Rasulullah SAW dalam haditsnya menyatakan bahwa kita harus mencegah kemungkaran dengan tangan atau kekuasaan, jika tidak mampu dengan lisan, dan jika masih tidak mampu dengan hati/doa. Cara terakhir hanya dilakukan oleh mereka yang lemah iman. Lantas, apakah semua yang beramal dengan hati imannya lemah?
Tentu saja tidak. Mengapa? Karena jika memang demikian, Rasulullah SAW-pun bisa dikategorikan lemah iman, padahal itu sesuatu yang tidak mungkin. Ketika keluarga Yasir radhiyallahu anhum mendapat penyiksaan demikian berat, beliau juga hanya bisa mendoakan mereka. "Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya Allah menjanjikan surga bagi kalian..." hanya itu ungkapan Beliau SAW ditengah kesedihannya.
Tapi ada satu yang beda. Ditengah "hanya" doa dan empati yang bisa Beliau panjatkan, kita semua sudah mengetahui betapa besar dan terencana upaya Rasulullah SAW untuk menolong keluarga-keluarga yasir yang lain yang akan ada. Siang-malam dakwah yang dilakukannya, ditengah bimbingan dari Yang Maha Pandai, perlahan namun pasti Islam itu berkembang dan akhirnya mampu memimpin dan melindungi seluruh umatnya.
Pemilu, layaknya sebuah kesempatan beramal buat kita, meski nampaknya kebanyakan kita hanya memiliki dua pilihan. Ikut (amalan lisan) atau tidak ikut (amalan hati). Kecuali jika ada yang menganggap bahwa tidak ikut/golput tapi "lantang" bersuara itu sebagai sebuah amalan lisan (termasuk mengajak golput), meski seberapa lantang dan seberapa besar impact yang muncul yang mengarah pada kebaikan itu harus dipertanyakan.
Golput, bisa jadi diantara indikasi lemahnya iman, jika dibarengi dengan sikap berpangku tangan dan ketidak-mauan untuk berbuat. Mau atau tidak mau, itu amalan hati. Hanya Allah yang mengetahui, dan saya tidak mungkin menghakimi. Golput memang sebuah pilihan, namun setiap pilihan harus didasari motivasi dan alasan yang kuat, sebagaimana Rasulullah SAW ketika memilih untuk "hanya" mendoakan keluarga Yasir. Apakah Rasulullah tidak cukup harta sehingga tidak bisa melakukan seperti apa yang dilakukan Abu Bakar terhadap Billal ketika disiksa oleh Umayyah? Saya yakin tidak demikian, tapi yang sebenarnya hanya Allah yang tahu. Kita hanya bisa menyimpulkan bahwa upaya Rasulullah lebih banyak menyelematkan yasir yang lain, dibanding Abu Bakar yang hanya menyelamatkan Bilal seorang. Pun begitu, kita semua juga mengenal kiprah Abu Bakar dalam dakwah Rasulullah Saw.
Itulah mengapa, saya termasuk tidak setuju dengan pengharaman golput secara umum. Tapi saya setuju golput haram bagi mereka yang tidak punya pilihan lain yang bisa diperbuat untuk memperbaiki negeri ini, dan memiliki kemauan untuk melakukannya. Allah jua yang Maha Tahu akan isi hati siapapun yang golput, demikian juga hanya Allah yang Maha Tahu isi hati orang-orang yang berada di posisi yang berlawanan.
Tapi setidaknya bagi mereka yang melakukan sesuatu, pasti didasari karena adanya sebuah harapan. Manusia tidak ada yang suci kecuali para Nabi dan Rasul yang ma'shum, mungkin ada kekurangan ditengah upayanya beramal shaleh. Namun setidaknya ada resultan yang positif kearah kebaikan dari upayanya, untuk sedikit melangkah kepada harapan yang baik itu. Jika kita sudah tidak ada harapan alias berputus asa, itu bukan saja indikasi iman yang lemah, tapi sudah menjadi indikasi hilangnya keimanan....
Mari kita tunjukkan amalan-amalan nyata terbaik kita...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar