Ada sebuah ungkapan menarik yang saya dengar dari Tukul Arwana, bahwasannya memperlakukan orang lain itu layaknya kita sedang bercermin. Jika ingin melihat sosok yang menyenangkan, enak dipandang, dan full senyum didalam cermin, kita juga harus tampil menyenangkan, enak dipandang, dan juga full senyum. Maksudnya, dalam berhubungan dengan orang lain, kita ingin mendapatkan hubungan balik yang menyenangkan, keramahan, dan senyuman, maka kita pun harus bersikap menyenangkan, ramah, dan memberikan senyuman terlebih dahulu. Manusia sudah diberikan fitrah untuk condong kepada kebaikan, sehingga ketika diperlakukan baik akan memberikan balasan yang baik pula. Demikian pula sebaliknya. Kurang ramahnya atau kurang bersahabatnya sikap orang lain kepada kita bisa jadi disebabkan karena kurang baik dan kurang bersahabatnya sikap kita.
Masalahnya menjadi lain jika ternyata orang yang kita hadapi memang memiliki sifat dan perangai yang buruk. Orang seperti ini selalu memberikan sikap yang tercela dan tidak bersahabat kepada orang lain, walau sebaik apapun sikap orang itu kepadanya. Layaknya sebuah cermin buram yang tertutup jelaga dan kotoran, selalu menampilkan sosok yang kelabu ketika kita menggunakannya bercermin. Yang harus kita lakukan adalah mencuci dan membersihkan cermin itu, sehingga bersih mengkilap dan kembali dapat menampilkan sosok yang dihadapinya apa adanya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar