Mengenali Keluarganya
Hari-hari yang tersisa saya lewatkan untuk menjalin kedekatan dengan keluarga calon istri. Dengan keluarganya saja? Kurang lebih begitu. Sejak ta’aruf hingga akad nikah pun, saya dan calon istri tidak pernah berkomunikasi secara langsung. Tidak lewat telepon, tidak lewat email, tidak pula lewat sms, apa lagi bertemu langsung.
Lucunya, ketika tanpa sengaja dalam sebuah perjalanan dengan kereta, ternyata saya mendapat tiket satu gerbong dengan calon istri. Meski berselang beberapa baris, saya pindah gerbong karena malu bertemu dengan calon istri. Saya juga masih ingat, begitu bingung dan anehnya wajah seorang bapak yang saya minta bertukar tempat duduk, ketika saya menyampaikan alasan mengapa ingin berpindah tempat.
“Ahh… polosnya saya saat itu, mengapa tidak mengarang sebuah alasan lain yang masuk akal untuk disampaikan kepada si bapak.”
Saya lebih banyak berhubungan dengan calon ibu mertua saya, yang sejak saat itu saya panggil ummi. Artinya ibuku. Untuk persiapan pernikahan, saya dapat bagian menyiapkan undangan. Desainnya pun 100% pilihan keluarga calon istri. Saya beruntung punya seorang kawan dekat yang bergerak dibidang usaha desain dan percetakan, termasuk juga dalam urusan dokumentasi lewat foto dan video. Jadilah semua jasanya saya manfaatkan dengan gratis, kecuali mengganti ongkos produksinya saja. “Ini hadiah saya buat kamu,” demikian katanya.
Saya ingat beberapa kali saya berkunjung ke rumah calon istri saya. Sebagian besar dalam rangka pengurusan undangan. Juga untuk mengikuti rapat panitia pernikahan, mencoba baju pengantin, dan melihat alternatif tempat menginap bagi keluarga saya. Pertemuan-pertemuan itu saya manfaatkan betul untuk lebih mengenal keluarga calon istri.
Saya pernah membaca dalam sebuah buku tentang persiapan pernikahan, bahwasannya sangat penting bagi seorang calon pengantin pria seperti saya untuk menjalin hubungan dekat dengan calon ibu mertua. Seorang ibu adalah orang yang paling dekat dan paling mengenal kepribadian putrinya. Di sisi lain, ibu juga yang lebih bisa menjalin keakraban dengan dengan calon menantu laki-laki, dibandingkan jika komunikasi dilakukan antara ayah dan calon menantu laki-laki. Ini mungkin disebabkan oleh kecanggungan yang biasa terjadi diantara sesama laki-laki. Karenanya menjalin komunikasi antara ibu dengan calon menantu laki-laki sangat berguna dan efektif untuk memperlancar proses menuju pernikahan.
Saya pun membuktikannya. Begitu besar peranan Ummi pada hari-hari menjelang pernikahan saya. Ummi yang mengamati langsung sikap dan karakter saya selama beberapa kali pertemuan singkat itu, tampak berperan betul dalam memfasilitasi perkenalan yang lebih jauh antara saya dengan calon istri. Beliau secara baik menjelaskan dan mendeskripsikan anaknya, calon istri saya. Demikian juga sebaliknya.
Saya menyampaikan pemikiran-pemikiran saya, secara langsung maupun tidak langsung melalui Ummi. Alhamdulillah mendapatkan respon yang sesuai. Misalnya ketika saya mengungkapkan bahwa saya merasa belum cukup mengenal karakter calon istri saya, dan terkadang masih menyimpan beberapa pertanyaan. Ummi menanggapinya dengan menjelaskan secara terbuka tentang calon istri saya, menceritakan perjalanan hidupnya, sifat-sifatnya, kelebihan dan juga kekurangannya. Juga menjelaskan tentang keluarga besarnya. Pak Yani juga masih berperanan dalam masa ini. Utamanya dalam hal-hal prinsip terkait pernikahan, misalnya mengenai mahar yang harus disiapkan. Pada suatu kesempatan, saya pernah menanyakan kepada Ummi tentang mahar yang diinginkan oleh calon istri saya. Beliau menjawab, bahwa calon istri saya pernah pada suatu kesempatan mengungkapkan keinginannya untuk memiliki suatu barang tertentu. "Mungkin itu bisa dijadikan mahar,” kata Ummi. Namun Pak Yani menyampaikan bahwa calon ayah mertua saya pernah mengungkapkan bahwa yang sesuai sunnah Nabi adalah mahar yang berwujud emas. Akhirnya kami menyepakati bahwa maharnya adalah perhiasan emas, tanpa ditentukan berapa banyaknya. “Terserah yang akan memberikan mahar saja…” Demikian ungkapan Ummi waktu itu. Pak Yani juga menambahkan, “Jika ingin memberikan sesuatu yang lain, tetap saja berikan namun sebagai hadiah…” Disini saya kembali merasa sangat beruntung memperoleh calon istri dan keluarga sebaik ini. Bukankah Rasulullah SAW juga pernah bersabda bahwa sebaik-baik wanita yang akan dinikahi adalah yang paling mudah maharnya? Lebih jauh lagi, saya juga merasa sangat beruntung dan bersyukur atas proses pernikahan yang sedang saya jalani.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar