Selasa, Januari 11, 2011

Menikah dalam Bingkai Syariat (1)

Ini tulisan saya yang menjadi salah satu artikel dalam buku Menikah Tanpa Pacaran Oke Banget. Ingin berbagi ke semua, secara bersambung. Semoga bermanfaat.

=====

Bagaimana Nak, kapan jadinya kamu akan menikah?” ibu bertanya pada saya. Saya menjawab, “Mencari calon istrinya saja di Bandung, kok tidak boleh sama orang Sunda. Ya susah…” Ibu berkata lagi, “Kalau begitu ya tidak apa-apa dengan orang Sunda…

Pagi itu, tanggal 12 Dzulhijjah tahun 2006. Ditengah perjalanan saya mengantar ibu menuju kantornya untuk acara pemotongan kurban Idul Adha, akhirnya ibu menyetujui keinginan saya. Percakapan pendek yang mengakhiri diskusi panjang saya dengan ibu tentang kriteria calon istri. Saya hanya bersyukur dalam hati, akhirnya ibu bersedia juga mencabut syaratnya itu, bahwa saya tidak boleh menikah dengan orang dari suku Sunda. Syarat yang telah menyebabkan proses pernikahan saya terhenti selama ini. Segera setelah saya kembali ke Bandung, saya menemui seorang ustadz. Enam bulan yang lalu saya meminta bantuannya untuk mencarikan jodoh buat saya. Ustadz ini adalah seorang yang saya kenal baik dan beliau juga dengan baik mengenal saya. Saya memanggilnya Pak Yani. Beliau sering menjadi tempat saya bertanya tentang berbagai hal dan berdiskusi tentang segala sesuatu. Setelah kurang lebih dua tahun mengenalnya, saya merasa cukup dekat dan percaya untuk meminta beliau mencarikan calon istri buat saya.

Pak Yani tampak begitu bersemangat ketika saya menyampaikan berita itu. Ternyata tak lama, keesokan harinya beliau memberitahu bahwa ada seorang akhwat yang cocok untuk dijodohkan dengan saya. Hari berikutnya, saya diberi selembar kertas bergaris ukuran B5 dengan tulisan tangan, berisi biodata singkat seorang akhwat, keluarga, dan sedikit aktivitasnya, serta dua lembar foto. Saya menjadi teringat biodata yang dulu saya titipkan ke beliau. Dalam waktu itu saya tidak tahu harus bersikap seperti apa.

Rasanya aneh. Biodata 7 lembar itu terdapat keterangan lengkap diri saya dan keluarga beserta karakter masing-masing. Bahkan sampai bacaan favorit dan juga dua halaman khusus berisi penjelasan tentang paradigma saya terhadap pernikahan, cita-cita, rencana, dan konsepsi kedepan. Dan sekarang, saya hanya diberikan selembar biodata yang dibuat tergesa dengan tulisan tangan. Saya merasa aneh. Bahkan nama ibu dan ayah sang akhwat yang menurut Pak Yani cukup terkenal pun saya tidak mengenalnya. Dan selembar biodata itu jauh dari cukup buat saya untuk bisa membayangkan seperti apa sosok akhwat yang hendak dijodohkan dengan saya. Namun akhirnya tanpa berpikir terlalu panjang, hanya berbekal keyakinan kepada ustadz bahwa beliau akan mengusahakan yang terbaik untuk saya, memberi keberanian bagi saya untuk menyanggupi permintaan ustadz agar segera bertemu dengan akhwat tersebut.

Kamis, 26 Januari 2006. Salah satu hari yang akan sangat sulit untuk saya lupakan. Pagi itu menjelang siang. Saya dijemput Pak Yani dan diantar untuk bertemu, atau kerennya ber-ta’aruf dengan akhwat yang hendak dijodohkan dengan saya. Istri beliau juga turut serta. Singkat cerita, sampailah mobil kami di depan sebuah rumah dengan gedung dan masjid kecil di sekitarnya. Saat itu saya baru tahu bahwa orang tua akhwat ini mengelola sebuah sekolah berasrama yaitu SMP Islam Terpadu di lingkungan pesantren. Saya yang pertama keluar dari mobil, disusul oleh Pak Yani dan kemudian istrinya. Setelah mengetuk pintu, keluarlah seorang ibu yang masih cukup muda, menurut saya. Ia menyambut kedatangan kami. Segera saya diperkenalkan pak Yani kepada ibu muda itu, dan ternyata beliau adalah ibu dari akhwat yang hendak saya temui.

Hmm… dada saya kembali bergemuruh ketika menuliskan kisah ini. Sama seperti ketika saya duduk di kursi di ruang tamu rumah itu, yang ternyata di kemudian hari saya tinggali selama hampir 3 tahun. Setelah obrolan basa-basi sejenak membicarakan pengalaman ibadah haji yang baru saja dilakukan oleh ibu dan adik sang akhwat, akhirnya dia pun keluar dan turut serta terlibat dalam pembicaraan. Ayahnya sedang bepergian ke Ciamis untuk suatu keperluan. “Tapi…ah, sebenarnya saya agak bingung untuk mengungkapkan kembali kisah ini.

Mungkin perasaan saya waktu itu terlalu gugup sehingga detil pembicaraan yang terjadi tidak banyak yang saya ingat. Saya hanya mengingat bahwa saya lebih banyak bersembunyi dibalik pundak pak Yani yang duduk disebelah saya sambil sesekali melirik (atau mungkin mengintip!) ke arah akhwat itu. Pak Yani dan ibu dari sang akhwat-lah yang lebih banyak berbicara. Mereka memperkenalkan diri saya dan putrinya. Mereka yang memfasilitasi pembicaraan. Mungkin sang akhwat juga sama gugupnya, sehingga tidak banyak yang dia tanyakan atau ungkapkan saat itu. Singkatnya, tidak ada hal prinsip yang kami bicarakan, hanya sebatas saling mengenal karakter dan latar belakang masing-masing secara umum. Juga kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi seandainya jadi menikah.

Setelah makan siang bersama, kami pun berpamitan. Tak lupa saat itu Pak Yani bercerita bahwa keesokan harinya saya berencana untuk pulang ke Solo untuk suatu keperluan. Ternyata, ibu sang akhwat langsung berinisiatif membungkuskan oleh-oleh dari haji, untuk saya dan keluarga di Solo. Pak Yani bergurau, bahwa dahulu saat dia berta’aruf dengan keluarga istrinya sekarang, dia juga dibawakan oleh-oleh dari calon ibu mertuanya. Kemungkinan besar saya-pun juga akan diterima. Dan gurauan itu ternyata cepat pembuktiannya. Sabtu pagi berikutnya saat saya masih di Solo, Pak Yani menelepon dan berkata, “Akh Amin, Ustadz dan keluarganya sudah siap untuk menerima lamaran antum.

Begitu cepat. Hanya dua hari berselang sejak saya bertaaruf dengan calon istri saya. Tapi mungkin keluarganya sudah terlebih dahulu membaca biodata saya sebelumnya. Hal yang luar biasa adalah, baru Jum’at malamnya saya bercerita kepada Bapak, Ibu, dan keluarga saya bahwa saya sudah diperkenalkan dengan seorang akhwat dengan latar belakang sebagaimana tertulis dalam selembar biodata yang saya terima. Siang harinya ketika saya menyampaikan berita penerimaan itu, ternyata Bapak dan Ibu juga langsung menerima. Mereka bersedia melanjutkan proses lebih lanjut ke “pernikahan”. “Sungguh suatu hal luar biasa buat saya. Hanya perlu sehari bagi Bapak dan Ibu untuk menerima calon yang saya ajukan.”

Meskipun begitu, awalnya memang tidak semudah itu. Sejak setahun sebelumnya, saya sudah melakukan pendekatan dan diskusi panjang dengan kedua orang tua saya. Mulai dari meminta ijin untuk menikah, hingga akhirnya tentang kriteria calon istri yang diharapkan. Merumuskan kriteria calon istri adalah hal yang paling menyita perhatian dalam diskusi kami. Saya ingin agar kriteria calon istri itu sesedikit mungkin, dan semudah mungkin, namun tetap saja orang tua saya memberikan beberapa kriteria yang lain yang menurut saya tidak terlalu penting, misalnya masalah umur, suku, profesi, latar belakang keluarga, dan lain sebagainya. Setelah melalui beberapa diskusi dari hati ke hati, saya bisa menerima beberapa syarat dari orang tua saya, dengan beberapa catatan. Jadi ketika saya datang dengan usulan calon istri sesuai kriteria Bapak dan Ibu, persetujuan pun mudah didapat. Bapak dan ibu juga sudah sepenuhnya percaya akan kedewasaan saya, termasuk dalam mencari siapa calon pendamping saya.

***

Saya sendiri pun hanya perlu waktu seminggu untuk menerima sang akhwat ini sebagai calon istri saya. Saya cukup yakin bahwa Pak Yani hanya akan memilihkan yang terbaik, yang paling sesuai untuk saya. Jadi, ketika semua kriteria terpenuhi, setelah melakukan shalat istikharah beberapa kali, dan dengan dilandasi keyakinan dan tawakal pada Allah, saya pun merasa mantap untuk maju ke tahapan selanjutnya. Saya masih ingat pesan kakak saya, bahwa sayalah yang akan menanggung segala konsekuensi dari pilihan ini. “Dengarkanlah kata hati nuranimu sendiri. Jangan menjadikan idealisme orang lain, termasuk guru mengaji atau siapapun sebagai landasan.” Demikian kakak saya dengan bijak memberikan nasehatnya.

Tapi ah…, bukankah idealisme Pak Yani yang mencarikan calon istri, juga sama dengan idealisme saya? Kurang lebih itulah yang menjadi alasan. Yang paling penting bagi saya adalah calon istri sudah memenuhi kriteria yang saya inginkan. Kemudian telah ada perasaan kecocokan, terutama setelah melakukan ta’aruf . Saya juga setuju dengan pendapat kakak saya untuk tidak menyerahkan segala keputusan sepenuhnya pada orang lain. Keputusan akhir ada di tangan saya, dan saya menyadari betul hal ini. Tapi saya merasa bahwa saya tidak memiliki alasan apapun untuk menunda atau membatalkan proses ini. Saya juga telah melakukan beberapa kali istikharah, dan saya merasa sreg.

Saya merasa tidak perlu mengenal dulu lebih lanjut, atau melakukan penjajakan secara khusus. Saya juga tidak bisa menerima pendapat bahwa pacaran diperlukan untuk menjajaki calon pasangan, dimana jika cocok bisa dilanjutkan ke pernikahan namun jika tidak, bisa putus kapan saja.” Selain banyak terjadinya kebohongan dalam pacaran, saya juga beranggapan bahwa penjajakan lewat pacaran lebih banyak dibingkai dengan nafsu. Bukan berdasarkan wawasan kedewasaan dan sikap objektif. Itulah sebabnya mengapa saya lebih percaya kepada orang yang saya kenal baik untuk mencarikan jodoh buat saya. Walaupun keputusan akhir tetap ada pada saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar