Rabu, Agustus 30, 2006

Dakwah di keluarga

Keluarga merupakan lingkaran pertama seorang al-akh, yang membawa pengaruh sangat besar bagi aktivitasnya. Interaksi terjadi setiap hari dengan pola hubungan yang sangat dekat, memungkinkan antar anggota keluarga untuk saling mempengaruhi. Sedemikian dekatnya hubungan ini sehingga dakwah kepada keluarga menjadi prioritas tersendiri. Orang yang pertama memeluk Islam adalah Khadijah Radhiyallahu ‘anha, Isteri Rasulullah sendiri, disusul kemudian Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu yang tak lain sepupu yang tinggal serumah dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam. Sumber pendukung terbesar bagi aktivitas dakwah seorang Al-akh berasal dari keluarga, sebagaimana peranan Khadijah RA bagi Suaminya SAW. Sebaliknya, halangan terbesar bagi dakwah bisa pula berasal dari keluarga, sebagaimana tatkala Mush’ab bin Umair harus memutuskan hubungan ibu-anak dengan sang ibunda tercinta. Secara sosial, ekonomi, dan keamanan, bahkan untuk saat ini pun keluarga tetap menjadi penyangga utama setiap orang dalam beraktivitas. Karenanya, tidak bisa tidak keluarga haruslah menjadi prioritas utama dan pertama dalam misi dakwah seorang Al-akh.
Hal ini barangkali yang agak dilupakan oleh sebagian aktivis dakwah, sebagaimana pernah saya alami ketika pertama berinteraksi dengan dakwah. Semangat yang menyala-nyala saat pertama berkenalan dengan tarbiyah, menyeret kita untuk turut serta dalam setiap aktivitas, di sekolah, di kampus, atau di masyarakat sehingga tanpa disadari ada satu peranan yang amat penting yang terlupakan, yakni peranan sebagai bagian dari sebuah keluarga, sehingga muncul pertanyaan dari anggota keluarga lain yang merasa tersisihkan, “Kamu memang terkenal sebagai aktifis di sekolah, di mesjid, tapi apa gunanya kamu bagi keluarga….?” Pada kesempatan yang lain, beberapa al akh tampak berusaha menutupi kondisi keluarga mereka. Pada kasus yang lain lagi, sering dijumpai semangat seorang aktifis yang demikian menyala-nyala, langsung redup ketika berhadapan dengan realitas di keluarga. Penulis masih mengingat sebuah pengalaman ketika suatu saat seorang al akh diberikan sebuah amanah memimpin lembaga dakwah, dengan terisak dia berkata, “Bagaimana saya harus menerima amanah ini, Bapak saya saja tidak sholat…
Adanya perbedaan status dalam sebuah keluarga - ayah sebagai kepala keluarga dan orang tua bagi anak-anaknya, ibu sebagai orang tua, kakak sulung, kakak yang lebih tua, adik bungsu, atau paman/sepupu yang ikut tinggal bersama, pembantu – perbedaan ini menyebabkan adanya pola interaksi yang berbeda dan masing-masing memiliki pengaruh yang berbeda pula bagi anggota keluarga yang lainnya. Ini pula yang akan membedakan pola dakwah, disamping perbedaan cara berpikir dan latar belakang lainnya. Ini saya buktikan ketika saya bersama saudara-saudara harus menyampaikan sebuah fikrah kepada orang tua terkait dengan sebuah sunnah pernikahan. Meskipan juga aktif dalam kegiatan keagamaan, orang tua terasa begitu keras dan terasa begitu sulit untuk menerima. Perlu sebuah kesabaran, pengorbanan, bahkan uraian air mata untuk berani menyampaikan sebuah pendapat.
Terlepas dari belum kenalnya orang tua dengan tarbiyah, atau dengan metode menyampaikan kami yang belum sempurna, begitu berlimpah pelajaran berharga, pendewasaan yang penulis terima dari pengalaman tersebut. Beberapa catatan dari sekelumit pengalaman berdakwah dikeluarga diantaranya:
- Bersyukurlah jika dikaruniai hidup dalam sebuah keluarga yang menjalankan nilai-nilai Islam dengan istiqamah. Disini, keluarga akan menjadi sumber motivasi dan bahan bakar dalam beraktivitas dakwah. Perbedaan pendapat dalam berbagai masalah keIslaman harusnya tidak akan menjadi penghalang, namun menjadi bumbu bagi sebuah hubungan timbal balik yang saling menguatkan dan mendorong masing-masing pihak untuk senantiasa berusaha mencari kebenaran.
- Perbedaan cara berpikir adalah sebuah keniscayaan, dan kita harus siap menerima kenyataan itu, utamanya bila orang tua, atau anggota keluarga yang lain belum mengenal trabiyah, atau bahkan tidak sefikrah dengan kita. Jangan terlalu berharap bahwa orang lain dikeluarga akan berpikir sebagaimana kita berpikir, dan selalu bertindak sebagaimana yang kita mau. Disinilah letak kedewasaan seseorang akan mengambil peran. Tatkala ada sebuah pertengkaran dalam sebuah keluarga, kadang kala tidak selalu pihak yang dalam posisi salah yang harus mengalah, namun sikap dewasalah yang akan menyelesaikan pertengkaran itu.
- Ada kompromi-kompromi yang harus dilakukan terkait dengan kenyataan bahwa selalu ada pendapat yang tidak bisa disatukan, termasuk terkait dengan tabi’at dakwah bahwa perbedaan obyek dakwah (mad’u) akan menyebabkan diperlukannya uslub yang berbeda. Pemahaman yang komprehensif tentang prinsip-prinsip aqidah, ibadah, dan akhlaq, tentang tsawabit dan mutaghayirat dalam Islam dan dakwah adalah modal utama dalam membuat kompromi-kompromi itu.
- Dan terakhir, jika ternyata Allah Subhanahu wata’ala memilihkan kita tumbuh dalam keluarga yang jauh dari nilai-nilai Islam, bersyukurlah karena Allah memberikan kita salah satu motivasi terkuat bagi kita untuk berdakwah, mengingat bahwa obyek dan sasaran dakwah kita adalah orang-orang terdekat, mereka yang amat berperanan dalam perjalanan hidup kita.

1 komentar:

  1. Anonim5:24 PM

    Kalau baca bahasan tentang dakwah di keluarga, sepertinya kita adalah orang yang mulai perlu belajar banyak dari orang lain. Karena kita sudah punya kewajiban membina keluarga.
    Buat saya sendiri, hal ini adalah sebuah ujian yang ngga ringan.Saya sudah terbiasa dengan lingkungan yang kata orang2 "lingkungan steril". Sehingga imunitas saya terhadap perbedaan yang terlalu mencolok atau gesekan dalam keluarga sangat lemah.Ada benernya juga mungkin. Tapi di sisi lain banyak hal yang lebih patut kita syukuri karena keluarga kita adalah keluarga yang dapat memahami konsep keluarga islami.Misalnya saja belajar menjadikan perbedaan sebagai cara kita belajar saling memahami satu sama lain.Bukankah Allah menciptakan manusia juga berbangsa dan bersuku2 supaya saling mengenal. Apalagi dalam sebuah keluarga, tentu harus lebih lagi dalam berusaha mengenal dan memahami bagaimana karakter orang-orang terdekat kita. Hanya saja hal itu seringkali terasa sulit karena akan berhadapan dengan ego kita. Semoga Allah menganugrahi kita sebuah keluarga sakinah mawaddah wa rahmah.

    BalasHapus