Rabu, Agustus 30, 2006

HIV versus VMJ: persiapan menikah aktivis kampus

Akhir-akhir ini saya sering gobrol ama isteri tentang pernikahan. Yah, selain membahas pernikahan kami, juga kondisi disekitar kami. Tentang saya yang dititipin keluarga Istri nyariin jodoh buat sepupu istri, tentang teman SMA istri yang dikejar-kejar ikhwan, dll.

Bagi aktivis kampus, ada dua istilah populer untuk merepresentasikan kasus-kasus percintaan di kalangan aktivis. Ada HIV, hoyong ikhwan visan... (hoyong=pingin dlm bhs sunda, visan/pisan=sangat dlm sunda), trus ada VMJ, virus merah jambu. Dikalangan temen-temen akhwat isteri saya yang mulai menempuh DM (dokter muda = coass) mulai menjangkit HIV ini, terutama setelah kami menikah, banyak temen-temen istri yang menyatakan keinginannya segera menikah. Ha..ha..ha.. kabitaeun nih yee... Memang dalam satu sisi wajar karena secara usia dan kematangan emang sudah lumayan, meski masih harus nunggu antrian mbak-mbaknya dulu...

Tapi tunggu dulu. Saya bukan pengen membahas kasus aktivis jatuh hati di kampus. Ada sih emang ada, namun dalam jumlah yang masih relatif stabil/tidak signifikan. VMJ yang ada disini adalah kasus VMJ: VIRUS MENJOMBLO yang kayaknya masih merebak dikalangan ikhwan. Terutama disekitar saya, ada banyak high quality jomblo yang beredar. Kebanyakan cuma tersenyum malu ketika ditanya, kapan menikah? Kan harus mulai binaa al usroh al islamiyah... emang sih, kebanyakan karena belum lulus kuliah.. Tapi yang saya agak-agak prihatin adalah sikapnya lebih condong kepada tidak meng-orientasikan diri untuk menikah...

Mengapa demikian? Ada beda yang jelas antara orang yang berorientasi menikah dengan tidak memiliki keinginan ke arah sana. Pas saya dulu pengen nikah, persiapan dan rancangan persiapan sudah dilakukan sejak awal 2004, 2 tahun sebelum saya nikah. Terlalu lama? Mungkin saja demikian bagi sebagian orang. Tapi itu saya konsultasikan dengan beberapa ustadz dan saya renungkan masak-masak sesuai kondisi pribadi saya. Tapi setidak-tidaknya dikala saya menginjak umur 23 tahun saya sudah menyiapkan orientasi pernikahan saya, sehingga saya betul-betul siap secara mental kedewasaan, visi, dan persiapan lahir untuk menikah.

Alasan lain mengapa saya prihatin adalah, karena teman-teman saya adalah aktivis kampus yang notabene dituntut mempunyai aktivitas tinggi, namun dilain pihak jauh dari nilai-nilai kekeluargaan atau kerumahtanggaaan. Akibatnya mungkin diantaranya adalah semakin berkurangnya waktu untuk berpikiran kearah sana. Memang sih, jumlah ikhwan yang menunda menikah mungkin tidak begitu besar, namun kehawatiran itu tetap ada ketika sebagian dari yang menikah ternyata melakukannya tanpa kesiapan fikrah, mental, dan wawasan yang jelas tentang pernikahan itu sendiri, tentang berbagai konsekwensi sosial yang mengikutinya. Disisi lain dikalangan akhwat juga ada kekurangan yang cukup terasa, terkait persiapan menghadapi pernikahan. Sampai-sampai seorang ustadz pesen kepada pengelola tarbiyah di kampus: "Tolong ya di ITB ini lebih ditambah materi-materi keakhwatan khusus dan kerumah tanggaan...". Mungkin karena akhwat ITB sebagian dikenal sebagai kaku dan kurang feminin... Demikian juga ikhwannya kayaknya....
Finally, saya cuma bisa berharap agar situasi yang mungkin kurang tawazun ini diperbaiki. Janganlah seorang kader aktivis kampus hanya dibebani targetan-targetan dakwah kampus, namun hendaknya kualitas pribadi mereka dari sisi kedewasaaan menyangkut kerumahtanggan juga senantiasa diupgrade. Emang sih, kampus memainkan peranan sangat signifikan dalam dakwah ini, tapi kan...aktivis juga manusia...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar