Selasa, Februari 10, 2009

Mampukah saya menjadi orang yang luar biasa?

Ini adalah salah satu inspirasi yang saya peroleh ketika menyaksikan rekaman acara 'kick andi' episode laskar pelangi. Ketika Ibu Muslimah yang asli ditanya bagaimana perasaannya setelah membaca buku laskar pelangi, beliau menjawab, "Sekarang sih saya agak grogi gitu, masalahnya kan ibu tidak terpikirkan akan terangkat seperti ini, karena selama ini ibu hanyalah seorang guru desa biasa, tidak punya kelebihan, sekolah juga nggak tinggi, nggak pintar, yang pintar muridnya..."

Subhanallah. Sungguh sebuah kerendahan hati yang luar biasa. Tapi tunggu dulu, bukan kerendahan hati itu yang ingin saya bahas. Saya ingin membahas tentang hal-hal luar biasa yang bisa kita lakukan, seperti yang telah dilakukan ibu Muslimah dengan laskar pelanginya. Saya terinspirasi dengan Ibu Muslimah karena menurut saya dengan kapasitasnya sebagai guru yang juga membutuhkan kehidupan yang layak, juga ditengah berbagai keterbatasan yang melingkupi SD muhammadiyah belitong itu, beliau mampu untuk tetap tagak dan sepenuh hati menjalankan perannya yang mulia sebagai seorang guru.

Saya jadi teringat dengan Bapak saya. Dibesarkan dari keluarga miskin, merantau sendiri dan berusaha keras sehingga akhirnya bisa memperoleh gelar sarjana dengan biaya sendiri. Gelar sarjana itu bisa diraihnya disaat bapak saya berusia 42 tahun saat itu. Sungguh sebuah prestasi tersendiri di mata saya. Saya juga ingat dulu ada seorang lulusan sarjana dari UNS yang bisa menyelesaikan sarjananya dengan menjadi seorang tukang becak. Ah, sekarang saya malah merasa malu karena dulu ketika membaca berita itu, saya sempat menganggapnya sebagai sesuatu yang lucu...

Cerita tentang Bapak saya masih belum selesai. Dengan posisinya sebagai guru bergelar sarjana, ternyata ada segudang prestasi yang Bapak torehkan. Diakhir masa tugasnya sebagai guru pns sekaligus kepala sebuah sma muhammadiyah, beliau berhasil meninggalkan sebuah sekolah yang telah menambah belasan ruang kelas baru, meninggalkan ratusan juta dana di kas sekolah, juga peningkatan peringkat sekolah berdasar rata-rata NEM. Sangat kontras dibandingkan ketika Bapak menerima jabatan itu, dimana kas sekolah tidak mencapai ratusan ribu rupiah. Semua dijalaninya dengan penuh kejujuran dan rasa tanggung jawab. Tidak jarang saya menyaksikan para orang tua siswa yang datang ke rumah dan pulang sambil meninggalkan amplop 'pelicin'. Jika diberikan terang-terangan, Bapak saya menolaknya dengan halus, dan jika dengan sembunyi-sembunyi diselipkan dibawah taplak meja, pasti Bapak akan mengejar sang tamu untuk mengembalikan amplopnya...

Bukan itu saja. Bapak saya juga menginisiasi pembentukan organisasi dakwah di lingkungan tempat-tinggal saya. Dan menyemangati muslimin di lingkungan kami untuk bergotong royong membangun masjid secara swadaya. Menyemangati muslimin untuk menabung sehingga bisa berkurban, dlsb. Sekarang di daerah tempat tinggal saya yang terdiri dari 3 RW, telah berdiri 3 masjid yang cukup besar, dan setiap tahunnya masyarakat bisa berkurban belasan ekor sapi serta puluhan ekor kambing. Padahal, para penduduk dilingkungan kami bukanlah dari kalangan orang-orang berpunya, yang kebanyakan hanya bisa berkurban setelah menabung selama setahun penuh.

Ehm... saya jadi merasakan beban yang sangat berat. Ibu Muslimah, juga Bapak saya telah menunjukkan bagaimana Beliau telah bersyukur atas segala kenikmatan yang diperoleh, dangan membayarnya melalui berbagai episode kepahlawanan. Jika mereka yang sarjana, atau bahkan lulusan sekolah setingkat SMP (Ibu Muslimah) bisa menunjukkan prestasi sedemikian luar biasa, lantas prestasi seperti apa yang harus bisa saya tunjukkan? Saya betul-betul merasa beban ini sedemikian berat... Saya harus benar-benar berusaha keras dan cerdas...

Saya jadi teringat komentar seorang teman dari teman saya di sini. Suatu saat, teman saya menerima pujian dari temannya yang lain, karena berhasil menjadi mahasiswa pascasarjana di TIT. Dia bilang, "Terima kasih, tapi biasa saja lah... " Temannya yang memberi pujian menimpali, "Ya nggak bisa biasa saja. Kamu udah bisa sekolah di universitas teknik nomor 21 di dunia, ya nggak boleh biasa-biasa saja..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar