Tadi malam, saya berangkat ke Asakusa untuk menyampaikan ceramah dan materi pada suatu acara. Sampai disana, ternyata saya tidak menjumpai seorangpun, hanya ada anak-anak Malaysia yang berniat beritikaf di masjid itu. Segera setelah berhubungan dengan panitia, saya baru tahu bahwa saya melewatkan sebuah pemberitahuan lewat email yang dikirim sehari sebelumnya, bahwa acara itu dibatalkan.
Hah.... awalnya, saya merasa aneh. Kecewa... ya saya akui ada sedikit rasa kecewa. Mengingat jarak yang saya tempuh menuju lokasi itu lumayan jauh, memerlukan perjalanan setidaknya satu setengah jam dari asrama saya. Namun saya segera banyak beristighfar dan menepis perasaan itu.
Kabuura maqtan 'indaLLaahi an taquulu maa laa ta'maluun...
Saya sering menyampaikan topik tentang keikhlasan. Orang ikhlas tidak akan mudah kecewa dan mengeluh. Dan sekarang Allah kembali mengajarkan saya tentang arti sebuah keIkhlasan. Ikhlas adalah sebuah amalan hati. Orang lain tidak dapat menilai keikhlasan kita. Tapi kita selalu bisa menilai apakah kita ikhlas atau tidak, tentu saja jika nilai-nilai yang kita yakini adalah nilai-nilai yang bersih dan rabbani sehingga valid untuk mengukur keikhlasan diri kita. Dan sekarang, saya bisa menilai keikhlasan saya berdasar seberapa jauh saya kecewa terhadap kejadian itu.
Tapi tunggu dulu, meskipun merupakan sebuah amalan hati, keikhlasan tetap saja dapat teramati dalam perilaku keseharian. Seorang pejabat yang istiqamah menjalankan tugas-tugasnya secara lurus tanpa korupsi, adalah perwujudan dari keikhlasannya. Seorang ustadz yang selalu bersemangat membagi ilmu tanpa peduli apakah dibayar atau tidak, atau tanpa peduli seberapa besar event tempat dia berbicara atau tidak, adalah perwujudan sebuah keikhlasan. Seperti juga kisah seorang shahabiyah yang rela menikah dengan pemuda yang buruk rupa, karena hanya mencari ridha Allah. Atau seperti kisah Andi dalam film Kiamat Sudah Dekat yang rela Sarah menikah dengan orang lain, sebuah pengejawantahan keikhlasan sehingga akhirnya dia malah dinyatakan lulus dalam menguasai ilmu ikhlas...
Minggu, Januari 18, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar