Kemarin petang, saya keluar asrama buat membeli susu, telur, dan keperluan lainnya. Di jalan di dekat sebuah tempat membuang sampah, saya melihat seorang wanita terlihat menunduk di pinggir jalan. Setelah dekat, baru saya tahu bahwa dia sedang mengelus-elus seekor kucing. Tampaknya kucing ini adalah kucing yang biasa berinteraksi dengan manusia, terlihat sekilas dia menikmati usapan itu. Atau mungkin bekas kucing peliharaan yang baru dibuang pemiliknya, karena kucing itu terlihat gendut. Beda dengan kucing liar yang kadang saya temui di sekitar asrama yang selain kurus, juga agak takut berdekatan dengan manusia.
Sekitar setengah jam, ketika saya melewati tempat itu dalam arah pulang, kembali saya melihat si kucing sedang diusap-usap, namun kali ini oleh dua orang yang berbeda dengan yang tadi. Dan tadi petang, ketika saya pulang dari kampus, kembali saya melihat si kucing putih itu, juga sedang menikmati dielus-elus oleh seorang wanita.
Saya jadi ingat beberapa kali pernah menemukan orang Jepang yang sangat menyenangi piaraannya, kucing dan juga kebanyakan anjing. Sedemikian sayang, sampai-sampai tidak cukup hanya merawat dan merias si anjing dengan memakaikan baju, pita, dan asesoris lainnya, bahkan ada yang membawanya dengan box seperti box bayi! Astaga...
Wah..wah..wah.. sebuah ironi lain yang saya temukan disini. Orang Jepang dimata saya tampak memiliki sifat individualis yang tinggi, meski mereka punya kesopanan kolektif yang baik, dan dari segi kepribadian juga memiliki sisi positif yang tidak sedikit. Tapi bagaimana mereka memperlakukan binatang seperti itu, sementara disisi lain hubungan sosial antar manusia termasuk lembaga perkawinan yang semakin tergusur, juga pranata-pranata sosial dikalangan remaja yang menyedihkan, membuat saya berpikir bahwa memang ada yang salah dalam kepribadian orang Jepang...
Senin, Februari 23, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar