Itulah judul salah satu artikel Kompas kemarin (baca http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/12/13033261/maju.tak.gentar.membela.yang.bayar), bercerita tentang pragmatisme rakyat kecil terhadap pemilu. Rakyat miskin digambarkan sudah tidak percaya lagi pada janji-janji politisi, sehingga memilih berpikir praktis untuk mendukung mana yang memberikan benefit yang instan menjelang pemilu. Saya percaya, ada banyak koq rakyat miskin yang masih memiliki harga diri dan hati nurani, tapi seberapa dominankah? Ditambah dengan segala keterbatasan informasi bagi sebagian besar rakyat Indonesia, semakin lengkaplah kelemahan rakyat kecil sehingga selalu hanya menjadi target kekuasaan saja.
Saya punya hipotesis sederhana, yang mungkin sama juga dipikirkan oleh anda. Partai/politisi yang mengandalkan kekuatan uang, lebih spesifik lagi mengandalkan politik uang dalam mencapai kekuasaan (Bagi-bagi uang, sembako), mengandalkan artis dan hiburan murahan untuk menggalang massa, dan yang gemar melakukan fitnah dan black campaign pada rivalnya, saya yakin mereka lebih menyukai rakyat Indonesia yang tetap lugu, bodoh, terbelakang, dan minim wawasan. Mereka pasti anti dengan kalimat 'mencerdaskan rakyat Indonesia'. Mengapa demikian?
Jawabnya sederhana saja. Jika rakyat Indonesia pandai dan cerdas, terlebih memiliki akses informasi yang baik, tidak akan mempan terhadap ketiga hal diatas. Inilah yang ditakuti oleh para politisi busuk, karena mereka akan lebih sulit melanggengkan kekuasaannya. Jadi, jika anda memilih partai dan politisi busuk ini, jangan berharap banyak rakyat Indonesia akan bertambah cerdas, karena justeru mereka akan berusaha menjaga agar rakyat Indonesia tetap lugu, bodoh, terbelakang, dan buta wawasan. Mereka akan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, supaya cukup modal untuk pemilihan selanjutnya, termasuk membungkam para oknum penegak hukum jika diperlukan...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar