Hari ini, di sebuah milist yang saya ikuti, saya membaca sebuah forward tulisan opini tentang pelayanan kesehatan sebuah rumah sakit swasta di Indonesia. Forward tulisan itu diawali dengan subject email yang cukup menggetarkan, "Cerminan dunia kedokteran kita." Ada tanda tanya besar di benak saya akan keberanian sang penulis menggunakan subjek itu, seolah-olah ingin menjustifikasi bahwa seperti itulah adanya kedokteran di Indonesia. Sebuah kenyataan ataukah tuduhan belaka?
Mengenai isinya, saya tidak perlu bercerita banyak tentang tulisan yang diforward, tapi saya ingin mengutip opini dari sahabat saya yang meneruskan tulisan itu,
"Tampaknya kerusakan di bumi Ina menyelinap ke semua bidang, permasalahan nggak hanya ekonomi, politik, social, pemerintahan, bencana alam, gizi buruk, pendidikan tak merata, buruknya siaran TV, masalah pembantu, pangan, BBM, listrik, hingga ke minayk tanah,.... tapi pada etika kedokteran yang tergolong masyarakat ilmiah dan syarat fungsi ........"
Seburuk itukah Indonesia?
Jika tulisan itu saya perlihatkan kepada istri saya yang dokter, saya yakin tidak ada komentar terlalu serius dari istri saya, apalagi ketersinggungan berlebihan. Toh kejadian ini memang manusiawi, meskipun tingkat toleransi setiap orang atas masalah ini berbeda-beda. Hanya saja, membaca tulisan itu, membuat saya langsung teringat pada seorang sahabat saya di Indonesia, seorang dosen ITB.
Sahabat saya itu, Dr. Soni Suhandono, pada suatu kesempatan sekitar dua tahun yang lalu, berkata, "Saya sangat sedih karena media massa dan media informasi kita itu terlalu banyak dan terlalu rajin menampilkan sisi negatif bangsa kita. Seolah-oleh sudah tidak punya harapan lagi kita. Padahal ada sangat banyak sisi positif bangsa kita yang bisa diangkat dan diceritakan."
Kesan saya mendengarnya pertama kali adalah, bahwa ucapan itu muncul dari seseorang yang mencintai bangsanya, berharap banyak pada bangsanya, dan berpikiran positif serta ingin berbuat banyak memberikan sumbangsih bagi bangsanya.
Memang betul, bahwa ada sangat banyak permasalahan menggelayuti bangsa Indonesia. Tapi itu bukan sebuah alasan buat kita berhenti berbuat dan berusaha melakukan sebuah usaha perbaikan. Dan itu juga bukanlah sebuah lisensi buat kita menjadikan permasalahan dan borok-borok masyarakat kita menjadi menu utama bahasan kita. Keburukan-keburukan itu memang harus diungkap, namun haruslah pada tempatnya, dan secara berimbang. Sewajarnya saja.
Setiap saat saya membaca tulisan opini seperti itu, pertanyaan saya selalu sederhana.
'Lantas apa yang hendak Anda lakukan untuk memperbaikinya? Keburukan itu sudah diungkap, lalu apa maksudnya mengungkapkan keburukan itu? Apakah ada solusi dan upaya perbaikan telah dilakukan? Ataukah ini hanya akan berakhir sebagai sebuah keluh kesah, curhat, pembukaan aib, atau hujatan untuk bangsa Anda sendiri?'
Jika Anda punya pertanyaan sama seperti diatas untuk saya terkait tulisan-tulisan saya, saya hanya ingin menjawab singkat bahwa saya sedang berupaya melakukan sesuatu. Tapi itu tidak untuk diungkapkan disini. Jika anda ingin bergabung, hubungi saya...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar