

Seorang dosen di Teknik Elektro ITB pernah berkata setengah bercanda, bahwa penemu transistor adalah kakek gurunya. Soalnya dia berguru kepada satu-satunya orang Indonesia yang berguru langsung pada penemu transistor. Orang Indonesia itu, Samaun Samadikun.
Well, saya mungkin tidak bisa ikut mengklaim hal yang sama. Tapi tahun-tahun terakhir masa aktif pak Samaun di ITB, sebagian besar dihabiskan di lab tempat saya beraktivitas, yaitu lab devais dan proses IC, PAUME ITB. Saya pun sempat melewatkan saat-saat berdiskusi dengan Pak Samaun, dan berkesempatan untuk mengenal beliau secara dekat.
Saya ingat kesan pertama saya dengan Pak Samaun adalah ketika beliau menjadi pembicara tamu dalam sebuah responsi praktikum saat saya masih mahasiswa sarjana dulu, seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya. Ketika beliau menjawab pertanyaan, ingin dilahirkan kembali sebagai apa... Ternyata dikemudian hari, saya berkesempatan berdiskusi langsung dengan beliau karena ruangan kami hanya dipisahkan satu atau dua sekat dinding saja, dalam satu lab.
Pernah suatu saat Pak samaun bertanya pada kami, "Menurut adik-adik ini, masa depan Indonesia ini apakah baik atau buruk?" Beliau, meski lebih pantas menjadi kakek, lebih suka membahasakan adik kepada kami. "Soalnya klo kita semua yakin bahwa Indonesia akan lebih baik, saya akan suruh anak saya pulang ke Indonesia untuk membangun Indonesia..." Ah... saya mungkin masih terlalu bodoh saat itu, sehingga tidak dapat langsung menangkap esensi pertanyaan beliau...
Juga dalam hal teknis penelitian, beliau juga sangat bersemangat untuk membantu, terutama ketika kami sedang berhubungan dengan orang Malaysia untuk menjajaki sebuah kerjasama penelitian, yang akhirnya terwujud setelah Pak Samaun berpulang (Gambar sebelah atas). Juga saya tidak pernah melupakan, suatu hari Pak samaun berkeliling lab ingin meminjam obeng yang kecil, yang katanya dia ingin membongkar hp beliau yang rusak. "Siapa tahu bisa saya betulkan sendiri..." Kata Pak Samaun. Aduhai Pak Samaun, penglihatan beliau sudah jauh berkurang, tangannya pun sudah bergetar ketika memegang obeng, tapi semangatnya terkadang membuat saya malu...
Pak Samaun juga sangat menghargai kami para asisten peneliti, meski kami masihlah sangat muda. Beliau bahkan senang ketika suatu saat saya berdiskusi dan berani beradu argument dengan Pak Samaun tentang sebuah topik penelitian. Ah betapa tidak sopannya saya waktu itu.. Bahkan beliau juga berkenan suatu saat turut mendampingi kami melakukan proses dalam clean room (Gambar kedua di bawah). Saya mengerti bahwa itu adalah upaya beliau memberikan semangat kepada kami untuk tetap bergiat dalam Mikroelektronika.
Kesan terakhir saya dengar dari sopir pribadi keluarga Pak Samaun yang merangkap teknisi di Lab, Pak Ajat. Beberapa minggu setelah pemakaman Pak Samaun, Pak Ajat datang ke lab untuk mengambil beberapa dus barang pribadi Pak Samaun yang masih tertinggal, dan sempat bercerita kepada saya. Satu dua hari sebelum meninggal, ketika menerima rombongan dosen Elektro yang menjenguk beliau, Pak Samaun sempat menanyakan saya, "Bagaimana kabarnya si Amin, apakah masih ngurusi proses...?" Saya betul-betul terharu, merasakan semangatnya dan harapannya yang masih demikian kuat bahwa Elektronika akan membawa kesejahteraan bagi bangsa Indonesia. Juga terharu merasakan pengharapan Pak Samaun atas diri saya untuk ikut meneruskan harapannya itu...
Kesan-kesan itu, kini tersimpan baik dalam benak saya, dan menjadi salah satu sumber motivasi saya untuk terus bergiat dalam bidang yang sedang saya jalani ini...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar