Jumat, Maret 27, 2009

Kedua: Harapan

Setelah ada kepedulian pada diri kita akan lingkungan sekitar kita, akan nasib bangsa kita, tahapan selanjutnya adalah membangkitkan harapan pada diri kita, bahwasannya segala kesulitan, kemelaratan, keterpurukan itu bisa diatasi. Mengapa harapan itu penting? Tak lain karena dari harapanlah akan muncul aksi dan tindakan nyata dari seseorang. Saya yakin setiap orang menyimpan keinginan akan lingkungan kehidupan yang lebih baik serta menjadi bagian dari bangsa yang sejahtera dan bermartabat. Keinginan itu harus diikuti dengan adanya harapan sebagai pembuka munculnya aksi dan tindakan nyata untuk bergerak menuju keinginan itu.

Bagaimana caranya membangkitkan harapan?

Selain bertolak dari tuntunan syariat dimana harapan itu harus dimiliki oleh setiap Muslim, saya menganjurkan satu hal. Selalu berpikir positif. Ada contoh tentang sulitnya membangun harapan tanpa didasari prasangka positif itu. Di sebuah milis yang saya ikuti, ada seorang member yang senantiasa mencela segala hal terkait politik di Indonesia. Terlebih atas usaha yang dilakukan sebagian orang untuk berpolitik secara santun dan bersih. Semuanya diukur dengan tolok ukur yang ideal. Akibatnya, tidak ada yang baik dan positif dari komentar-komentarnya terhadap segala aktifitas politik. Saya melihat, bahwa semua memang berawal dari paradigma, bahwa semua menyangkut politik itu buruk. Karenanya semua yang ber-embel-embel politik menjadi buruk. Semua parpol sama. Semua caleg sama. Semua capres sama. Karena memang sudah ada prasangka dan pola pikir bahwa semuanya buruk. Kalaupun ada satu dua prestasi yang dilakukan parpol, ada saja keburukan yang bisa diungkit. Seolah-olah setiap aktifis politik harus bertindak laksana malaikat yang tanpa salah.

Berfikir positif itu penting, sehingga kita selalu bisa melihat peluang dibalik setiap kesulitan. Dan ketika peluang itu terlihat, kita akan mencoba berpikir kreatif untuk bisa mengambil peluang itu dan mewujudkannya menjadi sebuah kesuksesan.

Akhirnya, saya hanya ingin mengingatkan kembali bahwa harapan itu harus kita bangun jauh melewati batasan logika dan penalaran kita, seperti halnya harapan Zakaria AS ketika berdoa pada Allah SWT untuk mengaruniakan anak, meskipun Beliau menyadari bahwa istrinya seorang wanita yang mandul...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar