakwah HT hingga episode ini, satu pertanyaan yg muncul dari awal sampai akhir adalah : sudahkah akhi mendiskusikan dan bertabayyun kepada orang2 yang bersangkutan (aktivis HT) yang tentu lebih memahami maksud dari setiap isi kitab ketimbang hanya membacanya dengan kemungkinan berbedanya interpretasi dalam memahami sebuah bacaan? Karena jujur saja,dari apa yang sy baca dan pahami dari tulisan akhi, banyak hal yang kurang tepat dalam memahami dan menyimpulkan metode dakwah HT, sedangkan utk dibahas dalam forum ini khawatir akan timbul misspersepsi spt yg sy sebutkan sebelumnya. Jd, alangkah lebih baik jika akhi melakukan tabayyun terlebih dahulu kpd HT. Insya Allah HT akan terbuka sekali utk mendiskusikan apa pun jika itu adalah dalam rangka mencari kebenaran. Jazakallah khairan katsira. Wassalamu'alaikum wr. wb.
Wa'alaikumsalam wr wb,
HapusTerimakasih atas komentarnya. Setidaknya ini pengakuan bawa saya tidak mengada-ada tentang sumber tulisan HT yang saya kutip. Terkait memahaminya, adalah merupakan satu yang pasti, dan saya terima kalau Anda tidak sependapat dengan saya dalam memahami tulisan Taqiyudin Nabhani. Dan saya harap syabab HT mau menerima bahwa ada banyak kaum Muslim tidak sama pendapatnya dengan mereka. Kan Anda paham betul bagaimana pola pikir itu terbentuk.
Saya tahu cara berpikir aktifis HT, memiliki ashabiyah tinggi (Maaf, ini kesimpulan saya. Anda tidak perlu mengakuinya). Mungkin fanatisme itu awalnya diniatkan kepada Islam, tapi ketika bertemu dengan kaum Muslimin lain yang memiliki paradigma berpikir berbeda, fanatisme itu terjatuh menjadi sekadar fanatisme golongan. Dan diskusi menjadi tidak ada artinya. Ini adalah pengalaman nyata. Jadi jawaban saya atas pertanyaan Anda adalah ya, bahwa dalam batas-batas tertentu saya dan beberapa rekan yang lain (Ada yang berafiliasi salafy, NU, ikhwan) sudah mencoba berdiskusi. Dan hasilnya kami sudah merasakan dituduh sebagai penyebar paham sekuler secara terselubung, pemikiran terkotori paham tidak Islami, dll, ketika diskusi dan argumen itu tidak menemukan titik temu. Akhirnya, ya Fastabiqul khairat saja.
Syukur jika tulisan saya menjadi masukan, jika tidak ya tidak perlu tersinggung jika tidak merasa melakukan seperti apa yang saya tulis (Redaksi ini saya kutip dari teman saya yang syabab HT itu...). Dan saya rasa, tidak perlu takut dengan mis-persepsi. Bukankah di internet sudah banyak bertebaran tulisan dan diskusi yang melibatkan para syabab atau daris HT?
Jazaakumullah khairan.
Wassalam,
Berusaha mengkaji kitab2 suatu harokah tanpa ada klarifikasi dari orang harokah tersebut. Hati-hati bisa fitnah bro.
BalasHapus(1). Tentang metode dakwah, anda terburu-buru sejali mengkaji metode dakwah HT hanya dari kitab Daulah. Dalam kitab Daulah sendiri tidak terdapat kajian tentang metode (thariqah) itu sendiri, karena kitab Daulah adalah berupa kisah2 Rasul yg memuat unsur politis. Anda harus mencoba mengkaji lebih lengkap. Di sinilah letak pentingnya klarifikasi pada syabab HT.
(2) Tampak lagi ketergesa-gesaan anda menkaji dan menyimpulkan HT. Padahal dari awal slogan HT adalah "melanjutkan kehidupan Islam". Islam dapat tegak salah satunya dengan metode mendirikan daulah Islam, yang hingga saat ini belum berdiri. Itulah mengapa untuk saat ini seruan kepada daulah khilafah menjadi utama untuk saat ini. Ketika khilafah berdiri HT pun akan masih ada, karena tujuannya adalah memang melanjutkan kehidupan Islam, tidak berhenti pada khilafah / negara Islam saja.
(3) Rasul memang tidak pernah mencela figur, dan HT juga tidak menjadikan celaan figur sebagai satu cara. Rasul menyerang pemikiran kaum kafir Mekkah, menyeru untuk meninggalkan sesembahan berupa selain Allah, kepada Tuhan Semesta Alam Allah SWT. HT menyerang pemikiran yg tidak islami yg bercokol di benak kaum muslim, melepas kepercayaan mereka thdp penghambaan kepada sistem yg bersumber dari selain Allah kepada sistem Islam yg memang benar2 dari Allah SWT.
Maksud saudara Amin bagus, mau ngritik, cuman ya jgn disebar-sebar dulu sebelum diklarifikasi. Saran saya ya ketemu dulu di dunia nyata, sampai puas diskusinya.
Saya nggak ingin mengritik koq. Ini cuma catatan saya. Motivasinya muncul karena gaul ama syabab HT yg senior. Beliau pasti tahu saya bikin tulisan ini, nggak ada tuh klarifikasi... Toh kita udah beberapa kali diskusi di milist, ada orang pks, ada orang nu, ada orang tabligh... Kalo mau klarifikasi disini ya silakan. Asal jangan cuma copas dari tulisan-tulian HT. Basi..
BalasHapus