Rabu, April 01, 2009

Keempat: Visi dan Misi

Jika dorongan untuk berbuat itu sudah ada, dan diri ini sudah betul-betul siap untuk bergerak, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. Itu adalah Visi dan Misi. Dalam kalimat lain, saya membahasakannya tujuan dan langkah-langkah untuk mencapai tujuan itu.

Mengetahui visi dan misi kita berbuat adalah sangat penting, karena inilah yang akan menjadi guidance kita dalam beramal. Seperti Rasulullah SAW sampaikan, sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya. Dalam kalimat yang lain dan mungkin lebih jelas buat anda, Steven Covey bilang, "Start with the end in mind." Tujuan adalah dream island yang hendak kita capai. Jika berbicara dalam konteks ke Indonesia-an, tujuan berbangsa itu telah termaktub dengan baik pada preambule UUD 1945. Tapi saya lebih suka meringkasnya dengan memakai tujuan yang dipakai oleh Muhammadiyah, yaitu Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur. Negara yang sejahtera dibawah naungan ridha Allah SWT.

Mengetahui tujuan, sepertinya tidak begitu sulit. Yang sulit adalah bagaimana menuju kesana. Ada banyak negarawan dan cendekiawan bangsa Indonesia yang telah menyampaikan pemikirannya tentang bangsa ini. Secara garis besar, saya setuju dengan ungkapan bahwa sumber masalah bangsa kita adalah adanya krisis moral multidimensi yang sedemikian parah, membawa bangsa Indonesia dalam jeratan ketitidakjujuran, rendahnya etika berbangsa dan bernegara, serta cengkeraman korupsi, kolusi, dan nepotisme. Semua berujung pada tiadanya ikatan dan nilai-nilai luhur yang dianut secara teguh bagi setiap rakyat Indonesia. Bukti kegagalan pengajaran PMP, PPKN, PSPB, kuliah Pancasila, atau Kewiraan.

Karenanya saya percaya bahwa salah satu langkah yang harus kita tempuh adalah mengembalikan bangsa Indonesia kepada nilai-nilai Islam yang sudah teruji dan kita yakini bersama atas kesempurnaannya. Pembinaan keIslaman harus dilakukan pada setiap individu. Pada gilirannya, setiap individu yang telah terbina harus bisa dan bersedia menyebarkan pengetahuan dan kemampuannya, dalam arti membina individu yang lainnya. Juga termasuk didalamnya upaya-upaya untuk mendudukkan pribadi-pribadi yang shaleh, berintegritas, profesional, dan berdedikasi pada jabatan-jabatan publik yang menyangkut hajat hidup rakyat, sebanyak-banyaknya sehingga terwujud atmosfer pemerintahan yang bersih dan profesional. Saya jadi ingat ungkapan seorang anggota DPR pada Jaksa Agung Abdurrahman Shaleh, "Anda jangan seperti ustadz di kampung maling..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar