Hari ini, saya membaca artikel tulisan Ust Yusuf Mansyur yang dikirimkan seorang teman. Isinya tentang demikian terpuruknya Indonesia di mata dunia. Terpuruk reputasinya, juga terpuruk nilai mata uangnya. Sedemikian burukkah..?
3 bulan tinggal di Jepang yang bagi saya menggambarkan kehidupan di negara maju, justru memberikan banyak alasan kepada saya untuk bersyukur menjadi orang Indonesia. Salah satunya, saya bersyukur karena Indonesia adalah negara berkembang. Artinya, harapan Indonesia untuk terus memperbaiki kehidupan dan kesejahteraannya masih terbuka lebar. Perekonomian Indonesia masih mungkin tumbuh dan terus tumbuh. Dan harapan akan masa depan yang lebih baik ini merupakan sumber motivasi yang sangat penting bagi bangsa Indonesia, sehingga lebih giat bekerja menggapai cita-citanya.
Saya masih ingat isi prinsip ekonomi kedua yang saya pelajari sewaktu duduk di kelas 1 SMP, yang menyatakan bahwa tingkat kepuasan dari sebuah kebutuhan akan berkurang jika kebutuhan itu telah terpenuhi. Makanan akan terasa sangat nikmat di mulut orang yang kelaparan. Tapi makanan yang sama, boleh jadi merupakan makanan yang membosankan dan tidak mendatangkan selera makan bagi orang yang kenyang, atau sudah terbiasa menyantapnya. Kemajuan dan peningkatan kesejahteraan akan lebih membahagiakan bagi bangsa yang baru beranjak dari keterpurukannya, seperti Indonesia. Saya senang bahwa rakyat Indonesia akan tetap berbahagia untuk waktu yang lama...
Ketika kemajuan sudah mendekati garis asimtot, yang hadir selanjutnya adalah kejenuhan. Ketika kemakmuran dan kesejahteraan sudah ditangan, yang hadir adalah kebingungan. Ini sudah beberapa kali saya ungkapkan dalam beberapa tulisan saya di blog ini sebelumnya. Beberapa orang yang mengalami kejenuhan dan kebingungan yang luar biasa, bahkan melakukan tindakan-tindakan yang sulit diterima dengan akal sehat. Seperti seorang laki-laki yang menusuk para pejalanan kaki di Akihabara beberapa tahun yang lalu, hingga menyebabkan beberapa orang terbunuh. Alasannya sungguh mengejutkan, "Saya sangat bosan dengan hidup saya..."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar