Pagi ini, seorang teman saya yang lebih muda bertanya,
"Mas, ada teman saya yang bertanya, jika Allah itu Maha Adil, mengapa Dia menciptakan manusia ada yang miskin dan ada yang kaya?"
Saya menjawabnya singkat, "Mungkin permasalahannya ada didalam menjadikan kaya dan miskin (banyaknya harta) itu sebagai ukuran keadilan."
Tapi teman saya itu belum puas, dan melanjutkan perkataannya, "Orang kaya kan bisa hidup enak, bisa sekolah atau menyekolahkan anaknya, hidup lebih nyaman..."
Lalu saya balik bertanya, "Nanti saat dihisab (antara kaya dan miskin) sama tidak?"
"Tidak..." Jawab teman saya itu.
Saya tanya lagi, "Nah, yang kayak gitu adil tidak?"
"Wah, iya ya.... Saya mengerti sekarang..." Spontan dia berkata.
*****
Kita sering mengartikan keadilan itu sebagai memberikan hak orang lain sebagaimana haknya yang seharusnya dia terima. Keadilan tidak dapat disamaratakan sebagai menerima sesuatu yang sama besarnya, misalnya dalam hal ini rizqi dan kekayaan. Dan kita juga dapat menggunakan pandangan ini dalam upaya mensyukuri apa yang sudah diberikan Allah kepada kita. Jika saya mengalami suatu kegagalan, istri saya juga orang-orang terdekat saya selalu menyatakan dan menguatkan saya bahwa itulah yang yang terbaik bagi saya dari Allah. Jadi Allah pasti memberikan sesuatu sesuai dengan hak kita menerimanya.
Bagaimana kita tahu bahwa kita berhak atau tidak terhadap sebuah karunia? Dari sini, sebenarnya kita dapat memahami sunnatuLLah yang lainnya. SunnatuLLah itu bahkan banyak termuat dalam ungkapan-ungkapan bijak, misalnya Jer Basuki Mawa Bea, No Pain No Gain, atau kalau tukul bilang, kristalisasi keringat he..he..he..
Jika sudah selalu berusaha dan tak kunjung berhasil, bagaimana?
Memang, terkadang kita menjumpai keadaan dimana seolah-olah seseorang itu memang tidak beruntung. Jika memang demikian, sikap paling baik dari seorang yang beriman tentu saja adalah tetap menerima dan meyakini bahwa itu adalah yang terbaik yang dipilihkan oleh Allah. Jika tidak bisa, mungkin kita harus malu karena bersikap seperti anak TK yang menangis marah karena uang sakunya beda dengan uang saku kakaknya yang SMA...
Toh keadilan Allah sudah terjamin sampai hari pembalasan nanti, karena Allah akan mempertanyakan banyak hal tentang kekayaan kita, tentang bagaimana kita memperolehnya, dan buat apa saja kita membelanjakannya. Hal ini tidak akan dialami oleh orang miskin. Dan hal ini pula yang membuat Abdurrahman bin Auf RA menangis karena teringat sabda baginda Rasulullah SAW, bahwasannya Beliau menyaksikan Ibnu Auf memasuki surga dengan perlahan-lahan...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar