Diawal masa berinteraksi dengan sebuah gerakan dakwah, ada beberapa pesan yang sangat membekas dari beberapa sahabat saya. Ketika menerima pesan itu, rasanya tidak ada sesuatu yang istimewa. Tapi pengalaman dan interaksi saya ternyata membuktikan, pesan itu adalah salah satu pesan yang sangat pas diingat-ingat dan dijadikan pegangan dalam menumpang kereta dakwah ini.
Ada dua pesan yang kali ini ingin saya bagi, yaitu bahwa bergabung dengan gerakan dakwah bukanlah jaminan masuk surga. Selain itu, kadang-kadang saudara kita yang sama-sama tergabung dalam gerakan ini akan menjadi ujian bagi kita.
Dulu pernah saya mengalami satu fase dalam hidup dimana saya membenci gerakan dakwah yang sekarang saya berkecimpung di dalamnya. Permasalahannya sederhana. Saya melihat beberapa aktivis dakwah di sekitar saya yang me-representasi-kan gerakan dakwah ini terlihat begitu angkuh. Termasuk kepada saya. Seolah-olah orang lain yang berada diluar barisan mereka adalah golongan lain yang tidak cukup pantas dihargai sepenuhnya. Itu membuat saya menjauh dari kelompok aktivis itu.
Saya sempat berusaha mengaktualisasi diri dan nilai-nilai yang saya yakini. Saya pernah aktif dalam sebuah kelompok kesenian dan pecinta budaya. Awalnya saya cukup menikmati, sampai akhirnya nurani saya lambat laun mulai berontak, dan saya merasakan kegersangan dalam sanubari saya. Ada sebuah kekosongan. Ada bagian keinginan saya tidak terpenuhi, dan itu adalah keinginan untuk bermanfaat bagi orang lain.
Akhirnya, dengan perantaraan seorang sahabat lama, kembali saya berinteraksi dalam gerakan dakwah. Saya akui, memulainya kembali amatlah sulit. Saya bahkan seringkali merasa tersiksa setiap kali mengikuti pertemuan yang diselenggarakan dalam kerangka kegiatan dakwah itu. Tapi semua saya jalani. Saya tekan dalam-dalam rasa sakit itu, demi sebuah keyakinan dan tujuan yang sedang kembali saya bangun. Saya pegang erat sebuah pesan dari sahabat saya yang lain, bahwa untuk mampu menghayati dan memahami esensi sebuah barisan gerakan dakwah, tidak cukup hanya dengan mempelajari teori, dialog verbal, atau diskusi dan semacamnya. "Kamu harus terjun, berjuang dan menjalaninya bersama-sama, sehingga nantinya akan bisa mengerti sendiri sepenuhnya tentang dakwah..."
Kini, sudah lebih dari lima tahun saya bergabung kembali dalam barisan dakwah. Para aktivis 'angkuh' itu juga masih ada. Anggapan eksklusif itu juga kadang masih disematkan pada diri kami. Tapi saya sadar sepenuhnya bahwa hal itu adalah sebuah riak dan dinamika dari sebuah gerakan. Mungkin diantara beberapa teman memang merasa dirinya lebih dibanding yang lain. Tapi mungkin pula ungkapan itu muncul dari orang lain yang memang angkuh dan memusuhi idealisme kami. Kita harus bijak dalam menakar dan menimbang-nimbang setiap persoalan. Karena kita adalah kumpulan manusia, pasti ada saja kesalahan dan ketidaksempurnaan yang terjadi. Namun tentunya kita harus mampu menilai, seberapa jauh perbaikan yang telah dan akan berhasil kita gulirkan. Bekerja keras untuk bekerja dan berkarya adalah lebih penting dari sekedar mencemooh dan berkomentar atas sebuah upaya yang dilakukan orang lain.
Yang terpenting adalah saya sudah dan selalu berusaha mengenal dan memahami tujuan hidup saya. Selanjutnya adalah memilih sebuah jalan menuju tujuan itu, dan mencoba konsisten untuk tetap berada di jalan menuju cita-cita itu. Selama ini adalah jalan yang saya anggap terbaik, maka yang harus saya lakukan hanyalah memberikan yang terbaik demi terus melangkah menuju tujuan itu...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar