Kemarin, untuk kesekian kalinya kembali saya bertemu kenalan saya yang orang Iran itu. Kebetulan namanya sama dengan nama saya: Muhammad Amin. Cuma beda ujungnya, karena dia Muhammad Amin Rahimian. Tapi ada sedikit yang berbeda saat pertemuan kemarin, dia tersenyum sangat ramah kepada saya...
Saya tahu senyumnya disebabkan perbincangan kami dua hari sebelumnya. Saat itu di musholla, saya sedang menunggu waktu isya sekitar jam 6, ketika saya lihat dia wudhu dan menjalankan sholat tanpa ngajak saya. Saya bertanya, 'Are you just having isha pray?' Jawabannya kok mengejutkan, 'No, I just have maghrib pray.' Trus saya bilang,, 'Lho, ini kan udah waktu isya?' Dia jawab lagi 'Saya syiah. Kami boleh melakukan sholat maghrib antara jam 5 sampai jam 7'
Syiah. Saya nggak membayangkan suatu saat bertemu dan ngobrol dengan seorang syiah dari negeri dengan penganutnya yang terbesar. Kemudian kita ngobrol, tentang Iran, juga tentang ahmadinejad, tentang posisi minyak bagi Iran, tentang bahasa Arab, Inggris, dan Persia bagi rakyat Iran, sampai juga masalah syiah, termasuk kaitannya dengan sistem politik Iran. Kami juga ngobrol tentang beberapa kesamaan dalam ajaran syiah dan sunni. Bahwa kami juga menghargai ahlul bait. Bahwa ada juga konsep imam mahdi, dsb. Dia agak surprise saat tahu bahwa saya cukup tahu tentang syiah. Dia bilang bahwa sangat sedikit menemui orang lain yang mengerti tentang syiah. Bahkan dia gembira bahwa saya mengenal Hassan dan Hussein RA, dan mengerti tantang konsep 12 imam syiah.
Yang agak mengejutkan saya, adalah saat ada seorang temen kebangsaan Arab saudi datang. Sontak dia melirihkan suaranya, dan bersikap seolah sedang tidak terjadi apa-apa. Ketika kemudian saya tanya ada apa, dia memberi tanda gerakan memotong leher... Ah, ternyata permusuhan itu memang nyata... Dia bilang, eh bukan saya yang mengajak lho, tapi kamu yang duluan mengajak saya ngobrol... Sampai kemudian ketika kami bertemu kemarin, saya mengerti bahwa sikap bersahabat saya demikian berarti buat dirinya.
Well, saya tahu tentang penyimpangan syiah. Saya juga tidak sedang berusaha membela atau menonjolkan satu sisi baik orang syiah. Tapi jika dengan orang-orang nasrani, atheis, juga budha saya menjalin hubungan baik (di lab dan di kampus umpamanya), tentu dengan syiah saya juga tidak antipati. Kan mereka lebih dekat kepada keyakinan saya dari pada yang saya sebutkan sebelumnya. Saya cuma berusaha meresapi indahnya jika kita mengedepankan persamaan kita, dan tidak fokus pada perbedaan dan kebencian. Walaupun kita tetap harus mengerti batasan pergaulan, termasuk dengan syiah, sampai kemarin saya bilang padanya, "Please, don't get angry or feel disturbed if we (sunni) don't accept you as a prayer's imam..."
Saya prihatin, bisa nggak ya umat Islam yang mengaku ahli sunnah wal jamaah ini (saja) bersatu dan tidak mengedepankan perbedaan...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar