Cita-cita pak Samaun masih selalu terngiang dalam benak saya. Untuk memajukan mikroelektronika Indonesia, berkontribusi bagi kesejahteraan bangsa Indonesia. Bahkan semboyan pusat mikroelektronika ITB yang beliau dirikan adalah, Microelectronics Prospers the Nation. Keren bukan? Hanya saja mikroelektronika Indonesia sampai saat ini masih belum mampu menyejahterakan bangsa Indonesia. Menyejahterakan para dosen dan peneliti yang bergabung di PAU sih memang iya. Dan saya memang pernah kecipratan dikit he..he..he...
Mampukah mikroelektronika Indonesia bangkit?
Pertanyaan itu sudah sekian lama menjadi pemikiran saya, dan juga teman-teman di pusat mikroelektronika ITB. Dan sudah sekian lama kami berusaha untuk kebangkitan itu. Di pusat mikroelektronika ITB sebenarnya ada dua mainstream yang bisa dikatakan mewakili mikroelektronika. Pemrosesan rangkaian terintegrasi (IC), dan perancangan rangkaian terintegrasi.
Saya bahas dulu tentang perancangan IC. Alhamdulillah, sekarang ada grup riset yang dipimpin Pak Trio Adiono yang bergerak di bidang ini. Mungkin grup ini satu-satunya di Indonesia. Saya tidak menutup kemungkinan bahwa mungkin ada banyak ekspert orang indonesia di bidang ini, tapi sejauh yang saya tahu, hanya di grup inilah dimana orang Indonesia bersatu dan memegang kendali secara penuh. Prestasinya juga lumayan. Artinya grup ini telah memiliki cukup banyak pengalaman mengerjakan riset desain IC yang dibiayai pemerintah (Dalam RUSNAS maupun riset insentif), juga mengerjakan pesanan desain dari perusahaan terkemuka dunia secara profesional. Sayang untuk yang kedua ini tidak banyak yang saya ketahui, karena sifatnya memang lebih rahasia. Pernah juga saya diajak pak Trio bergabung di grupnya. Tapi mungkin Pak Samaun dan Pak Irman telah sukses mencuci pemikiran saya, sehingga saya bertahan di proses.
Well, kalau di bidang proses IC, kami memang merasa tertinggal dari grup pak Trio. Tapi bukan berarti kami tidak berusaha. Saya mungkin tidak perlu bercerita banyak tentang berbagai effort yang pernah kami lakukan, semenjak era Pak Samaun, Pak Reka Rio, sampai era Pak Basuki dan sekarang Pak Irman sebagai kepala Lab Devais dan Proses IC. Mungkin masalahnya klise, tapi tantangan terbesarnya memang masalah keterbatasan dana. Jika anda mengerti, bisa mempertahankan fungsionalitas peralatan di Lab Proses itu sudah merupakan sebuah prestasi. Namun sungguh sayang, kemampuannya sudah semakin tertinggal dibandingkan dengan teknologi terkini di bidang mikroelektronika. Kami juga sudah tidak berharap banyak kepada pemerintah maupun ITB untuk dukungan dalam hal ini.
Ditengah situasi serba sulit, saya bersyukur di ITB masih ada beberapa pihak yang peduli pada perkembangan mikroelektronika di Indonesia. Tapi memang kami harus berpikir dengan lebih realistis sekarang. Saya sangat ingat salah satu topik diskusi yang pernah berkembang antara Pak Irman dengan Pak Samaun. Pak Samaun menyatakan bahwa untuk menguasai teknologi, ada dua hal yang bisa dilakukan yaitu mengembangkan sendiri atau membeli teknologi itu. Membeli jelas kami tidak mampu karena itu menyangkut masalah uang yang sangat besar. Pak Samaun sering mencontohkan pengembangan pabrik semikonduktor di Kuching Malaysia. Anda harus tahu, bahwa pemerintah negara bagian Malaysia juga menggelontorkan puluhan juta dollar untuk proyek itu, sesuatu dukungan yang bagi kami mustahil diberikan oleh pemerintah Indonesia.
Mengembangkan sendiri, juga tidak kalah sulitnya. Pak Samaun sudah puluhan tahun memimpin putra-putra Indonesia terbaik di ITB untuk merealisasikan hal itu, tapi harapan itu belum terwujud juga. Ada beragam masalah yang menghalangi, mulai dari tiadanya dukungan industri nasional, sampai kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada pengembangan mikroelektronika ITB. Di saat-saat terakhir kemarin, saya lebih condong kepada pendapat Pak Irman dalam memilih strategi mengembangkan mikroelektronika.
Sebenarnya saya cukup sedih menuliskannya, tapi pilihan itu harus diambil, yaitu mengubur keinginan kami untuk mengembangkan mikroelektronika untuk mengejar ketertinggalan teknologi saat ini. Gap-nya sudah terlalu jauh untuk dikejar, apalagi dengan berbagai kesulitan yang kini menghimpit kami. Pilihan yang kami tempuh adalah, mencoba memulai pengembangan bidang nano-elektronika. Kemampuan bidang mikroelektronika yang ada kami pertahankan, sebatas untuk keperluan edukasi dan memberikan dasar kemampuan bagi para mahasiswa atau calon peneliti. Syukur-syukur kami bisa melakukan beberapa riset yang bagus. Saya masih ingat demikian sedihnya Pak Samaun atas pilihan itu. Tapi alasan yang dikemukakan pak Irman juga sangat masuk akal. "Apalah saya dibandingkan pak Samaun? Pak Samaun pernah menjadi dirjen, direktur lipi, mendirikan batan, dan sebagainya. Jika saya menempuh jalan yang sama dengan yang pernah ditempuh pak Samaun, apakah saya bisa memberi hasil yang lebih baik..?" demikian pernah diungkapkan Pak Irman kepada Pak Samaun suatu hari.
Pak Samaun, anda jangan terlalu bersedih. Jika kami beristirahat dari peperangan itu, bukan berarti kami melupakan dan menyerah dari upaya menggapai cita-cita kita. Kami yang tersisa sekarang masih punya keyakinan kok bahwa ada yang bisa diperbuat. Saya berangkat ke Jepang juga karena motivasi yang sama, bahwa mimpi itu masih bisa kita gapai. Pak Irman memang sekarang lebih fokus pada bisnis, tapi saya masih percaya dan menaruh harapan bahwa beliau masih sangat concern dengan pengembangan mikro-nano-elektronika. Harapannya, jika saya kembali nanti, saya bisa fokus pada pengembangan nano teknologi tanpa harus pusing memikirkan masalah kesejahteraan.
Jalan memang masih panjang, menunggu untuk ditempuh. Perjalanan itu tidak akan mudah, tapi Insya Allah kami akan tetap bersemangat untuk mencoba meraih cita-cita itu...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar