Sabtu, Januari 29, 2011

Menikah dalam Bingkai Syariat (5)

Menikah

Akhirnya, hari yang ditunggu pun tiba. Jum’at pagi rombongan keluarga besar saya tiba di Bandung, setelah semalaman menempuh perjalanan dari Solo. Sekitar 20 orang yang mengikuti rombongan, lengkap dengan oleh-oleh dan seserahan buat keluarga calon istri.

Keluarga saya disambut dengan demikian hangatnya. Turun dari kendaraan, semua dipersilakan mampir ke rumah dulu untuk sarapan bersama. Saat itulah untuk pertama kali calon istri saya bertemu dengan calon mertua dan keluarga saya. Saya cukup deg-deg-an dengan pertemuan pertama ini, khawatir jika ada kekecewaan atau apa. Tapi alhamdulillah, tampaknya orang tua dan keluarga besar saya sangat setuju dengan pilihan saya. Sepupu dan bibi saya bahkan sempat meledek saya, “Wah pantas saja kamu mau menikah dengan orang Sunda, calonnya seperti ini…

Malamnya, prosesi akad nikah dimulai sejak selesainya sholat Isya berjamaah di masjid dalam lingkungan pesantren. Ajaib. Sama sekali saya tidak gugup atau cemas saat itu. Saya teringat beberapa acara akad nikah yang saya hadiri, sebagiannya harus diulang karena kegugupan calon mempelai pria. Saya cuek saja menjadi pusat perhatian orang-orang. Bahkan ketika Abi (Bapak mertua) tanpa dipersilakan terlebih dahulu oleh petugas KUA, beliau sendirian memulai proses pengucapan akad nikah. Saya dengan tenang langsung menjawab, “Saya terima nikahnya… …tunai.

Beruntung kedua saksi yang dipersiapkan, serta salah satu dari kedua petugas KUA mengikuti proses itu. Mereka bersepakat bahwa akad nikah tadi sudah sah. Agak lucu juga karena sebagian dari yang hadir tidak mengikutinya. Sehingga mereka merasa kecolongan. Termasuk tim dokumentasi yang harusnya mengabadikan proses itu.

Lho, salamannya kapan?” Sebagian bertanya-tanya. Termasuk saudara yang merekam dengan video kamera. Setelah akad nikah, baru saya bersalaman dengan Abi sebagai mertua saya. Dan saat itulah saya mengerti, bahwa bersalaman antara wali yang menikahkan dengan mempelai pria bukanlah sebuah rukun atau syarat dari sebuah pernikahan. Demikian juga hadirin yang menghadiri akad nikah tersebut.

Selesai acara akad nikah, tiba waktunya berfoto. Saya dipertemukan dengan istri saya. Kami begitu malu-malu. Untuk pertama kalinya saya memegang tangan istri. Beberapa kali pegangan tangan kami lepas, sehingga diprotes oleh teman yang menjadi juru foto.
Kalian itu sudah menikah, pegang aja itu tangannnya, nggak usah malu-malu,” kata teman saya itu.

Bahkan adik ipar saya sambil bercanda membawakan kami seutas tali. Katanya buat mengikat tangan saya dan istri, biar tidak lepas lagi. Yah, bukankah memang seperti itu pasangan yang baru menikah tanpa proses pacaran sebelumnya? Saya baru sebulan mengenal wanita yang sekarang menjadi istri saya, jadi pasti wajar jika malu-malu.

Tapi, bagaimana nanti jika berdua saja? Well, sebenarnya saya sudah menyiapkan sesuatu untuk memecah kekakuan yang ada di saat itu. Khusus untuk momen itu, saya menyiapkan sebuah surat cinta buat istri saya. Sebuah surat cinta yang baru pertama kalinya saya tulis. Alhamdulillah, segala sesuatunya ternyata tetap berlangsung dengan lancar, termasuk sampai acara resepsi atau walimah yang diselenggarakan keesokan harinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar