Bunda dalam jemala,
Aku bingkai gambar Bunda
Aku rekam suara Bunda
Ketika Bunda jahit baju robekku
Memasukkan sehelai benang ke lubang jarum
Melatih kesabaran,
Menyatukan pikiran dan perasaan.
Juga senandung lesung dan alu,
dan pohon jambu disamping balai bambu
Diantara tangis dan sedu
Saat Bunda lembut usap rambutku
Sambil bercerita tentang tegarnya karang
Dan kuatnya gunung meski terinjak kaki pepohonan
Keringatnya merembes mengalir menjadi mata air
Memberi sejuk,
Menidurkan aku dalam peluk
Bunda sayang...
Kini ku tlah dewasa Bunda,
Dan Bunda,
Aku masih memegang teguh segala pernah kau katakan
Pada firman yang Maha Rahman
Yang tlah menitipkan surga di telapak kaki Bunda
Seperti pernah Bunda ajarkan
Usai wirid di penghujung malam
Dengan raga masih dibalut mukena.
Bunda adalah sumur,
Tempat aku menimba hibur...
Bunda adalah ladang,
Ditumbuhi pohon rindang...
Bunda adalah pelita,
sumber dari segala cahaya...
dan Bunda adalah samudera,
Muara segala kasih,
duta segala cinta.
Baktiku untukmu, Bundaku sayang !
Rabu, Agustus 30, 2006
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
puisinya bagus...
BalasHapus