Ada keraguan…
Saya yakin calon istri saya dan keluarganya tahu, bahwa calon istri saya ini sangat memenuhi kriteria yang saya harapkan. Terpaut beda usia beberapa tahun di bawah saya, calon istri saya tidak lama lagi akan lulus sebagai dokter dari Universitas Airlangga Surabaya. Ia juga dari keluarga yang harmonis dan dikenal ketokohannya.
“Tapi bagaimana saya tahu apakah saya memenuhi kriteria calon suami dan menantu sesuai yang diharapkan?”
Ditengah kegalauan, saya terus melakukan shalat istikharah dan meminta masukan dari orang-orang terdekat saya. Seorang teman saya memberikan nasehat, bahwa jawaban Allah terhadap istikharah kita bisa berada dalam berbagai bentuk. “Bisa jadi Allah langsung menanamkan keyakinan pada kita bahwa seseorang yang sedang diproses itu memang jodoh kita. Bisa juga sebaliknya, semakin ada ganjalan di hati kita untuk melanjutkan proses menuju pernikahan. Atau bahkan berupa informasi-informasi baru tentang calon pasangan kita, yang semakin menguatkan motivasi kita untuk menikah dengannya, atau juga sebaliknya,” demikian nasihat dari teman saya.
Yang saya alami, adalah Allah menunjukkan jodoh saya dengan menanamkan keyakinan di dalam hati saya melalui berbagai kemudahan yang saya rasakan selama mempersiapkan pernikahan, sehingga kegalauan yang masih sempat membayangi di saat awal saya menerima perjodohan ini lambat laun menghilang. Beberapa diantaranya bahkan lebih bersifat kebetulan. Misalnya ketika Pak Yani tiba-tiba mendapat tugas dinas ke Klaten, sehingga bisa dipertemukan dengan keluarga saya. Hal ini tidak pernah direncanakan sebelumnya. Juga kebetulan bahwa calon istri saat itu sedang berada di Bandung untuk liburan, sehingga akhirnya proses pernikahan itu bisa berjalan. Padahal sebelumnya sang akhwat sempat berniat melewatkan liburan dengan mengambil semester pendek di Surabaya, dan sebelumnya tidak ada niatan sama sekali untuk menikah. Juga beberapa kemudahan lain yang akan saya sampaikan nanti dibagian lain tulisan ini. Beberapa kemudahan terjadi seolah-olah seperti suatu skenario yang sudah dipersiapkan, dan saya tidak dapat menafsirkannya selain sebagai jawaban Allah terhadap doa saya.
“Ya Allah, saya memohonkan pilihan menurut pengetahuanMu dan memohonkan penetapan dengan kesuasaanMu juga saya memohonkan kurniaMu yang besar, sebab sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui dan saya tidak mengetahui apa-apa. Engkau Maha Mengetahui segala yang ghaib. Ya Allah, jikalau di dalam ilmuMu bahwa calon istri saya ini baik untuk saya dalam agama, kehidupan, serta akibat segala urusan saya; takdirkanlah dia untuk saya dan mudahkanlah serta berikanlah berkah di dalamnya. Dan jika di dalam ilmumu bahwa calon istri saya ini buruk untuk saya dalam agama, kehidupan, serta akibat segala urusan saya; jauhkanlah dia dan jauhkanlah saya darinya serta takdirkanlah untuk saya yang baik-baik saja dimana saja adanya, kemudian puaskanlah hati saya dengan takdirMu itu.”
Akhirnya, saya mencoba bijak serta meyakinkan diri, bahwa Allah tidak akan pernah dzalim terhadap hambaNya, termasuk dalam memberikan jodoh kepada calon istri saya. Saya ingat Allah berjanji dalam salah satu firmannya, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizqi yang mulia (surga),” (QS An Nuur: 26).
“Saya maupun calon istri saya pasti akan memperoleh jodoh yang sesuai, ” itu yang saya yakini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar