Kamis, Mei 26, 2011

Catatan Tentang Hizbut Tahrir (6): Metode Dakwah HT (2)

Selanjutnya saya akan kembali mengutip beberapa pernyataan dari buku Mafahim Hizbut Tahrir tulisan Ust. Taqiyuddin Nabhani seputar topik metode dakwah HT untuk mencapai misi mereka yakni menegakkan khilafah.

----- Awal Kutipan -----
"Usaha memperbaiki individu dilakukan tidak lain untuk menjadikan mereka bagian dari kutlah/kelompok dakwah untuk mengemban dakwah ke masyarakat."

"Perbaikan individu akan tercapai dengan jalan memperbaiki masyarakatnya."

"...dakwah yang berlandaskan aqidah Islam mempunyai ciri yang tegas, berani dan kuat, analitis serta menentang segala sesuatu yang bertentangan dengan fikrah dan thariqah, serta siap menghadapi dan menjelaskan kepalsuannya tanpa melihat lagi hasil maupun situasi dan kondisinya. Begitu pula tanpa mempedulikan lagi apakah mabda itu sesuai dengan keyakinan masyarakat atau malah bertentangan, apakah diterima masyarakat, ditolak atau malah dilawan."

"dakwah menyeru kepada Islam ditujukan kepada non-Muslim. Mereka diseru untuk memeluk dan masuk ke pangkuan Islam. Metode praktis (amaliyah) dakwah kepada mereka dilakukan dengan menegakkan hukum-hukum Islam di tengah-tengah mereka oleh Daulah Islam, sehingga mereka melihat cahaya Islam."

"...dakwah untuk melanjutkan kehidupan Islam ini ditujukan pada masyarakat yang individu-individunya mayoritas muslim tetapi memberlakukan hukum selain Islam, yang digolongkan menjadi mayarakat yang tidak Islami sehingga layak disebut sebagai Daarul Kufur. Dakwah di tengah-tengah masyarakat seperti ini dilakukan dalam rangka mendirikan daulah Islam"

"Kelompok dakwah (kutlah) melakukan sesuatu yang diwajibkan syara' dalam keadaan semacam ini --yaitu menempuh metode fikriyyah-- sampai terwujudnya daulah Islam yang akan menerapkan dakwah secara praktis. "

----- Akhir Kutipan -----

Semakin menarik memang. Ada satu ciri yang ternyata melekat kuat pada karakteristik HT: radikalisme. Sebenarnya ada banyak hal yang mendasari sikap radikal kalangan HT ini. Setidaknya menurut saya, salah satunya adalah karena sikap mereka untuk meninggalkan realita. Dalam kutipan diatas, jelas dikatakan bahwa ketegasan yang ditampilkan tidak mempedulikan hasil ataupun situasi dan kondisi yang ada.

Dalam kutipan diataspun juga jelas ditegaskan kembali bahwa tujuan dakwah HT adalah penegakan daulah dan khilafah, sedangkan proses pembentukan individu Islam adalah tanggung jawab pemerintah. HT sebagai gerakan dakwah melakukan pembinaan ke anggota dan calon anggotanya semata-mata untuk menjadi pendakwah ala HT, bukan untuk menjadi insan Muslim seutuhnya (karena yang demikian adalah tugas negara).

Dari sudut pandang meninggalkan realita dan keinginan menegakkan khilafah ini, saya menemukan satu kontradiksi. Taqiyuddin Nabhani banyak membahas kegagalan gerakan dakwah (lain) dalam menegakkan khilafah dan juga membahas mengenai penyebab kemunduran khilafah Islam. Beliau menyatakan, bahwa kemunduran khilafah Islam dimulai ketika umat Islam menutup pintu ijtihad seiring dengan melunturnya pemahaman dan pelaksanaan Islam di kalangan umatnya (Baca buku Daulah Islamiyah, karangan Taqiyudin Nabhani). Artinya, beliau mengakui bahwa seiring perkembangan zaman, diperlukan pemikiran-pemikiran dan ijtihad baru mengenai bagaimana Islam diterapkan. Kontradiktif dengan pernyataan beliau tentang Islam itu tidak sesuai perkembangan zaman, dan umat/masyarakatlah yang harus diubah mengikuti pemahaman Islam yang sudah ada.

Taqiyuddin Nabhani dalam banyak tulisannya sering membahas model negara Islam yang ideal. Lucunya, disaat beliau menyatakan bahwa sistem ini pernah memimpin dunia, beliau tidak mengaitkan mengapa sistem ideal itu mengalami keruntuhan dengan manhaj dakwah yang harus diambil untuk mengembalikan kejayaan Islam. Padahal beilau pun mengakui, kemunduran itu adalah kerena lunturnya Islam dari umat Islam. Bukan karena berubahnya sistem kenegaraan yang ada.

Logika sederhana mengatakan, seandainya sistem negara ini diterapkan tanpa ada pengobatan (lebih dahulu) atas penyakit yang telah menyebabkannya runtuh, sistem yang baru berdiri ini pasti juga akan mengalami kemunduran yang sama. Padahal kita yakin, kalaupun sistem ini ditegakkan, kebesarannya (kekuasaan, teknologi yang dikuasai, persenjataan, kekuatan ekonomi, dll) tidak akan ada artinya dibandingkan kejayaan Islam dimasa lampau. Dan sejarah memperlihatkan bahwa keruntuhan khilafah Islam dimasa lalu tidak terjadi secara tiba-tiba, namun merupakan sebuah proses yang diakibatkan melemahnya nilai-nilai Islam dari para penduduk dan masyarakat Muslim, termasuk di kalangan para penguasanya.

Al Qur'an banyak mengisahkan bangsa-bangsa yang memperoleh kejayaan duniawi: Kaum ‘Ad yang mampu membuat bangunan-bangunan yang tinggi (QS 89:6-8). Kaum Tsamud yang mampu memotong batu-batu besar di lembah (QS 89:9), Fir’aun yang mampu membangun pasukan yang sangat kuat (QS 89:10), atau Kaum Saba’ yang dengan teknologinya mampu membuat bendungan besar (QS 34:15-16). Allah SWT mencabut kejayaan kaum-kaum ini karena kekufuran mereka kepada Allah. Dan peristiwa yang sama terjadi pada umat Islam, dimana mereka mampu memimpin dunia dan menguasai setengah dunia, namun akhirnya runtuh karena kegagalan dalam menjaga keimanan dan keshalihan umat Islam.
Allah SWT menyatakan dalam Al Qur'an,

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS Al A'raf: 96)

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS An Nuur: 55)

Allah SWT jelas memberikan prasyarat keimanan, ketaqwaan, dan kemauan beramal sholeh bagi penduduk/sekelompok umat agar mereka memperoleh kekuasaan dan berkah dari Allah. Terwujudnya sistem negara yang Islami adalah sebuah proses alamiah dan merupakan sesuatu yang dijanjikan Allah akan dimiliki oleh umat Islam, jika mereka beriman dan konsekwen dengan keimanan itu. Jadi, kekuasaan itu adalah hadiah akan sebuah kemenangan dakwah. Bagaimana mungkin kita berjuang menggapai kemenangan dakwah itu tanpa fokus untuk memenuhi syarat-syarat kemenangan dakwahnya? Disini saya berharap, HT tidak hanya berkampanye akan penegakan khalifah, tapi lebih kongkrit bergerak untuk membina dan menshalihkan umat, dan percayalah akan janji Allah bahwa khilafah itu akan tegak dengan sendirinya di tengah-tengah umat Islam yang beriman, bertaqwa, dan menegakkan amal shalih. Itu jika aktifis HT yakin dan percaya pada janji Allah melalui Qur'anNya.

Rasulullah SAW berhasil menyusun kekuatan di Madinah, yang kemudian menjadi cikal bakal penyebaran Islam ke seluruh dunia, setelah melalui sebuah proses panjang menanamkan keimanan dan ketaqwaan dikalangan para shahabat. Tidak pernah Rasulullah SAW menyatakan bahwa tujuan dakwah Islam adalah menegakkan khilafah, selain menyatakan bahwa suatu saat umat Islam akan menguasai dunia.
Allah SWT berfirman, "Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS Ali Imran: 164)

Yang saya pahami dari ayat ini, Rasulullah SAW mentarbiyah umat menjadi Muslim sejati hingga akhirnya mereka mampu menegakkan Islam ke seluruh dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar