Sabtu, Mei 07, 2011

Catatan Tentang Hizbut Tahrir (4): Metode dakwah HT (1)

Bagian selanjutnya dari catatan saya, mulai membahas tentang metode dakwah HT. Cukup panjang dan akan terbagi menjadi beberapa bagian. Berikut sebagian kutipan untuk kali ini, masih diambil dari Mafahim Hizbut Tahrir karya Ust. Taqiyuddin Nabhani.

--- Awal Kutipan ---

"Berdasarkan hal ini maka seluruh perbuatan/aktivitas yang dimaksudkan untuk melaksanakan fikrah Islam berupa perbuatan-perbuatan yang menghasilkan sesuatu yang tidak nyata, harus ditolak karena sangat bertentangan dengan thariqah Islam"

"Sedangkan orang yang mengindera suatu kenyataan kemudian ia berfikir mengenai cara untuk merubah kenyataan itu, lalu berbuat berdasarkan pemikirannya, maka inilah yang akan merubah atau menyesuaikan kenyataan sesuai dengan ideologinya dan merubahnya secara totalitas. Ini adalah cara yang sesuai dengan metode revolusioner yang tidak lain adalah satu-satunya metode untuk melanjutkan kehidupan Islam..."

"...manusia akan memahami ideologi ini dengan cara yang benar, yang akan mendorongnya untuk melakukan suatu perbuatan..."

"ia berusaha untuk mempersiapkan individu-individu dan kelompok masyarakat serta lingkungannya dengan pemikiran tersebut"

"Kemudian memulainya secara praktis melalui pemerintah yang menerapkan ideologi ini dengan penerapan yang bersifat revolusioner..."

"Hal ini tidak akan terjadi kecuali dengan metode membina otak dengan berbagai pengetahuan."

--- Akhir Kutipan ---

Beberapa kata kunci yang perlu di tulis ulang dari kutipan ini adalah: pemikiran, persiapan individu dan masyarakat, melalui pemerintah, bersifat revolusioner. Semua kata-kata tersebut akan menggambarkan secara umum metode yang ditempuh HT.

Pertama, yang diharapkan muncul dari sebuah aksi dakwah adalah aksi yang menghasilkan dampak nyata. Secara khusus, dalam buku ini dicontohkan bahwa ketika menghadapi serangan dari orang kafir, masyarakat atau negara Muslim tidak cukup hanya membolak-balik hadits sahih Bukhari untuk memutuskan tindakan yang diambil.

Kedua, segala aktifitas HT akan terpusat pada pembentukan pemikiran. Karenanya, HT akan beraktifitas pada tataran isu dan wacana. Mungkin para aktifisnya akan banyak membahas tentang ekonomi Islam, peradilan Islam, dan tentu saja pemerintahan Islami, namun sekali lagi semuanya akan terbatas pada isu semata. Dan yang demikian inilah yang dimaksud karya nyata dari HT.

Saya ingat suatu ketika di forum taklim di kampus saya, pembicara mengulas tentang sistem ekonomi Islam. Bagaimana usaha-usaha skala kecil bisa dilakukan untuk merintis pelaksanaan sistem ekonomi ini. Satu hal yang saya tidak akan lupa, sahabat saya yang syabab HT itu kembali mengatakan bahwa yang lebih penting adalah mengubah sistemnya agar menerapkan sistem ekonomi Islam, dan beliau sama sekali tidak percaya atau sangat pesimis usaha-usaha merintis sistem ekonomi Islam pada tataran mikro, tidak akan berhasil tanpa mengubah sitem pemerintahannya. Mungkin beliau lupa, bahwa amalan manusia tidak melulu diukur dari tingkat keberhasilan, namun lebih pada keikhlasan, kesesuaian dengan syariat, dan kesungguhan upaya itu. Itu tanpa kita mendiskusikan efektifitas dari upaya itu.

Ketiga, langkah awal yang dilakukan HT adalah membina pemikiran dari tiap individu. Diharapkan dengan pemikiran yang disertai kemampuan membayangkan dan memvisualisasikan, mulai dari kondisi riil sampai kondisi ideal yang diharapkan, timbul sebuah keinginan untuk bertindak. Aksi yang diharapkan tentunya adalah menyebarkan pemikiran ini dan membentuk pemikiran-pemikiran orang-orang disekelilingnya. Diskursus mengenai wacana sistem negara Islam akan menjadi sentral pembahasan.

Keempat, perubahan yang diinginkan haruslah melalui pemerintah, karena sekali lagi, thariqah atau metode menerapkan syariat Islam paling mudah sesuai pemahaman HT adalah melalui daulah. Dari sini sebenarnya timbul salah satu kontroversi terbesar dari manhaj dakwah HT, yaitu meletakkan penegakan khilafah sebagai tujuan pertama dan utama. Jika membaca referensi HT, adalah merupakan kesalahan bagi sebuah gerakan dakwah jika tidak fakus kepada penegakan khilafah ini. Karenanya, akan jarang kita jumpai kegiatan-kegiatan lain di koordinir oleh HT, semisal program terkait interaksi dengan al Qur'an (tahsin, tahfidz, kajian tafsir, dll), pengentasan kemiskinan (pembuatan baitul maal atau koperasi, pelatihan dan pemberdayaan orang miskin, pendampingan kaum petani dan buruh, dsb), aksi sosial bencana alam, dll, meskipun tahapan dakwah sudah mencapai tahapan yang ditujukan ke masyarakat/komunitas. Yang kita jumpai adalah seminar-seminar atau diskusi, membuat selebaran dan tulisan, serta demo-demo (HT menyebutnya masirah) yang isinya menghujat dan menjelekkan pemerintah (demokratis).

Sepengetahuan saya, Islam memang sangat menekankan pentingnya pemilihan pemimpin. Namun dalam Qur'an dan Sunnah, tidak ada perintah untuk langsung menegakkan khilafah, atau menjadikan penegakan khilafah sebagai tujuan dakwah, dan ini sudah merupakan kesepakatan para ulama dari berbagai madzhab, kecuali para ulama HT tentunya. Kesimpulan untuk menjadikan penegakan khilafah sebagai tujuan pertama dan utama, adalah buah pemikiran para pengasas HT -dimulai dari Taqiyudin Nabhani- yang sayangnya menurut saya justru tidak didukung oleh dalil yang qath'i, selain merupakan buah pemikiran saja. Qath'i adalah terminologi yang dipakai juga oleh HT bahwa sebuah kesimpulan dalam hal syariat harus didukung oleh dalil/nash yang mutawatir (sahih melalui berbagai jalan/perawi) dan tidak mengandung ambiguitas (syubhat). Dan kita tidak akan menemukannya dalam hal ini. Dengan kenyataan ini, menjadi tidak fair jika kemudian HT mengklaim bahwa metodenyalah yang paling sesuai dengan syariat Islam.

Satu hal lain yang menarik, adalah bahwa perubahan yang dilakukan bersifat revolusioner. Kita simpan dulu pembahasannya pada catatan berikutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar