Selasa, Januari 20, 2009

Mendiknas keblinger...

Malam ini saya cukup terperangah ketika membaca sebuah berita di internet, bahwa Mendiknas Indonesia sangat pede untuk kembali menaikkan standar kelulusan UN di Indonesia. Saya kutipkan sedikit pernyataan mendiknas, "Ketika standarnya 5,25, yang tidak lulus juga sekitar 8 persen. Nampaknya, berapa pun yang saya pasang, yang tidak lulus sekitar itu. Yang penting membuat soal yang bagus dan menghasilkan lulusan yang bermutu." (baca: http://www.detiknews.com/read/2009/01/20/172104/1071664/10/mendiknas-berapa-pun-yang-saya-pasang-yang-tak-lulus-8-persen )

Sebuah pernyataan ngawur menurut saya. Menteri keblinger. Pernyataan BERAPA PUN memperlihatkan sebuah penarikan kesimpulan yang tidak mengindahkan kaidah ilmiah. Apakah jika dia pasang nilai standar kelulusan yang sama dengan tahun sebelumnya, ketidak lulusannya akan tetap 8 persen? Dimana buktinya bahwa dinas pendidikan menganggap menghasilkan lulusan bermutu itu penting, jika tingkat kelulusan saja tidak dimaknai secara betul?

Pernyataan ngawur, atau bahkan memperlihatkan sebuah kemunafikan. Jangan-jangan dia hanya pura-pura tidak tahu bahwa besaran kelulusan itu sebagiannya adalah hasil permainan oknum tidak terpuji dinas pendidikan, yang hanya mementingkan reputasinya di mata atasan. Saya pernah mendengar penuturan beberapa kenalan, bahwa di sebagian daerah, masalah kelulusan sudah diatur sedemikian rupa secara terorganisir melibatkan dinas pendidikan, dan tim sukses dari sekolah. Mulai yang berupa distribusi jawaban, sampai manipulasi hasil ujian. Yang terparah, seseorang yang seharusnya lulus bahkan sempat tidak diluluskan hanya karena ingin memenuhi target kelulusan sekitar 8 persen tadi. Apa yang salah jika tingkat kelulusan lebih tinggi dari rata-rata? Klo murid-murid tambah pinter kan seharusnya bangga? Betul-betul menyedihkan...

Bagaimana masa depan bangsa ini jika para pengelola pendidikan dan gurunya sudah seperti ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar