
Jika sebelumnya saya pernah menulis tentang ada yang hilang di Jepang, mungkin ini adalah salah satu tandanya. Orang Jepang, atau lebih tepat saya bilang sebagian laki-laki Jepang keranjingan dengan komik. Adalah hal yang biasa anda menemukan laki-laki Jepang, dari anak-anak sampai orang tua membaca komik saat naik kereta di Jepang, selain tentunya mereka membaca buku, main gamewatch, tidur, atau menyibukkan diri dengan handphone masing-masing. Komiknya bahkan jauh lebih tebal dari komik yang kita temui di Indonesia. Kira-kira sebesar dan setebal buku telepon di Indonesia. Bahkan saking keranjingan-nya pada komik, baru-baru ini ada seorang lelaki Jepang yang membuat petisi agar pemerintah mengijinkan seseorang menikahi tokoh komik kesayangannya. Anehnya, dalam beberapa hari, petisinya mendapatkan dukungan ribuan penggemar komik lainya. Bahkan (Ini yang membuat saya ingin menuliskannya di blog ini), di kampus saya pun, saya sempat menemukan di salah satu gedung, terdapat rak yang diletakkan ditempat umum, sebagian berisi komik. Setelah saya cermati, ternyata semacam tempat sampah...
Saya tidak tahu mengapa, atau apa yang begitu menarik dari membaca komik itu. Bisa dipahami jika itu dilakukan oleh anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang daya imajinasinya. Tapi jika dilakukan oleh orang dewasa (Bahkan perdana mentri Jepang, Taro Aso-pun mengaku sebagai penggemar komik!), saya tidak habis pikir. Apakah komik itu menjadi sebuah pelarian, disamping hiburan tentu saja? Sebagaimana kebiasaan orang Jepang minum arak sehabis kerja mereka? Saya tidak tahu. Yang jelas, jika sampai ingin menikahi tokoh komik yang hanya merupakan imajinasi, boleh jadi mereka memang hidup di alam animasi. Tidak mengejutkan juga jika anda datang ke Jepang dan berkomentar bahwa orang Jepang seperti hidup dalam dunia masing-masing...
Ah, saya jadi rindu dengan keramahan orang Indonesia, yang saling memperhatikan satu dengan yang lain serta lingkungan sekitarnya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar