Sebelumnya, saya telah menulis tentang golput sebagai tanda lemahnya iman. Saya sempat menyinggung di akhir tulisan itu, jika golput dilakukan sebagai ekspresi keputus asaan kepada upaya perbaikan kondisi bangsa Indonesia, itu berbahaya karena boleh jadi membawa jatuh dalam jurang kekufuran.
Golput adalah sebuah pilihan amal, yang bentuknya adalah dengan tidak beramal. Karenanya, penilaiannya hanya wewenang Allah, satu-satunya yang mengetahui isi hati manusia. Jadi, jika saya menulis tentang kemungkinan golput sebagai tanda lemahnya iman, bukan berarti saya sedang menjustifikasi anda yang golput sebagai lemah iman lho... Pesan saya adalah, anda harus memastikan bahwa anda memiliki tujuan yang jelas dari tindakan itu, serta jelas pula di pikiran anda tahapan langkah-langkah yang diambil untuk mencapai tujuan itu. Trus saya harap juga bahwa anda sudah memperhitungkan visibilitasnya, achievable nggak?
Sebenarnya saya tidak terlalu optimis, bahwa orang yang golput kebanyakan berada pada posisi golput yang on mission. Tapi sekali lagi, saya tidak berhak menilai. Namun di sisi lain, kekhawatiran saya itulah yang memotivasi saya membuat tulisan ini. Mungkin juga ini yang mendasari sebagian ulama kita mengeluarkan fatwa haramnya golput.
Saya kok merasa, ada banyak yang golput karena dilandasi perasaan putus asa, ataupun karena memang tidak peduli pada perbaikan bangsa Indonesia. Untuk yang kedua, yah memang harus dibangkitkan kesadaran akan pentingnya arti sebuah suara, termasuk pertanggung jawabannya di hadapan Allah kelak. Masalahnya, dalam sistem demokrasi, one man one vote. (heheh... jangan lupa one man one dollar for palestine yah...). Anda punya tanggung jawab yang sama besar tidak peduli siapapun anda dan bagaimanapun latar belakang anda.
Mengapa saya merasa, banyak yang memilih golput karena putus asa? Karena saya sangat banyak menemui orang-orang yang mengkampanyekan golput, dimana pada saat yang bersamaan senantiasa mencaci, mencerca, bahkan menghina usaha perbaikan yang dilakukan sebagian yang lain. Pokoknya di dalam pikirannya, yang ada hanya hal negatif aja terkait perpolitikan dan pemilu. Jika orang golput karena tidak peduli, karena tidak sadar arti penting pemilu, mereka akan lebih bersikap pasif. Jika orang golput karena punya agenda dan pemikiran lain tentang perbaikan bangsa, mereka juga tidak akan terlalu banyak menghujat usaha-usaha yang dilakukan orang lain.
Ada dua point yang ingin saya sampaikan. Pertama, bahwa putus asa akan menjatuhkan seseorang kedalam kekufuran. Cukuplah kita mengingat firman Allah dalam QS Yusuf ayat 87, "...dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir."
Kedua, asa atau harapan itu haruslah membentang melebihi batasan logika dan penalaran kita. Sesuatu yang secara akal tidak mungkin, bukan berarti membolehkan kita untuk terlalu cepat menyerah dan berputus asa. Apa lagi jika terlalu banyak hal yang tidak pasti, misalnya dalam memperbaiki nasib bangsa memlalui pemilu. Ini dicontohkan oleh salah seorang Rasulullah, Nabi Zakaria sebagaimana dikisahkan dalam pembukaan surat Maryam. Beliau berdoa, "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera". Nabi Zakaria sadar bahwa istrinya seorang wanita yang mandul. Secara nalar tidak mungkin untuk mengandung dan melahirkan anak. Tapi Nabi Zakaria tetap berdoa, memohon, dan berharap kepada Allah.
Jadi, mari untuk selalu memupuk harapan akan perbaikan bangsa Indonesia, kaum muslim, dan umat manusia, karena harapan itu selalu ada...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar